Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 55 Siapa Lagi


__ADS_3

Pandangan Risma hanya tertuju pada Ishana. "Kenapa harus drama mati Na?!"


"Kamu tau, mas Ardhi sakit karena penyesalannya tidak sempat menyelamatkan kamu!"


"Sedang aku tersiksa dengan rasa bersalahku karena tidak sempat meminta maaf padamu!"


Ishana menuruni anak tangga dan mendekati Risma. "Kalau aku masih hidup, akankah kalian bisa berbahagia?"


Ardhi menunduk, Ishana benar, andai dia tahu Ishana masih hidup, dia tidak akan punya cara untuk menghentikan perasaan cintanya yang tertuju untuk Ishana. 7 tahun mengira perempuan itu tiada, perlahan seluruh hati Ardhi hanya ada Risma. Saat ini, melihat Ishana persis saat melihat Ishana temannya dulu, bukan saat Ishana menjadi istrinya.


"Kalau kalian tau aku masih hidup, sulit juga bagimu untuk menerima kak Ardhi, coba berandai-andai, andai saat itu aku cuma pergi, apakah kamu bisa menerima kak Ardhi?"


Risma terdiam. Alasannya bertahan pun karena tidak tega terhadap Ardhi yang terpuruk karena kepergian Ishana, namun 7 tahun yang dilalui, Ardhi membuat Risma mantap, untuk mendampingi laki-laki itu sampai akhir hayatnya.


"Hidupku penuh penyesalan Na, aku tidak bisa sepenuhnya lega, setiap bercermin, aku malu dan marah pada diriku sendiri."


"Semua orang punya kesalahan dan penyesalan masing-masing, aku juga."


Ishana menarik begitu dalam napasnya, dan menghembuskannya perlahan. "Kita semua melalui tahun-tahun yang sulit, tapi saat ini keadaan kita lebih baik, apa kita harus menghancurkan keadaan yang damai dan bahagia ini?"


"Kenapa kamu menyembunyikan anak dari ayahnya!" sela Rita.


"Aku tidak menyembunyikannya, aku membawanya. Saat 7 bulanan Eva, aku hamil 3 bulan. Dari awal akan memberikan anak ini untuk Risma, untuk kalian. Tapi, Risma bilang--"


Eh, kamu tidak usah repot-repot hamil, karena aku tidak butuh anak dari seorang munafik sepertimu.


Tangan Shafina berulang kali memainkan rekaman pada beberapa detik yang sama. "Aku mendapatkan semua percakapan pada waktu ini, dari mata-mataku yang bekerja menjadi pelayan yang bertugas di toilet!"


Risma terdiam, itu makiannya untuk Ishana dulu, kala hatinya diselimuti kecemburuan, karena tidak ikhlas cinta Ardhi yang terbagi.


"Kalian semua jangan merasa menderita sendiri dan menyalahkan putriku atas tindakannya merahasiakan anaknya, kurasa kalian mengenal suara ini." Shafina mengulangi lagi rekaman itu.


"Saat aku mendengar anakku dihina seperti itu, aku ingin sekali membunuhmu!" Telunjuk tangan Shafina tertuju pada Risma.


"Maafkan aku, dan maafkan istriku tante. Semua penderitaan ini karena aku," sela Ardhi.


"Mama!"


Suara teriakkan anak kecil yang memanggil mamanya membuat perhatian mereka buyar, semua menoleh kearah suara itu berasal. Terlihat dua anak kecil perlahan berjalan kearah mereka.


"Mama, mereka siapa?" tanya Dina.


Dina memandangi satu per satu mereka yang ada di ruang tamu itu, selama ini yang berkunjung ke rumah mereka hanya orang perusahaan atau pekerja paling dekat, juga teman ibunya.

__ADS_1


"Mereka keluarga Dina juga sayang," jawab Ishana.


Perhatian Dina tertuju pada Ardhi. "Owh, pantes wajah om itu mirip abang." Dina tertawa sendiri.


Sedang Rian, mengamati garis wajah Ardhi, dia sadar kalau laki-laki itu mirip dengannya.


Om?


Hati Ardhi sakit anaknya, darah dagingnya memanggilnya om.


"Kembar?" Rita memandangi dua anak itu bergantian.


Ishana menganggukkan kepalanya. "Aku meng-ikhlaskan Ayahnya untuk wanita yang istimewa seperti Risma, Tuhan menggantikan keikhlasanku, dengan kehadiran mereka," ucap Ishana.


Air mata Ardhi menetes melihat anak yang tidak dia ketahui kehadirannya. Benar kata Risma, Rian cerminan masa kecilnya.


