
Risma benar-benar kehilangan jejak Ishana. Sekarang dirinya tidak tau di mana dia berada.
"Tega kamu Na, memalsukan kematianmu." Risma masih sulit mempercayai kejadian barusan.
Risma memutuskan untuk kembali ke vilanya, dia menelepon pelayan yang bertugas melayani keluarga.
"Pak, saya tidak tau posisi saya saat ini, tolong jemput saya ya Pak."
"Owh baik bu, silakan share lokasi Anda sekarang."
Bagi para pelayan yang dikhususkan melayani tamu VIP, bagi mereka hal lumrah jika tamu mereka tersesat.
Pikiran Risma terus mengingat kejadian barusan, otaknya terus bekerja kenapa Ishana ada di sini, apakah dia menetap di pulau ini, atau dia hanya pelancong seperti dirinya. Tiba-tiba getaran handphone mengejutkannya. Nama Rita tertera di layar handpphne-nya.
"Sayang, kamu di mana? Kok belum gabung juga sama kami."
"Mama, Ishana masih hidup."
"Iya, mama tahu, karena dia hidup di hati setiap orang yang mengenalnya."
"Bukan mama, aku barusan melihatnya, mengejarnya, dia ada di pulau ini."
"Kamu jangan menghayal sayang, lebih baik kamu pulang ke vila dan istirahat."
"Aku tidak menghayal, dia ada di sini dan bersama seorang anak laki-laki seumuran Dhifa."
Rita terdiam mendengar penuturan Risma barusan.
"Sampai jumpa di vila mah, setelah mas Ardhi datang, aku akan mengajaknya mencari Ishana, mah."
"I-i-iya sayang, sampai jumpa di vila."
Risma dan Rita menyudahi pembicaraan mereka, pikiran Risma terus terfokus memikirkan Ishana. Apa yang terjadi 7 tahun ini, mengapa dia ada di sini.
Hanya menunggu beberapa menit, pelayan yang bertugas menjemput Risma datang menjemput, lalu mengantar wanita itu kembali ke Villa.
***
Di bagian lain pulau itu.
Rita tidak fokus lagi mendengar cerita teman yang ada di sampingnya.
Ishana, bersama anak laki-laki seumuran Dhifa.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
"Oma ...."
Rita terperanjat namanya dipanggil. "Iya sayang?"
"Nenek kenapa?" Dhifa heran melihat neneknya seketika membisu, padahal sebelumnya neneknya begitu ceria.
"Nenek capek sayang, nenek pengen pulang ke vila."
__ADS_1
"Yaah ...." Dhifa kecewa, baru beberapa jam mereka keluar dari vila, tapi harus kembali lagi.
"Tapi Dhifa boleh jalan-jalan sama mbak Salma dan Pak Abim, tapi kita ke vila dulu, karena pemandu kita nunggunya di vila."
Mendengar dirinya boleh jalan-jalan, Dhifa seketika ceria, walau hanya bersama supir dan pengasuhnya. "Nggak apa-apa oma, ayok kita kembali, aku ingin menjelajah pulau ini lebih jauh."
Mereka bertiga segera kembali ke vila. Saat ketiganya sampai di Vila, pada waktu yang sama, mobil yang menjemput Risma perlahan memasuki halaman vila mereka.
Rita segera menghampiri mobil pemandu mereka. "Mas, jangan pergi dulu, bawa cucu saya dan penjaganya jalan-jalan di pulau ini," pinta Rita.
"Baik Nyonya."
Perhatian Rita tertuju pada Risma yang terlihat lemas turun dari mobil. "Ris, Dhifa jalan-jalan sama Salma dan Pak Abim dulu ya."
"Iya ma."
Risma turun, sedang Dhifa, Salma, dan Pak Abim masuk ke mobil itu, mereka memulai petualangan tanpa Risma dan Rita.
Setelah memasuki vila, Risma menceritakan apa yang dia lihat dan dengar tentang Ishana.
"Semoga Ardhi cepat datang, biar kita cari tahu sama-sama," ucap Rita.
***
Di kawasan pribadi pulau itu ada sebuah rumah besar yang dikelilingi pagar beton yang tinggi, para penjaga juga banyak berjaga di sana. Ada batas tertentu bagi orang umum, dan mereka dilarang melewati batas itu. Hanya pekerja, petugas keamanan, dan orang dekat pemilik pulau itu yang boleh melintasi batas yang telah ditentukan.
Di bagian dalam kawasan itu. Setelah turun dari mobil yang menjemputnya, Ishana berlari ketakutan, seperti dikejar-kejar hantu. Membuat para pelayan yang melihatnya heran. Tidak pernah mereka melihat majikan mereka ketakutan seperti ini.
Ishana memberikan Rian pada Yuri. "Mbak, jaga dia jangan keluar dari sini dulu."
Ishana berlari masuk kedalam rumah besar itu.
"Mbak, kenapa mama setakut itu?" tanya Rian pada pengasuhnya.
"Mungkin mama sedih, karena Tuan muda marah sama mama."
"Sebelumnya kami ketemu orang asing, dia manggil nama mama, setelah mama lihat orang itu, mama gendong aku dan lari dari orang itu."
