Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 34 Pilihan


__ADS_3

Ardhi langsung memeluk Risma, kala kedua matanya melihat sosok wanita itu ada di depan matanya.


"Sayang ...."


Bahagia, itulah yang Ardhi rasa saat ini. Dijauhi Risma lebih menyakitkan dari apapun.


"Sayang, jangan jauhi aku lagi, aku tersiksa."


"Maafkan aku."


"Jangan minta maaf sayang, kamu tidak salah. Aku yang salah. Aku terlalu takut dan lemah."


"Kita bisa perbaiki segalanya?" tanya Risma.


Ardhi melepaskan pelukannya, dan menatap sayu sepasang bola mata Risma.


"Ini yang sangat aku nantikan darimu."


"Dengan Syarat--" Risma menggantung ucapannya.


"Syarat?" Ardhi tersenyum dan menunggu jawaban Risma. "Dengan Syarat apa sayang?"


Kedua telapak tangan Ardhi menangkup wajah Risma. "Demi kebahagiaan kamu, apa sih yang tidak?"


"Kamu terlalu banyak berkorban untuk keluargaku, sekarang giliran aku, memenuhi keinginan kamu."


Risma tersenyum, dirinya ragu mengatakan persyaratannya. Tapi jika dia pendam, hanya menambah beban baru di hatinya.


"Sesungguhnya aku sangat bahagia, saat Ishana ingin mundur dari pernikahan ini, tapi aku takut. Tapi waktu itu aku masih berjuang melawan kanker. Kamu pasti ingat sebab keguguranku kenapa."


"Ketakutanku lenyap, kala dokter mengatakan aku sembuh." Senyuman Risma mengambang.


"Aku menahan Ishana, aku takut Eva yang menjadi istrimu satu-satunya, dia tidak mengerti kamu, yang ada kamu tersiksa bersamanya, keinginanku, aku ingin Ishana yang menggantikan posisiku jika aku tiada."


"Tapi sekarang aku sembuh."


Seakan jantung Ardhi berdetak lambat mendengar penuturan Risma, Ardhi mulai merasa tidak enak dengan arah pembicaraan Risma. "Apa maksudnya sayang?"


"Ketakutan aku itu sirna, sekarang aku tidak takut lagi."


"Eva bilang padaku, dia tidak sanggup bertahan dalam ikatan tanpa cinta ini, setelah melahirkan, dia akan pergi meninggalkan anaknya untuk kita, ku rasa Ishana juga berhak bebas seperti Eva."


"Mama papa juga tidak akan kecewa jika Ishana pergi, asal Ishana pergi atas kemau-annya sendiri, maka hubungan kita semua akan membaik kembali."


Ardhi mundur selangkah mendengar ucapan Risma.


"Aku akan menjadi Risma yang dulu, jika pernikahan kita kembali seperti dulu."


"Selama ini aku tertekan dengan keadaanku, tapi aku terlalu takut bilang. Wanita mana yang bisa bahagia melihat suaminya dengan wanita lain?"

__ADS_1


"Aku lupa, aku hanya wanita biasa, aku mengira aku akan setabah wanita-wanita lain yang sukses dalam poligami. Ternyata surga seperti itu harus dibayar oleh rasa yang sangat mahal, tidak ternilai. Rasa sakit yang tiada ujungnya."


"Tiket ku yang itu hangus mas, karena aku tidak ikhlas menyambut Ishana dan menerima kehadiran Eva."


"Andai aku tahu rasa sakitnya seperti ini, mungkin aku akan meminta kamu membuahi Ishana dengan jalan lain, misal dengan jalan Inseminasi atau bayi tabung."


Prangg!


Rasanya bangunan yang ada disekitar Ardhi pecah dan hancur seketika.


"Jadi, aku tidak perlu merasakan sakitnya saat melihat kamu bercinta dengan wanita lain selain diriku."


"Karena mimpi papa hanya ingin anak kamu, tapi pikiranku saat itu hanya ingin mewujudkan mimpi papa, aku melupakan perasaan kamu, melupakan perasaan Ishana, juga melupakan diriku sendiri."


"Aku baru sadar, aku tidak kuat berbagi dirimu dengan siapapun! Rasa sakit itu seketika membelengguku mas, saat mendengar dan melihat mas mengauli Eva, aku hancur." Risma berusaha menahan air matanya.


Sekuat apapun Risma menahan air matanya, cairan bening itu tetap berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Sampai sekarang, aku tidak mau kau sentuh, karena jeritan wanita lain menghantuiku."


"Sakit! Mas!"


Ardhi bisa merasakan bagaimana sakitnya Risma. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan banyak kata, namun pancaran rasa sakit Risma seakan membungkam segalanya.


Ardhi menarik dalam napasnya dan menghembuskan perlahan."Walau dalam ikatan ini, hanya tersisa aku dan kamu, tetap saja nanti ada yang hilang," ucap Ardhi.


"Aku tau, tapi tetap seperti ini aku tidak kuat mas, apa yang aku ucapkan dulu, menjalaninya berat!"


"Aku selalu berkata aku ikhlas, aku rela, aku yakin!" Risma mengusap air matanya. Mengatur kembali napasnya untuk meneruskan kata-katanya. "Aku mudah berbicara itu, karena aku belum merasakannya."


"Setelah semua itu terjadi, aku nggak kuat mas. Aku sakit!"


