Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 8 Untuk Kamu


__ADS_3

Selesai berbicara dengan Eva via telepon, Rita bergegas menemui Ardhi. Beruntung putranya itu belum berangkat bekerja.


"Ada pertemuan penting hari ini Dhi?" tanya Rita.


"Enggak mah, cuma menyelesaikan beberapa pekerjaan saja," jawab Ardhi.


"Berarti bisa libur?"


"Buat mama, bisa. Ardhi akan libur." Ardhi lelah kalau harus mendengar kata-kata pedas mamanya lagi.


"Begini dong, emosi mama juga nggak meledak, kalau kamu mau mengerti mama." Rita terlihat begitu bahagia.


"Ada apa mah?" tanya Risma.


"Ardhi libur dulu, dan kalian berdua dandan yang cantik ya."


"Dandan?" ucap Ishana dan Risma bersamaan.


"Iya, wanita pilihan mama akan datang beberapa menit lagi, jadi kita semua sambut dia." Rita segera pergi dari sana setelah menyampaikan maksudnya.


Alamak ... andai ku tau, aku bilang ada rapat saja!


Ardhi sangat kesal, namun terlanjur meng-iyakan keinginan mamanya.


Di kamar Rita.


Rita membantu Wisnu mengenakan pakaian rapi. Wajah wanita itu juga terlihat lebih bahagia, berbeda dengan seminggu terakhir.


"Ada apa mah? Kenapa mama sangat bahagia?" tanya Wisnu.


"Mama bangga sama Ardhi, demi mimpi papa dia rela menikah lagi." Rita tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.


"Sebenarnya papa merasa bersalah, karena keinginan papa, Ardhi menyakiti hati wanita, sebagai laki-laki, papa faham bagaimana perasaan Risma, tapi papa hanya ingin cucu yang terlahir dalam ikatan pernikahan."


"Iya, mama mengerti, makanya mama carikan wanita lain yang lebih sehat, dan mau memahami posisi Ardhi dan dua istri yang lain."


***


Waktu terus berjalan. Semua orang duduk santai di ruang tamu menunggu tamu yang Rita maksud.


Pembantu setia keluarga Wisnu berjalan cepat menghampiri majikannya. "Selamat siang Tuan, Nyonya, di depan sudah ada tamu yang bernama Eva," ucap bi Atin.


"Suruh dia masuk bi, dari tadi kami menunggu kedatangannya," titah Rita.


Hanya beberapa detik, bi Atin kembali bersama seorang perempuan cantik, pakaian yang dia kenakan bukan pakaian biasa. Tubuhnya yang begitu ideal, membuat Risma mematung mengagumi kecantikan wanita pilihan ibu mertuanya.


"Selamat siang semua, saya Eva Bastian." Eva mengulurkan tangannya menyalami setiap orang yang ada.


Ishana dan Risma sangat mengagumi wanita itu, cara berpakaiannya, keindahan dan kecantikkan yang dimiliki wanita itu.

__ADS_1


Hal itu semakin membuat hati Risma mengecil. Mertuanya sangat hebat memilih calon menantu, andai mereka berempat jalan bersama, maka yang orang tau Eva lah istri Ardhi, sedang dirinya dan Ishana, lebih tepat seperti pelayan Eva.


Ya Tuhan ... dia sangat cantik, sepertinya dunia mas Ardhi hanya ada dia, bukan aku lagi.


Sedih, takut, cemas, semua itu menyelimuti hati Risma. Saat Ardhi menikahi Ishana, sakit ada, tapi rasa takut dan khawatir seperti yang dia rasa saat ini tidak ada. Karena Ishana dalam kendalinya, sedang wanita itu, pasti akan berkuasa.


"Kamu sudah tahu bukan, kalau anak saya memiliki 2 istri," ucap Wisnu.


"Sangat tahu Tuan. Saya berbicara banyak hal dengan Nyonya Rita." Senyuman indah itu semakin mempercantik wajah Eva.


Namun kecantikan Eva sedikitpun tidak membuat Ardhi terpesona. Di kantornya sangat banyak wanita cantik seperti Eva, bahkan jauh sebelum ada Risma dalam kehidupannya, teman-temannya wanita cantik sukses seperti Eva, namun tak satupun bisa menarik perhatian Ardhi.


"Siap berbagi dengan 2 menantu yang lain?" tanya Wisnu.


"Pertanyaan itu salah Tuan, harusnya Anda bertanya pada 2 menantu Anda, apakah mereka bersedia menerima saya sebagai saudari mereka?" balas Eva.


"Kamu wanita yang cantik, saya yakin di luar sana banyak laki-laki yang masih sendiri yang berusaha mendekati kamu, kenapa kamu malah bersedia menjadi istri ketiga saya?" tanya Ardhi.


"Kamu masih sendiri, di luar sana masih banyak yang single yang berusaha mendekati kamu, kenapa kamu malah bersedia menjadi istri ketiga saya?" tanya Ardhi.


