
Ardhi terus berlari mencari dua anak kecil itu. Pertemuannya dengan Nara sebelumnya seakan memperkuat segala sangkaannya, kalau Ishana masih hidup.
"Di-Na." Wajah imut itu persis wajah Ishana.
"Dhi-fa, Ardhi Eva."
"Di-Na, Ardhi-Ishana?" Ardhi perlahan memahami makna nama Dina, gabungan namanya dan nama Ishana.
Seketika langkahnya terhenti mendalami semua hasil pemikirannya barusan. Berusaha mencari jawaban atas segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Belum bisa dia menjawab segala pertanyaan yang masih berputar, tiba-tiba di depan sana seorang wanita cantik berjalan begitu cepat menuju pintu keberangkatan.
Dugggg!
Rasanya jawaban dari segala pertanyaannya ada di depan matanya.
"Mama ...."
Dari arah lain Dina dan anak laki-laki itu melompat-lompat dan melambaikan tangannya pada Ishana.
Keringat membasahi wajah Ardhi melihat kenyataan yang ada di depan matanya.
"Mama-mama!" Kedua anak kecil itu begitu girang mengucapkan kata mama. Sedang Ishana terus mendekat kearah dua anak kecil itu.
"Dina, Rian cepat masuk sayang ...."
Dua anak kecil itu pun mematuhi perintah Ishana, mereka segera memasuki pintu keberangkatan bersama dua orang dewasa yang lain.
"Ishana!" teriak Ardhi.
Sontak teriakkannya membuat langkah wanita itu terhenti dan menoleh padanya. Saat kedua pasang mata itu bertemu, seakan waktu berhenti dititik itu.
Prank!
Segala lamunan itu seketika pecah, kala melihat wanita itu malah berusaha kabur darinya.
"Ishana!"
Ardhi langsung mengejar Ishana, namun Ishana terus berlari hingga berhasil melewati pintu keberangkatan. Sedang usaha Ardhi mengejar Ishana terhenti, dia dihalangi beberapa orang berbadan tegap petugas bandara yang berjaga di depan pintu keberangkatan.
"Pak, izinkan saya lewat, itu anak dan istri saya."
Salah satu penjaga pintu keberangkatan mentertawakan pengakuan Ardhi, susah baginya untuk berhenti tertawa. "Bukan, dia dia adalah istri saya!" ledeknya.
"Siapapun Anda, tidak ada tiket tidak boleh lewat!"
"Ishana!" jerit Ardhi. Berharap wanita itu menoleh dan mau kembali menghampirinya. Tapi, wanita itu tetap pergi meninggalkannya
"Tega kamu Na membohongi kami semua!" Teriakkan Ardhi pecah, dia berusaha berontak, namun 5 orang yang menahannya tidak mampu dia lawan.
Sedang Ishana sudah menghilang dari pandangan matanya.
Ardhi mengalah, dia segera pergi dari tempat itu, andai dia rusuh pun, dia tidak bisa mengejar Ishana. Ardhi mengambil handphone yang belum sempat dia nyalakan, meng-aktifkan handphone itu dan langsung menghubungi Risma.
__ADS_1
"Mas kenapa tidak bisa dihubungi? Dari tadi aku berusaha menelepon mas." Pertanyaan itu langsung menyambut telinga Ardhi kala panggilannya terhubung.
"Aku di pesawat Ris, handphone ku matikan."
"Owh." Terdengar wanita itu menghempas napasnya.
"Mas, mas pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku lihat."
"Kamu juga, pasti mengira aku gila, jika aku cerita apa yang aku lihat barusan."
"Ishana."
Ardhi dan Risma mengucapkan nama yang sama.
"Di mana mas melihat Ishana? Dia bersama seorang anak laki-laki, mas."
"Kamu, di mana kamu melihatnya?" Ardhi balik bertanya.
"Taman bunga dekat mesjid di pulau ini, dia mengejar seorang anak laki-laki seumuran Dhifa, aku mengejarnya, tapi aku kehilangan jejaknya."
"Aku melihatnya di Bandara, sepertinya dia meninggalkan kota ini setelah melihatmu."
"Kejar dia mas, jangan sampai kita kehilangan dia lagi."
"Percuma Ris, dia sudah masuk pintu keberangkatan."
"Mas jangan menyerah, mas harus perjuangin cinta mas, kali ini aku benar-benar mendukung mas."
"Cinta mas cuma kamu Ris, andai mas bertemu dengannya, mas ingin melepaskannya, kasian dia 7 tahun ini dia tidak bisa kembali, dan juga tidak bisa melangkah maju."
Entah kenapa hatinya sakit mendengar Ardhi akan melepaskan Ishana, dulu impian Ishana mereka bisa hidup berdampingan dalam satu atap, setelah mengalami segala kepahitan ini, dan tertekannya kehilangan Ishana, saat ini hal itu menjadi impian Risma, kala dia menyadari Ishana masih hidup, harapan Risma ingin mereka tinggal satu atap seperti awal-awal pernikahan Ardhi dan Ishana dulu.
"Pikirkan dulu mas, ada anak yang lahir dari pernikanan kalian."
