
Sesaat setelah perbincangan singkat aku dan Rahel, pak Andre tiba tiba datang menghampiri kami, sambil membawa pakaian basah yang tadi terkena hujan ke londri terdekat.
Aku ingin ikut dengan pak Andre, namun pak Andre bilang biar ia saja yang melakukannya. Hingga kini aku dan Rahel pun ditinggalkan berdua oleh pak Andre, dengan satu selimut yang ditinggal kannya.
Hanya karena selimut itu aku sempat berdebat panjang agar Rahel saja yang mengenakan selimutnya, sedangkan Rahel memaksa agar aku yang memakai selimut itu, dengan alasan bibirku sangat pucat.
Karena tak ada satupun yang mengalah, pada akhirnya aku dan Rahel mengenakannya berdua.
Kini disofa panjang, pada pojok dinding studio melukis kami menghangatkan diri dibalutan selimut yang sama.
Duduk saling berdekatan membuat perasaanku menjadi sangat aneh, sedangkan Rahel terlihat biasa saja dengan posisi memendamkan wajah kedalam lipatan tangan.
"Sepertinya hanya aku saja yang tidak nyaman". Ucap batinku sambil menatap kearah Rahel lekat.
Awalnya aku kira Rahel ini tidur karena kelelahan, namun tiba-tiba.
"Apa yang sedang kau lihat". Pertanyaan dari mulut Rahel langsung keluar.
Aku seketika langsung kaget saat mendengar pertanyaan Rahel ini, aku fikir Rahel tidak menyadari aku memandangnya, namun ternyata apa yang aku fikirkan keliru.
Aku sungguh malu disaat itu, dengan cepat aku langsung memalingkan wajah dan berusaha memberikan sebuah alasan bagus.
"Aku tidak melihat apa apa". Inilah alasanku. Yahh... seperti biasanya, aku tidak jago dalam membuat alasan.
"Benarkah ?". Rahel kembali melayangkan pertanyaan, sambil memperlihatkan seringainya yang menyebalkan.
"Tentu saja benar, memangnya kenapa aku memandangmu ??". Sedangkan aku tetap pada pendirianku.
Untungnya Rahel ini orang yang tidak suka memperpanjang masalah, jadi karena sudah melihat aku berkeras dengan jawabanku Rahel pun mengakhiri nya disitu.
"Hah~, terserahmu saja deh". Begitulah ucap Rahel yang kembali memendamkan wajahnya kedalam lipatan tangan.
__ADS_1
Suasana hening dan canggung seketika, Rahel sangat diam dan aku pun tak ada teman yang diajak mengobrol. Sekarang hanya suara hujan saja yang mengisi kekosongan studio melukis.
Kebosanan diwaktu itu memang tak bisa dielakkan, aku sangat bosan dan hampir menari gila untuk menghilangkan semua rasa bosan yang menyerubungi diriku.
Namun belum lagi aku melakukannya...
"Ctarrrr". Suara menggelar dari sang petir langsung bersenandung menyapa langit setengah malam.
Aku yang mendengar suara menggelegar ini pun langsung menjadi kaget, hingga hampir melompat dari selimut.
Ketika itu pula Rahel yang menyadari ketakutanku terhadap petir langsung merangkul ku kesebelah pundaknya yang masih tertutupi selimut hangat.
"Jangan takut". Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Rahel. "Aku ada disamping mu".
Dan Kalimat itu sukses membuat ku berdebar.
Jantung ku serasa ingin copot ketika itu, tapi disaat bersamaan pula rasa takutku menghilang didalam rangkulan Rahel. Aroma tubuh yang sangat harum, serta kehangatan yang menenangkan dapat aku rasakan dari pelukan Rahel ini. Hingga tanpa sadar aku nyaman didalamnya.
Aku tidak tau apakah aku boleh bersender diatas pundak Rahel begini, tapi... untuk sekarang aku harap tidak apa.
"Ya kenapa ?".
"Kamu takut hujan kan ??, tapi kenapa kamu sangat tenang sekarang ?".
"Sudah ku bilang, aku tidak takut hujan. Selain itu ada kau yang membuatku tenang".
"Hah, apa maksud nya itu ??".
Rahel pun tersenyum manis kearah ku. "Kau itu orangnya memang kekanakan. Tapi disisi lain pula kau sangat baik dan juga manis hingga membuat orang disamping mu merasa nyaman".
"Ak-aku apa ?~".
__ADS_1
Lalu tanpa sadar setelah mendengar kalimat itu jantung ku langsung berdegup kencang, suhu dingin yang disebabkan oleh hujan kini tak terasa bagiku, aku hanya merasakan kegerahan hingga wajahku menjadi memerah.
"Hahh~, lihat kan Dafira, aku jadi banyak bicara karena kau orangnya".
Dan jantungku semangkin berdegup tak karuan, hingga rasanya ingin meledak.
"Hei kenapa wajahmu merah begitu ?". Ucap Rahel seraya menatapku lekat.
"Wajahku tidak merah !!".
Hingga perasaan aneh namun tak asing menghampiri ku kembali.
"Benarkah ??".
"Wajahmu juga merah tuh".
"Ini kan karena mu aku jadi gerah".
"Ma-manamungkin !".
"Hahh, terserah mu saja~~".
Disaat itu Rahel pun terlihat seperti orang frustasi, dengan helaan nafas panjang Rahel langsung memendamkan wajahnya kembali didalam lipatan tangannya.
Namun didalam lipatan tangan itu pula Rahel masih melanjutkan sebuah perbincangan dengan ku.
"Hei".
Aku menoleh kearah Rahel. "Apa ??".
"Sepertinya aku akan meledak saat ini".
__ADS_1
...Didalam keheningan yang hangat, ditemani oleh sang hujan. Jantung kami berdua berdebar sangat kencang, aku dan Rahel merasakan perasaan yang sangat janggal, namun kami masih tidak mengetahui perasaan apa ini. Namun karena perasaan itu aku dan Rahel menjadi sangat dekat hingga sekarang, rasa hangat dihati kami menyelimuti dinginnya angin hujan. ...
Apakah perasaan ini akan bertahan ??. Atau hanya perasaan singgah sesaat ??. Aku belum tau jawabannya.