
"Ayo cepat Dafira langitnya sudah gelap tuh".
"Iya iya, sebentar Rahel"
Hari ini cuaca mengejutkan aku dan Rahel.
Langit yang awalnya biru kini tiba tiba berubah menjadi kelabu, yang bertanda hujan akan turun.
Padahal saat diramalan cuaca tadi pagi hujan akan turun besok pada sore hari.
Tapi entah kenapa kebenarannya, hujan turun saat ini dikala aku tidak membawa payung.
"Ayo cepat".
Aku dan Rahel pun tidak putus asa begitu saja, kami berusaha lari sekuat tenaga untuk keluar dari ruang musik sekolah dan langsung menuju halte bis, yang jaraknya tak jauh dari sekolah kami.
Namun...
"Crassss !!!."
Belum sempat kami sampai gerbang keluar, langit pun sudah menumpahkan hujan deras secara tiba tiba.
Aku sempat kaget beserta bingung bagaimana caranya untuk pulang kerumah dalam kondisi begini. Hal ini bukan tanpa alasan, karena tadi pagi aku meninggalkan ponsel ku di kamar dan payungku juga memiliki nasib yang sama.
Jadi saat ini hanya Rahel harapan ku. Awalnya aku berfikir begitu.
"Rahel bagaimana ini ??". Dengan wajah yang sangat berharap aku menoleh kearah Rahel.
"Entahlah". Tapi jawaban dari harapan ku hanya seperti ini saja, sungguh tidak memuaskan.
Hingga... pertanyaan penting pun aku layangkan.
"Kau tidak membawa payung Rahel ?".
"Tidak payungku ketinggalan".
"Apa !!!". Harapan ku satu satunya pun lenyap bersamaan dengan teriakan kaget ku. Sedangkan Rahel hanya terdiam dan seperti tidak memiliki beban melirik ke arah hujan.
"Kamu juga meninggalkan payung ??, lalu bagaimana kita pulang ??". Dengan wajah cemas aku menatap Rahel kembali.
"Yah mau bagaimana lagi, kita tunggu saja sampai reda".
"Hah ??".
Pada akhirnya titik terang tak aku temukan, aku malah kembali terkejut untuk kedua kalinya ketika mendengar kalimat manusia ini, dia sungguh tak berfikir bahwa pukul tengah menunjuk kearah jam 5 sore, jika hujan ini ditunggu sampai reda tak ada yang bisa menjamin sebelum jam 6 akan reda. Jika kami menunggu sampai lebih dari jam 6 maka aku bisa dimarahi habis habisan dirumah.
"Ini tidak bisa dibiarkan". Begitulah ucap batinku
Dengan kemampuan berfikir logis yang selalu dipuji mama, aku pun langsung mencari cara agar bisa mencapai halte bis dengan cepat dan akurat.
Rencana ku yang pertama adalah memakai daun pisang sebagai payung seperti zaman dahulu, namun rencana itu dipatahkan oleh kenyataan, bahwa sekolah kami tidak memiliki pokok pisang.
Ide pun tak berhenti disana, aku kembali mencari cara kedua agar kami bisa pulang dengan tepat waktu.
Ide kedua itu adalah meminjam ponsel Rahel, agar aku bisa meminta jemputan dari rumah.
__ADS_1
Namun...
"Rahel boleh aku meminjam ponsel mu ??".
"Tentu saja". Rahel langsung memberikan ponselnya kepada ku dengan mudah, padahal tadi aku sempat mengira bahwa Rahel salah satu orang yang sangat menganggap ponsel sebuah barang rahasia.
Tapi saat aku menerimanya, aku merasa ada hal aneh dari ponsel ini. "Rahel kenapa ponselnya tidak mau hidup ??"
"Ouh dia habis baterai tadi". Dan itulah hal anehnya. Hape yang mati ditangan ku ini disebabkan karena habis baterai, dan bersamaan dengan itu pula harapan terakhir ku pupus secara mentah mentah.
Aku menghela nafas berat dengan tangan berada dikepala. Sekarang sudah tak ada lagi ide yang muncul dari kepala ini, hingga aku frustasi melihat sang hujan membasahi bumi.
