Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Reno & Jhennite: Love above the threshold


__ADS_3

Waktu bergulir begitu lama, tak terasa sekarang hampir 12 jam berlalu, tanpa adanya tanda tanda Jhennite akan keluar dari ruang operasi. Para dokter pun sudah mulai cemas dengan kondisi Jhennite sekarang, termasuk dokter Chandra yang tak luput dari kecemasan itu.


Operasi selesai dalam pukul 4 dinihari, bisa dibilang operasi yang dilakukan oleh Jhennite itu memakan banyak sekali waktu, hingga Reno beserta teman temannya harus menginap di depan ruang operasi.


Hati gundah yang bersarang di dada mereka masing-masing, benar benar membuat kesesakan yang sungguh luar biasa menyusahkan. Dari 7 jam yang lalu mereka semua tidak ada istirahat dan memejamkan matanya sedikitpun, mereka selalu memandang kearah ruang operasi menunggu Jhennite untuk keluar lalu menghampiri mereka, namun hal yang mereka harapkan itu sama sekali tidak terjadi.


Waktu waktu yang menyesakkan itu berakhir setelah setengah jam kemudian, seorang dokter keluar dan menghampiri Reno berserta teman temannya, mereka teramat senang hingga semuanya yang berawal duduk langsung berdiri, berlari menghampiri sang dokter. Tapi... Berbeda dengan mereka, dokter Chandra malah memasang wajah sedih, diikuti dengan ekspresi yang sama dari sang dokter yang menangani Jhennite sebelumnya.


Melihat reaksi dokter itu, mereka berempat pun terpaku, disertai dengan fikiran negatif yang sudah mulai muncul tidak terkendali. Didalam situasi tak baik ini Aldo pun memejamkan matanya lalu mulai berusaha menghilangkan opini yang buruk tentang kondisi Jhennite, beruntung sikap Aldo sangat mendukung pada saat saat menegangkan seperti sekarang.


Memang tidak bisa dipungkiri, sesaat yang lalu Aldo sempat panik dan memiliki opini buruk tentang kondisi Jhennite, tapi meski begitu ia tidak melupakan karakter dirinya yang tenang dalam menghadapi sebuah masalah. Jadi dengan ketenangannya itu, ia pun secara spontan langsung menanyakan bagaimana sebenarnya kondisi Jhennite saat ini.


"Dokter bagaimana kondisi Jhennite sekarang ??". Begitulah tanya Aldo kepada sang dokter, seraya merangkul pundak tunangannya yang sudah mulai panik.


Sovia yang merasakan genggaman tangan besar milik tunangannya, langsung menoleh kearah Aldo. "Jangan khawatir". Dan disaat menoleh itu pula, Aldo tersenyum sambil memberikan bisikan penenang untuk Sovia. Mendengar kalimat tunangannya itu, Sovia hanya bisa mengangguk, didalam kegelisahan hati yang belum mereda.


Dokter Chandra menarik nafasnya dalam, sebelum mengatakan bagaimana kondisi Jhennite sebenarnya. "huffff !!!..."


Lalu tanpa basa basi dokter Chandra langsung menjawab pertanyaan Aldo kedalam inti masalahnya. "Kondisi nona Jhennite sangat buruk".


Jawaban ini benar benar menjatuhkan bom atom keatas kepala Reno, kakinya bergetar, dan jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Fikiran yang sebelumnya selalu diulang ulang Reno sekarang benar benar menjadi fakta nyata, sehingga Aldo pun sudah tak bisa menyangkalnya lagi seperti sebelumnya, karena Jhennite diambang kematian memang karena ulah Reno.


Informasi tentang kondisi Jhennite tidak hanya segitu saja, dengan satu hembusan nafas lagi dokter Chandra berhasil menjatuhkan bom atom yang lebih besar dari yang tadi.


"Dari kondisi nona Jhennite yang kami cek tadi, kemungkinan besar nyawanya tidak akan kembali jika malam ini ia tidak sadar dari komanya".


"Brukk !!". Suara tubuh Reno yang jatuh menggema, hingga mengagetkan semua teman temannya, ia benar benar tidak tau harus bagaimana dan berekspresi seperti apa setelah mendengar kenyataan besar itu.


Dunia Reno seketika berubah jadi gelap, cairan bening yang halus pun sempat ingin meluncur dari kedua matanya, seketika ia berfikir... Sekarang perasaan apa yang ada dihatinya ini, apakah cinta ??, atau hanya perasaan bersalah yang dalam ??.


"Srakk !!".


"Bawa pasien keruangan ICU".

__ADS_1


"Baik dokter".


Dikeheninga mencekam itu, Jhennite pun keluar dengan tubuh terbaring tidak berdaya, menuju keruang ICU. Reno yang melihat Jhennite keluar dari ruang operasi langsung tersentak, dan berlari mendekat kesamping tunangannya itu. Saat berada disamping Jhennite Reno pun menggenggam tangannya dengan erat, lalu berbisik lirih.


