Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 47 Bundaaa


__ADS_3

Ardhi tersenyum bahagia melihat sahabat istrinya berada di depan matanya, sejak 5 tahun yang lalu dia berusaha mencari Nara, namun tidak pernah mendapatkan kabar wanita yang begitu berharga bagi Ishana maupun Risma.


Ardhi langsung berdiri. "Nara, ini kamu?"


"Serasa mimpi aku lihat kamu di kota ini, aku selalu cari kamu Ra, karena Risma selalu merindukan kamu."


Melihat Ardhi di depan matanya, rasanya Nara ingin menampar laki-laki ini, hal yang dia tahan sejak 7 tahun yang lalu. Namun ada Dina yang melihatnya, hal yang sangat tidak baik dilakukan di depan anak kecil seperti Dina.


"Mama Rara, om ini kenal mama?"


Pertanyaan anak kecil itu membuyarkan lamunan Nara. "Om ini cuma teman mama sayang." Nara berusaha tersenyum pada anak kecil yang datang bersamanya ke kota ini.


"Owh, baguslah, kalau koper om ini rusak, dia tau kemana minta ganti," ocehnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Nara.


"Dina gak sengaja tabrak koper om ini hingga jatuh," pengakuannya.


"Dina nggak apa-apa?" Nara panik, dia langsung memeriksa keadaan Dina.


"Kenapa aku yang diperiksa sih ma? Itu koper om yang diperiksa, kalau rusak mama gantiin."


"Kamu lebih berharga dari koper itu!"


Dina tertawa mendengar ucapan Nara.


Ardhi tersenyum melihat tingkah anak kecil itu, masih kecil tapi faham akan tanggung jawab, Ardhi tak henti-hentinya memandangi jeli setiap sudut wajah anak perempuan cantik itu, rasanya rupa anak itu tidak asing baginya. "Dia anak kamu Ra?"


"Dia panggil aku apa?" Nara balik bertanya.


"Hmmm ...." Ardhi merasa asing dengan sosok Nara saat ini.


"Kamu bisa simpulkan sendiri, kalau dia panggil aku nenek atau kakak, baru kamu pertanyakan!"


"Maaf Ra."


"Memangnya kenapa kalau dia anakku?"


"Oh enggak apa-apa, hanya ingin bertanya saja, karena rada janggal. Pertama dia pasti seumuran Dhifa, kedua dia nggak mirip kamu Ra."


Nara langsung menarik Dina kesampingnya.


"Maaf Ra, bukan maksudku menyakiti perasaan kamu."


Nara membuang begitu kasar napasnya. "Kamu memang sumber rasa sakit! Jadi aku biasa aja tuh!" ketus Nara.


Ardhi berusaha mengamati wajah anak kecil itu lagi, namun Nara berusaha melindunginya.


"Dia anak sambung kamu ya Ra? Soalnya, 5 tahun yang lalu aja, kamu masih belum hamil, dan belum menikah, sedang anak ini, usianya diatas 5 tahun, mungkin seperti Dhifa, 7 tahun."


Dina memunculkan bagian kepalanya. "Salah om, aku belum 7 tahun."


Nara kembali menarik Dina, agar Dina terhalang dari pandangan Ardhi. "Apapun status dan hubungan aku sama anak ini, itu urusan aku, bukan urusan kamu!"

__ADS_1


"Maaf Ra."


"Maaf mu tidak akan mengobati hati yang tergores. Permisi!" Nara langsung mengajak anak kecil itu pergi bersamanya.


Sedang Ardhi, dia hanya memandangi punggung Nara yang semakin menjauh. Sedang anak kecil yang bernama Dina itu menoleh pada Ardhi dan melambaikan tangannya.


Ardhi tersenyum melihat anak kecil yang tangguh itu dan membalas lambaian tangan Dina.


"Dina." Lisan Ardhi menyebut nama gadis kecil itu. "Di-Na?"


Hatinya merasakan ada makna dibalik nama itu, namun mengingat waktu keberangkatannya semakin dekat, Ardhi mempercepat langkahnya menuju pintu keberangkatan.


***


Matahari semakin meninggi, hawa panasnya semakin terasa menyengat permukaan kulit.


Setelah mengantar Dhifa ke Sekolahnya, Risma langsung survei ke beberapa Restoran yang menjadi miliknya. Tugas rutinnya memeriksa semua restoran dan butik yang dia pegang, saat jam pulang sekolah dia akan kembali menjemput Dhifa.


Drettt!


Berulang kali handphone Risma bergetar, sesekali Risma menoleh, ternyata itu hanya pesan dari group chat yang dia ikuti.


Drettttttt!