Ardhi terdiam, teringat dengan dua anak yang memanggil Ishana dengan panggilan mama.
"Mas ...."
Panggilan Risma mengejutka Ardhi. "Sampai jumpa sayang, sebentar lagi mas akan sampai ke pulau Bunga."
Ardhi menyudahi panggilan teleponnya, walau Risma masih ingin berbicara dengannya.
*
Di tempat lain, Ishana menangis dalam dekapan ibunya, walau sudah lama dia hidup jauh dari Ardhi dan Risma, tapi hatinya belum siap melihat Risma mau pun Ardhi.
"Kenapa mereka hadir saat aku sudah bisa melupakan mereka mama ...."
Melihat mamanya menangis Rian menjadi kesal, dia menyenggol lengan adik perempuannya. "Ada yang nakal sama mama?"
"Nggak tau, kayaknya enggak, kan mama orang baik, pasti mama nangis gara-gara abang, kan abang suka gak mau dengarin mama."
Salah satu pengasuh Dina dan Rian meminta kedua anak itu diam dengan isyarat tangannya.
__ADS_1
Wanita itu mengusap lembut kepala Ishana. "Ada hal yang belum selesai dan harus kalian selesaikan, sejauh apapun kamu berlari, mereka akan menemukan kamu, karena ada yang belum selesai diantara kalian."
"Apa kamu tidak menderita? 7 tahun ini kamu tidak bisa menjalin hubungan baru, kamu juga tidak mau kembali masuk pada hubungan lama kamu, mungkin ini keadilan bagi Jully, Tuhan sayang padanya, 7 tahun ini dia selalu di sampingmu sebagai dokter kala anak-anakmu sakit, juga sebagai sahabat."
Ishana teringat akan perjuangan Jully, yang tidak pernah berhenti berusaha menjatuhkan hatinya.
"Jangan lari sayang, hadapi semuanya."
"Bagaimana kalau mereka ingin mengambil kedua anakku? Mereka adalah hidupku mama."
"Kalau itu terjadi, mama sendiri yang akan turun tangan."
"Baik mama, aku siap menemui mereka."
Ishana dan keluarganya membatalkan penerbangan mereka, mereka kembali ke kediaman mereka di pulau Bunga. Sesampai di pulau bunga, mama Ishana memerintahkan stafnya untuk mencari keluarga Ardhi Pramudya, dan mengundang keluarga itu makan malam ke rumah mereka.
Bukan hal sulit bagi anak buah pemilik pulau itu, hanya beberapa menit mereka sudah menemukan di mana vila yang di sewa keluarga Pramudya.
Ardhi sudah berada di vila itu, sedang Dhifa dan dua pelayan mereka belum kembali. Ardhi, Rita, dan Risma masih membicarakan perihal Ishana yang mereka ketahui sudah meninggal, malah ada di depan mata mereka dengan dua anak yang seumuran Adhifa.
"Anak laki-laki yang bernama Rian, aku yakin dia adalah anak mas Ardhi, wajahnya persis seperti foto mas Ardhi saat mengenakan seragam SD.
"Sedang aku, aku sebelumnya pernah bertemu dengan anak perempuan yang bernama Dina di kota kita, aku baru menyadari barusan, kalau anak itu memiliki rupa seperti Ishana."
"Di kota kita? Kapan mas bertemu Dina di sana?"
Ting! Tong!
Suara bel yang terdengar menghentikan obrolan mereka. Ardhi tidak sempat menjawab pertanyaan Risma, dia langsung melangkah kearah pintu.
Saat pintu dia buka, di depan pintu terlihat 3 orang mengenakan setelan jas yang rapi dan perlengkapan keamanan.
"Bisa kami bertemu dengan Tuan Ardhi Pramudya? Atau keluarga Pramudya yang lain?"
"Saya sendiri Ardhi Pramudya."
"Owh, senang bertemu Anda Tuan. Oh ya, kami ke sini menyampaikan undangan dari Nyonya besar kami Shafina Azzalea Shafiq, beliau mengundang kalian semua untuk makan malam untuk di rumahnya."
"Shafina Azzalea Shafiq?" Ardhi sangat sering mendengar nama itu.
"Iya, pemilik Pulau ini, juga Owner The Shafiq Group."
Ardhi baru ingat, wanita itu adalah wanita yang sangat terkenal di dunia bisnis, sayang kehidupan wanita itu sangat tertutup.
"Apakah Anda bersedia memenuhi undangan makan malam dari majikan kami?"
Ardhi masih bingung, pengusaha yang berlibur ke pulau ini banyak, entah keberuntungan apa yang berpihak padanya, hingga wanita yang seumuran mamanya itu mengundangnya.
"Tentu saja saya bersedia, suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu orang hebat seperti Nyonya Shafina?"
"Terima kasih Tuan, nanti jam 8 malam, kami akan menjemput Anda sekeluarga."
3 orang itu pun undur diri pada Ardhi, setelah mereka memasuki mobil, salah satunya langsung melapor pada atasan, kalau undangan majikan mereka akan dipenuhi oleh keluarga Pramudya.
__ADS_1
***
Sampai jumpa besok 💝😘