
Risma dan Rita masih berada di sekitar Restoran, mereka mengagumi bangunan-bangunan yang ada di pulau ini. Pulau yang jauh dari kota, namun Fasilitas umum di sini begitu lengkap, dari Rumah Sakit, Pusat Perbelanjaan, Sekolah Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar, dan SMP.
"Luar biasa ya mah, walau ini kepulauan, tapi segala fasilitasnya modern, terus katanya beberapa dokter hebat bekerja di Rumah Sakit di sini, bahkan aku baca status temanku, kalau mereka datang ke sini bahkan untuk berobat, bukan sekedar liburan."
Rita masih mengagumi bangunan-bangunan yang ada di depan matanya, dan mengagumi keindahan panorama alam yang begitu indah ini. "Pembangunan kota ini sangat pesat, padahal pemiliknya hanya seorang wanita, mama sangat kagum sama sosok itu."
Pawp! Pawp!
Tiga buah mobil mewah berhenti di dekat Risma dan Rita, membuat keduanya terperanjat karena hal itu. Terlihat beberapa orang mengenakan jas rapi keluar dari mobil itu dan berlari kearah pantai.
Orang yang lalu-lalang di sana biasa saja dengan keadaan yang terjadi saat ini, sedang Risma dan Rita merasa takut.
Risma mencegat seseorang yang lewat di depannya. "Pak, ada apa ya?"
"Owh biasa, paling pengawal Nyonya pemilik pulau ini menjemput cucu kesayangannya."
Dari kejauhan, benar saja ada 2 anak kecil yang terus melangkah kearah mereka, namun Risma dan Rita tidak bisa melihat dua anak kecil itu, karena di kelilingi oleh laki-laki yang mengenakan seragam yang sama.
Hingga dua anak kecil itu masuk kedalam mobil, Risma dan Rita belum bisa melihat wajah mereka dengan jelas.
"Bunda! Oma!"
Teriakkan Dhifa membuat fokus Risma dan Rita terpecah.
"Hai sayang," sambut Risma.
"Aku dapat dua teman baru, katanya perkemahan belum dimulai, jadi kita bisa jalan-jalan dulu bund, di pulau ini."
"Owh ya bu, tadi teman Nona Dhira bernama Rian, menurut saya--"
Salma tidak bisa meneruskan ucapannya, kala melihat Risma memberikan isyarat diam, pada saat bersamaan handohone Risma berdering. Salma pun menahan ucapannya.
"Bunda angkat telepon Ayah dulu ya."
"Iya Bunda."
Risma kembali fokus pada handphonenya. "Iya mas?"
"Tebak mas lagi apa?"
Suara Ardhi begitu semangat di ujung telepon sana.
"Pastinya lagi kangen sama aku."
"Itu pasti, coba tebak yang lain."
"Gak mau nebak, kasian otak aku harus dipacu kerja, ini kan masih pagi," rengek Risma.
"Ya Sudah, kalau tidak ada halangan, secepatnya, Ayah sudah sampai pulau."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya bener, sampai jumpa bunda."
Senyuman seketika menghiasi wajah Risma, dia sangat bahagia, akhirnya liburannya lengkap bersama Ardhi.
"Kita lanjut jalan-jalan yukkk!" Risma berusaha mengalihkan rasa penasaran Rita dan Dhifa.
"Yang tadi telepon, siapa bunda?" tanya Dhifa.
"Ayah, katanya pasti datang kalau pekerjaan selesai."
Dhifa tidak ingin bertanya lebih lagi, dia menyetujui ajakkan bundanya. Petualangan mereka pada tempat yang dekat dengan hotel dimulai. Risma tertarik dengan taman yang begitu indah, di tengah taman itu juga ada sebuah bangunan mesjid.
Mereka memutuskan untuk menjelajahi tempat itu. Sesekali mata camera handphone Risma mengabadikan kebersamaan mereka.
"Jeng Rita!"
Sapaan itu seketika menyita perhatian Rita.
"Jeng Mia, apa kabar?"
Risma, Dhifa, dan Salma hanya menonton pertemua dua nenek itu. Keduanya berpelukan, melepas kerinduan mereka. Saling bertanya kabar dan saling berbagi cerita tentang perjalanan keduanya.
