Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 25 Pengakuan Ishana


__ADS_3

Di dapur rumah Ardhi.


Firliy selesai menyiapkan potongan buah mangga muda dengan sambal rujak, dia segera membawanya menuju kamar Eva.


Tok! Tok! Tok!


"Nona Eva, ini saya," ucapnya.


"Masuk saja," sahut Eva.


Firliy segera masuk ke kamar Eva, terlihat wajah Eva begitu bahagia melihat apa yang dia bawa.


Eva langsung menghampiri Firliy, menyamber sepotong mangga muda yang dibawa Firliy.


"Emm ... ini yang aku inginkan selama ini " Kedua mata Eva terpejam menikmati mangga impiannya.


Saat jemarinya ingin meraih potongan mangga yang lain, dia teringat Ardhi. "Tuan mana?" tanya Eva.


"Tadi Tuan yang meminta saya menyiapkan ini, Tuan tidak berani ke kamar Nona, karena dia basah kuyup, katanya bahaya bagi nona kalau ada tetesan air di kamar ini," terang Firliy.


"Owh, ya sudah, biarkan dia istirahat." Eva mengambil piring yang dibawa Firliy, dan terus memasukkan potongan mangga itu kedalam mulutnya.


Firliy hanya bisa menggidik, seakan mulutnya dipenuhi rasa asam kala mendengar bunyi kriuk-kriuk saat potongan mangga itu masuk kedalam mulut Eva


"Kamu boleh lanjut tidur, aku hanya ingin menikmati ini," ucap Eva.


Firliy pun segera keluar dari kamar Eva, tugasnya telah selesai.


Eva sangat bahagia, dia terus menikmati mangga impiannya. Setelah ngidamnya terpenuhi akhirnya matanya bisa merasakan kantuk juga. Setelah membersihkan tangan dan mulutnya, Eva langsung merebahkan tubuhnya ketempat tidur.


***


Sedang di kamar Ishana.


Ishana masih mengira yang dia lihat saat ini adalah bayangan Ardhi.


"Kakak jahat!"


Kedua alis Ardhi bertaut mendengar Ishana mengatainya jahat.


"Ciuman itu!" Wajah Ishana tampak frustrasi.


"Setelah ciuman itu, kakak selalu menghantuiku."


"Ciuman itu, seakan mengambil seluruh hatiku, aku merasa kosong saat kakak jauh dariku."


"Sejak itu, kakak selalu ada dalam hati dan pikiranku, dan sekarang pun kakak selalu hadir kala mataku terbuka maupun tertutup."


"Aku tidak bisa lagi menganggap kakak temanku, aku ingin lebih!"


Aku juga!


Ardhi hanya bisa bersuara dalam hati.

__ADS_1


"Aku berusaha melupakan kakak sekuat yang aku bisa! Semakin aku berusaha melupakan, aku semakin tersiksa!"


Sama! Batin Ardhi.


"Aku tidak bisa lupain kakak ...."


Aku juga ....


"Melupakan kakak lebih sakit daripada membiarkan rasa ini tumbuh, tapi mencintai kakak juga sakit!"


"Entah kenapa rasa itu semakin besar walau hanya melihat kakak tersenyum padaku, menyapaku, apalagi berbicara padaku."


"Aku memilih mencintai kakak walau dalam diam, aku tahu selamanya aku tidak mendapat cinta kakak, karena cinta kakak hanya untuk Risma."


Sekarang ada kamu Na.


"Andai hati kakak bukan hanya milik Risma, tetap saja cinta itu juga tidak bisa hanya untukku seorang, karena ada Eva dan Risma." Kedua bola mata Ishana mulai berkaca-kaca.


"Aku memilih mencintai kakak, karena aku tidak mampu melupakan kakak, aku harus kuat melihat kakak membagi perhatian kakak. Karena aku yang memilih ini."


Ishana berdiri dari posisi duduknya, dia mendekati sosok Ardhi yang dia kira itu bayangan Ardhi.


"Mencintaimu, maka aku harus menerima semuanya. Aku tidak boleh egois, karena yang lain juga membutuhkan dirimu." Mata Ishana berbinar memandangi wajah Ardhi.


"Aku munafik, jika aku katakan aku bahagai melihat kakak bahagia dengan Eva maupun Risma. Aku sakit, cemburu, aku ingin selalu berada dalam pelukan kakak, ingin setiap waktu berbicara banyak hal dengan kakak." Air mata Ishana terlepas begitu saja. Perlahan jemari lentik itu mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Jika keinginanku hanya ingin menguasai dirimu, sama saja aku menyakiti mereka. Menyakiti mereka sama saja aku menyakiti kakak."


"Walau aku tahu, aku tidak mendapatkan tempat di hatimu, aku tetap saja mencintaimu kak."


"Dingin ..., seperti inikah rasanya memeluk bayangan?" Ishana masih merasa ini semu.


