Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 45 Jangan Bahas Masa Lalu


__ADS_3

Cahaya matahari mulai melemah, sang surya pun semakin condong kearah barat. Adhifa masih betah bermain dengan bayi penghuni panti yang berumur 1 tahun itu.


"Dhifa ...."


Panggilan dari Risma mengalihkan fokus Adhifa, dia segera berdiri dan berlari menghampiri Risma.


"Iya bunda."


"Kita pulang ya sayang, nanti besok sehabis pulang sekolah, kita ke sini lagi, bagaimana?"


"Boleh bunda." Adhifa sangat antusias mengetahui kalau besok akan berkunjung lagi.


Risma mengajak Adhifa berpamitan pada bunda Aiswa, dan beberapa pengurus panti yang lain, keduanya segera melangkah menuju mobil.


"Nggak apa-apa oma ditinggal sendirian di rumah seharian bund?"


Pertanyaan Dhifa memecah kesunyian perjalanan mereka.


"3 kali semingu kita main ke panti, selebihnya Dhifa di rumah, bagaimana?"


"Dhifa maunya setiap hari, tapi Dhifa juga harus belajar ya bund?" gadis cilik itu terlihat membuat otaknya bekerja.


"3 kali seminggu nggak apa-apa bund, aku seneng kok."


Risma tersenyum dan mengusap lembut kepala putri kecilnya.


"Bunda, biasanya kalau kita pulang dari Panti, pasti Bunda mampir di toko bunga, beli bunga mawar putih lalu ke makam mama Ishana. Sekarang enggak bund?"


"Mampir dong pastinya, bunda kangen sama mama Ishana. Ada hal orang dewasa yang sulit mama jelasin sama Dhifa, yang jelas, mama Ishana adalah orang baik."


Selama 7 tahun ini, Risma selalu mengunjungi pusara yang bertuliskan nama Ishana, bagaimana pun dia berusaha ikhlas dan meminta maaf, rasa sesak itu tidak mau pergi dari hatinya.


Rasanya sulit memaafkan dirinya sendiri, jika teringat perkataan pedasnya di malam terakhir dia bertemu Ishana.


Setelah membeli bunga mawar putih kesukaan Ishana, Risma segera menuju tempat pemakaman di mana sahabatnya terbaring.


Ibu dan anak itu berjalan menuju pusara yang mereka tuju. Risma meminta Adhifa meletakkan bunga mawar putih itu pada tempatnya.


"Na, anak kita sudah besar." Risma berusaha tersenyum, berharap sahabatnya bisa bahagia melihat kebahagiaannya saat ini.


Setelah memanjatkan do'a untuk sahabatnya, Risma mengajak putri kecilnya untuk pulang.


"Bunda sayang banget ya sama mama Ishana?"


"Andai kamu bertemu dan mengenal mama Ishana, bunda yakin kamu juga menyayangi dia seperti bunda sayang pada mama Ishana."

__ADS_1


Celoteh dan bermacam cerita dari Dhifa mewarnai perjalanan pulang Risma, saat mobilnya memasuki halaman kediaman mereka, saat yang sama, mobil Ardhi juga baru berhenti.


Langkah kaki Ardhi terhenti kala melihat mobil istrinya baru melewati gerbang. Namun dia tetap menyambut istri dan anaknya dengan senyuman.


Risma baru saja memarkirkan mobilnya dengan posisi sempurna, gadis kecil itu sudah lebih dulu keluar dari mobil dan berlari menuju Ardhi.


"Ayah ...."


Ardhi langsung membungkuk dan membuka kedua tangannya menyambut putri kesayangannya.


"Sore begini baru pulang?"


"Kami main di Panti seharian, terus seperti biasa, kami mampir sebentar di makam mama Ishana."


"Ya sudah, cepat kedalam, mandi dan ganti baju."


Gadis kecil yang sangat penurut, setelah mendaratkan ciuman di pipi kanan Ardhi. Senyuman terus menghiasi wajah Ardhi melihat tingkah anak perempuannya.


Ardhi mengingat sesuatu, dia menoleh kearah Risma. "Ris, kita bisa bicara sebentar?"


"Bicara apa mas?"


"Kita ke ruang kerja mas saja, biar lebih nyaman."


Ardhi duduk di sofa panjang, dan Risma duduk tepat di samping Ardhi. Laki-laki itu terlihat sangat serius, membuat Risma merasa was-was.


"Kamu ingat, kenapa kamu dulu selalu keguguran?"