"Tante ini mirip foto yang ada dalam kamar mama, seingat aku, di kamar mama ada foto mama, sama--"


"Selamat malam semua! Rian, Dina lihat om dok--" Dua bingkisan yang berisi mainan seketika terlepas dari tangan Jully, dia kaget melihat keberadaan keluarga Ardhi di kediaman Ishana.


"Om dokter ...." Dina dan Rian berlari menghambur kearah Jully dan memeluk Jully.


"Om, kenapa om lama nggak kesini? Aku kangen sama om," rengek Dina.


"Iya om, aku juga kangen sama om, mama jahat ya sama om, hingga om nggak pernah kemari lagi?"


"Om, om, om ...." Dina menarik-narik baju Jully, membuat laki-laki itu tersadar.


"Om sibuk sayang, maaf ya baru datang."


"Jully?" Risma sangat terkejut melihat kedekatan Jully dengan kedua anak Ishana.


"Om ceroboh." Jully memungut mainan yang tidak sengaja dia jatuhkan. "Mainan ini buat Dina sama Rian."


Dina melompat-lompat kegirangan, dia meminta Jully membungkukkan badannya.


Muach!


Ciuman kilat dari Dina mendarat di pipi kanan Jully.


"Makasih om."


"Sama-sama sayang."

__ADS_1


Sedang Rian dan Jully saling menempelkan genggaman tangan mereka. Tos gaya laki-laki tulen.


"Om, kami kedalam dulu ya," pamit Dina.


Dina dan Rian berlari kedalam rumah membawa mainan baru mereka.


Gubrakkk!


Tiba-tiba Jully tersungkur ke lantai, ada dorongan begitu kuat dari arah belakang membuat Jully jatuh.


"Asem lu ya, giliran ngelamar aku nggak dikasih kabar!"


"Sahabat apaan lu, kalau aku gak di kasih tau, aku nggak bakal tau momen tadi sore!"


"Kalau ntar ditolak lagi jangan--"


Setelah Jully berhasil bangkit, dia meng-isyarat sesuatu dengan gerakkan matanya, hingga wanita itu berhenti mengomel.


"Apa? Main lirak-lirik! Punya mulut kan? Ngomong!" Perlahan wanita itu memandang kearah Jully mengisyarat.


Ngekkk!


Nara hanya bisa menelan salivanya, kala sepasang matanya menangkap keluarga Ardhi di depannya.


"Nara?!" Risma sangat kecewa melihat Nara juga mengetahui tentang Ishana, tapi wanita itu malah memilih menghilang darinya.


Risma menoleh kembali pada Ishana. "Siapa lagi yang tau kalau kamu masih hidup?"


"Nara, Jully, dan keluargaku," jawab Ishana.


"Anak CEO yang Nara tampar 5 tahun yang lalu, adalah kamu?" sela Ardhi.


Ishana menganggukkan kepalanya. "Nara menemukanku setelah 2 tahun aku menghilang, dia tahu tentang kehamilanku, aku mulanya meminta bantuan dia untuk mengantar anakku pada kalian, namun ucapan Risma malam itu, membuat rencana itu tidak kujalankan."


Nara memberanikan diri untuk membuka mulutnya, walau dia tahu Risma kecewa padanya. "Setelah kejadian itu, aku tidak bisa diam saja, hatiku mengatakan Ishana tidak mungkin meninggal semudah itu. Aku meminta adikku memeriksa mayat yang dinyatakan Ishana, ternyata mayat itu tidak hamil, sedang Ishana Hamil, sejak itu aku terus berusaha mencarinya seorang diri."


"Pencarianku sedikit terbantu, siapa lagi yang sangat mencintai Ishana lebih dari apapun, ku ikuti dia." Nara menatap tajam pada Dokter Jully.


"Dia warga sipil satu-satunya yang selamat dari ledakkan, kecurigaanku makin besar, saat ku tahu dia bekerja di Rumah Sakit yang ada di pulau ini, akhirnya aku menemukan dia." Nara menunjuk Ishana dengan gerakan wajahnya.


"Saat dia mengadakan konferensi pers, melihatnya aku marah kecewa, aku susah payah mencarinya, sedang dia hidup bahagia di sini, yaa terjadilah peristiwa viral 5 tahun yang lalu," terang Nara.


Sekian banyak perkataan Nara, hanya satu kalimat yang terus berputar dikepala Risma.

__ADS_1


Siapa lagi yang sangat mencintai Ishana lebih dari apapun.


Pandangan mata Risma tertuju begitu tajam pada dokter Jully.


__ADS_2