
Jantung Ardhi seakan berhenti berdetak, sekujur tubuhnya gemetar setelah mendengar semua cerita Rita tentang Risma.
“Ma, mama jangan bercanda seperti ini ma.” Ardhi begitu putus asa.
“Mama tidak bercanda, walau berharap ini hanya mimpi bukan nyata.” Rita menyebutkan nama Rumah Sakit tempat Risma dirawat saat ini.
Ardhi berlari menuju ruangan Derby. “Kamu tangani semua urusan Perusahaan, semua pertemuan hari batalkan.” Ardhi tidak menunggu jawaban Derby, dia terus berlari menuju lift.
Ting!
Lift yang Ardhi masuki akhirnya terbuka, seperti orang dikejar-kejar anjing gila, Ardhi terus berlari tanpa peduli sorot mata karyawan yang tertuju padanya.
Brukkk!
Brukkk!
Brukkk!
Beberapa kali Ardhi menabrak pegawai yang lain, Ardhi yang ramah dan santun saat ini tidak ada, dia tidak peduli dengan orang yang jatuh karena bertubrukan dengannya, dia terus lari dan lari.
Bremmm!
Tidak melihat keadaan lagi, Ardhi memacu cepat mobilnya meninggalkan area perusahaan. Di jalanan pun mobil yang Ardhi kemudikan dengan kecepatan tinggi.
Papppp!
Suara klakson mobil angkutan besar tidak menyurutkan nyali Ardhi, dia terus memacu mobilnya, tidak peduli dengan keselamatan dirinya juga keselamatan pengguna jalan yang lain. Akhirnya dia sampai di Rumah Sakit yang
Rita maksud, dia terus berlari mencari ruangan Risma. Setelah menemukan ruangan itu Ardhi langsung masuk, di dalam ruangan itu ada Dhifa yang tertidur dalam pelukan Risma, sedang Rita terlihat masih menangis duduk di kursi yang ada samping ranjang yang ditempati Risma dan Dhifa.
Ardhi terus melangkah mendekati Risma, sorot mata Ardhi yang begitu sedih membuat Risma tidak mampu menahan tangisnya,
Ardhi berusaha menahan air matanya, walau sepasang matanya sudah berkaca-kaca, Ardhi menatap plafon putuh ruangan yang Risma tempati. “Aku memang suami yang buruk Ris. Sehingga hal yang sangat penting ini kamu menutupinya dariku.”
“Bukan begitu mas.” Risma berusaha menahan tangisnya agar tidak membangunkan Dhifa.
__ADS_1
“Aku suami yang jahat Ris, hanya menginginkan kebahagiaan darimu, tapi tidak mengetahui bagaimana keadaan hatimu dan fisikmu, aku hanya menuntut bahagia darimu.”
“Bukan begitu mas, aku hanya ingin kita semua bahagia, aku hanya ingin melihat kebahagiaan di akhir hayatku. Aku tidak ingin melihat kecemasan.”
Melihat Risma Ardhi tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya, dia tersungkur ke lantai dengan dua lutut yang mendarat menopang bobot tubuhnya. “Arggggghhh Kenapa harus istriku? Kenapa tidak kau timpakan saja padaku?” Ardhi menangis sejadi-jadinya, membuat Risma dan Rita juga semakin terisak.
Rita mendekati Ardhi dan memeluknya. Berusaha membuat putranya lebih kuat. Mendengar isak tangis Ardhi yang amat memilukan Rita juga hanya ikut menangis.
Ardhi melepaskan pelukan ibunya, perlahan dia mendekati Risma. “Apa sebab ini kamu sangat bersikeras ingin Ishana kembali?”
Risma menutup hidung dan mulutnya, agar isak tangisnya tak terlepas, dia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ardhi.
“Menurutku, hanya dia yang memahami kamu mas, dan dia juga mampu memberi kebahagiaan untuk kalian semua.”
“Aku sangat mencintai kamu mas, sebelum aku pergi, aku ingin ada yang mengurusmu dan Dhifa.
“Kalian berdua terlalu istimewa, sehingga aku tidak pantas bersama kalian atau salah satu dari kalian, lihat saja sekarang, Tuhan malah akan mengambilmu dari sisiku.”
“Ishana akan menjadi milik Jully, semoga sebelum aku menutup mataku untuk selamanya, aku bisa melihatmu bersanding dengan penggantiku.”
