Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
33 Hancur


__ADS_3

Dokter Sonia tengah memeriksa kandungan Eva, terlihat di layar monitor penampakkan keadaan rahim Eva.


"Sejauh ini, semuanya sehat. Kurang dari 2 bulan lagi, Ardhi dalam versi cantik akan hadir dan bisa kita peluk," ucap dokter Sonia.


"Kalau kamu mengadakan acara 7 bulanan, apa mengganggu kesehatan bayi Eva dok?" tanya Rita.


"Asal Eva tidak terlalu lelah, insya allah, aman."


Risma masih memikirkan Ardhi, dia tidak terlalu fokus pada pembicaraan Rita dan dokter Sonia.


Hingga pemeriksaan selesai, Risma masih tenggelam dengan pikirannya sendiri.


"Ma, aku ingin menemui Ishana, apa mama dan Eva keberatan kalau aku tinggal di sini?" tanya Risma.


"Tidak sayang, kalau begitu mama dan Eva pulang duluan ya."


Risma mengangukkan kepalanya. Setelah Rita dan Eva pergi, Risma segera memacu langkah kakinya mencari keberadaan Ardhi.


Risma bingung mencari Ardhi atau Ishana di mana, terlebih dia tidak pernah bertanya, Ishana bertugas di mana. Merasa lelah berjalan ke sana ke mari, akhirnya Risma terpikir sesuatu. Ruangan khusus milik keluarga Ardhi.


"Kalau kak Ardhi sakit, pasti dia di rawat di sana. Seingatku, Ishana pernah bilang kalau kak Ardhi sakit." Risma semakin mempercepat langkahnya.


Meja keamanan terlihat kosong, entah di mana petugas keamanan itu. Risma masa bodoh, dia terus melangkah menuju ruangan khusus yang tidak boleh di masuki siapa pun, kecuali keluarga Pramudya dan tim medis yang bertugas.


Saat dirinya semakin mendekati ruangan itu, terlihat lampu ruangan di sana menyala.


"Apa benar kak Ardhi sakit?" Risma semakin mempercepat langkahnya, namun saat sangat dekat dengan pintu ruangan itu, telinganya di sambut rintihan suara laki-laki yang sangat dia kenali.


Suara yang lama tidak pernah dia dengar lagi.


Sial! Siapa yang berani memakai ruangan ini untuk me-sum!


Risma sangat kesal. Dia ingin memaki orang yang bertempur di dalam ruangan itu. Namun tangannya terhenti kala telinganya mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Kenapa kamu diam? Lepasin sayang, lepasin kayak biasanya."


"Kamu lupain hal itu, kita akan berjuang sama-sama."


Risma mendorong sedikit pintu yang sama sekali tidak di kunci.


Gubrakkkk!


Bangunan batinnya seakan roboh, diterjang gempa yang tidak terukur lagi kekuatannya. Tidak terlihat, namun meruntuhkan semua ketegaranya.


Di ranjang rumah sakit itu, Terlihat Ishana dibawah kukungan Ardhi. Terlihat Ardhi begitu semangat melakukannya.


"Na, jangan menangis, jangan seperti ini Na."


Ishana hanya diam, dan terus menangis.


"Na ...."


"Aku rindu suara halusmu menyebut namaku Na."


Risma mematung melihat semua itu. Sahabatnya yang dia yakini tidak mampu menyerahkan dirinya untuk laki-laki yang sangat dia cinta, di depan matanya dua orang itu malah merajut kasih.

__ADS_1


Risma menutup mulutnya, menahan napasnya, dan berusaha menahan tangisnya. Risma berlari ke sudut lain yang sepi, dia menumpahkan tangisnya, walau sama sekali tidak mengurangi rasa sakit yang mendera batinnya.


Aaaaaaakkkk!


Batinnya menjerit.


20 menit berlalu.


Risma masih terkulai di sudut ruangan itu. Rasa sakit yang dia rasa saat ini tidak mampu dia ungkapkan lagi.


Sedang di depan sana.


Perlahan pintu ruangan itu terbuka. Terlihat sosok Ardhi dan Ishana keluar bersamaan dari ruangan itu.


"Na, percaya sama aku, kamu jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku yakin Risma akan mengerti keadaan kita."


Ardhi menge-cup begitu dalam bibir Ishana, membuat mata yang melihatnya semakin merasa sakit.


"Terima kasih, karena selama ini kamu sangat mengerti aku, aku sangat merindukan Risma, tapi dia selalu menjauhiku dan menolakku."


"Aku tidak menyalahkan dia, takdirnya begitu kejam."


Ishana hanya menunduk, dia tidak tahu harus apa. Yang dia tekadkan, ini adalah terakhir kali dia melakukannya bersama Ardhi.


Ardhi mendaratkan satu ciuman di pucuk kepala Ishana dan langsung pergi dari sana.


Sedang Ishana, kembali membangun perasaannya untuk bekerja. Fisik dan hatinya saat ini sangat lemah.


Cintanya pada seorang laki-laki seperti pedang yang sangat tajam yang akan menghunus jantung sahabatnya.


