Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 60


__ADS_3

Ishana semakin mengerti, tujuan wanita itu mengajari anaknya untuk mengganggu Rian, pastinya untuk menggali kehidupannya, mencari tahu apakah Rian dan Dina anak dari pernikahan atau tidak. Bagi Ishana, kehormatan mamanya dipertaruhkan saat ini jika dirinya masih menutupi siapa Ayah dari anak-anaknya.


Mamanya sudah melakukan banyak hal untuk kehidupannya, dia tidak rela hanya karena desas-desus ini nama mamanya tercoreng.


"Ingin tahu siapa Ayah dari kedua anakku?" tantang Ishana.


"Kamu sudah punya orang untuk mengakui siapa pemilik benih mereka?" wanita asing itu menantang balik. "Tunjuk saja, aku akan menggalinya, membuktikan pengakuanmu benar atau tidak."


"Aku tidak butuh pengakuan, kalau kamu tidak percaya dengan ucapanku, jika butuh saksi, silakan datang ke kota--" Ishana menyebutkan kota tempat Ardhi dan Risma tinggal.


"Aku menikah di sana, aku besar di sana, tentunya aku lama tinggal di sana. Biar kamu puas!"


"Aku bantu kamu, biar kamu tidak lelah mencari siapa yang telah menanam bibit si kembar. Laki-laki itu pemiliknya, laki-laki itu suamiku dan Ayah dari anakku." Risma menunjuk kearah Ardhi.


Dina dan Rian terkejut dengan pengakuan mama mereka, pandangan keduanya hanya tertuju pada Ardhi.


Kilatan mata kamera juga tertuju pada Ardhi. Ishana sangat geram melihat keadaan ini, ternyata di sekitar mereka sudah banyak wartawan. Beruntung keamanannya sudah terlatih dengan keadaan ini, mereka hanya menjaga situasi bukan membubarkan. Andai membubarkan dengan kasar, pastinya berita ini akan berlarut-larut dengan tambahan bumbu yang lainnya.


Ishana memandangi orang-orang di sekitarnya dengan tatapan kesedihan, kehidupannya tidak pernah mengganggu siapapun, tetap saja ada yang melakukan bermacam cara demi menggali informasi tentangnya. "Kalian hanya ingin tahu itu bukan?!"


"Puas?!"


Mama, kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku tidak sekuat mama?


Ishana sangat sedih, ibunya hanya pergi sebentar, sebab dirinya kini sudah timbul kekacauan.


Risma memahami kesedihan Ishana, dia mengusap pundak temannya dengan lembut.


Ishana menepis tangan Risma dengan lembut, dia meraih tangan kedua anaknya. "Sisanya cari tahu sendiri!" Ishana segera membawa kedua anaknya pergi dari tempat itu.


Sesampai di rumah, Dina dan Rian masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan. Tamu yang datang malam itu memang Ayah kandung mereka.


"Mama tidak bohong?"


"Tidak sayang, dia memang Ayah kalian," sahut Risma.


Risma, Ardhi, dan Dhifa tiba-tiba ada di kediaman Ishana.


"Maaf Na, kami mengikuti kamu," sela Ardhi.


"Rian dan Ayah Ardhi memiliki garis wajah yang sama, apa itu masih membuat kalian ragu?" tanya Risma pada Dina dan Rian.


"Percayalah sayang, Ayah Ardhi memang ayah kalian, ini buktinya."


Risma memberikan beberapa foto lama yang masih dia simpan. "Itu adalah aku, papa kalian, dan mama kamu."


Dina dan Rian bergantian melihat foto-foto lama yang ada di handphone Risma.

__ADS_1


"Ada urusan orang dewasa yang sulit mama ceritakan pada kalian, kalian tahu bukan, kalau urusan orang dewasa itu berat? Hingga ada hal yang membuat kita semua harus tinggal terpisah." Ishana berusaha membuat kedua anaknya mengerti.


"Maafkan mama, Ayah kalian tidak pernah ada di sekitar kita, karena dia tidak pernah tau keberadaan kalian, setelah ini terserah kalian, mau memaafkan mama atau tidak."


