Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 73


__ADS_3

Flash back Jully.


Sesampai di Rumah Sakit, Jully berhasil menemukan ruangan di mana Dewi dirawat. Melihat kedatangan keluarga Jully, Hendra terlihat salah tingkah.


“Kenapa kalian ke sini? Hari in ikan akad nikah Jully.”


“Maaf Pak Hendra. Kami baru tahu kalau Dewi sakit, sebelum akad Nikah Jully, kami ingin menemui Dewi dulu,” ucap Sakti.


“Dewi belum sadar, sebaiknya kalian lanjutkan akad nikah dulu,” usul Hendra.


“Lah Bapak mau kemana?” tanya Jully.


“Menebus resep, tadi pagi dokter yang menangani Dewi memberi resep baru.”


“Sini biar saya saja yang tebus, biar lebih cepat.”


Jully segera menuju apotik yang ada Di Rumah Sakit itu, tidak butuh waktu lama, dia mendapatkan semua obat yang Hendra perlukan, sedang keluarga Jully menuju ruang perawatan Dewi.


“Dewi sakit apa om?” tanya Tias.


“Sakit hati.” Hendra terlihat begitu tertekan. “Selama ini dia sangat mencintai Jully, kala dia mengetahui Jully akan menikah, Dewi nekat minum racun untuk mengakhiri hidupnya.”


Semua sangat terkejut mendengar ucapan Hendra, mereka semua tidak menyadari kalau Dewi jatuh cinta pada Jully. Termasuk Jully yang menahan langkahnya ketika dia mendengar namanya disebut. Jully masih berdiri di depan pintu, menguping pembicaraan Hendra dan keluarganya.


“Jully akan menikah, bagaimana aku cerita pada kalian tentang sakitnya Dewi? Baca saja surat ini.” Hendra memberikan surat dan handphone Dewi pada Tias.


Tias pun membaca isi surat Dewi dengan suara lantang.


... Papa, maafkan aku. Aku terpaksa mengambil jalan ini, aku tidak punya alasan lagi untuk meneruskan hidupku....


...Sejak aku duduk di kelas 1 SMA, aku jatuh cinta pada kak Jully, aku juga tidak tahu mengapa as aitu muncul. Aku berharap rasa itu lenyap, namun seiring berjalannya waktu, cinta itu makin besar. Aku tidak bisa menghapus rasa cintaku, aku tidak mampu juga mengatakannya, sekarang kak Jully akan menikah, aku nggak kuat pah. Maafkan anakmu ini, yang mencintai Jully melebihi nyawaku sendiri....


Tias melepas surat yang di abaca, dan membuka isi handphone Dewi. “Galeri handphone Dewi di penuhi foto-foto Jully.” Tias memperlihatkan foto-foto Jully yang tersimpan di handphone Dewi.


“Putriku sangat tergila-gila dengan Jully, demi menjaga hubungan baik kita, aku rahasiakan kabar ini dari kalian. Bukan salah Jully, Dewi menderita seperti ini karena perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan.”


“Keadaanya saat ini sangat menurun, aku yakin, dia hanya menunggu detik-detik Jully mengucapkan akad, setelah itu mungkin Dewi akan pergi meninggalkanku selamanya.”

__ADS_1


Sakti menangis mendengar isi surat Dewi dan cerita Hendra. “Jika kita menyadari perasaan Dewi lebih cepat, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”


Tias mendekati ranjang tempat Dewi terbaring. “Kasian banget kak Jully, kenapa pernikahannya bisa batal!"


Jully sangat geram mendengar ucapan Tias, namun ….


Tutt! Tutt!


Suara monitor yang terhubung dengan tubuh Dewi berbunyi lebih keras. Semua orang terkejut.


“Permisi dok.” Dua orang perawat izin pada Jully, karena Jully menghalangi jalannya.


Saat itu Jully pun masuk ke ruangan Dewi bersama dua perawat yang akan memeriksa Dewi.


“Ini om.” Jully memberikan kantong yang berisi obat-obatan pada Hendra. “Ada perkembangan apa?” Jully pura-pura tidak mengerti.


“Sepertinya ada hal yang membuat pasien mempunyai semangat untuk bangun,” sela perawat.


Seketika semua sorot mata tertuju pada Tias.


“Ini sudah jam delapan. 1 jam lagi akad nikah Jully,” ucap Hendra.


