
Mama, wanita itu yang ada dalam ingatan Eva. Perjuangannya saat ini mengingatkan dirinya akan perjuangan mamanya melahirkan dirinya dulu.
"Kamu pasti bisa sayang, kamu wanita kuat, kamu wanita hebat!" Rita terus berusaha menyemangati perjuangan Eva.
Jam menunjukkan pukul 23:15, sebagian penduduk bumi sudah berlayar ke alam mimpi mereka. Sedang Eva berada di puncak perjuangannya.
Lengkingan suara tangisan bayi yang memecah kesunyian malam seakan membayar lunas perjuangannya.
"Bayinya perempuan, cantik seperti mamanya," ucap dokter Sonia.
Dokter Sonia memberikan bayi mungil itu pada perawat yang ada di sampingnya.
Tidak berselang lama, seorang perawat datang membawa bayi Eva kehadapan Eva, namun wanita itu malah membuang wajahnya kearah lain. "Mama, aku tidak ingin melihatnya."
"Eva, walau bagaimanapun, dia putrimu," bujuk Rita.
"Mama aku mohon, setelah yang aku lalui beberapa jam yang lalu, aku tidak yakin bisa menepati janjiku pada mama, kalau aku melihatnya, apalagi kalau aku menyusuinya, aku mohon mama, jangan tambah beban hatiku."
"Dengan kamu memberikannya pada kami, hal itu tidak memutuskan ikatanmu dan bayi itu, Eva."
"Aku tau, tapi aku takut aku tidak bisa meng ikhlaskan dia untuk kalian." Eva memejamkan matanya begitu rapat, dia tidak mau hatinya luluh melihat bayi mungil yang baru saja keluar dari rahimnya.
"Mama aku mohon, aku tidak mau melihatnya, agar aku bisa lebih kuat menjalani hidupku kedepannya."
Rita mengalah, melihat kehancuran Eva, dia tidak bisa memaksa Eva untuk memberikan Asi dini pada putrinya.
"Ya sudah, istirahatlah, perjuangan kamu begitu panjang barusan."
"Terima kasih mama, karena mengerti keadaanku."
Sakit, sedih, hancur, saat ini Rita merasa apa yang dia miliki tidak berharga sama sekali. Yang dibutuhkan cucunya adalah Asi, namun dia tidak bisa memberikan hal itu.
Harapan, hanya harapan yang membuat Rita masih mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri, harapan cucunya sehat walau hanya mengkonsumsi susu formula.
Rita mengumpulkan sisa kekuatannya, dia segera menelepon ke rumah, mengabarkan kalau Eva melahirkan bayi perempuan.
Mendengar hal itu, rasanya Wisnu ingin segera ke sana, namun kesehatannya tidak memungkinkan dirinya untuk keluar malam.
"Sabar papa, besok pagi, kita semua akan menengok Eva dan bayinya."
Bagi Wisnu malam ini waktu sengaja bermain-main dengannya, entah mengapa detik waktu terasa sangat lama. Hingga laki-laki itu terlelap dengan sendirinya, membawa kegelisahan ke alam mimpinya.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu sejak tadi malam memunculkan sinarnya, menerangi bumi bagian itu. Sinar sang surya masih sama dengan hari-hari yang lalu, bulan-bulan yang lalu, juga tahun yang lalu, namun kali ini bagi penghuni kediaman Ardhi, itu sinar kehidupan yang baru.
Risma mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu baru. Berulang kali dia mengatur napasnya, merasa lebih baik perlahan jemari tangannya memutar gagang pintu kamarnya.
Duggg!!
Jantungnya seakan meledak melihat sosok yang berada di depan pintu kamarnya.
"Selamat pagi sayang."
Senyuman yang dua bulan ini tidak dia lihat, akhirnya bisa dia lihat kembali.
"Mas ...." Risma sangat tidak percaya melihat Ardhi sesehat ini, sesemangat ini, juga begitu ceria.
"Perjuangan kita semua tidak mudah hingga sampai didetik ini, kini mimpi itu tengah menunggu kita, mari kita sambut mimpi yang selama ini meng-ombang-ambingkan hati dan hidup kita." Ardhi memberikan tangannya pada Risma.
"Mas ...." Risma tidak tahu harus berkata apa, dia tidak menyambut tangan Ardhi, namun langsung masuk kedalam pelukan Ardhi.
__ADS_1
"Hei pasangan pengantin baru! Cepat turun dan sarapan, papa ingin cepat-cepat ke Rumah Sakit!"
Teriakkan Wisnu barusan membuyarkan rasa haru di hati Risma.
"Papa?" Ardhi tersenyum melihat papanya yang begitu semangat.
"Cepat kita sarapan, aku ingin segera ke sana."
Risma melepaskan pelukannya, dan menepuk lembut bahu Ardhi. "Ayo mas, kasian papa, sudah 6 tahun penantiannya."
Mereka bertiga begitu semangat menghabiskan isi piring mereka, hanya butuh waktu sebentar, isi piring sudah berpindah ke dalam perut mereka.
"Sarapannya sudah? Kalau sudah cepat kita berangkat!" Wisnu sudah tidak sabar ingin melihat impiannya yang kini menjadi nyata.
"Iya sudah, tapi papa--" Risma tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Wisnu sudah meminum semua obat-obat miliknya. Dia hanya tersenyum melihat semangat Wisnu.
"Bi Atin, sudah siapkan sarapan buat mama sama buat Eva?" tanya Risma.
"Sudah Nona, ini."
Bi Atin memberikan tas yang berisi bekal buat kedua majikannya.
"Ayo mas, kita ke Rumah Sakit, kasian papa."
