
Ikhlas, hanya satu kata yang terdiri dari 6 huruf, namun menjalaninya tidak semudah melafalkannya.
Kini kandungan Eva memasuki bulan keempat. Sejak Eva dinyatakan hamil, hingga saat ini Ardhi tertawan oleh Eva.
Jika Eva melihat Ardhi mendekati Risma, wanita itu langsung berteriak memanggil suaminya dengan nada yang begitu manja. Jika Ardhi mengabaikannya, lidah Rita pun tidak segan menggores hati setiap orang yang ada di depannya
Risma merasakan dirinya telah kehilangan Ardhi. Setiap malam hanya meringkuk sendirian di tempat tidur, tidak ada belaian hangat dari suami tercinta. Hanya tangisnya yang selalu menemani malamnya.
Makan malam sudah selesai, Risma hanya melamun memandagi balkon lewat pintu kaca itu. Kenangan indah bersama Ardhi tinggal kenangan, laki-laki itu fokus dengan Eva, lupa akan dirinya.
"Sayang ...."
Sepasang tangan yang kokoh melingkar di perut Risma. "Aku kangen banget sama kamu."
Risma memejamkan matanya, sumpah demi apapun, dia sangat merindukan sentuhan ini.
"Ardhi ...."
Dorr Dor! Dor!
Teriakan diiringi gedoran pintu itu membuyarkan segalanya.
"Eva lagi ...."
Ardhi sangat kesal, dirinya tidak bisa mendatangi Risma walau hanya sebentar.
"Setelah Eva tidur, izinkan aku menemanimu, aku sangat rindu kamu." Ardhi kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Risma.
"Ardhi!"
Suara lantang itu benar-benar membuat Ardhi harus menghentikan keinginnya.
Risma hanya diam, pandangannya lurus kedepan. Tanpa Ardhi ketahui, air mata sudah menganak sungai di pipi Risma. Sedang laki-laki itu mendatangi Eva.
"Kenapa lama? Aku rindu banget sama kamu beb." Dengan nyamamnya Eva langsung memeluk Ardhi.
Kehamilan ini benar-benar senjata ampuh bagi Eva, Ardhi menuruti segala yang dia mau, walau dia tau Ardhi melakukan semua ini demi anak yang dia kandung.
Malam semakin larut, Ardhi masih terjaga, kedua matanya tidak mampu terpejam, dia sangat merindukan Risma. Ardhi berulang kali menepuk pundak Eva, namun wanita itu tidak bergeming, dia sangat mendalami tidurnya.
Senyuman terukir di wajah Ardhi, dia segera keluar dari kamar Eva, dan menuju kamar Risma.
Suasana kamar yang hanya diterangi cahaya lampu temaram. Terlihat di tempat tidur itu seorang wanita tidur meringkuk sendirian. Ardhi segera menutup pintu kamarnya, dan langsung naik ketempat tidur menghampiri Risma.
Tanpa berkata lagi, Ardhi langsung ikut masuk kedalam selimut, memeluk tubuh wanita itu erat. Tangannya mulai membuka satu per satu, kancing baju wanita yang ada dalam pelukannya, hingga tangannya leluasa kemana-mana.
Rasa yang berbeda, ukuran perbukitannya lebih luas dari cengkraman tangannya. Telapak tangannya kini tidak mampu mencakup semua dalam sekali genggam.
Waw, ukuran Risma semakin besar saja setelah sekian lama tidak menyentuhnya.
__ADS_1
Ardhi menikmati semua itu, membiarkan tangannya melakukan apa yang dia mau. Men-cengkram lembut dan memijatnya. Perlakuan Ardhi membuat sosok yang larut dalam tidur itu menggeliat karena ulahnya. Ardhi semakin semangat, saat dirinya hanyut di lekukan leher jenjang itu, namun aroma ini mengingatkannya pada Ishana.
Ardhi segera menyadarkan dirinya, menajamkan telinganya, samar terdengar bunyi gemericik air dari arah kamar mandi, Ardhi pun menajamkan pandangannya
Ishana?
Antara bahagia dan syok saat dia menyadari kalau itu Ishana bukan Risma. Samar bunyi gemericik air itu berhenti, Ardhi lagsung berlari kearah pintu. Saat yang sama Risma keluar dari kamar mandi.
"Sayang ...." Ardhi menghampiri Risma. "Aku kangen kamu." Dia berusaha memeluk Risma.
"Mas kira aku ini apa!? Simpanan mas? Yang mas datangi kucing-kucingan seperti ini?"
"Sayang ... tolong fahami keadaan ku, setelah Eva melahirkan, kita akan atur semuanya."
"Aku terhina mas, mas datangi aku seperti ini!"
"Sayang ... tolong mengerti keadaan aku." Ardhi menarik paksa Risma kedalam pelukannya.
"Lepas mas! Ada Ishana di sini."
Mendengar suara-suara itu, perlahan Ishana terbangun dari tidurnya. Kala kedua matanya terbuka sempurna, dia melihat sosok Ardhi berusaha memeluk Risma. Ishana tersenyum, merasakan rasa sakit di hatinya kala melihat Ardhi memeluk Risma.