Disaat itu pula suara Rahel keluar dengan nada yang sedikit aneh.
"Hei". Begitu panggil nya kepada ku.
"Kenapa ??". Karena dia memanggil ku, aku pun langsung menoleh kearah nya.
"Bagaimana menurutmu ?".
"Apanya ?, aku tidak faham".
"Tidakkah kau merasa sesak. Saat musim panas aku sangat merasa sesak dan juga gerah. Sama halnya seperti sekarang, aku merasa sangat sesak, seakan akan bisa tenggelam".
Ketika mendengar kalimat itu aku mulai merasakannya.
"Apa menurutmu tentang hujan Dafira ?".
Dengan menjulurkan tangannya kearah hujan Rahel menutup mata rapat yang mengandung banyak makna.
Air mata yang mengalir saat itu, serta kalimat kalimat tak jelas dari Rahel...
"Tambah lagi sekarang hujan turun sangat deras, rasanya aku mau mati".
Adalah sebuah pertanda...
"Rahel !"
"Hmm ?"
"Apa kau pernah main hujan ??".
"Tentu saja pernah. Memangnya ada apa ??"
Aku pun tersenyum kearah Rahel.
"Dulu aku juga sangat takut dengan hujan".
"Aku tidak takut hujan tau !!".
"Tapi aku menghilangkan nya dengan sesuatu cara jitu. Jadi sekarang aku tau apa yang kamu butuhkan".
"Apa ??".
"Kenangan indah dikala hujan !!".
__ADS_1
"Greppp !!".
Tanpa ada pertimbangan lagi, aku pun langsung berlari menarik Rahel untuk membaurkan diri dengan hujan.
Sebenarnya aku sudah lama tidak main hujan, tapi saat masuk pertama kali didalam hujan, sensasi menyegarkan yang sama langsung berasa ditubuhku. Sensasi ini seakan akan membuyarkan semua beban dan masalah dihidup ku.
"Bisakah kau lepaskan aku sekarang ?!!".
Namun Rahel yang sangat tidak menyukai hujan, tentu saja berusaha melepaskan tanganku dengan kekesalan diwajahnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu!".
Tapi aku sudah bertekad tidak akan pernah melepaskannya, jadi aku tetap memegang tangannya bahkan sekarang lebih erat dari tadi.
"Rahel... nikmatilah, ini salah satu pelarian yang sangat mudah".
"Jadi jangan marah, hidupmu tak berarti jika tidak merasakan hujan".
"Ayo kita buat kenangan bersama Rahel". Itulah kalimat ku yang aku lontarkan agar Rahel tidak marah dan kesal lagi.
Lalu siapa sangka satu kalimat dariku itu pun berhasil membuat Rahel tersenyum, dan ikut menikmati hujan bersama ku.
"Hah~!, Kau ini, kalau mau main langsung yang benar saja".
"Akhh !!, Rahel sebentar!!".
"Hahaha, tadi kamu yang ingin bermain kan ?".
"Tapi, aku hampir jatuh nih".
"Mangkanya cepat".
Sore yang dibasahi hujan itu dipenuhi dengan canda tawa kami, aku yang berawal menarik tangan Rahel, kini berganti dengan Rahel yang menarik tanganku seraya berlari menyusuri hujan deras ditengah jalan kota.
Hampir sepanjang jalan orang orang melihat kami dengan heran, mungkin mereka menganggap kami seperti anak anak padahal mengenakan pakaian SMA.
Tapi kami tidak memperdulikannya, kami malah semangkin seru dalam bermain setiap detik yang berlalu. Kami tak pernah melewati satu genangan air pun untuk dilompati, dan di tendang hingga mengenai Rahel atau aku sendiri. Sore hujan kali ini adalah yang paling menyenangkan di antara hujan lainnya
"Nih terima !!".
"Ah Rahel, genangannya mengenai aku nih".
"Hahaha".
"Nih gantian".
"Yaampun Dafira !!!".
...~~~~...
...Bersama dengan Rahel yang sedang aku genggam tangannya, kami berdua pun membuat kenangan indah bersama....
...kenangan yang tak dapat tergantikan ...
...serta kenangan yang tak dapat terlupakan...
__ADS_1
...Meski waktu telah berjalan lama...