
Risma merasa dirinya berada di tengah-tengah antara bumi dan langit, tidak menapak, namun juga tidak punya sayap untuk terbang. Terdiam diantara keduanya. Membebaskan langkahnya ke bumi ia tidak bisa, namun untuk terbang dia juga tidak bisa. Kesembuhannya dari penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya semakin menbuatnya dilema.
Alasanya meminta Ishana bertahan, karena dia ingin Ishana menjadi penggantinya, sekarang?
Risma bingung sendiri.
Dukungan Rita, cinta Ardhi, semua itu ada dalam genggamannya. Entah kenapa matanya tetap buta oleh rasa takut. Takut kalau dibuang Ardhi, takut dibuang Rita. Ternyata apapun keadaannya Rita dan Ardhi sangat menyayangi dirinya. Hingga dia sangat yakin, Ishana adalah penolongnya, tanpa memikirkan yang Rita butuhkan hanya cucu, bukan tambahan menantu.
Kala itu otaknya tidak mampu bekerja karena rasa terpuruknya. Dia sangat takut kalau Rita memilih istri untuk Ardhi yang sebenarnya, dia tidak pernah berpikir akan seperti ini. Pengakuan Rita membuat Risma bahagia, namun juga menyesal.
Nasi sudah menjadi bubur, Ishana sudah masuk dan menempati tempatnya. Rencana yang tidak dia pikirkan dengan matang, semua ini membuat segalanya mengantung.
Seandainya dia kerjasama dengan Rita, andai kata dia berunding banyak hal sebelum memilih Ishana. Hanya berandai-andai karena menyesali langkah yang telah dia ambil.
Risma mengira mudah meminta Ishana pergi nantinya, dia lupa, kalau Ishana seseorang yang mengabdi dengan sepenuh hati.
Ketulusan, di mana itu hal yang sangat dihargai oleh setiap orang yang merasakannya.
"Papa dan mama memutuskan untuk tinggal berdua di rumah kecil yang dekat dengan Rumah Sakit untuk sementara waktu. Kami percaya, kalian berempat bisa hidup rukun sama-sama."
"Mama ninggalin kami semua?"
"Tidak Risma, mama hanya takut, nanti Eva memanfaatkan mama untuk menguasai Ardhi, ini juga saran dari papa, agar mama dan papa tidak satu atap dulu sama kalian."
"Ardhi tau ini mah?"
"Nanti mama dan papa akan bicara.
Rita dan Risma membicarakan hal lain selain urusan rumah tangga. Bahkan Rita mengajari Risma untuk mengelola bisnis miliknya selama ini.
Sedang di belahan kota yang lain.
Ishana hampir terlewat makan siang, karena terlalu jauh menyelami alam mimpi. Dia segera bangun dan mandi, supaya tubuhnya segar. Ishana langsung mempersiapkan semua keperluannya untuk bekerja nanti malam, agar selesai dari rumah Nara, dia bisa langsung menuju Rumah Sakit.
Selesai semuanya, Ishana pun segera turun. Saat turun ke bawah, hanya ada Wisnu di meja makan seorang diri.
"Bapak," sapa Ishana.
"Kamu ada di rumah Na? Papa kira kamu keluar juga."
"Saya juga mau keluar Pak, tapi sebentar lagi," jawab Ishana.
"Ya sudah, kalau begitu kita makan siang sama-sama," ajak Wisnu.
Ishana baru menarik salah satu kursi, namun nada dering khusus dari handphone-nya berteriak. Ishana ingin menolak panggilan itu, tapi batinnya menjerit dia merindukan Ardhi. Tanpa berpikir lagi, jemarinya langsung menerima panggilan itu.
"Iya."
"Sudah bangun?"
"Sudah, ini mau sarapan sama Bapak."
"Aku kira kamu tidak bisa bangun, karena lelah."
Ishana hanya diam.
"Kamu dinas malam kan? Nanti pas kamu selesai dengan tugas rutinmu, datangi aku di kamar khusus milikku di Rumah Sakit itu, aku kangen kamu Na."
Wajah Ishana tiba-tiba terasa hangat mendengar ucapan Ardhi.
"Dhi, jangan goda istrimu, kasian wajahnya seperti udang direbus saja!" Ledek Wisnu.
