
Bab ada uhukkk dikit, yang mikirnya dosa tolong skip aja 🙈
****
Ardhi pergi, Rita pun pergi begitu saja.
"Mau tidur bareng aku?" tawar Ishana pada Risma.
Ishana faham akan keadaan hati sahabatnya.
"Aku ke kamar kamu dulu aja, tapi gak tidur di sana, takut tengah malam kak Ardhi cari aku."
Keduanya segera melangkahkan kaki menuju kamar Ishana.
Sedang di kamar Eva. Perlahan Ardhi menutup pintu kamar itu. Dirinya merasa lega, melihat Eva tiduran diatas sofa sambil memainkan handphone-nya.
"Eh Ardhi." Eva memasang raut wajah kagetnya karena kedatangan Ardhi. "Kamu tidur di sana." Eva menunjuk kearah kasur. "Dan aku tidur di sini saja, maaf ya, ternyata berbicara tidak semudah mengamalkannya, mulutku begitu mudah berkata aku bersedia, pas sudah terjadi, aku butuh waktu untuk melakukan hal itu bersama Anda."
Seketika batin Ardhi merasa lega, ternyata Eva tidak menuntutnya seperti khayalannya. "Terima kasih Eva, aku juga butuh waktu untuk hal itu."
"Tapi untuk menjaga perasaan mama mu, kamu tidak keberatan kan kita berada satu kamar?"
"Tidak sama sekali. Nanti kita bergantian, malam ini oke kamu di sofa, untuk malam berikutnya biar aku saja."
"Sip." Eva mengacungkan 2 jempolnya ke udara.
Perhatian Ardhi tertuju pada teko yang berisi air putih, tenggorokkannya terasa kering, melihat ada 2 buah gelas di sana, Ardhi segera melangkah dan menuangkan air putih hingga memenuhi gelas kosong yang dia pegang.
Senyuman Eva semakin lebar, kala melihat gelas yang tadi penuh, kini isinya sudah habis Ardhi teguk.
"Tadi mama siapkan keperluan kamu, itu." Eva menunjuk kearah tumpukkan pakaian bersih.
"Owh, ya sudah, aku mandi dulu."
Setelah Ardhi pergi, Eva langsung mengunci pintu kamarnya, dan menyembunyikan kunci itu. Sedang dirinya langsung melepas pakaian santai yang dia kenakan, tampaklah gaun malam yang begitu seksi, memamerkan segala keindahan yang tubuhnya miliki.
Sedang di kamar mandi.
10 menit berlalu, sedikit lagi Ardhi selesai dengan kegiatan mandinya. Tiba-tiba hawa panas menjalar keseluruh batang tubuhnya, entah bagaimana, keinginannya yang satu itu tiba-tiba menguat.
Miliknya pun berdiri tegak sempurna. Ardhi mengingat kejadian sebelumnya, dirinya minum air putih yang ada di kamar Eva. Otaknya mulai mengerti apa yang terjadi padanya. Dengan tergesa-gesa Ardhi menyudahi kegiatan mandinya.
Hanya mengenakan handuk yang melingkar dipinggangnya, Ardhi berlari menuju pintu, rasanya tubuh dan otaknya tidak mampu lagi menahan keinginan itu. Keinginannya saat ini, dia ingin melepas reaksi obat itu bersama Risma.
Namun saat sampai dipintu kamar Eva, pintu itu terkunci.
"Mau kemana baby ...." Sepasang tangan indah melingkar di perut Ardhi, punggungnya pun merasakan dua benda kenyal dan padat menempel di sana, ditambah ******* manja suara Eva membuat darahnya semakin mendidih.
__ADS_1
Ardhi melepaskan pelukan Eva, ketika dirinya berbalik, kedua mata Ardhi disambut pemandangan yang semakin membuat keinginan itu meledak-ledak.
"Huhhhh!" Ardhi berusaha keras melawan keinginan itu. "Berikan kuncinya, Eva!" keringat mulai membasahi tubuh Ardhi.
"Biarkan saja dikunci, biar kita melakukan persembahan ini tanpa gangguan." Eva mendekati Ardhi dan berusaha menggodanya.
"Aku tidak mau melakukannya denganmu, aku ingin ke kamar istriku Risma!" Ardhi mendorong tubuh Eva yang menempel pada tubuhnya.
"Aku juga istrimu baby ...." Eva terus berusaha menempelkan tubuh seksinya pada Ardhi, menggigit lembut daun telinga Ardhi.
Hal itu semakin membuat darah Ardhi mendidih.
"Jangan sentuh aku!" Ardhi sangat marah karena kelicikan Eva, dia terus berusaha menepis sentuhan maut Eva.
Eva tidak menghiraukan kemarahan Ardhi, dia terus berusaha merobohkan tembok pertahanan Ardhi yang sedikit lagi roboh. Dia berusaha melakukan sentuhan-sentuhan kecil lain.
Saat ini, jangankan melihat Eva yang hampir polos, melihat tiang listrik tersenyun pun, rasanya Ardhi tidak mampu menahan ledakkan ini. Sekuat apapun Ardhi menolak, tapi teriakkan keinginan itu diluar kuasanya. Di luar kesadarannya Ardhi melepaskan gejolak yang sedari tadi berteriak ingin lepas. Dia membalas perbuatan Eva, dan menggendong Eva dan merebahkan wanita itu di lahan pertempuran mereka, Ardhi perlahan memulai serangan pembuka pada Eva.
Kedua mata Ardhi seakan tertutup oleh keinginannya, entah obat apa yang Eva masukkan dalam minuman itu, bukan hanya sangat-sangat ingin melakukan itu, tapi dirinya juga tidak bisa lagi mengenali keadaan sekitar.