Aku harus lebih peka pada Risma mulai saat ini, ternyata melihat seperti ini saja sakit, bagaimana posisi Risma?
Perlahan Ishana bangun dan berniat pergi dari kamar itu.
Pertanyaan Risma membuat langkah kaki Ishana terhenti. "Ada kak Ardhi, dia pasti kangen banget sama kamu Ris, jadi aku kembali ke kamar aku dulu." Ishana mempercepat langkah kakinya dan pergi dari sana, tanpa memerdulikan panggilan Risma.
"Ishana saja mengerti, kalau aku itu rindu banget sama kamu." Ardhi kembali berusaha meruntuhkan pertahanan Risma.
Risma berusaha menepis sentuhan Ardhi, walau tubuhnya menikmati semua itu. "Ingin bersamaku, datangi aku terang-terangan, jangan kucing-kucingan! Aku ini istrimu! Bukan Simpananmu!" Risma berusaha mengusir Ardhi dari kamarnya. Hingga laki-laki itu terdorong sampai keluar kamar, Risma pun langsung mengunci pintu kamarnya.
Rasa rindu, kangen, dan sayang semua itu tertimbun oleh rasa cemburu dan sakit hati, hingga kerinduan batinnya terkalahkan oleh egonya sendiri.
Ardhi pasrah, dia berharap suatu saat Risma mau mengerti. Ardhi pun kembali ke kamar Eva.
Di kamar Ishana.
Bayangan Ardhi berusaha mencium Risma, mengingatkan Ishana dengan kejadian di mobil waktu itu.
Bantu aku melupakan itu semua Tuhan ....
"Kenapa perasaan ini semakin ku tahan malah semakin berontak?"
Seketika Ishana diam, kala melihat bagian kancing bajunya terbuka sempurna. Bahkan kain berenda itu tidak menahan benda yang harusnya ditahan.
"Jangan-jangan mimpiku bermesraan dengan Kak Ardhi, membuat tanganku melakukan ini semua?"
"Owh tidak! Memalukannya aku dilihat kak Ardhi dengan baju kancing yang terbuka semua ini dan memperlihatkan ini semua."
__ADS_1
Ishana terus mengutuki dirinya karena kecerobohannya. "Semoga aja kak Ardhi nggak lihat karena gelap." Ishana membuang segela keresahannya, dan berusaha memejamkan matanya.
Di kamar Eva.
Wus .....
Bayangan kegiatan kilatnya menyerang Ishana terus berulang.
Kenapa secepat itu aku menyadarinya?
Ardhi terus tersenyum, hingga dirinya larut ke alam mimpinya.
***
Pagi kembali menyapa. Aktivitas di rumah ini paling sibuk saat pagi. Ardhi terlihat begitu segar, rasanya 4 sehat yang hampir sempurna tadi malam memberikan energi yang luar biasa. Walau baru sebatas menyentuhnya.
"Eva, mau ke bawah?"
Terlihat diatas sana Ishana membantu Eva menuruni anak tangga. Namun pandangan mata Ardhi tertuju pada bagian kesempurnaan yang tadi malam hanya dia pegang.
Ardhi! berhenti mengagumi benda itu!
Namun matanya tidak mematuhi perintah yang otaknya berikan.
Melihat Ardhi mematung memandang kearah Eva, Risma semakin tenggelam oleh rasa sakit, tanpa dia sadari, yang Ardhi pandang adalah Ishana, bukan Eva.
"Menantu mama yang paling cantik sudah bagun?" Rita langsung menyambut Eva di bagian anak tangga yang terakhir.
"Sudah dong mah, walau mata ini melihat Ardhi menjelang tidur, dan tidur dengan memeluk Ardhi sepanjang malam, tapi cucu oma ini nakal, masih saja pengen lihat papanya."
Rita hanya tersenyum mendengari cerita Eva.
"Ishana, kapan kamu memberi mutiara berharga seperti yang Eva akan beri pada kami? Ingat ya Ishana, walau ada istri lain yang memenuhi tanggung jawab, bukan berarti tanggung jawab kamu lepas," ucap Rita.
Seketika Ishana diam.
"Andai kamu tidak punya rahim kayak perempuan yang satu itu sih, tidak masalah! Kamu kan perempuan yang masih sempurna," cibir Rita.
"Anakku sudah memberi banyak hal untukmu, masa kamu tidak mau membalas sedikitpun?"
"Owh, maafkan aku, mungkin kamu dan Risma sama-sama mandul, sayangnya Risma mandul karena kesehatannya, kalau kamu, entahlah."
Ardhi menceng-kram kuat sendok yang dia pegang, hatinya sangat sakit melihat Ishana dihina seperti ini.
Kamu itu perempuan baik-baik Ishana, kamu tidak pantas mendapat hinaan seperti ini. Semua ini salahku, aku berjanji, aku akan menjadikanmu istriku yang sesungguhnya.
****
Ini novel dewasa ya, andai ada hiya-hiya, harap maklum.🤣🤣🤭
__ADS_1