Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 52


__ADS_3

Sore hari Ardhi habiskan bermain bersama anak dan istrinya. Dhifa sangat bahagia, akhirnya Ayahnya datang lebih cepat. Dhifa dan Ardhi asyik bermain air di tepi pantai, sedang Risma hanya duduk diatas pasir putih memandangi dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.


"Bundaaa!" Dhifa meminta Risma mendekati mereka.


Melihat Dhifa memintanya mendekat, Risma segera menghampiri anak dan suami kesayangannya. "Iya sayang."


"Ayah." Dhifa mengkode sesuatu pada Ardhi.


Risma mulai merasakan firasat tidak enak, dia melihat ada konspirasi antara Ayah dan anak. Saat Risma ingin kabur, Ardhi menangkapnya membawanya berlari kearah pantai dan menghempaskan diri bersama-sama saat ombak menyapa kearah mereka.


"Ayah ...." Risma hanya bisa menjerit.


Dhifa tertawa melihat Ayah dan bundanya sama-sama basah.


"Ayah keren, akhirnya Bunda ikut basah juga."


"Ya salam, kalian berdua." Risma hanya menggelengkan kepalanya karena ulah suami dan anaknya.


"Ayah, angkat aku juga dong kayak Ayah angkat bunda barusan," pinta Dhifa.


Risma menghalangi putrinya saat Dhifa mendekati Ardhi. "Owh tidak bisa, ini waktunya Ayah dan bunda, jadi anak kecil main dulu sana."


Risma melompat ke punggung Ardhi, dan saat istrinya menempel dipunggungnya, Ardhi berlari sambil menggendong Risma.


"Ayah ...." teriak Dhifa.


Risma hanya melambaikan tangannya kearah Dhifa.


***


Sedang di tempat yang lain, Kilas balik kebersamaannya dengan dokter Jully selama 7 tahun ini, membuat Ishana merindukan sosok dokter Jully. Ishana mendatangi kediaman dokter Jully. Jully sangat terkejut dengan kehadiran Ishana di rumahnya, selama ini dia yang selalu mendatangi Ishana.


"Masuk Na." Dokter Jully mempersilakan tamunya masuk.


"Aku kira kamu akan biarin aku berdiri aja di luar."


Jully menggaruk alisnya, dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Biasanya dia selalu mempersiapkan diri sebelum menemui Ishana, walau sebagian ocehannya diabaikan Ishana.


"Anak-anak mana?" Jully mencoba membuka pembicaraan.


"Kenapa cari anaknya? Kan mamanya ada di depan mata kamu."


Jlebbb!


Rasanya ada sesuatu yang mencelos begitu saja kedalam hati Jully. Rasanya tidak percaya kalau yang didepannya ini adalah Ishana. Wanita itu biasanya kaku, dan terus berusaha menjaga jarak dengannya. Sebanyak apapun kata yang dia ungkapkan sahutan Ishana begitu irit.


"Jalan-jalan yuk," ajak Ishana.


"Ha?"Jully melongo mendengar ajakan barusan. 7 tahun ini dia selalu berusahan mengajak Ishana jalan-jalan, tapi wanita itu selalu menolak.


"Tapi sekarang banyak wisatawan di pulau ini, bagaimana kalau ada yang mengenalimu?"


"Aku tidak takut, yang aku takutkan sekarang kehilangan perhatianmu."


Plak!

__ADS_1


Jully menampar wajahnya sendiri. Ingin menganggap semua ini mimpi. Tapi rasa sakitnya berasa. "Sakit, aku kira ini mimpi." Jully mengusap sendiri bagian pipi yang kena tamparannya.


"Tidak mau jalan denganku?" Ishana heran melihat kelakuan Jully.


"Mau."


"Tapi kemana?"


"Kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dulu, gak tau sih aku mau beli apa, tapi pengen habiskan waktu bareng kamu."


"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Soalnya sudah sore."


Dua orang itu segera menuju pusat perbelanjaan yang ada di pulau tersebut.


Sepanjang perjalanan, rasanya ingin sekali Jully berteriak, hatinya sangat bahagia saat ini. Tapi, dia berusaha menahan segala rasa yang bergejolak dalam dirinya.


Sesampai di sana, Ishana dan Jully terus melangkah menjelajahi tiap tempat mall itu. Ishana tidak punya tujuan, namun Jully tetap saja mengikuti kemana pun Ishana melangkah. Hingga sebuah Restoran cepat saji yang ada di pusat perbelanjaan itu menjadi pilihan Ishana merehatkan kakinya yang mulai terasa pegal.


Jully memesan kopi hitam, sedang Ishana memesan sebotol air minelral dan satu cup ice cream.


"Kamu nggak capek Jull mengikutiku hingga sini?"