Ishana semakin bungkam, dia tidak menyangka papa Ardhi bisa tahu kalau dirinya tengah berbicara dengan Ardhi.
"Tutup teleponnya Na, Ardhi mana berani menyudahi panggilan, kita makan dulu," ucap Wisnu.
"Ya sudah, kamu makan saja Na. Nanti kita sambung lagi," ucap Ardhi di ujung telepon sana.
Ishana dan Ardhi menutup sambungan telepon mereka. Ishana pun segera memulai makan siangnya bersama Wisnu.
__ADS_1
"Papa senang kamu dan Ardhi sudah menerima satu dengan yang lain."
Ishana hanya diam dan tersenyum.
"Kalau papa boleh bicara jahat, anak yang terlahir dari Eva, rasanya itu investasi yang ditanam oleh Ardhi. Namun jika suatu saat kamu diberi hadiah, papa sangat senang, karena anak yang lahir dari rahimmu, anak yang hadir dari perasaan cinta."
Wajah Ishana semakin memerah.
"Tenang saja, papa tidak menuntutmu, mimpi papa sudah terwujud saat melihat bayi Eva lahir nanti."
Selesai makan siangnya, Ishana langsung menuju kediaman Nara, rasanya hatinya sudah tidak sanggup menahan bermacam perasaan yang dia bendung.
Pintu rumah Nara terbuka lebar, Ishana pun langsung masuk ke dalam rumah Ishana, terlihat gadis itu duduk di sofa seorang diri.
"Ra," sapa Risma.
Nara langsung menoleh kearah pintu, dia seketika berlari dan memeluk Ishana. Dia tau ada dilema yang di alami oleh sahabat kecilnya.
"Ada apa Na?" tanya Nara.
Kedua bola mata Ishana mulai berkaca-kaca. "Aku dan kak Ardhi melakukannya, kami melukai Risma Ra."
Nara bahagia mendengar Ishana dan Ardhi benar-benar menjadi suami istri. Namun yang dia takutkan adalah Risma. Sejak kecil Risma sulit di tebak, semua perbuatan jeleknya selalu tertutupi oleh kebaikannya.
"Aku sakit Ra."
"Aku telah melukai sahabatku Ra."
"Tapi aku bahagia karena cintaku dan kak Ardhi bersambut."
Ishana menceritakan kejadian tadi malam pada Nara.
"Bagaimana ini Ra, aku tidak mampu berdiri dan melihat Risma."
"Kamu jangan terpuruk kayak gini Na, semua ini terjadi karena Risma yang mau, kamu sudah meminta pada Risma untuk pergi, tapi dia menahanmu, jadi jalanilah semua ini."
Ishana merasa lebih baik setelah bercerita pada Nara. Hari semakin sore, Ishana pun pamit pada Nara untuk menjalankan tugasnya.
Melihat kehadiran Ishana Ardhi langsung memeluknya. "Aku kangen kamu Na, sepanjang waktu aku terus teringat kamu."
Ishana melepaskan pelukan mereka. "Ku rasa cukup kak, aku tidak mau melukai Risma terlalu dalam."
Ardhi tau dia akan menerima jawaban ini, karena bagi Ishana hanya ada Risma, Risma, dan Risma.
"Terima kasih Na, entah kenapa aku merasa lebih tenang jika bersamamu."
Ishana terus menolak, namun perlakuan Ardhi, dan pengakuan Ardhi membuat Ishana luluh.
Tidak dapat dihindari, Keduanya mengulangi petualangan mereka.
Ishana hanya diam. Rasa bersalah dan rasa cinta itu sama kuatnya.
Ardhi mengenakan kembali setelan kerjanya yang telah kusut. "Aku cinta kamu Na."
Ishana masih diam.
"Na, Risma pasti akan mengerti perasaan kita.
"Tapi aku sedih, karena kakak mencintaiku juga."
"Apa kamu bisa mengatur perasaan kamu?"
Ishana kembali bungkam, dirinya saja tidak mampu menghentikan perasaannya.
"Tapi tetap utamakan Risma dalam hati dan setiap kehidupan kakak."
"Akan aku usahakan."
"Kakak ingat ya, agar lebih sabar menghadap Risma. Wanita mana yang tidak sakit karena hal yang dia hadapi. Andai aku di posisi Risma, rasanya aku sudah bunuh diri."
