
Ishana memandangi Risma dan Ardhi bergantian.
“Apakah pengorbahan kita semua agar rumah tangga kalian, hanya ada kalian berdua masih kurang?”
“Aku memalsukan kemtian, hidup jauh dari Ayah, bahkan tidak menemuinya saat akhir hayatnya hanya karena tidak ingin ada orang ketiga dalam pernikahan kalian lagi.”
“7 tahun … bukan waktu yang sebentar,” pekik Ishana.
“Terima kenyataan Na, takdirmu adalah menjadi istri Ardhi. Sejauh apapun kamu lari, Tuhan akan mengantar kamu kembali kepelukan Ardhi dengan cara-NYA.”
“Jully bukan jodohmu Na, saat detik-detik terakhir ini, dia malah tidak datang.”
“Maaf aku nggak bisa Ris. Lebih baik aku menikah dengan salah satu pelayan mama, daripada harus menyakiti kamu lagi.”
“Penolakan kamu yang membuatku sakit Na. Aku sangat berharap kamu bisa kembali dalam ikatan berbagi cinta dengan kami.”
“Nggak Ris ….”
“Aku mohon Na, ini permintaan terakhirku.” Risma menatap sendu wajah Ishana. “Umurku tidak lama lagi Na, aku tidak bisa pergi dengan tenang jika orang yang aku cinta belum ada yang menjaganya.” Begitu tenang Risma menceritakan keadaaanya pada Ishana.
“Apakah permintaan terakhirku ini tidak bisa kamu wujudkan Na?” Risma menatapa Ishana dengan sorot mata penuh permohonan.
Ishana tidak mampu membalas tatapan mata Ishana, lidahnya pun tidak bisa berkata lagi, dia langsung memeluk Risma dan menumpahkan tangisnya.
“Jangan sedih, aku aja bahagia Na.”
Ishana tidak punya alasan untuk menolak Ardhi, demi kebaikan bersama, Ishana menyetujui menikah dengan Ardhi.
Semua orang mengumpulkan sisa energi mereka, dan segera menempati tempat mereka masing-masing. Ishana dan Risma membenahi dandanan mereka. Hingga keduanya terlihat segar kembali.
“Semoga kalian bisa menemukan cinta yang hilang diantara kalian.” Risma menepuk lembut bahu Ishana.
“Cinta diantara kami adalah dirimu, kami saling mencinta karena cinta kami yang sama. Kamu.” Ishana menarik Risma kedalam pelukannya.
Risma menyudahi pelukan mereka. “Pelukannya nanti kita sambung lagi.”
Risma mendatangi ketiga anak-anaknya. “Anak-anak, om Jully tidak bisa datang, jadi yang akan menikahi mama Ishana adalah Ayah Ardhi, jadi … kita semua akan tinggal di rumah yang sama.”
“Horeee!” teriak Dina, Dhifa, dan Rian bersamaan.
Mereka tidak terlalu mengerti urusan orang dewasa, namun ketiganya bahagia bisa berkumpul 1 rumah bersama-sama. Risma langsung pamit, dia menuju ruangan tempat Ardhi bersiap.
Rian mengambil posisi berdiri di samping Ishana, dia akan berjalan sambil menuntun tangan ibunya. Sedang Dina dan Dhifa berjalan berdua di depan Ishana sambil menebar kelopak bunga yang ada di keranjang yang mereka pegang.
Ballroom hotel seketika hening, saat pembawa acara mengatakan acara akad nikah akan segera di mulai. Para wartawan yang sedari tadi bosan menunggu seakan mendapat energi baru. Mereka bersiap memecahkan teka-teki siapa calon menantu Shafina Azzalea Shafiq.
...Waktu pertama kali...
...Kulihat dirimu hadir...
__ADS_1
...Rasa hati ini inginkan dirimu...
Lagu cinta luar biasa dari Andmesh Kamaleng, terus dinyanyikan oleh pengisi musik di sana. Telinga Ardhi sangat jelas mendengar alunan lagu merdu itu. Saat yang sama Risma mendekatinya dan merapikan penampilannya. Kedua mata Ardhi memandangi Risma dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dia terbayang semua kejadian awal dia melihat Risma dan semua kenangan indah mereka, saat menikahi Risma, saat bulan madu, dan saat Risma
hamil pertama kali.
...Hari hari berganti...
...Kini cinta pun hadir...
...Melihatmu memandangmu bagai bidadari...
...Lentik indah matamu manis senyum bibirmu...
...Hitam Panjang rambutmu anggun terikat...
Ardhi dan Risma saling pandang, tangannya membelai sisi wajah Risma sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi di ruang acara.
...Rasa ini- tidak tertahan …....
...Hati ini slalu untukmu....
Mengingat semua awal perjalanan rumah tangga mereka, suara Ardhi mulai gemetar dan langsung memeluk Risma.
“Terima kasih atas semua cinta yang mas beri,” ucap Risma.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk,” ucap Risma.