"Jhennite tolong bangunlah, aku berjanji akan memberikan mu semua yang kamu inginkan, dari kasih sayang dan perasaan cinta, aku akan memberikannya". Kalimat itu hanya terlontar begitu saja, tapi dari mana dasar kalimat itu tercipta tidak diketahui oleh Reno sama sekali.


Reno menggenggam tangan Jhennite sampai didepan pintu masuk ruang ICU, lalu setelahnya dokter Chandra melepaskan genggaman Reno dari tangan Jhennite.


"Kenapa ??". Begitulah tanya Reno kepada dokter Chandra dengan tatapan kesal.


"Dokter akan memantaunya lagi, jika anda masuk kedalam, itu hanya akan mempersulit proses". Sedangkan dokter Chandra menjawabnya dengan tenang.


"Selain itu, seharian penuh anda tidak ada istirahat bukan ??, istirahat lah hari ini, kami akan menjaga kondisi nona Jhennite agar tetap stabil". Sambung dokter Chandra kemudian.


Reno hanya tertunduk sambil berfikir, disatu sisi dirinya, ia merasa sangat lelah dan mulai merasakan sakit dibagian kepala, namun disisi lain hatinya sangat cemas dan ingin selalu berada didekat Jhennite.


Aldo datang memukul pundak Reno, dan membuayarkan lamunan sahabatnya itu. "Udah pulang aja sana, kami ninggalin dokter terbaik kami, disisi tunangan mu". Aldo tersenyum dengan raut wajah meyakinkan.


Reno hanya bisa ikut tersenyum membalas perkataan sahabatnya itu, lalu beberapa waktu berselang Reno pun mengangguk sebagai tanda setuju, atas usulan dari Aldo tadi.


"Yasudah ayo aku antar, tapi sebelum pulang kerumah mu kita makan di kafe sebelah ya".


Reno sepontan terkekeh kecil, ia lupa sesaat bahwa perut mereka tidak pernah diisikan sejak kemarin malam, lalu setelahnya Reno kembali mengangguk setuju.


.


.


.


Disepanjang perjalanan Aldo dan Reno menceritakan kenangan mereka dulu hingga sekarang, kemudian mereka akan tertawa kecil saat sedang menceritakan rahasia yang dimiliki oleh Dafira dan Sovia. Tak terasa waktu berjalan begitu saja hingga sekarang Reno dan Aldo sudah selesai bersih bersih dan sedang bersantai dikamar Reno.


"Wahh !, udah berapa tahun ya dari terakhir kali aku kesini". Aldo menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur Reno.

__ADS_1


"Ck !!, cepat turun, tempat tidur ku jari kerimuk karena mu". Sedangkan Reno berdecak kesal karena tempat tidurnya yang rapi menjadi kusut mengikuti ukuran tubuh Aldo saat ini.


Aldo yang bersantai diatas tempat tidur hanya menutup telinga, tanpa menggubris perkataan temannya satu itu. "Jangan berisik !. Kamu sama saja seperti Sovia". Lalu membalas Omelan Reno dengan perkataan yang ketus.


Reno akhirnya pasrah melihat melihat kelakuan si sahabat SMP nya itu, hingga akhirnya ia pun ikut merebahkan diri disamping Aldo.


"Katanya nanti tempat tidur ku kusut". Aldo meledek Reno yang berada disampingnya.


"Jangan berisik !!".


Sedangkan Reno hanya menjawab ledekan itu dengan singkat.


Untuk sesaat suasana hening, dan hanya terdengar suara hembusan nafas berserta angin yang bergerak ke alam lepas. Reno beserta Aldo benar benar sudah tidur untuk sekarang, namun masih beberapa menit mereka tidur tertidur dokter Floren yang merupakan dokter pribadi keluarga Aldo menelfon, hingga membuat ponsel Aldo berdering.


"Drttt !!, Derttt !!". (Suara ponsel berdering)


Mendengar deringan ponsel itu Aldo langsung membuka matanya dan meraih ponsel yang berada disamping meja tempat ia berbaring.


📱"Ya halo ??". Begitu ucapnya dengan mata yang setengah terpejam.


📲"Tuan !, cepat pergi kerumah sakit !".


📱"Hah ?!". Mendengar teriakan dokter Floren mata Aldo langsung terbuka lebar lebar. "Tunggu sebentar dokter Floren, sebenarnya ada apa ini ??".


📲"Detak jantung nona Jhannite terhenti tuan!!".


📱"Tut !".


Aldo langsung melompat dari tempat tidurnya dengan jantung yang hampir melompat keluar, Aldo menoleh kekanan tangannya dan memukul paha Reno dengan tujuan agar Reno terbangun, kemudian benar saja Reno langsung menoleh kearah Aldo dengan perasaan kaget.


"Kenapa sih ?!!". Reno bertanya kepada Aldo dengan nada suara kesal.


"Jantung tunangan mu berhenti payah !!!".

__ADS_1


"A-apa...". Mata Reno terbelalak seketika, hingga merasa nyawanya sekarang terbang melayang entah kemana. Jantungnya berhenti berdegup dengan tubuh terpaku tak bisa bergerak.


"Astaga... kejadian apa ini sebenarnya ??".


__ADS_2