__ADS_1
"Iya Na, aku akan berusaha berdiri tegar walau selalu penolakkan yang aku terima."
Satu kecu-pan lembut mendarat di antara alis Ishana. "Jangan pernah bosan menyemangatiku."
Ishana hanya tersenyum dan mengangguk.
Malam kilat yang indah dia lalui bersama Ishana. Sepanjang jalan Ardhi selalu tersenyum, entah kenapa membayangkan Ishana sulit untuknya untuk tidak tersenyum.
Jam menunjukkan jam 9 malam Ardhi sampai di rumahnya, keadaan nampak sepi. Dia langsung menuju kamar yang dia tempati seorang diri.
Arhi melenggang dengan bahagia menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya.
Di luar kamar mandi.
Perlahan pintu kamar Ardhi terbuka, terlihat sosok Risma memasuki kamrnya. Entah apa yang dia tuju.
Melihat handphone Ardhi terus berkedip diatas nakas, Risma langsung meraih benda pipih persegi panjang itu.
Mata Risma disambut oleh laporan-laporan seseorang yang bernama Ernest. Semua pesan yang masuk berisi tentang kegiatan Eva.
Hati Risma sangat sakit megetahui Ardhi memantau Eva sepanjang hari. Pikirannya Ardhi begitu protektif terhadap Eva. Risma membuka pesan yang lama, tiba-tiba senyum merekah menghiasi wajahnya. Ternyata Ardhi melakukan itu karena meragukan Eva. Apalagi membaca rencana Ardhi dan Edwin.
Kenapa otakku terlalu kotor, aku selalu meragukan suamiku sendiri. Ternyata dia berusaha agar rumah tangga ini hanya ada aku dan dia.
Saat Ardhi keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan kehadiran Risma. Ardhi kecewa melihat Risma membuka handohone-nya.
"Sayang ...." sapa Ardhi.
Hal itu berhasil membuat wanita itu menoleh padanya.
"Sejak kapan mas menyusun rencana ini?" Risma memperlihatkan layar handphone yang terlihat laporan Ernest di sana.
"Sejak lama, karena aku belum siap menerima kehadiran Eva dan Ishana."
"Mas mau menceraikan Eva dan Ishana?"
Jawab iya mas, aku sangat bahagia.
"Aku tidak akan menceraikan siapa pun tanpa sebab, apalagi jika hanya alasan perceraian karena tidak ada cinta, aku tidak mampu, aku menikah tanpa cinta, kenapa harus bercerai karena alasan tidak ada cinta."
"Mas akan mempertahankan Eva dan Ishana?"
"Ini pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, aku tidak ingin mempermainkannya."
Duggggg!
Sakit, Risma pikir Ardhi akan melepaskan Eva dengan memberinya banyak materi. Eva yang cintanya bisa dibeli saja tidak Ardhi lepas begitu saja, bagaimana Ishana?
"Ya sudah aku pergi, lagian aku tidak memberi apapun pada hubungan ini!" Risma meletakkan handphone Ardhi kembali pada tempat semula.
Ardhi menahan langkah Risma. "Kau memberi banyak hal untukku, dan kau adalah ratu di istanaku."
Ardhi berusaha merobohkan pertahanan Risma. "Walau ada 10 wanita yang menjadi istriku, kamu adalah yang paling aku cinta."
"Jika mas cinta aku, mas tidak akan mampu menyentuh wanita lain selain aku.
Jlebbb!
Ardhi mematung.
Risma menghempas kasar napasnya dan pergi dari kamar Ardhi.
Ardhi hanya bisa diam melihat penolakan Risma. Berusaha mengerti kalau Risma sakit dengan keadaan ini.
***
Seminggu berlalu.
Rita dan Wisnu untuk sementara tinggal di rumah sedehana yang dekat Rumah Sakit. Rita tidak ingin dirinya menjadi senjata Eva untuk meneror mental kedua istri Ardhi yang lain.
__ADS_1
Berat, namun keputusan mamanya tidak bisa diganggu gugat. Di rumah besar itupun hanya ada Ardhi dan ketiga istrinya, beserta pelayan yang bekerja untuk keluarga itu.