Ishana tidak lagi fokus. Namun dia tetap berusaha terlihat tegar untuk pekerjaannya.


Drtttttt!


Getaran handphone itu mengalihkan pikiran Risma. Terlihat pesan dari Rita.


Sayang, kami tidak langsung pulang, mama dan Eva sedang survei hotel, kami memastikan di mana tempat untuk acara 7 bulanan Eva nanti."


Risma menyimpan kembali handphone-nya. Dia masih berusaha memastikan kedua kakinya sanggup menopang bobot tubuhnya untuk menemui Ishana.


5 menit berlalu.


Risma marah dan kecewa dengan Ishana. Dia tetap menemui Ishana, kini Risma sadar, Ishana terlihat lemas karena tenaganya disedot Ardhi, sedang Ardhi terlihat bugar karena nutrisi dari Ishana.


Ardhi datang ke Rumah Sakit ini bukan sakit fisiknya, namun mencari rasa lain untuk menumpahkan has-ratnya.


Ishana terlihat sibuk dengan beberapa tugasnya. Tiba-tiba ada Risma di depan matanya.


"Hai Na."


"Ri-Risma." Bibir Ishana gemetaran melihat sosok Risma.


Nyalinya menciut, dia tidak mampu memandang wajah Ishana.


"Ku harap kamu masih memegang ucapan kamu dulu, kalau kamu melakukan tugas kamu nanti sebagai istri, semata karena sayang padaku, bukan cinta pada mas Ardhi."

__ADS_1


Bugggg!


Rasanya batu yang begitu keras dan tumpul menghantam hatinya.


Ishana semakin menciut. Bibirnya terasa kelu, sangat sulit mengukir sebuah senyuman.


"Kamu sudah melakukannya?"


Ishana ingin menjawab 'Iya' Entah kenapa lidahnya sangat kaku, tidak mampu mengucap satu huruf juapun.


"Ah, sudahlah Na, kalau memang suatu ketulusan, nanti akan terjawab, karena bangkai atau bunga lama-kelamaan akan tercium juga. Bunga bau harum, sedang bangkai bau busuk."


Ishana masih mematung, penyesalan yang sangat terlambat memenuhi relung batinnya. Andai dia bisa naik mesin waktu, dia lebih memilih cara Eva, memaksakan perbuatan itu tanpa rasa cinta. Menyerahkan tubuhnya, namun tidak serta hatinya. Mimpi terwujud, dia pergi, maka tidak ada yang akan terluka sedalam ini.


"Aku pulang dulu ya Na, tadi aku menemani Eva memeriksa kehamilannya."


Risma pergi begitu saja, sedang Ishana langsung terkulai di lantai, dirinya ikut merasakan rasa sakit dari pancaran mata Risma.


"Maafin aku Risma ...." isaknya.


Sedang Risma, setelah meninggalkan Rumah Sakit, dirinya langsung menuju kantor Ardhi.


Sesampai di sana, para pegawai yang dia lewati memberikan hormat padanya.


Risma bediri di depan pintu lift khusus, menunggu pintu lift itu terbuka.


"Enak banget ya jadi Tuan Ardhi punya bini tiga, kemaren-kemaren bini kedua dia yang perawat yang sering datang ke sini, sekarang bini pertama, entah kapan bini ketiga yang paling seksi itu kemari."


"Hus! Nanti kedengaran!" tegur lawan bicaranya.


Mendengar pembicaraan pegawai yang tidak jauh darinya, hati Risma bukan hancur lagi, bahkan lebih dari itu, ternyata bukan hanya Rumah Sakit, tapi juga di kantor ini.


"Haaa!" tawa pias Risma, menyadari kebodohannya. Selama ini Risma selalu memohon padanya, agar dirinya memaklumi Ardhi, ternyata wanita itu telah melakuknnya lebih dulu.


Setelah pintu lift terbuka, Risma memerosotkan tubuhnya. Menangis, rasanya air matanya sudah kering.


Ting!


Pintu Lift terbuka, membuat Risma harus kembali menegakkan kedua kakinya untuk menompang seluruh tubuhnya melanjutkan tujuannya.


Merasa sedikit lebih baik, Risma meneruskan langkahnya menuju ruangan Ardhi.


"Hai Nona Risma."


Sapaan itu membuat Risma menoleh kearah suara itu berasal.


"Hai Derby, Tuan ada kan?"


"Ada, silakan masuk Nona."


Risma tersenyum dan segera masuk ke ruangan Ardhi. Sampai di dalam ruangan itu, tidak ada sosok Ardhi di sana. Langkah kaki Risma menuju kamar khusus yang ada di ruangan itu.


Telinga Risma mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, bibir Risma mengukir senyuman yang sangat dia paksakan, Ardhi tengah membersihkan dirinya dari sisa-sisa perjuangan cintanya bersama Ishana sebelumnya.


Ceklak!

__ADS_1


Pintu kamar mandi itu terbuka, terlihat sosok Ardhi yang hanya mengenakan handuk. Dia tersenyum melihat kehadiran Risma di kantornya.


"Sayang ...." Ardhi langsung menghampiri Risma dan memeluknya.


__ADS_2