
Shafina memberi waktu pada tamunya untuk melihat semua foto yang terpajang di rumahnya. Foto-foto Ishana dan pertumbuhan kedua anaknya.
"Sebab ini aku memanggil kalian ke sini, ada harus diselesaikan."
Ucapan Shafina seketika mengalihkan perhatian ketiga tamunya.
"Kalian semua membohongi kami!" Sepasang mata Ardhi mulai berkaca-kaca, 7 tahun ini wanita yang dia pikir telah tiada, ternyata hidup bahagia dibelahan bumi yang lain.
"Kebakaran itu, Anda yang merencanakan? Bagaimana kalau Risma tidak selamat dari kejadian itu? Anda tahu, Risma hampir terkurung dalam kebakaran itu."
Shafina tertawa mendengar tuduhan Ardhi. "Keputusan anakku untuk meninggalkanmu ternyata benar-benar tepat. Karena otakmu hanya Risma, Risma, dan Risma. Tapi tidak apa-apa, aku bahagia, karena hal ini juga yang Ishana impikan."
"Mengenai kebakaran itu, itu rencana mama tiri Ishana, dia telah merencanakan begitu rapi untuk melenyapkan Ishana. Aku hampir benar-benar kehilangan anakku, beruntung kami sempat menyelamatkan dia dari hotel itu."
Flash back.
Shafina mendapat laporan, kalau Gilda merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Ishana, agar seluruh warisan almarhum suaminya semuanya untuknya.
Deringan handphone memecah konsentrasi Shafina, melihat nama Purnama di layar telepon dia langsung mengangkat panggilan Purnama.
"Nyonya, ada masalah dalam rumah tangga Ishana, bisakah Nyonya bantu kami untuk pergi dari sini?"
Saat ini pikiran Shafina hanya ingin Ishana selamat dari Gilda, berada di rumah Ardhi, menurutnya Ishana aman, namun mengetahui ada masalah Shafina pun bingung.
"Bisa beri waktu dulu Pak? Saya akan menyiapkan semuanya."
"Baik Nyonya."
Pada sisi lain.
Purnama menyimpan kembali handphonenya, dia mengatakan pada Ishana, kalau dirinya butuh waktu untuk menyiapkan pelarian mereka. Ishana pun memahami Ayahnya.
Sejak hari itu, Shafina selalu memantau keadaan Ishana, dia sangat takut Gilda nekat menembak Ishana atau menabraknya.
Hari demi hari berlalu. Shafina hanya diam memantau semua laporan dari anak buahnya yang berkeliaran di sekitar Ishana, juga laporan apa saja pergerakan Gilda.
Shafina menerima laporan dari Purnama, kalau malam ini dirinya akan menghadiri acara 7 bulanan Eva di sebuah hotel. Purnama juga menceritakan keadaan Ishana yang hamil 3 bulan.
Shafina berpesan, agar Purnama memastikan keadaan Ishana sepanjang acara nanti. Shafina masih khawatir, dia mengutus beberapa anak buahnya untuk mengawal Ishana, ada yang menyamar sebagai tukang bersih di toilet pria juga di toilet wanita, bahkan pelayan biasa.
*
Saat acara berlangsung, Ishana merasa sangat lelah, dia meminta akses pintu kamarnya pada Purnama.
__ADS_1
"Selamat beristirahat Nak, kalau begitu Ayah juga pulang."
Purnama dan Ishana meninggalkan tempat acara bersama-sama, kepergian mereka dilihat banyak orang, termasuk para anak buah Shafina, juga Rita dan Wisnu.
Ishana istirahat di kamarnya, sedang Purnama pulang dengan menumpangi taksi.
Perjalanan Purnama sudah jauh, saat itu handphonenya bergetar. Purnama langsung mengangkat panggilannya. "Iya Nyonya?"
"Ishana pulang ke rumah siapa? ke rumah Bapak atau rumah suaminya?"
"Ishana menginap di hotel Nyonya." Purnama menyebutkan lantai 4 dan nomer kamar yang Ishana tempati.
Seketika Shafina panik, dia baru mendapat laporan, kalau Gilda menyabotase tempat itu.
"Ishana dalam bahaya Pak!"
Purnama langsung menutup panggilan teleponnya, dia meminta supir taksi untuk mengebut kembali ke hotel itu, supir taksi menolak, namun melihat uang yang Purnama berikan, dia menyetujui permintaan Purnama.