"Ini bukan salah mama kalian, jangan pernah marah sama mama kalian," sela Ardhi.


Dhifa mendekati Dina dan Rian. "Kalian berdua adik aku," ucap Dina semangat.


"Kamu lahir bulan berapa?" sela Rian. Dia paling tidak suka punya kakak.


"Selisihnya berapa pun harus terima bang, aku yang selisih beberapa menit sama abang saja harus panggil kamu abang, apalagi kalau sama Dhifa, selisihnya pasti bukan hitungan menit kan mah?"


"Aku tidak mau panggil dia kakak," protes Rian.


"Ya sudah, kita bertiga panggil nama saja, aku juga tidak bisa panggil Dhifa dengan panggilan kakak," ucap Dina.


"Apapun itu, yang jelas aku bahagia karena punya saudara, permohonan aku terkabul." Dhifa langsung memeluk Dina.


Ishana lega, anaknya tidak marah mengetahui rahasia ini, tapi sikap keduanya terlihat biasa-biasa saja pada Ardhi.


Dina melepaskan pelukan Dhifa padanya. Dia menoleh kearah Ishana. "Mama, besok acara perkemahan, apakah om Jully akan mengantar kami?" tanya Dina.


"Iya, seperti tahun sebelumnya, om Jully selalu mengantar kami, melakukan tugas seperti seorang Ayah," tambah Rian.


"Jully?" Ishana teringat Jully. "Mama akan tanya om dokter ya sayang." Ishana berusaha menghubungi Jully, namun tidak tersambung, laki-laki itu mematikan handphonenya.


"Maaf bunda, bukan kita tidak menerima Ayah, tapi kami sangat berharap om Jully mengantar kami seperti tahun yang lalu. Iya kan bang?"


Rian menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan adiknya.


Ardhi tersenyum melihat Dina dan Rian, ternyata Jully sudah memiliki tempat khusus di hati kedua anaknya.


Risma mendekati Ishana yang terlihat sangat gelisah. "Apakah Jully sangat berharga bagimu Na?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak ingin kehilangan dia."


***


30 menit berlalu, kabar tentang siapa menantu Shafina Azzalea Shafiq langsung menghiasi berita online dan televisi, bagi mereka saat ini berita itu sangat penting.


Akhirnya teka-teki kehidupan putri tunggal seorang Shafina terkuak. Istri kedua dari Ardhi Pramudya. Bermacam berita dengan tajuk yang berbeda menjadi sorotan publik.


Foto Ardhi, Risma, Eva dan Ishana terus mewarnai timeline berita. Berita yang muncul di bagian bumi yang lain, jadi pelengkap dari teka-teki berita yang ada di pulau Bunga, teka-teki itu terjawab dari galian berita dibagian kota lainnya, wartawan di kota Ardhi tidak henti menggali informasi tentang pernikahan Ardhi Pramudya, bukan hal sulit bagi mereka, dalam catatan, Ishana memang istri kedua Ardhi. Eva yang tertidur pun namanya turut terbawa.


Sekarang bukan hanya keluarga Ardhi dan yang mengetahui kalau Ishana masih hidup, tapi setiap orang yang mengenal Ishana. Yang tidak mengetahui kejadian masa lalu anak seorang Shafina Azzalea Shafiq menjadi tahu segalanya.


Pemburu berita itu pun mendapatkan berita yang dia inginkan, mengetahui siapa ayah dari cucu Shafina Azzalea Shafiq, namun semua itu harus dia bayar mahal, liburan mereka di pulau bunga bersama keluarga terpaksa diakhiri, karena di usir oleh pemilik pulau. Tidak hanya itu, suaminya diturunkan dari jabatannya saat ini di perusahaan tempatnya bekerja, karena mengusik kehidupan dari orang yang sangat berharga bagi Shafina. Sedang wanita itu dipecat, karena menghalalkan segala cara demi pekerjaannya.