"Aku malah capek Na, kalau nggak lihat kamu, capek banyak hal, salah satunya capek nahan rindu."


"Nggak kerasa, kita sudah 7 tahun sembunyi di sini."


"Sampai kapan kamu sembunyi Na? Bagaimana pun, Ardhi berhak tau keberadaan Dina dan Rian."


"Akan aku beritahu pada saat yang tepat."


Ishana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Jully.


"Kamu akan kembali padanya?"


"Mereka sudah bahagia, aku tidak perlu masuk lagi."


Jully merasa lega mendengar jawaban Ishana, walau dirinya belum tentu bisa memperjuangkan cintanya, melihat Ishana keluar dari ikatan itu, Jully merasa lebih baik.


"Selain mereka sudah bahagia, juga ada alasan lain kenapa aku tidak ingin kembali."


"Kenapa?"


"Aku merasa cintaku untuk Ardhi telah hilang, melihat fotonya, membaca berita tentanya, aku tidak merasakan apa-apa. Sangat berbeda saat aku sangat mencintainya dulu."


Ishana tersenyum mengingat kegilaanya kepada Ardhi. "Setiap menit aku selalu menunggu pesannya, walau dia hanya membalas pesanku dengan kata 'Iya' Aku sangat bahagia."


"Sebentar saja tidak mendapat kabar darinya aku gelisah, atau tidak mendengar apapun tentangnya, aku tersiksa, sedih. Tapi, kala dia muncul di depan mataku walau dia menggandeng Eva. Aku sangat bahagia."


"Entah kenapa, rasa itu hilang entah kemana."


"Sedikit pun, aku tidak merindukan tentang Ardhi, saat aku berusaha mencari di mana rasa rinduku yang selalu tertuju untuk Ardhi, beberapa jam yang lalu, aku malah mendapatkan rasa rindu untuk yang lain."


Alamakkk, Ishana memang bukan jodohku, belum lepas sepenuhnya dari Ardhi, malah ada laki-laki lain yang mulai menghuni hatinya.


Hatinya hancur mendengar Ishana mulai merindukan orang lain, namun Jully berusaha tegar untuk Ishana.

__ADS_1


"Beberapa jam yang lalu kamu mulai merindukan seseorang?" Jully berusaha mempersingkat maksud Ishana.


Ishana menyendok ice cream, dan memasukkan kedalam mulutnya. "Hmmm." Sambil menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Jully.


"Tapi sayang, beberapa bulan ini, dia nggak neror aku lagi sama pesan dan teleponnya," ucap Ishana.


"Mau aku bantu Na?"


Perasaan sendiri hancur, malah sok mau bantu!


"Boleh banget kalau kamu berkenan."


"Hmm, jadi siapa nih yang mulai buat kamu kangen?" Jully perlahan menyesap kopinya.


"Kamu."


Brusssshhh!


Jully lebih memilih menyemprotkan air yang ingin menyembur dari dalam mulutnya kearah bawah, mengindari wajah Ishana basah karena muncratan kopinya.


"Kenapa? Aku baru bilang kangen kamu, belum bilang aku berusaha mencintai kamu."


Jully semakin lemas rasanya.


Ya Tuhan, aku lebih ikhlas dia pendiam, daripada berbicara tapi meledakkan hatiku.


Ishana memberikan tisu miliknya pada Jully. "Pakai ini."


"Terima kasih." Jully melanjutkan membersihkan celananya.


"Maafkan aku, karena tidak pernah mengerti perasaanmu."


Jangankan menjawab ucapan Ishana, menarik napasnya pun terasa sulit.


"Setelah urusanku dengan kak Ardhi selesai, saatnya kita menata untuk masa depan kita."


Jully mendengar semua ucapan Ishana, namun kebahagiaannya membuat dirinya tidak bisa mengutarakan sepatah kata jua pun.


"Ku harap, ikatan baru kita nanti, tidak mempengaruhi ikatan persahabatanmu dengan Ardhi."


"Jangankan sahabat, dunia ini aku lepas asal aku bersama denganmu."


Ishana tersenyum, ternyata laki-laki di depan matanya ini tidak pernah berhenti mencintainya, walau kini statusnya adalah ibu 2 anak.


"Aku sudah berusaha berhenti mencintai kamu Na, tapi tidak bisa."


"Demi kamu, lautan pun aku seberangi, tapi pakai kapal laut, kalau berenang, aku nggak kuat Na."


"Jangan gombal, mending kamu hias jemari aku, kasian jari-jari aku polos." Ishana memperlihatkan jemari tangannya yang kosong pada Jully.


****


Makasih jempol dan komentarnya All😘


Ardhi Risma ala Author.....

__ADS_1



__ADS_2