Getaran panjang dan berulang, membuat Risma menyudahi pekerjaannya, dan menyambar benda elektronik yang tidak henti-hentinya bergetar. Terlihat panggilan dari bunda Aiswa.


"Iya bunda," sahut Risma.


"Ris, Ayah angkat Ishana meninggal."


"Kamu melayat Ris?"


"Saya tidak berani datang ke sana lagi bunda, semenjak kepergian Ishana, mereka semua menutup pintu untuk saya. Bahkan tidak mau berkaitan apapun lagi dengan kami, bukan dendam bunda, tapi hanya ingin menjaga perasaan mereka."


"Ya sudah, bunda dan beberapa pengurus panti melayat ke sana."


"Iya bunda."


Duka kembali menyelimuti kediaman Purnama, Pajri berusaha tegar melepas kepergian Ayahnya, dia merasa lebih tegar, karena keinginan terakhir sang ayah bisa dia tunaikan.


Hari itu habis begitu saja, gelap kembali menyelimuti kota itu.


Merasa semua tugasnya sudah Risma selesaikan, dia segera kembali ke kamarnya. Punggungnya baru mendarat di permukaan kasur empuknya. Matanya mulai terasa berat, namun kabar dari Ardhi belum dia dapat, hal itu membuat Risma menahan rasa kantuknya.


Drettt!


Melihat nama Ardhi, Risma langsung menggeser icon berwarna hijau.


"Ayah, sibuk banget ya?"


"Maaf ya sayang, pas pesawat aku mendarat, aku harus langsung rapat, dan banyak lagi. Sekarang sudah selesai. Maaf ya, membuat kamu menunggu."


"Nggak apa-apa, asal Ayah sehat di sana, aku bahagia."

__ADS_1


"Gimana kalian semua?"


"Kami baik Yah, Oh ya ..., tadi siang ada berita duka, Ayah Ishana meninggal."


"Innalillahi."


Sejenak Ardhi terdiam, mengetahui berita kematian mertuanya.


"Kamu pergi ke sana?" tanya Ardhi.


"Aku nggak berani, takut di usir Pajri lagi. Ayah masih ingat bukan, kalau kata Pajri dia tidak mau berurusan sekecil apapun dengan kita, aku hanya menghormati keinginan Pajri."


"Ya sudah, ikhlaskan semuanya, mereka adalah bagian masa lalu kita yang indah."


"Iya mas."


Hari demi hari berlalu seperti biasanya, semua sibuk dengan urusana dan pekerjaan mereka masing-masing.


Terlihat Dhifa nampak murung memandangi kearah kolam renang. Sedang Risma panik mencari keberadaan anak itu.


Merasa hanya bagian samping rumah yang belum Risma datangi, akhirnya Risma segera berjalan kearah sana. Benar saja, di gazebo itu terlihat Dhifa duduk seorang diri.


"Bunda kalang kabut sendirian mencari kamu, ternyata kamu di sini." Risma duduk di samping Dhifa


Anak itu hanya diam. Pandangannya terlihat begitu sedih.


"Kamu tau sayang, tempat ini, tempat kesukaan almarhum opa Wisnu, opa Wisnu itu, sayang ... banget sama Dhifa, sampai beliau meninggal, Dhifa itu dalam peluka opa."


"Sudah tau, bunda sering cerita itu."


Risma membelai lembut rambut panjang putrinya. "Anak bunda kenapa? Kok kecantikannya hilang?"


"Teman-teman aku, mereka setiap tahun liburan keluarga ke pulau bunga, aku pengen ke sana bunda, selain mengikuti kegiatan berkemah, kan kita bisa liburan, kalau Ayah nggak izinin aku ikut kegiatan berkemah, kan kita bisa lihat mereka yang berkemah."


"Tapi jauh banget sayang, sebab itu Ayah nggak kasih izin."


Wajah Dhifa semakin murung, keinginannya yang satu ini tidak dikabulkan oleh Ayahnya.


"Padahal aku ingin ke sana bunda," rengeknya.


"Maafin Ayah bunda ya."


"Iya bunda, nggak apa-apa."


Tapi kesedihan tetap menghuni wajah cantik itu.


"Makasih sayang pengertiannya, jadi besok kita gak jadi pergi ke sana, karena kamu nggak apa-apa kalau nggak kesana. Mendingan kita pergi liburan ketempat lain ya. Yang dekat-dekat saja, walau tadinya Ayah sudah siapkan semuanya."


Dhifa terkejut mendengar ucapan Risma. "Bunda nggak bercanda kan?"


"Tapi, kamu kan sudah nggak pengen ke sana, jadi kita batalin aja." Risma langsung pergi dari sisi putrinya.


"Bundaaa."

__ADS_1


Namun yang dipanggil tetap melenggang pergi begitu saja.


__ADS_2