"Persaudaraan, setiap wanita adalah saudara, melihat kesedihan Nyonya Rita, hati saya terketuk, dan saya rela melakukan itu, demi kebahagiaan wanita lainnya."


"Tapi menikah dengan saya, kamu sulit bahagia, karena saya tidak bisa adil, bahkan sampai detik ini, istri kedua saya masih tidak mendapat keadilan," sela Ardhi.


"Itu urusan Anda, urusan saya, saya hanya mecoba berbakti untuk Anda dan keluarga Anda."


"Ardhi!" Rita sangat kesal mendengar pertanyaan Ardhi pada Eva.


"Anda kira saya orang miskin seperti 2 istri Anda? Saya memiliki butik yang menghasilkan jutaan dalam setiap bulannya, dan saya seorang model," jawab Eva.


Duggg!


Nyali Risma semakin menciut, mengetahui Eva seorang wanita karir yang sukses, juga seorang model.


"Mama susah payah mencari wanita seperti Eva, bukan seperti kamu!" sindir Rita.


Ardhi banyak diam, hanya ada obrolan Rita, Eva, dan Wisnu.


Keputusan pun telah diambil, sepuluh hari dari sekarang, Ardhi dan Eva akan melakukan akad Nikah yang hanya dihadiri oleh keluarga inti.


Setelah Eva pergi, Ardhi memilih pergi ke kantor, walau kepalanya terasa berasap, namun saat ini kantor tempat ternyaman untuk dirinya merenung.


Sedang Risma, wanita itu seketika berubah, keceriaan tidak lagi terlihat dari wajahnya, membuat Ishana merasa sedih.


Ishana mengajak Risma bersantai di gazebo yang ada di samping kolam renang.


"Ada apa Risma?" tanya Ishana.


"Eva."

__ADS_1


"Kenapa dengan Eva?" tanya Ishana.


"Mas Ardhi bersamamu, aku tenang, tidak takut sedikitpun. Tapi melihat Eva, aku ketakutan. Pilihan mama sangat luar biasa. Eva wanita yang sangat serasi menjadi pasangan mas Ardhi." Risma tidak mampu lagi menahan tangisnya.


"Maafkan aku Risma." Hanya kata maaf yang mampu Ishana ucapkan.


Tiba-tiba Risma menghapus air matanya. "Kita keluar, aku ada ide."


"Tapi--"


"Jangan ada tapi, sana bersiap, aku juga akan bersiap."


Ishana hanya bisa menuruti apa mau Risma, dia pun segera bersiap seperti yang Risma mau.


Izin keluar rumah dari Ardhi di dapat, Risma segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Harapan Afiat.


"Rumah Sakit?" Ishana masih bingung, kenapa Risma membawanya ke Rumah Sakit ini.


"Cepat ikut aku." Risma turun lebih dulu dari mobil.


Ishana pun segera mengejar Risma, karena dirinya jauh tertinggal.


Saat yang sama, sepasang mata Eva melihat 2 calon madunya. Dia segera memarkirkan mobilnya, dan membuntuti kedua wanita itu.


Ishana khawatir, biasanya Risma ke Rumah Sakit karena ada keperluan dengan dokter Sonia, konsultasi tentang keadaannya karena memenuhi keinginan biologis Ardhi "Risma! Ngapain kita ke sini? Kamu sakit karena Ardhi anu tanpa henti lagi?" tanya Ishana.


Plakkk!


Bukan jawaban yang dia dapat, malah pukulan dari Risma yang mendarat di bahunya.


"Bukan untuk aku, hal itu sudah terjadwal, dan mas Ardhi mengerti akan keterbatasan aku. Tapi untuk kamu." Risma kembali memacu langkah kakinya.


"Aku?"


"Iya, harusnya dari awal aku tuh bawa kamu ke sini, untuk program kehamilan!" jawab Risma.


Seketika langkah kaki Ishana terhenti mendengar ucapan Risma.


Merasa tidak mendengar suara langkah kaki lagi, Risma pun menghentikan langkahnya, saat dirinya berbalik, terlihat Ishana mematung dibelakangnya.


Risma menghempas kasar napasnya, dia kembali mendekati Ishana. "Ayo Na, kamu juga harus bisa hamil, jangan pasrah aja!"


Ishana bingung harus berkata apa, namun jika sampai dirinya diperiksa dokter Sonia, maka akan ada orang lain yang tau tentang dirinya, kalau hingga detik ini dirinya masih perawan.


"Ada hal yang hanya aku dan kak Ardhi yang tau," ucap Ishana.


"Apa itu?" tanya Risma.


"Kita bicara di tempat lain." Ishana langsung menarik Risma menuju tempat sepi, untuk menceritakan apa hubungan dia dan Ardhi selama ini.

__ADS_1


__ADS_2