"Berarti mama Tuan muda, takut Tuan diculik orang, kan itu orang asing."
"Abang, main yuk!"
Teriakkan Dina mengalihkan fokus Rian, dia melupakan kejadian barusan dan bermain bersama Dina.
Di dalam rumah.
"Bibi! Tolong kemasi pakaian Dina dan Rian, tidak perlu banyak yang penting cukup untuk 2 hari kedepan!" titah Ishana pada para pelayan yang tengah bekerja.
Hal itu menarik perhatian seorang wanita cantik yang tidak muda lagi. "Kenapa sayang?"
"Mama, aku harus pergi dari pulau ini, mama tolong carikan tempat tinggal baru untuk kami." Wajah Ishana begitu ketakutan, deraian air mata juga tidak mau berhenti menetes.
"Memangnya kenapa? Pulau ini aman dan jauh dari mereka."
__ADS_1
"Risma melihatku mah, kalau aku hadir lagi diantara mereka, kebahagian mereka terusik kembali karena keberadaanku."
Wanita itu memahami ketakutan putrinya. "Baik, kita semua pergi dari pulau ini sekarang, kemana kita nanti kita pikirkan.
Seketika tugas para pelayan bertambah, mereka membantu majikan mereka mengisi koper. Setelah semua persiapan selesai, Ishana membawa dua anaknya juga wanita yang dia panggil mama pergi dari pulau ini.
Mobil yang Ishana tumpangi masih dalam perjalanan menuju pelabuhan.
"Sampai kapan kamu bersembunyi?"
"Aku tidak tahu mah, yang penting mereka bisa bahagia. Hanya itu yang aku mau."
"Tapi Risma sudah melihatmu."
"Kalau hanya Risma yang melihat, sulit buat yang lain percaya, karena mereka pasti berpikir, itu karena Risma tidak siap kehilangan aku."
"Iya, kamu benar. Semoga saja begitu."
"Tapi tidak mungkin selamanya kamu harus berlari, kamu juga berhak bahagia, tidak selamanya sembunyi."
"Kebahagian aku Dina dan Rian, juga mama. Aku tidak butuh kebahagiaan lain, cukup bersama kalian."
Usaha Ishana meninggalkan pulau itu berhasil, setelah turun dari mobil, mereka manaiki kapal laut milik mamanya menuju kota, tujuan mereka adalah Bandara. Selama ada kesempatan pergi, maka dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Ardhi maupun Risma.
Sesampai di pelabuhan yang ada di kota, dua buah mobil sudah menunggu mereka, untuk melanjutkan perjalanan menuju Bandara. Si kembar bingung dengan perjalanan dadakan mereka, namum mereka memilih bungkam melihat mama mereka yang terus menangis.
"Yuri Lisa, kalian bawa duluan Dina dan Rian, nanti kami menyusul," titah wanita yang Ishana panggil mama.
Wanita itu mengusap pundak Ishana. "Jangan takut sayang, jika kamu bahagia dengan terus berlari menjauhi mereka, mama akan bantu kamu."
"Terima kasih Mama." Ishana masuk kedalam pelukan mamanya dan terus menumpahkan tangisannya.
Di area Bandara.
Dina dan Rian adalah anak yang super aktif, petugas Bandara dan penduduk asli sana membiarkan saja segala aktivitas permainan dua anak itu, karena dia cucu dari orang yang berpengaruh di sini, bukan hanya Pulau Bunga, namun juga kota ini.
Seketika Dina terhenti dari permainannya bersama abangnya, pandangannya lurus kedepan kala sepasang matanya melihat sosok yang pernah dia temui sebelumnya.
Dina tersenyum dan melambaikan tangannya pada orang itu. "Halo om, kita ketemu lagi."
Laki-laki itu tidak membalas sapaan gadis kecil tersebut, dia mematung melihat anak laki-laki yang asyik bermain di dekat Dina.
Anak laki-laki itu bagai cerminan masa kecilnya. Persis dirinya saat kecil. Otaknya seakan refresh kembali, anak laki-laki itu persis dirinya, sedang anak perempuan itu persis masa kecil seseorang.
...*Coba mas kenali, yang mana aku, Nara, dan Ishana....
Risma memperlihatkan foto masa kecil mereka. Ardhi masih ingat, dia bisa menebak dengan benar mana Risma, Nara, dan Ishana.
...Kalau ada anak yang diadopsi dari Panti, pasti kami foto bersama, nah ini foto diambil sesaat sebelum Ishana pergi dari Panti*....
"Ishana ...." Saat Ardhi menegakkan pandangannya, namun kedua anak kecil itu sudah tidak ada di sana lagi.
"Apa hubungannya dua anak itu? Kenapa dia seperti aku kecil, dan Dina seperti Ishana saat masih anak-anak?"
__ADS_1
"Dina?" Ardhi ingat betul, dia bertemu Dina, kala anak itu bersama Nara, dan memanggil Nara dengan panggilan mama.
Ardhi mulai menjelajahi tiap sudut Bandara, mencari kemana dua anak itu pergi.