Tangis pilu itupun Risma lepaskan, dia tidak sanggup lagi menahannya.


"Rasa sakit itu semakin kuat, rasa sakit semakin bertambah, kala mas mendatangiku diam-diam. Aku gak mau mas, aku ingin seperti dulu."


"Sekarang jalan kita terbuka mas, Eva terang-terangan bilang ingin pergi, keputusan sekarang ada pada mas. Ingin bertahan bersamaku yang kekurangan ini, atau bersama Ishana?"


"Oke, Eva pergi. Tapi kenapa Ishana juga harus pergi? Bukannya dulu kamu bilang, Ishana adalah kekuatan kamu?"


"Iya itu tadi seperti apa yang ku katakan, aku mengira akan pergi meninggalkanmu, selain itu Ishana juga kekuatan aku untuk melawan Eva, kekuatan aku untuk bertahan dibawah serangan Eva, saat bahu mas sibuk menopang tubuh bugil Eva, masih ada bahu Ishana menjadi sandaran aku menumpahkan air mata."


"Tapi sekarang Eva tidak meneror hidupku lagi, ambisi dia untuk memiliki kamu padam, kala dia mendapat penolakan dari kamu."


Wajah Risma dihiasi tawa getirnya. "Mas mau melepaskan Eva tapi kenapa mas tidak mau melepaskan Ishana?"


"Berat Risma."


"Kenapa berat?"

__ADS_1


"Aku--" Ardhi sangat bingung mengatakan seperti apa pada Risma, tentang hubungannya dengan Ishana. "Aku dan Ishana sudah memulai segalanya, bahkan ada rasa diantara kami, walau tidak sebesar rasaku padamu."


Pyarrrr!


Cermin itu hancur berkeping-keping, menjadi kepingan yang sangat kecil. Tawa getir itu tetap terukir di wajahnya


"Ishana dan dirimu sama pentingnya bagi aku, sama-sama berarti buat aku, apa tidak ada jalan agar kita bisa bersama-sama?"


"Ingat Ris, semua ini ada karena kamu yang menginginkan."


"Iya, tapi itu sebelum aku merasa bagaimana sakitnya melihat cinta suamiku terbagi!"


"Dulu aku melarang kalian pergi, karena aku takut meninggalkanmu, Ishana wanita yang tepat menggantikanku, ada Ishana di sampingmu aku damai, tapi saat kehadiran Eva, aku merasa sakit dan takut! Bagaimana kalau aku pergi Ishana juga pergi, bagaimana dirimu?"


"Selain rasa takut, rasa sakit dan rasa yang lain juga muncul. Ternyata melihat suami bersama wanita lain sebagai pasangan suami istri sesungguhnya aku nggak bisa!"


"Sekarang mas sudah tau, dalam kapal pesiar mas nanti, hanya ada aku dan Ishana, tentukan pilihan mas mau bersama Ishana, atau bersamaku?"


"Kamu kira, aku dan Ishana memang menginginkan kebersamaan kami?" sela Ardhi.


"Jauh sebelum kamu berharap aku melakukan program bayi tabung atau Inseminasi buatan untuk mewujudkan mimpi papa, agar tidak menyentuh Ishana, tanpa kamu minta aku telah melakukannya. Tapi Gagal!"


Dugggg!


Risma terdiam.


"Jauh sebelum kamu menyelami rasa sakit yang kamu utarakan sekarang, aku dan Ishana sudah menempuh jalan lain, agar kamu tidak merasa sakit lebih dalam lagi."


"Aku tidak bisa menyuntikkan langsung bibitku pada Ishana, walau itu mimpi papa. Tapi aku bisa melakukan Inseminasi langsung pada Ishana, saat ada yang mulai tumbuh pada perasaan kami."


"Sebelum kamu menangis, kami sudah mencoba cara lain, agar kamu tidak menangis karena hal ini."


Risma mematung, rasanya lehernya tercekik mendengar pengakuan Ardhi. "Jika mas ingin mempertahankan Ishana, baiklah, biar aku yang mengikuti langkah Eva untuk pergi dari ikatan ini." Risma langsung pergi meninggalkan Ardhi di sana.


"Arggggg!" Ardhi ingin menumpahkan kekesalannya, tapi tidak tahu harus bagaimana.


Ishana bagai bulan yang menemani malamnya, sedang Risma bagai matahari yang memberikan kehidupan siangnya.


"Aargggggg!"


Teriakkan itu menggema di kamar khusus miliknya.


****


Matahari kian tenggelam kearah barat. Rasanya kali ini waktu seakan terhenti, karena rasa sakit yang mendera tiga orang berbeda tidak kunjung pergi.


Ishana masih menangis di lorong sepi Rumah Sakit tempatnya bekerja. Impiannya membangun rumah tangga dengan 3 saudari dan membesarkan anak mereka dengan kerjasama tim, tidak seindah impiannya.


Jemari lentik itu mengusap foto abu-abu yang menampakkan keadaan rahimnya. Kehamilan yang dia sembunyikan dari semua orang, mulanya dia ingin memberi kejutan, kala hubungan Ardhi dan Risma membaik. Namun kini usia kandungannya sudah 3 bulan, tapi kini Risma malah mengusulkan dirinya pergi. Sebentar lagi kehamilan dia tidak bisa menutupinya dari semua orang.

__ADS_1


"Nara ...." Ishana ingin meminta bantuan pada sahabatnya Nara.


__ADS_2