Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 62 Rasa Itu


__ADS_3

Merenung sambil menikmati alunan lagu sangat menenangkan bagi Jully saat ini, tiba-tiba renungannya terusik karena lagu yang bukan dia tentukan, juga suara penyanyi yang sangat tidak enak didengar. Jully kesal, melempar kasar potongan kentang goreng yang menemaninya menyelam dalam kesedihan.


"Mas! Bukanya tad--" Jully tidak bisa melanjutkan makiannya, yang bernyanyi bersama para pemain musik itu bukan vokalis sebelumnya, tapi Ishana.


Nyanyian yang terasa sumbang barusan seakan berubah menjadi nyanyian nan begitu merdu.


Cinta ternyata tidak hanya membuat mata buta, namun juga seakan membuat telinga ikut tuli, baginya nyanyian Fals Ishana barusan adalah nyanyian termerdu yang dia dengar.


...Meski kau bukan yang pertama di hatiku...


...Tapi cintamu terbaik untukku...


...Meski kau bukan bintang di langit...


...Tapi cintamu yang terbaik...


Jully seakan tersihir, sorot mata Ishana, seakan mengatakan hal yang sama seperti lagu yang dia nyanyikan. Jully mematung memandangi Ishana, hingga dirinya tidak menyadari kalau para pemain musik yang sedari tadi menemaninya sudah pergi.


"Kenapa handphonemu kau matikan?!"


Pertanyaan Ishana seakan melenyapkan segala keajaiban yang hadir sebelumnya.


"Ha?" Jully belum sepenuhnya sadar.


"Kenapa handphone kamu matikan?" Ishana bertanya lagi dengan nada yang lebih lembut.


"Aku hanya ingin menenangkan diri."


Ishana mendekati Jully, hingga mereka berdiri saling berhadapan.


"Dina dan Rian merindukanmu."


Jully menundukkan pandangannya, rasanya sulit memandang Ishana setelah melihat kejadian tadi siang.


Ya, hanya Dina dan Rian yang selalu merindukanku.


"Mamanya juga, sepanjang waktu mamanya memikirkan Anda, dokter."


Seketika Jully menegakkan wajahnya, tidak percaya dengan yang dia dengar barusan. "Tidak usah kasihan padaku Na, iya aku bodoh selama 7 tahun selalu mengejarmu, tapi jika kebahagiaan mu adalah Ardhi, aku berusaha menerima, seperti katamu di televisi tadi sore, cara mencintaimu merelakan orang yang kamu cinta bahagia, dan aku ingin mengikuti caramu, dengan mencintai seperti itu."


"Tapi Anda salah dok, karena cintaku adalah Anda."


Jully tersenyum. "Jika aku yang kamu cinta, lantas kenapa kamu dan Ardhi--" Jully tidak sanggup mengatakan hal yang dia lihat.

__ADS_1


Ishana menunduk, bingung menjelaskannya dari mana.


"Kamu tidak bisa mengatakan bukan? Jully meraih handphone dan kunci mobilnya yang ada diatas meja, memasukkan dua benda tersebut kedalam celananya. "Tidak usah merasa bersalah Na, karena aku tidak pernah menyesal mencintai dan memperjuangkan kamu." Jully meninggalkan Ishana begitu saja, dia berjalan kearah pantai.


"Ya Tuhan, bagaimana aku menjelaskannya." Ishana masih berpikir darimana dia harus menceritakan semuanya, saat dia menegakkan wajahnya, Jully sudah lumayan jauh dengan dirinya.


"Jull!" Ishana berlari mengejar Jully, namun Jully tetap meneruskan langkahnya, tanpa menghiraukan panggilan namanya yang terus terdengar.


"Jull!" Akhirnya Ishana bisa mendahului langkah dokter Jully, dia menghalangi langkah Jully dengan berhenti di depan dokter itu.


"Aku tidak kasihan padamu."


"Aku memang mencintai kamu."


Jully berdecak dan menggelengkan kepalanyanya.


"Kami ber-ciu-man, hanya ingin memastikan, kalau tidak ada rasa lagi diantara kami."


"Kami terus mencari rasa yang dulu mengikat hati kami, sedalam apapaun dan sekuat apapun kami berusaha, rasa itu tidak ada, sebab itu setelah tautan kami terlepas aku tersenyum, aku bahagia."


"Rasa?" Jully terkekeh.


"Rasa apa yang kalian cari?"


Ishana tidak bisa menjelaskan rasa apa yang dia cari bersama Ardhi dengan kata-kata. Dia mendekati Jully, dan berjinjit agar bibirnya bisa mencapai bibir Jully.


Hanya sekejap, Ishana tidak kuat berjinjit terlalu lama. Pangutan itu terlepas, namun Jully masih terlena oleh efek yang tertinggal, kedua matanya masih terpejam.