“Jully, ibu tidak melarangmu melanjutkan akad nikahmu. Tapi, lihat keadaan Dewi sekarang.”


“Jully, lanjutkan saja akad nikahmu, keadaan Dewi sepeti ini bukan salah kamu,” sela Hendra.


“Ishana batal menikah denganmu dia masih bisa melanjutkan hidupnya, hanya saja dia malu. Tapi, ibunya seorang yang berkuasa seiring berjalannya waktu rasa malu mereka juga akan hilang. Tapi Dewi, jika dia tahu kamu menikahi orang lain, dia tidak punya semangat untuk hidup, dan dia semangat menuju kematian.”


Jully menunduk mendengar ucapan ibunya. Hendra, tetangganya yang selama ini membantu keluarganya, jasa Hendra bagi keluarganya sangat besar. Membantu ekonomi kedua orang tua Jully, dan mendukung Pendidikan Jully.


“Nak Jully, pernikahan adalah lembaran baru dalam kehidupanmu, tolong jangan kamu hancurkan masa depanmu hanya karena ingin menyelamatkan Dewi,” ucap Hendra begitu lirih.


“Jully?” Seorang dokter menghentikan langkahnya kala melihat Jully berada di depan ruangan pasiennya.


“Dokter Liyo?”


“Dewi keluarga kamu Jull?”

__ADS_1


“Iya, saya ke sini menjenguknya.”


“Sebentar, saya mau cek perkembangan pasien, tadi perawat melapor kalau tiba-tiba ada perkembangan signifikan pada pasien.”


Dokter yang menangani Dewi segera memeriksa Dewi, sedang Jully dan yang lainnya masih menunggu di luar ruangan.


“Tadi Tias bilang kalau kamu batal nikah, mendengar itu, Dewi bersemangat,” ucap Anya.


“Sabar bu, siapa tahu, ada jalan lain untuk membantu Dewi untuk sembuh,” sahut Jully.


Beberapa menit berlalu, dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan Dewi. “Hanya beberapa menit lalu yang membuat pasien semangat, bisa ikut saya ke ruangan saya untuk menceritakan kejadian apa sebelumnya?” pinta dokter Liyo.


“Biar saya dan Ayah pasien saja dok,” ucap Jully.


Anya, Tias, dan Sakti kembali masuk ke ruang perawatan Dewi, sedang Jully dan Hendra mengikuti dokter Liyo menuju ruangan sang dokter. Hendra mulai menceritakan dilemma putrinya.


“Sepertinya Dewi sosok yang manja, selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.” Dokter Liyo mencoba memahami segala cerita Hendra. “Kamu juga seorang dokter Jull, kamu tentu tahu apa yang akan membuat Dewi selamat, dan hal apa yang membuat dia seperti ini selamanya, mungkin sampai akhir hayatnya.”


Jully membisu, kesembuhan Dewi hanyalah dirinya atau kematian. “Terima kasih dok, kami sangat mengerti, kalau begitu kami permisi dulu.” Jully mengajak Hendra kembali ke ruang perawatan Dewi.


“Jangan pikirkan Dewi nak, dia seperti ini salah Bapak sendiri, lanjutkan pernikahan kamu, jangan sampai ada Wanita lain terluka hanya karena Dewi.”


Jully hanya diam, dia tidak menanggapi ucapan Hendra, kenangannya bersama Ishana berputar-putar di kepalanya, namun kenangan masa kecilnya juga terlintas, di mana Hendra adalah pahlawan bagi kehidupan keluarganya.


Tidak terasa langkah kaki mereka sampai di ruangan Dewi. Hendra dan Jully tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Perlahan Jully mendekati ranjang yang ditempati Dewi, Jully meraih tangan Wanita itu. “Aku akan menikahi Dewi saat ini juga.”


“Kenapa kamu—” Hendra tidak bisa melanjutkan kata-katanya melihat isyarat diam dari Jully.


“Tolong, segera persiapkan untuk keperluan akad nikah kami, walau hanya secara agama.”


"Aku ditinggal calon istriku, beruntung aku mendapat cinta dari seseorang, dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya." kilah Jully.


“Tolong ….” Pinta Jully dengan halus.


30 menit berlalu, semua persiapan akad nikah pun siap. Dengan lantang Jully mengikrarkan akad menikahi Dewi. Sahutan suara ‘Sah!’ pun bagai hujan lebat yang turun membasahi gersangnya tanah.

__ADS_1


__ADS_2