Melihat bagaimana Wisnu berjalan, Risma hanya tersenyum, rasanya melihat seorang kakek-kakek sedang jatuh cinta.
Beruntung jalanan pagi masih sepi, andai macet bertambah pula beban di pundak Ardhi karena omelan papanya. Berhenti karena lampu merah saja Wisnu selalu mengomel.
Perlahan mobil Ardhi memasuki Area Rumah Sakit, barulah mulut Wisnu berhenti mengomel karena ketidak sabarannya.
*
"Bagaimana keadaan kamu Va?" tanya Wisnu.
"Aku baik pah."
Wisnu menepuk tangan Eva. "Terima kasih Eva, kamu mewujudkan mimpiku."
Eva hanya tersenyum.
"Maafkan aku Va, aku sakit, aku tidak menemani perjuanganmu," sela Ardhi.
"Nggak apa-apa, aku mengerti."
"Cucu kita mana mah?" tanya Wisnu.
"Ada di ruangan lain," jawab Rita.
"Apa ada masalah? Bukankah ibu dan bayi harusnya berada disatu ruangan?"
"Tidak ada masalah pah, aku hanya tidak ingin melihatnya, aku takut jatuh cinta padanya dan tidak bisa merelakan dia untuk kalian semua."
"Setelah ini, kamu masih bisa bersama kami Va, kamu tidak harus pergi, jika kamu bersedia berbagi tempat bersama Risma," sela Ardhi.
"Iya Va, kehilangan Ishana membuatku kapok, kita bisa bersama-sama membesarkan anak kita Va," Risma menambahi.
"Keputusanku sudah bulat." Senyuman ketegaran itu menghiasi wajah Eva.
"Papa mau melihat cucu kita? Mari ikut mama," ajak Rita.
__ADS_1
"Ma, ini sarapan buat mama." Risma memberikan satu wadah pada Rita.
"Taruh saja di sana, nanti mama Sarapan bareng Eva."
Rita dan Wisnu segera menuju ruangan di mana bayi Eva berada. Di ruangan Eva hanya ada Risma dan Ardhi.
"Sebelumnya, aku bahagia mendengar kamu akan pergi, dan menginginkan Ishana pergi, tapi kebersamaan yang telah kita lalui, membuat hatiku oleng lagi."
"Apalagi kepergian Ishana, membuat aku sakit melihat bayangan diriku sendiri."
"Kita sama, aku juga berambisi ingin menjadi yang satu-satunya untuk Ardhi, apapun yang aku lakukan, semata ingin menyingkirkan kalian." Eva merasa malu dengan niatnya selama ini.
"Semua rasa sakit yang ada, aku sendiri yang menciptakan, tapi aku menyalahkan orang lain." Risma menambahi.
"Sudah, bukankah kita semua ingin kehidupan yang baru?" sela Ardhi.
"Keputusanku sudah bulat, aku tetap pergi dari kalian, jaga dan sayangi putriku ya." Eva memandangi Risma dan Ardhi bergantian.
"Dengan sepenuh jiwaku, aku akan menjaga dan menyanginya," sahut Risma.
"Maaf, berbagi cinta tidak semudah berbagi makanan, hatiku tidak kuat bertahan dalam ikatan rumah tangga dengan poligami. Aku tetap memilih pergi, masih ada laki-laki lain yang mencintaiku sepenuhnya, dan mau menjadikanku ratu dalam hidupnya," ucap Eva.
"Walau kamu pergi, sesekali tengok kami dan anakmu, memang antara kita bukan suami istri lagi, tapi kita masih bisa jadi saudara," Ardhi menambahi.
"Aku tidak janji, setelah hubungan baru ku jalin, hubungan lama tidak aku toleh lagi, bukan aku lupa, hanya saja ada hati yang harus aku jaga, karena ikatan kita sebelumnya adalah suami istri."
"Maafkan kelakuanku selam ini Va," ucap Risma.
"Aku juga minta maaf, selama ini aku selalu membuatmu hancur, dalam hubunganku dengan Ardhi, selama dia menggauliku, hanya nama Risma sayang yang keluar dari mulutnya "
Yah ... walau saat aku hamil yang dia sebut Ishana.
Mengatakan kebenaran yang itu, hanya membuat keadaan yang mulai tenang menjadi panas kembali. Eva memilih diam tentang hal itu.
"Selama jadi madumu, aku belum pernah memerintahmu, sekarang aku mau memerintahmu," ucap Eva.
"Biar aku saja Va," sela Ardhi.
"Aku sudah sangat sering memerintah kamu, sekarang aku ingin Risma melakukan apa yang aku inginkan."
"Iya, ini keinginan terkahir Eva, biar aku penuhi mas," sela Risma.
"Asem kamu! Sama aja bilang aku mau mati!"
Senyuman kecil lepas dari Ardhi melihat kekesalan Eva.
"Mau perintah apa?" tanya Risma.
"Ambilin tas aku yang itu." Eva menunjuk kearah sudut ruangannya.
Dengan senang hati Risma mengambilkan tas yang Eva maksud. "Ini Nona kedua Pramudya." Risma memberikan hal yang Eva inginkan.
"Terima kasih maduku." Eva segera membuka tasnya, dan mengambil sesuatu di sana.
"Ardhi, tolong tanda tangani." Eva menyodorkan lembaran kertas beserta pulpen pada Ardhi.
"Aku sudah tanda tangan di sana, dan tolong secepatnya masukkan berkas itu, agar kita berdua sama-sama bebas."
"Surat gugatan cerai?" Ardhi membaca kertas yang dia terima.
__ADS_1
"Ya iyalah surat gugatan cerai, kalau surat keterangan tidak mampu, aku mintanya tanda tangan Pak RT, bukan tanda tangan kamu."