Perlahan pintu terbuka. “Tuan Ardhi silakan menuju menuju tempat akad.”
Risma tersenyum dan menganggukkan kepalanya, panitia itu pun pergi setelah mengatakan maksudnya.
“Mas, mari kita jemput bidadari surga yang satunya buat mas.” Dengan perasaan bahagia Risma menggandeng suaminya menuju tempat acara.
Di Balroom hotel tempar akad dan Resepsi, dari pintu yang berlawanan muncul sosok Ardhi berjalan lambat sambil bergandengan bersama Risma, sedang dari pintu diarah sebaliknya, muncul Dina dan Dhifa sambil menebar kelopak bunga, di belakang mereka tidak lama muncul Ishana dan Rian. Suasna itu dihibur oleh pemain musik yang menyanyikan lagi ‘Aku Lelakimu’
...Datanglah bila engkau menangis...
...Ceritakan semua yang engkau mau...
...Percaya padaku aku lelakimu...
Ishana memandang kearah Ardhi, laki-laki itu ada bersamanya, saat cintanya meninggalkan dirinya di detik-detik akhir. Apapun alasan Jully, Tindakan Jully membuat dirinya jatuh dan terpuruk sangat dalam.
...Mungkin pelukku tak sehangat senja...
...Ucapku tak menghapus air mata...
__ADS_1
...Tapi ku di sini sebagai lelakimu...
Ishana terbayang saat masa dirinya bersama Ardhi.
Aku sangat mencintai kalian berdua, Na. Jika suatu saat salah satu dari kalian memintaku memilih salah satunya, aku memilih pergi.
Ishana berusaha menahan air matanya. Selama ini Ardhi suami yang baik baginya, dirinya yang meninggalkan Ardhi, demi cintanya pada Risma.
...Akulah yang tetap memelukmu erat...
...Saat kau berpikir mungkinkah berpaling...
...Akulah yang yang nanti menenangkan badai...
...Agar tetap tenang kau berjalan nanti …...
Alunan lagu Aku Lelakimu semakin membuat Ishana tenggelam dengan segala kenangan masa lalunya bersama Ardhi. Dia sudah berusaha pergi jauh, tapi saat ini dirinya malah kembali menjadi istri untuk Ardhi.
Aku juga mau istirahat Bil, tapi mau bagaimana? Andai menantuku Ardhi, dengan senang hati aku melepas semua bisnisku untuk dia Kelola, tapi orang-orang di sekitarku yang memahami bisnis orang lain, Ardhi saat ini orang lain, Pajri juga orang lain. Bagaimana aku yakin melepas sahamku triliunan itu pada orang lain?”
Terlebih saat ini menantuku Jully, dia dokter, bukan pengusaha.
Ishana terbayang keluhan ibunya tempo hari. Menikah kembali dengan Ardhi, bukan hanya menyelamatkan harga diri mereka dari rasa malu ditinggal mempelai laki-laki, juga membantu meringankan beban ibunya. Ishana memantapkan langkahnya dan menegakkan wajahnya.
Ini keinginan terakhirku Na.
Walau hatinya sangat sedih mengingat kata-kata Risma, tapi dia bahagia bisa membantu mewujudkan keinginan terakhir sahabatnya. Hingga langkahnya pun sampai di meja akad. Rian, Dina, dan Dhifa berdiri di samping meja akad dekat 2 orang saksi, sedang Risma duduk di samping Ishana.
Semua surat menyurat sudah selesai, akad pun diikrarkan oleh Ardhi.
“Bagaimana para saksi?”
“Sah!”
Tidak sakit sedikitpun, Risma sangat bahagia dan memeluk Ishana. “Selamat datang kembali saudariku.” Satu ciuman lembut dari Risma mendarat di pipi kanan Ishana.
Mereka menyudahi pelukan mereka, karena harus menyelesaikan acara akad ini, sepasang pengantin saling menyematkan cincin. Ishana mencium punggung telapak tangan Ardhi, dan Ardhi mencium alis Ishana, Ardhi berdiri
mendekati Risma dan memeluknya.
“Terima kasih mas. Mimpiku sudah kamu wujudkan, ada Ishana di sampingmu, kapan pun tiba waktuku, aku siap dan aku akan pergi dengan tenang.”
Risma menarik Ishana, mereka bertiga pun berpelukan bersama.
Tamu undangan yang hadir terharu melihat ketegaran Risma, seorang istri yang sangat bahagia menyaksikan bahkan terlibat untuk pernikahan kedua suaminya. Kilatan blizd kamera pun terus menyala mengabadikan momen itu.
“Semoga tiketku masuk surga yang ini tidak hangus lagi,” ucap Risma.
“Kamu perempuan yang dirindukan oleh surga Ris,” ucap Ishana.
__ADS_1
“Amiin ….” Sahut Risma.
Mereka bertiga terus berpelukan, melupakan banyak pasang mata yang terus memandangi mereka.