"Ingat mas, karena waktu itu aku menderita kanker. Tapi semua itu sembuh saat Eva hamil dua bulan. Mas sendiri juga ada saat dokter mengatakan hal itu."


Ardhi telihat begitu khawatir. Ragu-ragu mengatakan apa yang dia baru ketahui, namun tidak mengatakan juga terasa sesak. "Dalam dunia medis, pasien kanker tidak ada istilah sembuh atau sembuh total, tetapi remisi atau survival rate."


Risma tertegun mendengar penjelasan Ardhi tentang maksud dua kata barusan.


"Walaupun tidak ada lagi sel kanker di dalam tubuhmu, harusnya kamu tetap kontrol rutin, memantau keadaan kamu. Setelah mendengar pembicaraan sesama klien ku tentang kanker yang di derita keluarga mereka, aku jadi nggak tenang, Ris, aku takut kehilangan kamu."


"Alhamdulillah, aku sehat mas, beneran, aku nggak kontrol lagi, karena tidak merasa keanehan lagi, percaya mas."


"Tapi walah begitu, setelah ini pokoknya kamu harus rutin kontrol, minimal 3 bulan sekali, kalau kamu malas 6 bulan sekali."


"Iya, aku akan usahakan."


Risma terharu melihat kekhawatiran Ardhi akan dirinya.


"Saat aku tahu ada penyakit yang aku derita, aku berharap Ishana menggantikan aku jika aku pergi, tapi keajaiban itu datang dan membuat mataku silau, sejak aku tahu aku sembuh--" Risma mengerti dia salah mengumpakan.

__ADS_1


"Jangan protes, pokoknya aku merasa sembuh!"


"Saat aku mengetahui sel kanker itu sudah tidak ada, aku--"


"Aku malah egois, dan tidak rela berbagi dirimu dengan siapapun saat itu. Aku labil, karena merasa sanggup mendampingi kamu mas."


"Risma, sudah. Jangan bahas masa lalu."


"Harus mas, agar mas tau dari sekian banyak alasan dan pembelaan diriku, inilah alasan yang sebenarnya. "


"Kenapa aku melarang Ishana pergi waktu itu? Karena aku mengira umurku tidak lama saat itu, aku butuh orang yang tepat untuk tempat bersandar suamiku, setelah aku tiada. Tapi saat aku dinyatakan sehat, aku melupakan permintaanku sebelumnya, dan aku malah meminta dia pergi."


"Aku adalah tuan rumah yang memaksanya masuk ke rumah ini, menghidangkan makanan untuknya, dia sering menolak, namun aku membiarkan makanan itu tetap tersaji untuknya, saat dia menikmati makanan yang aku berikan, dan menyukai makanan itu, aku malah marah dan memintanya pergi."


"Aku malu teringat hal itu mas, aku--"


"Sudah Risma. Lupakan semua itu, Ishana juga sudah pergi meninggalkan kita semua."


"Aku--"


"Sudah Risma! Mas mengajakmu kesini untuk membahas kesehatan kamu, demi masa depan kita bertiga! Bukan membahas kesalahan kita."


"Maaf mas."


"Nanti atur pertemuan kamu dengan dokter Fahra, dia dokter yang menangani kamu dulu kan?"


"Dia sudah pindah mas, nanti aku cari dokter penggantinya mas."


"Ris, mas punya kejutan untuk kita berempat." Ardhi memperlihatkan 4 tiket pesawat pada Risma.


Dengan semangat Risma menyambar selemar tiket, mengetahui tujuan mereka.


"Pulau Bunga?" Risma seakan tidak percaya Ardhi membeli tiket untuk ke pulau Bunga.


Pulau impian Dhifa saat anak itu berumur 4 tahun. Karena jaraknya yang sangat jauh, Ardhi tidak memberi izin untuk bepergian ke sana.


"Mas masih ingat ini pulau impian Dhifa?"


"Sekarang dia 7 tahun, ya boleh ikut perkemahan di sana. Saat 4 tahun, maaf mas nggak bisa kasih izin."


Risma sangat bahagia keinginan Adhifa terwujud, dia langsung memeluk Ardhi. "Terima kasih mas, akhirnya keinginan Dhifa mas kabulin!"


"Tapi kita bertemu di sana ya, kita tidak bisa berangkat bareng, karena mulai besok mas ada pertemuan dengan klien di dekat pulau Bunga itu. Jadi kemungkinan saat kalian sudah sampai, sekitar 2 hari kalian di sana, mas akan menyusul ke sana."


"Nggak apa-apa, Dhifa bisa ikut perkemahan di sana, itu sudah cukup."

__ADS_1


__ADS_2