“Kamu tidak pernah terganti, jasadmu boleh tiada, namun cintamu tetap hidup di sini.” Ardhi meng isyarat pada dada kirinya. Dia naik keatas tempat tidur Risma dan memeluk erat Risma yang tengah memeluk Dhifa.
Malam menyapa, Ardhi dan Rita diminta menemui dokte yang menangani Risma di ruangan lain, mereka masih berharap bisa menyembuhka Risma, atau mencari jalan agar Risma bisa bertahan lebih lama lagi.
“Bu Risma telat mengetahui keadaannya, walau dia tahu kalau penyakitnya sudah stadium akhir, dia tetap semangat menjalani pengobatan, tapi takdir berkata lain.” Dokter menjelaskan segala usaha Risma beberapa bulan terakhir ini.
“Bukan mendahului takdir Tuhan harapan untuk bu Risma sangat tipis, tapi semoga ada keajaiban untuknya.
Sedang di ruangan yang Risma tempati hanya ada Risma dan Dhifa, anak itu terlihat nyaman bersandar pada Risma.
“Kenapa bunda harus mati? Bunda nggak sayang sama Dhifa?”
“Siapa bilang bunda akan mati, bunda akan sehat kok.” Risma berusaha tegar untuk putrinya.
“Aku dengar semua pembicaraan om dokter dan oma, kalau waktu bunda tidak lama lagi.” Dhifa tidak ber-expresi apapun.
__ADS_1
Risma bingung menjelaskan pada Dhifa, agar mudah dimengerti anak itu. “Dhifa buka handphone bunda,” pinta Risma.
Anak itu langsung mengambil benda yang bundanya maksud. Risma langsung mencari video yang ada pohon. “Dhifa tahu ini?”Risma memperlihatkan layar handphonenya pada Dhifa.
Dhifa melirik sekilas. “Pohon.”
“Kehidupan manusia itu seperti pohon, sayang.”
“kenapa begitu bunda?”
“Lihat daun yang jatuh itu karena apa?” tanya Risma.
“Bisa karena angin, bisa karena patah, atau dipetik orang.”
“Kematian juga begitu sayang, bisa sebab sakit dan banyak lagi. Seperti daun pohon, ada yang jatuh tertiup angin karena sudah tua, ada juga sebab patah, sehingga ada yang masih pucuk, masih muda, dan daun yang masih hijau sempurna. Kematian akan menjemput siapa saja jika sudah saatnya. Syarat mati tidak harus tua atau sakit sayang, karena siapa saja pasti menemuinya.”
“Kenapa bunda akan mati secepat itu, ini bukan bunda yang mau sayang, yang sayang sama Bunda bukan hanya Ayah, oma, Dhifa, mama Ishana dan yang lain, tapi Allah juga sayang sama bunda, Allah ingin bunda masuk surga
duluan. Jadi nanti kalau ada yang tanya bunda mau pergi kemana, jawab saja bunda ke surga.”
“Kenapa bunda ke surga gak ajak aku sama Ayah dan Oma?”
“Bukan nggak ajak sayang, tapi belum waktunya. Jika sampai waktunya nanti insya Allah, kita akan bertemu di surga, tapi selama hidup Dhifa harus berbuat baik ya.”
“Saat bunda pergi, siapa yang nemenin aku? Siapa yang antar jemput aku sekolah? Siapa yang bantu PR-ku?”
“Bunda maunya mama Ishana, tapi dia akan menikah sama om dokter, Dhifa berdo’a ya semoga ada bidadari yang seperti mama Ishana yang bisa menjadi istri Ayah, dan bunda buat Dhifa.”
“Dhifa anak pintar dan hebat, jika bunda tidak ada, Dhifa yang jaga Ayah ya, jangan lupa pesan bunda, cari bunda lagi buat Ayah ya ….”
Dhifa menangis dan memeluk erat Risma. “Apa Allah nggak kasihan sama aku sama Ayah, kenapa Allah mau ambil bunda dari kami.”
Risma tidak punya jawaban lagi untuk Dhifa, dia menangis dan membalas pelukan Dhifa.
“Andai tiket ke surga bisa ditukar, biar oma saja yang pergi ke surga, biar oma bertemu opa.” Rita datang sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
“Dhifa faham, kenapa Allah jemput bunda duluan, karena menemani opa butuh orang yang bisa gerak cepat seperti bunda, kalau seperti oma, kasian opa kelamaan nunggu.”
Ardhi, Rita, dan Risma hanya menangis, mereka bertiga sama-sama memeluk Dhifa.