Ardhi berusaha berdiri tegap, walau sekujur tubuhnya mulai tremor, karena mendengar segala pengakuan Ishana.


"Menghayalkan suami sendiri bukan suatu dosa, apa salahnya kalau aku--" Ishana langsung menyambar bibir Ardhi, menciumnya semakin dalam. Kedua matanya pun terpejam menikmati khayalan indahnya.


Belitan lidah itu mulai menyadarkan Ishana. Bukan hanya itu, Ishana merasakan kaitan kain berendanya terlepas, dan pijatan lembut yang terasa dibagian dadanya.


Mengapa khayalanku senyata ini?


Tautan bibir itu terlepas, Ardhi sibuk menghirup bagian leher jenjang Ishana, membuat wanita itu merinding karena perbuatannya.


Ishana membuka kedua matanya, napasnya seketika memburu kala melihat Ardhi yang berada di depan matanya.


Ishana berusaha melepaskan diri, namun sepasang lengan kokoh itu menahan tubuhnya.


"Stop!"


Ishana terus berusaha melepaskan diri, namun Ardhi kembali menyatukan pangutan mereka.


"Berhent--" Ardhi berhasil lagi menyatukan bibir mereka.


"Kakak! Berhent--"

__ADS_1


Ardhi tidak membiarkan pangutan itu terlepas begitu saja, dan terus menyatukan tautan lidah mereka.


Otak Ishana memerintahkan agar melepaskan diri dari pangutan Ardhi. Tapi tidak dengan tubuhnya.


Ardhi semakin ganas, membuat Ishana mengabaikan perintah dari otaknya, tanpa dia sadari, Ardhi menggiringnya menuju tempat tidur.


Kini Ishana berada tepat dibawah tubuhnya. Kedua pasang mata itu beradu tatap.


"Aku juga sama sepertimu Na. Sejak itu aku tersiksa jika jauh darimu."


"Ini salah kak, jangan melaku-" Ishana tidak mampu meneruskan kata-katanya, dia hanya bisa mengigiti bibir bawahnya.


Pijatan tangan kokoh Ardhi pada bagian dadanya, juga sapuan lidah pada ujung puncak gunung, semakin membuat dirinya ingin tenggelam lebih dalam dan dalam lagi.


Ardhi melepaskan pertahanan luar terakhir Ishana, tanpa melepaskan yang berada di mulutnya. Perlahan dua jenis yang berbeda itu saling bersentuhan. Seperti busur biola yang terus meng-gesek pada senar biola.


Membuat wanita dibawah kukungannya semakin hilang akal.


"Kak ... ku mohon ... jangan ....."


Ardhi tersenyum, mulut bawah sana sudah basah, namun mulut atas sana meminta jangan.


"Mela-ku-kan ini ...." Ishana berusaha menguatkan dirinya untuk bicara. "Melakukan semua ini, sama saja menyakiti Ris--"


Degarrr!


Bunyi petir yang menggelegar membuat tubuh Ishana tersentak, saat yang sama, ada sesuatu yang perlahan me-le-sak masuk ke dalam hutan gundulnya. Suntikkan langsung itu membuat sekujur tubuh Ishana gemetar.


Sebelumnya hutannya hanya disiram oleh bibit Ardhi dengan bantuan dokter Sonia.


"Aww ...." Ishana menjerit, secara refleks kedua kakinya merapat karena rasa sakit itu seakan menghunjam di dalam sana.


Ardhi berusaha menahan napasnya, bukan yang pertama baginya, entah kenapa miliknya seakan putus. Ardhi menahan pergerakkannya, memberi waktu untuk tempat itu lebih rilex. Dia mendekatkan wajahnya pada sisi telinga Ishana. "Melakukannya atau tidak, kita sama-sama menyakiti bukan?" Cium-an pun mendarat sisi telinga Ishana, perlan turun dan mengendus lembut di ceruk lehernya.


Mulut dan sepasang mata Ishana masih tertutup rapat. Helaan napasnya terdengar memburu, dirinya tidak mampu menjawab pertanyaan Ardhi.


Ardhi masih sibuk menghirup aroma parfum Ishana. "Kita berusaha menjaga hati setiap orang, tetap saja ada yang tersakiti, dengan melakukan tugas kita, setidaknya kita tidak menyakiti diri kita sendiri."


"Kemaren aku tidak mampu melakukannya demi Risma, tapi sekarang aku menginginkannya, karena aku cinta padamu."


Ardhi kembali menautkan bibir mereka, dan perlahan memulai pergerakkannya.


Ishana pun tidak mampu lagi berpikir, saat ini dia hanya ingin menikmati semua rasa aneh dan memabukkan ini.


***


Hadehhh 🥱🥱🥱


Andai suatu saat ada perubahan harap maklum ya, si nakal ini terus update demi kalian 😘


Tim Ishana apa kabar?


Tim Risma, tahan napas dulu yeee

__ADS_1


__ADS_2