Ardhi sedikit tersadar, dan masih berusaha melawan arus gelombang yang semakin meninggi itu, dia bangkit dari posisi nya dan ingin pergi dari sana, namun tiba-tiba Ardhi tumbang, dan terkapar diatas lantai karena terus melawan keinginan itu.
Eva tersenyum, kata temannya yang memberi obat itu, yang meminum dan berusaha melawan, akan kehilangan kesadarannya sebentar, namun saat terbangun, maka orang itu telah berubah menjadi singa yang kelaparan.
Tandanya sebentar lagi Ardhi akan dibawah kendali obat itu 100 persen, perlahan Eva membuka kunci pintu kamarnya, niatnya supaya dua madunya bisa mendengar tabuhan genderang perang yang sebentar lagi akan bertabuh.
Benar saja, laki-laki itu benar-benar liar, Eva kewalahan menghadang serangan Ardhi.
Samar Eva mendengar suara pintu terbuka, dia pun sengaja melepaskan rintihan erotisnya, untuk membuat mental madunya down mendengar hal itu. Bahkan Eva sengaja mengeraskan suaranya, seingatnya di lantai 2 ini, hanya ada mereka berempat. Eva terus merintih, mengucapkan nama Ardhi.
*****
Malam semakin larut, terlihat Ishana berulang kali menguap. Risma tidak tega berada di kamar Ishana lebih lama lagi, terlebih besok madu plus sahabatnya itu masuk dinas pagi.
"Na, aku ke kamarku ya."
"Mau ku temanin?" tawar Ishana.
"Tidak usah, kamu langsung tidur saja."
Ishana setuju, dia memang sangat mengantuk, namun dia tahan, demi sahabatnya. Ishana pun langsung memejamkan kedua matanya.
Risma keluar dari kamar Ishana. Saat dirinya menutup pintu itu, terdengar jelas rintihan yang bersahutan.
"Faster baby ...."
"Ardhii ...."
__ADS_1
Jeritan kata itu berulang kali menyambut indra pendengaran Risma. Kedua matanya menoleh kearah pintu kamar Eva, terlihat pintu kamar itu terbuka sepertiganya. Hati Risma semakin menciut, kala melihat bayangan dua orang yang tengah bertarung liar.
Jeritan Eva semakin kuat dan panjang, hal itu sangat-sangat menyiksa batin Risma. Air mata pun seketika menganak sungai di pipinya. Dia melangkah cepat menuju kamarnya.
Sesampai di kamarnya Risma menutup kedua telinga dengan bantal, tetap saja jeritan Eva masih terbayang.
Menangis, hanya itu yang Risma bisa, sebelumnya dirinya sangat mudah meminta Ishana, ternyata Ishana benar, Ishana tidak melakukan hal itu bersama Ardhi, takut ada yang berubah dalam hubungan persahabatan mereka.
Kamu belum merasa Ris, kalau kamu merasa, aku ragu kamu masih berkata demikian.
Setelah kamu tahu, suamimu menjalin kasih dengan madumu sepanjang malam, apakah kamu masih bisa berkata demikian?
"Aakkkk!" Risma menjerit, wajahny dia tutup dengan bantal, agar jeritannya tidak terdengar keluar kamar.
Ardhii ... Ahh ....
Jeritan Eva lebih menyakitkan dari rasa sakit yang pernah dia bayangkan sebelumnya.
Risma tak bisa menghentikan tangisnya, ingin berterima kasih pada Ishana, namun juga ingin memarahi.
Dia benar, berkata sebelum merasakan itu mudah, namun saat merasakan apakah dia kuat?
"Hiksss! Aaa! Sakit Na!"
***
Melihat sekilas bayangan yang lewat, dan suara pintu kamar yang tertutup, Eva semakin bahagia, dia yakin setelah malam ini kepercayaan diri dan mental Risma akan berubah.
Eva dan Ardhi terus menyelesaikan pertempuran mereka. Eva menang, rencananya berjalan dengan sempurna, kini benih Ardhi sudah tersemai di dalam rahimnya. Bahkan berkali-kali laki-laki itu melakukannya.
****
Perlahan mata Ardhi terbuka, kepalanya sedikit pusing, namun tubuhnya terasa enteng, perlahan kedua matanya mengerjap. Namun sebelah tangannya terasa berat, tertimpa oleh sesuatu.
Ketika kedua matanya terbuka, sangat jelas Ardhi melihat sosok Eva yang berbungkus oleh selimut, tidur berbantalkan lengannya, Ardhi pun mengingat kejadian tadi malam. Tidak bisa mengingat dengan jelas, yang pasti dia sudah melakukannya bersama Eva. Perlahan Ardhi melepaskan lengannya yang menjadi bantal Eva. Hal itu membuat wanita cantik itu terbangun.
"Pagi baby ...." suara Eva terdengar sangat lemas, namun wajah pucat itu berusaha memberikan senyuman manisnya. "Kamu sangat luar biasa baby ...."
Ardhi sangat geram, ingin marah tapi tidak tahu harus bagaimana, dia sudah menyemai benih pada ladang Eva.
Ardhi langsung bagun dan berjalan menuju kamar mandi. Dia tidak memerdulikan Eva yang bersikap manis padanya.
Sepanjang aktivitas mandinya, Ardhi terus mengutuki dirinya yang telah masuk dalam jebakkan Eva.
"Kenapa aku sebodoh ini! Harusnya aku melakukan hal ini sejak lama dengan Ishana, agar tidak perlu menyakiti hati Risma dengan menikah lagi!" Ardhi meninju dinding kamar mandi, meluapkan kekesalannya.
"Maafkan aku Risma, aku telah melakukan hal itu dengan orang lain ...." tangis penyesalan Ardhi pun tumpah.
__ADS_1
***