Berselang beberapa menit, panggilan dari dokter Jully masuk ke hanphone Purnama, dokter Jully belum sempat bicara.
"Halo dokter Jully, Anda masih di hotel itu? Ishana tengah beristirahat di lantai 4, kamar 043. Saya masih dalam perjalanan dok." Suara Purnama terdengar begitu panik.
Purnama semakin panik, karena mendengar suara alarm kebakaran dari ujung telepon sana. Harapannya dokter Jully sempat menyelamatkan Ishana.
Di hotel.
Gedorang pintu dan suara bel yang terus berulang, membuat Ishana terbangun. Perlahan dia menuju pintu dan membukanya. Terlihat 3 orang yang berbadan tegap di depan kamarnya.
"Ada apa ya?"
Orang itu belum menjawab.
"Na, cepat kita pergi! Lantai dua kebakaran Na!" Dokter Jully berlari kearah Ishana.
"Selamatkan diri Anda Tuan, Nona ini biar kami yang selamatkan.
Lapor! Kalian hanya punya waktu 29 menit, Nyonya Gilda menaruh bom di hotel itu, cepat tinggalkan gedung!
Instruksi dari radio salah satu tim penyelamat.
"Minta tim kamu siapkan pendaratan, kita akan melompat dari sini untuk menghemat waktu," ucap salah satunya.
"Melompat? Aku tidak bisa!" sela Ishana.
__ADS_1
"Tenang Na, mereka punya kantong udara tebal, kita tidak akan cedera walau kita terjun dari ketinggian." Jully mencoba meyakinkan Ishana.
"Bukan itu, tapi aku hamil."
Jully tercengang mendengar pengakuan Ishana.
Rencana B!
Titah dari radio tim penyelamat.
Tiba-tiba beberapa orang yang lain datang membawa mayat seorang perempuan.
"Kalian bertiga, bawa pemuda ini terjun, Nona Ishana tugas kami!" titah salah satunya.
"Kenapa mayat itu ditinggal di sini?" tanya Ishana.
"Sebagai pengalihan, biar yang menginginkan kematian Anda puas, jika mendapat laporan ada mayat. Mari kita pergi, waktu kita tidak banyak!"
Ishana melepaskan cincin kawinnya. "Pakaikan ini di jari manis mayat itu."
Rencana Ishana sangat brilian, setelah setelah menyematkan cincin itu dokter Jully pergi dengan 2 orang lain, keluar dari gedung itu lewat jendela yang ada di lantai 3, sedang Ishana pergi meninggalkan gedung itu dengan helikopter.
Helikopter sudah pergi kearah timur, sedang perhatian banyak orang banyak kearah barat, karena ada yang diselamatkan di sana. Helikopter yang membawa Ishana pun pergi, jauh sebelum ledakan itu terjadi.
Saat kejadian, hanya dokter Jully yang mengetahui Ishana masih hidup. Melihat kehancuran Purnama, Jully sangat tidak tahan. keesokan harinya, Shafina mengabari kalau Ishana berhasil dia selamatkan, dan meminta Purnama merahasiakan ini, membiarkan semua orang mengira Ishana telah tiada.
Rencana Shafina, drama kematian Ishana hanya untuk 2 bulan, untuk menjebak Gilda, dan membayar lunas perbuatan Gilda. Namun setelah Gilda dibereskan oleh saudara Ayah kandung Ishana, Ishana tidak mau kembali ke kehidupan lamanya.
Dia menceritakan semuanya pada Shafina. Shafina pun setuju, dia pun menceritakan siapa dirinya pada Ishana. Ishana melanjutkan hidupnya bersama ibu kandungnya, dia hanya berkomunikasi via telepon dan video call dengan Purnama.
***
Shafina menceritakan semua penyelamatannya untuk Ishana, kecuali bagian dokter Jully yang mengetahui hal itu.
"7 tahun terakhir ini, kami tinggal di sini, saat banyak wisatawan datang, maka saat itu Ishana tidak akan keluar dari rumah ini," terang Shafina.
"Jadi, Purnama tau kalau Ishana masih hidup?" tanya Ardhi.
"Iya."
"Aku melakukan semua ini, agar rumah tangga kalian bisa kembali seperti dulu."
Semua sorot mata tertuju kearah tangga, di sana tampak sosok Ishana.
__ADS_1
Pandangan mata Ishana tertuju pada Risma. "Kak Ardhi tidak akan bisa memilih salah satu dari kita Ris, jadi musibah itu jalan yang tepat untukku pergi dari hidup kalian."
***