Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 49: Mencintai itu salah


__ADS_3

Kediaman Agraham


"Nona sudah siap ?". Seorang pria menghampiri Jhennite yang tengah duduk di depan meja rias.


"Aku sudah selesai". Jhennite berdiri. "Bagaimana menurutmu penampilan ku ?, apa cantik ?". Kemudian berputar menghadap kearah pria tadi.


"Seperti biasanya nona, anda sangat cantik". Pria itu tersenyum saat menjawab pertanyaan nona kesayangannya.


Pria itu adalah bodyguard Jhennite, jika dibeberapa kesempatan kita sudah mengetahui siapa saja bodyguard Dafira, dan Sovia, kini kita akan berkenalan dengan bodyguard Jhennite.


"Jhonathan kita pergi sekarang ?".


"Baik nona, silahkan. Saya sudah menyiapkan mobil untuk anda".


"Terimakasih".


Bodyguard Jhennite itu bernama Jhonathan, sama dengan ciri fisik bodyguard lainnya, Jhonathan juga bertubuh kekar, dengan wajah sangat tampan, tapi yang membedakan ketampanan Jhonathan adalah mata cipitnya yang mempesona, serta aura arogan begitu melakat pada dirinya.


Kini mereka pun sudah pergi menuju ke depan rumah, disana sudah ada mobil yang berdiri gagah menunggu sang tuan untuk selalu siap mengantarkannya. Namun tiba-tiba Jhennite tersenyum, tanpa mengutarakan makna senyumannya.


"Kenapa anda tertawa nona ?". Ia bertanya bingung, sambil membukakan pintu untuk Jhennite.


"Tidak, aku hanya teringat sesuatu". Hanya angin singkat yang keluar dari mulut Jhennite, lalu dia masuk ke mobil tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.


Jujur saja suasana mobil yang hening tidak akan membuat seorang pun merasa senang, tapi... mereka yang kini tengah mengawal Jhennite seperti sudah terbiasa dengan suasana canggung tersebut.


.


.


.


"Kita sudah sampai nona". Pada akhirnya tak sepatah kata pun keluar dari mulut Jhennite sedari tadi, sampai detik ini dimana ia sudah tepat berada di depan hotel bintang 5.


Jhonathan dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk sang nona. Dengan tangan yang digenggam Jhonathan, Jhennite turun dari mobil perlahan-lahan.


"Mau saya antar sampai keatas nona ?".


"Tidak perlu". Jhennite melepas genggamannya.


"Saya khawatir, baju anda terlihat sangat sulit untuk dibawa berjalan". Jhonathan melihatkan kecemasannya.


"Aku bilang tidak perlu Jhonathan !". Sesaat Jhennite tidak sadar bahwa ia sudah membentak. "Aku bisa sendiri". Memutarkan badan dari hadapan Jhonathan, kemudian dengan cepat melangkahkan kaki menuju ke tempat acara Sovia


"Oh...". Jhonathan bergumam. "Baik nona, saya permisi". Dengan lemas Jhonathan beranjak pergi menuju mobil, didalam mobil ia terdiam sejenak, seraya memandangi nona besarnya menaiki tangga hotel satu-persatu dengan kewalahan.


Hatinya sekarang berdegup kencang, bentakan kecil dari Jhennite terasa sangat menggetarkan bagi seorang Jhonathan.


Sebenarnya Jhonathan dan Jhennite adalah teman masa kecil, yang selalu memiliki hubungan baik tanpa ada pertengkaran, namun dua Minggu belakangan Jhennite sering melepaskan emosi begitu saja, bahkan sampai sekarang emosi itu membuat Jhennite membentak Jhonathan.


.


.

__ADS_1


.


Cerita berlanjut, Jhonathan kini sudah meninggalkan hotel bintang 5 tempat dimana sang nona menghadiri sebuah pesta. Sedangkan Jhennite sekarang tengah menikmati kue dihadapannya sembarih menunggu sang pemilik pesta untuk datang.


Detik, demi detik berlalu. Tak terasa sudah 20 menit Jhennite menunggu Sovia untuk datang ke pestanya sendiri, waktu cukup lama itu bisa dibilang tidak terasa oleh Jhennite karena pesta Sovia menyuguhkan musik yang sangat indah sampai menghipnotis orang-orang disekitarnya.


"Hmmm ?, musiknya berhenti ?". Jhennite membalikkan tubuhnya kearah belakang, dimana ada sebuah panggung megah tengah menyambut seorang wanita dan pria.


"Halo semua". Begitulah sapa mereka berdua.


"Terimakasih sebelumnya kami ucapkan kepada anda semua, karena dari sekian banyaknya jadwal yang tengah menunggu anda, pesta kecil saya ini masih anda jadikan nomor satu untuk dihadiri, saya sungguh senang menyadari hal itu".