__ADS_1


Kini publik tahu, siapa menantu dari pengusaha sukses Shafina Azzalea Shafiq, bukan hanya itu, berita tentang Ishana yang masih hidup juga menjadi topik hangat diberbagai media.


Keadaan di depan di rumah Ishana menjadi sangat ramai, banyak wartawan yang menunggu klarifikasi berita yang telah beredar, hal itu membuat Ishana stres.


"Selagi kami masih ada di sini, sebaiknya kita adakan Konferensi pers, setelah mereka mendapat apa yang mereka mau, kehidupan kamu akan tenang kembali Na."


Ishana menyetujui usul Risma, dia segera memberi perintah pada para pekerjanya, agar menyiapkan satu tempat untuk mengklarifikasi semua berita yang sudah menyebar.


Semua berjalan seperti perintah Ishana. Kini mereka berada di sebuah Restoran milik mamanya. Acara Konferensi pers pun dimulai.


Bermacam pertanyaan dari para pemburu berita terus tertuju pada Ishana, Risma, dan Ardhi. Ketiganya menjawab sebisa yang mereka bisa.


"Jika rumah tangga kalian damai dan bahagia, kenapa Nona Ishana pergi dari rumah tangganya dalam keadaan hamil?"


Pertanyaan salah satu wartawan itu terasa sangat sulit ketiganya jawab.


Ishana meraih mic yang ada di dekatnya. "Bagaimana pun seorang istri berkata ikhlas, tetap ada rasa sakit di hatinya, kala melihat suaminya bahagia dengan wanita lain. Sedang aku tidak rela, kalau diriku menjadi penyebab rasa sakit yang akan mengenai sahabatku."


"Risma sahabatku, Ardhi suamiku, setelah semuanya berjalan, aku tidak sanggup berada dalam ikatan itu. Mencintai suamiku, pastinya menimbulkan rasa sakit untuk sahabatku. Sedang aku sangat menyayanginya, singkat cerita, aku ingin mereka bahagia seperti dulu, tanpa harus menjaga perasaan yang lain lagi, aku ingin mereka terus bahagia jauh sebelum aku masuk kedalam rumah tangga mereka."


"Salah satu caraku mencintai, berusaha mengurangi beban pada pundak orang yang kucinta, juga berusaha ikut bahagia, kala dia bahagia."


"Malam itu kebakaran di hotel tempat kami mengadakan acara, 7 bulanan istri ketiga suami kami, saat penyelamatan tidak ada yang tahu kalau aku diselamatkan, aku pakai cara itu untuk pergi dari kehidupan lamaku, dan memulai kehidupan baruku."


"Dengan kepergianku, beban laki-laki yang aku cinta juga berkurang, dia tidak lagi harus memikirkan bagaimana memberi keadilan bagi kami, karena aku tidak bersama mereka lagi."


"Anda mencintai suami Anda, mengapa Anda pergi?"


"Bagiku, cinta berani berkorban, aku mengorbankan semua rasaku untuk kebahagiaan orang yang aku cinta, yaitu sahabatku dan laki-laki yang menghuni hatiku dulu."


"Sekarang kami semua bahagia, mereka bahagia dengan hidup mereka, aku juga bahagia dengan kehidupanku."


"Sekarang, apa keputusan Nona Ishana selanjutnya, apakah kembali lagi ke kehidupan lama, atau membuka hubungan baru?" Pertanyaan wartawan yang lainnya.


Risma langsung meraih mic miliknya. "Maaf, kami tidak menjawab selain pertanyaan siapa Ayah si kembar, dan kenapa mereka terpisah karena Ishana memalsukan kematiannya."


"Biarkan dia menjawab Ris," tegur Ardhi.


"Ku rasa cukup kak, Risma benar," sahut Ishana.


Acara Konferensi persĀ  itu pun berakhir.


Di bagian kota yang lain.


Belum hilang rasa sakit yang menghuni hati Jully, kini matanya malah melihat berita tentang pengakuan Ishana tentang siapa Ardhi dan kehidupan lama mereka.


"Sepertinya mereka benar-benar akan rujuk kembali."

__ADS_1


__ADS_2