"Aku tidak tahu rasa apa, mungkin rasa seperti ini yang kami cari, tapi rasa ini tidak ada lagi diantara aku dan Ardhi, saat mata kami tidak bertemu, kami saling merindu, kala mata kami bertemu, kami ingin dekat, saat dekat, ingin lebih dekat lagi."


"Seperti saat kedua bibir kami menempel, rasanya tidak rela terlepas begitu saja, ingin leb--" Ishana tidak bisa meneruskan kata-katanya, mulutnya terbungkam.


Pijatan lembut tangan Jully yang memegang bagian tengkuk Ishana membuat wanita itu tidak mampu melepaskan tautan lidah mereka. Hinga semakin dalam dan dalam lagi. Keduanya larut begitu jauh.


Rasa yang hilang dia cari bersama Ardhi, rasa itu malah hadir saat dirinya melakukannya bersama Jully.


Ishana melingkarkan kedua lengannya pada leher Jully, seakan tautan itu terjalin begitu kuat dan tidak akan terlepas lagi.


Shuttt! Tap! Tap! Tap! Doarr!


Bunyi letupan kembang api yang mewarnai gelapnya langit malam membuat keduanya terkejut, hingga kesadaran keduanya kembali, membuat tautan yang terlanjur dalam itu terlepas seketika, keduanya merasa malu akan kejadian yang barusan.


Ishana membuang pandangan kearah lain, hawa panas menjalar keseluruh tubuhnya, bahkan wajahnya. "Ada rasanya?" Suara Ishana seakan tenggelam oleh teriakkan letupan kembang api.

__ADS_1


"Ada, tapi aku tidak tau dan bingung bagaimana mengumpakannya." Jully menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itulah rasa yang ingin kami pastikan, ternyata antara kami tidak ada." Ishana kembali menoleh kearah Jully.


Saat yang sama Jully juga menoleh padanya, hingga pandangan mata keduanya bertemu.


"Dan aku menemukan rasa ini denganmu." Ishana tidak sangup lagi mamadang wajah Jully, dia langsung masuk kedalam pelukan Jully.


Rasanya warna-warni kembang api yang pecah di langit seperti taburan kelopak bunga mawar yang berguguran di sekitar Jully, dan menghujani mereka. Pelukan Ishana seperti sihir, membuat dunia Jully saat ini lebih indah.


Tidak jauh dari mereka, ada dua pasang mata yang menyaksikan semua itu.


Risma bingung dengan dirinya sendiri, entah kenapa hatinya sakit melihat Ishana nyaman bersama dokter Jully, melihat Ishana ber-ciu-man dengan Jully, Risma sangat terluka.


Dia ingin Ishana bahagia, tapi dengan Ardhi. Risma pun tidak mengerti kenapa rasa itu semakin hari semakin menguat, entah rasa bersalah di masa lalu, atau apalah itu.


"Surat cerai kami tengah berproses, aku sudah mengirimkan semuanya dan tengah di urus Derby," ucap Ardhi.


"Saatnya kita memperbaiki semuanya sayang." Ardhi langsung memeluk Risma, seperti tidak mau kalah dengan pasangan yang tidak melepaskan pelukan mereka di depan sana.


Risma masih diam, dia masih bingung dengan pertarungan batinnya.


"Terima kasih memberi warna pada hidupku sayang, sekarang ikhlaskan aku menceraikan Ishana."


*Tuhan, jika aku mati. Aku hanya ingin suamiku terus bahagia. Ada aku, atau tanpa aku. Berikan dia bidadari surga yang lain, jika Ishana memang bukan untuk Ardhi.


Berika seorang perempuan yang bisa memberi kebahagiaan untuk Ardhi dan anak kami, Dhifa*.


***


Di belahan negara lain. Usai pertemuan para pengusaha yang terikat dalam satu kerjasama besar, keadaan seketika sedikit kacau, karena seorang Shafina Azzalea Shafiq jatuh pingsan sesaat setelah acara ditutup.


Shafina langsung dibawa menuju Rumah Sakit terdekat, dan menjalani perawatan di sana.


Keterangan doter yang memeriksanya, Shafina kelelahan, di usia yang sudah kepala enam, harusnya dia banyak istirahat.


"Saran saya, saatnya Anda menunjuk pengganti Anda, Anda tidak sekuat dulu lagi," pesan dokter.


Setelah kepergian dokter yang menanganinya, Shafina melamum. Bagaimana menunjuk penggantinya, anaknya tidak mengerti dunia bisnis, cucunya masih kecil, dan jika Jully berhasil mendekati Ishana, maka semakin jauh, karena profesi Jully yang seorang dokter.


Shafina terus tenggelam dengan lamunananya.


Akankah usaha yang aku dirikan dari nol ini, akan runtuh jika aku tiada?

__ADS_1


Aku tidak bisa memaksakan anakku untuk meneruskan usahaku.


Sedih, karena usaha yang dia bangun susah payah terancam terbengkalai jika dirinya tidak ada lagi. Memaksa Ishana atau Jully juga tidak mungkin.


__ADS_2