Yap, seperti yang kalian duga, wanita dan pria itu adalah Sovia dan Aldo, kini mereka tengah memberikan kata sambutan sebelum pada akhirnya mereka ikut bergabung didalam pesta.


"Halooo Jhennite, selamat datang". Sovia menghampiri Jhennite dengan teriakan ceria seperti biasa.


"Halo juga Sovia". Jhennite bereaksi tersenyum manis dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Wah tidak aku sangka kamu akan datang". Sovia mulai duduk dikursi yang ada di depan Jhennite.


"Yahh jadwalku kebetulan kosong saat ini".


"Ouhh... begitu, bagaimana kalau 2 hari lagi kita buat sebuah pesta kecil ?. Pesta ini hanya untuk aku, kamu, Dafira, dan Aldo. Apa kamu bisa datang ?".


"Hmm...". Jhennite terdiam seraya berfikir sejenak.


"Aku tidak bisa memastikan Sovia, tapi aku pasti akan mengusahakan untuk menghadiri acaramu".


"Sovia". Ia berjalan sambil memanggil tunangannya itu dengan lembut.


Meski dengan suara lembut, dan halus, tidak membuat suara panggilan yang bagaikan simponi sempurna itu, gagal merayap masuk ke telinga Sovia.


"Sayang selamat datang". Tak perlu disuruh pun, Sovia sudah menyambut Aldo dengan senyum gembira.


"Huff~". Kemudian Aldo tersenyum, menanggapi tingkah gemas sang tunangan.


"Sayang". Dia mengecup tangan Sovia. "Bagaimana kalau kita berdansa sekarang ?". Lalu sekarang berganti dengan matanya yang bermain dengan mata sang tunangan.


Sovia jadi tersipu malu, pipinya memerah bagaikan sebuah tomat rebus. Ia tidak berani menatap, atau membalas permainan mata Aldo sangking malunya. Tapi, hanya berselang semenit, Sovia mengangguk menandakan ia mau berdansa dengan Aldo.


"Thank you, I'm very happy".


Melangkahlah kaki Aldo menuju belakang tubuhnya, sambil menggenggam sebuah tangan halus nan lembut milik Sovia. Ia awalnya bertujuan untuk menarik Sovia hingga ke pentas dansa.


"Tunggu sayang". Tapi terhenti, karena Sovia melepaskan tangannya dari genggaman Aldo.


"Sayang, bagaimana mungkin kita akan meninggalkan Jhennite sendirian". Sovia sekarang beralih menuju Jhennite dan memeluknya.


"Aku tidak mau kalau Jhennite hanya duduk saja di sini".


"CK !". Kekesalan membuat Aldo berdecak, dan hampir saja memukul jidat.


"Yahh, aku tidak melupakannya kok, kita tunggu sebentar lagi, pasti Jhennite akan mendapat teman dansa". Tapi dia tetap berusaha lembut didepan Sovia tunangannya.

__ADS_1


"Selamat malam nona muda dan tuan muda". Benar saja apa yang dikatakan oleh Aldo tadi, tidak sampai 10 menit berselang, seorang pria tampan, gagah, rapi, dan berwibawa, datang menghampiri, meja dimana Jhennite duduk.


"Pengacaranya Andika ?".


"Benar sekali, apa kabar nona muda ?".


"Wah, saya tidak menyangka pengacara akan datang juga, sungguh pertemuan yang menyenangkan ya".


"Saya diundang oleh Tuan mudah, saya juga merasa sangat senang bisa bertemu dengan anda lagi."


"Namun nona." Andika berjalan mendekati Jhennite.


"Saya ingin mengajak seseorang berdansa."


"Apakah anda ingin berdansa dengan saya nona ?." Dengan senyum menawan diwajahnya, Andika pun mengulurkan tangan kepada Jhennite.


Namun terlihat jelas bahwa Jhennite merasa ragu untuk menerima tawaran Andika, hingga bisikan pun terdengar...


"Sudah terima saja, kita malam ini mau bersenang-senang."


Karena bisikan dari seseorang yang sudah bisa kita tebak siapa, Jhennite pun menyambut uluran tangan Andika tadi, kemudian mulai berdansa dengan elegan diatas panggung, dengan sorotan mata banyak orang.


.


.


.


Ditempat berbeda


"Klink !."


"Yes... akhirnya rencana A berhasil."


...----------------...



Nama : Andika Lark


Pekerjaan: Pengacara


Umur: 25 tahun


Golongan darah: A


Makanan favorit: Cake


Hobi: Olahraga


Hal dibenci: Kebohongan


Moto: Temukan orang yang tepat sebagai teman

__ADS_1


__ADS_2