Perhatian salah satu nenek tertuju pada Dhifa "Eh ada Dhifa cantik, akhirnya bisa berlibur kemari, yukk ikut oma, itu di sana ada Qislia main sama papa mamanya." Jari telunjuk oma Mia tertuju kearah zona bermain anak yang tak jauh dari mereka.
Dhifa menoleh pada Risma. "Bunda, Dhifa boleh ke sana?"
Dhifa sangat bahagia, dia berlari lebih dulu menuju teman sekolahnya yang tengah bermain bersama papa mamanya, melihat majikannya semakin jauh, Salma meminta izin pada dua nenek itu, untuk lebih dulu menyusul Dhifa, sedang Rita dan Mia jauh tertinggal di belakang.
Risma tersenyum melihat keceriaan putrinya. Dia menyadarkan dirinya dari segala kekagumannya, dan melanjutkan kembali untuk mengabadikan beberapa sudut dengan kamera handphone.
Rasanya Risma belum puas dengan hasil yang ia dapat. Dia naik ke bagian yang lebih tinggi, dan kembali menjepretkan mata kamera handphonenya.
Merasa cukup puas, Risma memeriksa satu per satu hasil cekrekkannya. Sebanyak apapun yang dia abadikan, tapi rasanya masih kurang. Risma membidkkan mata kamera handphonenya kearah pantai. Pemandangan yang sempurna, senyuman itu seakan terukir permanen mengihiasi wajahnya.
Seketika senyuman manis itu lenyap, kala sepasang matanya menangkap hal yang sangat mengejutkan dirinya. Seorang wanita yang sangat dia kenal tengah berlari mengejar seorang anak laki-laki.
Risma berharap yang dia lihat ini mimpi.
Plakkk!
Menampar pipinya sendiri.
"Aww!" jeritannya lolos, karena srasa sakit yang mendera.
Sekujur tubuh Risma gemetaran melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya.
Ishana, masih hidup. Bahkan wanita itu terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Rian Tunggu mama!"
Bibir Risma ikut gemetar mendengar teriakkan Ishana memanggil anak laki-laki seumuran Adhifa terus berlari.
Bahagia, kecewa, marah, berbagai rasa tercampur di dalam hatinya melihat Ishana masih hidup. Tanpa Risma sadari pipinya telah basah, melihat Ishana air matanya menetes begitu saja.
Risma mengusap air matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan melangkah kearah di mana Ishana menghilang mengejar anak laki-laki itu.
Sekelebat pertanyaan berputar di kepala Risma.
Siapa anak laki-laki itu?
Kenapa dia memalsukan kematian?
Banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Ishana.
"Mama Jahat! Kenapa perkemahan tahun ini aku tidak boleh ikut?"
"Apa aku terlalu nakal, sehingga mama menghukum aku seperti ini?"
"Kemaren hanya Dina yang dibawa menengok kakek Pur, aku juga pengen ketemu langsung kakek Pur!"
Mendengar teriakkan anak laki-laki itu, Risma menghentikan langkahnya.
Kakek Pur? Purnama?
"Sayang, tolong mengerti mama, ada perkara orang dewasa, yang sulit untuk mama jelaskan sama kamu."
"Mama selalu minta dimengerti!"
"Mama tau! Aku ingin dunia tahu, siapa wanita hebat yang paling aku sayang, tapi Mama nggak pernah mau muncul, padahal aku bangga punya mama seperti mama!"
"Mama selalu minta dimengerti, tapi pernah mama mau mengerti aku?!"
"Rian sayang ... tolong mama nak ...."
"Mama?"
Suara itu serasa tak asing baginya, wanita itu mengusap air matanya dan menoleh ke belakang.
Duggggg!
Kedua matanya membulat sempurna melihat sosok yang berada di belakangnya.
"Mama?" Risma mengulangi pertanyaannya.
Ishana tidak menjawab, dia langsung menggendong putranya dan berlari secepat yang dia bisa.
"Ishana!" Teriak Risma.
__ADS_1
Suara teriakkan Risma tidak menghentikan langkah seribu Ishana. Risma tidak tinggal diam, dia mengejar Ishana yang berusaha kabur darinya.
Walau dia kesulitan memacu cepat langkahnya karena menggendong Rian, namun karena dia mengetahui seluk beluk pulau ini, dia lebih unggul dan berhasil lolos dari Risma.