
Tamu undangan yang tidak cidera langsung pulang ke rumah mereka, sedang mereka yang mengalami cidera masih menjalani pengobatan di Rumah Sakit.
Eva berada di ruang perawatannya seorang diri, sebenarnya dia tidak apa-apa, hanya saja Rita memintanya beristirahat di Rumah Sakit sampai besok pagi.
Eva terbayang kejadian saat di hotel sebelumnya. Dirinya hamil anak Ardhi, Ardhi malah hanya memandangi dirinya saat keluarganya menyelamatkannya, tidak sedikitpun Ardhi berniat mendekatinya atau memberi pesan atau apapun itu.
Kala dirinya berada di di luar, dia malah melihat Ardhi keluar sambil memeluk Risma.
Eva meraih handphonenya, dia menarikan jemarinya diatas keayboard handphone itu.
Mama, setelah melahirkan nanti, aku ingin lepas dari sini, aku harap mama mempersiapkan semua yang mama janjikan untukku.
Dalam hati kecilnya, Eva ingin pergi sekarang, namun dia memegang teguh janjinya pada Rita.
Di ruangan Risma.
Risma hanya seorang diri, sedari tadi dia menunggu Ardhi, namun laki-laki itu sampai sekarang tidak datang menemuinya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu membuyarkan lamunan Risma. Perlahan pintu itu terbuka, terlihat sosok dokter Jully di sana.
"Hai Ris," sapa dokter Jully.
"Ardhi mana?" tanya Risma.
Ardhi masih menjalani perawatan, mungkin dia syok melihat ledakkan pada hotel itu, dan--" Dokter Jully menggantung ucapannya.
"Dan apa?"
"Dan dalam bangunan itu ada Ishana."
Duggggg
Detak jantung Risma seakan berjalan begitu lambat mengetahui Ishana terperangkap di hotel itu.
"Jadi, kamu istirahat saja, jangan menunggu Ardhi, aku permisi dulu, aku mau menemani Ayah Ishana, beliau juga down mengetahui keadaan ini."
Risma mematung.
"Aku permisi, jadi kamu lanjut istirahat dulu." Dokter Jully langsung pergi dari ruangan Risma.
Risma tidak percaya dengan hal yang dia dengar. "Aku hanya berharap kamu pergi dari rumah tangga ini, kenapa kamu malah pergi dari dunia ini Na."
__ADS_1
***
Sedang di bekas kebakaran, beberapa petugas masih sibuk menyelidiki sebab kebakaran dan mencari satu korban yang dinyatakan hilang.
Malam mencekam itu berlalu begitu saja, penyelidikan berlanjut. Beberapa petugas sangat berhati-hati melangkahkan kaki mereka di lantai bagunan bekas kebakaran, mereka khawatir lantai itu runtuh.
Lantai 4, kamar 043. Itu adalah kamar yang ditempati wanita yang bernama Ishana Syafira 24 tahun.
Mereka terus melakukan pencarian di lantai 4, hingga menemukan jasad perempuan yang sulit untuk dikenali karena luka bakar. Jasad itu langsung mereka bawa ke Rumah Sakit, untuk proses identifikasi.
Kabar penemuan mayat Ishana begitu cepat tersebar, Ardhi memaksakan diri untuk melihat jasad itu, begitu juga Risma dan Purnama.
Proses indentifikasi menentukan itu Ishana atau bukan sangat sulit, tidak ada keluarga biologis Ishana. Karena dia anak angkat Purnama, bukan anak kandung.
Namun hal itu sedikit terbantu, dengan cincin yang melekat pada jasad itu.
"Itu cincin nikah Ishana," gumam Purnama.
Ingin tidak percaya itu Ishana, namun cincin yang melekat pada jasad itu mematahkan harapan mereka.
Jasad itu pun dinyatakan oleh tim identifikasi sebagai Ishana. Selain cincin yang melekat, pihak hotel juga memastikan tidak ada tamu lain selain Ishana di lantai itu.
Sakit, sedih, terpuruk, dan tidak ingin percaya semua ini. Namun itulah yang terjadi.
Namun laki-laki itu tenggelam oleh kesedihan, penyesalan, dan rasa bersalahnya. Ardhi seketika ambruk ke lantai tidak sadarkan diri, tertekan oleh keadaan ini.
Beberapa tim medis langsung membawa Ardhi kembali ke kamar perawatannya.
Purnama mendekati Risma. "Nak Risma, Bapak harap, kamu bersedia mewujudkan keinginan Ishana, dia ingin kamu dan Ardhi tetap bersama," ucap Purnama.
Risma hanya menunduk, dia tidak kuasa melihat kesedihan di wajah Purnama.
"Kemaren dia pulang, minta Bapak mengajaknya pergi dari sini, ternyata dia pergi sendirian tanpa Bapak."
"Sudahlah nak, dengan menangis seperti ini tidak akan membuat Ishana hidup kembali. Maafkan dia." Purnama menepuk lembut bahu Risma.
"Ishana biar Bapak yang urus, kamu urus suami kamu."
Semua berjalan pada tugas masing-masing, Ardhi masih tidak sadarkan diri, membuat Risma harus setia menemaninya.
Sedang di belahan lain, prosesi pemakaman Ishana berjalan lancar, dihadiri pengurus Panti Asuhan dan beberapa anak Panti, dan sahabat Ishana, Nara. Wanita itu saat datang hingga proses pemakaman selesai tidak berhenti menangis. Di sana juga terlihat sosok Rita dan Wisnu.
Perlahan tamu-tamu yang lain pergi meninggalkan pusara Ishana, hanya tertinggal Pajri, Purnama, Rita, dan Wisnu. Semua saling diam, tidak tau harus berkata apa.
__ADS_1
"Terima kasih Na, memberi warna dalam kehidupan kami, semoga kamu mendapat tempat terindah di sisi-NYA." Rita mengusap batu Nisan yang bertuliskan nama Ishana Shafira.
"Kadang hidup ini terasa rumit, harusnya yang tua dan penyakitan sepertiku yang lebih dulu dijemput, tapi malah Ishana yang muda lebih dulu meninggalkan kita," gumam Wisnu.
"Pak Pur, kami pulang duluan," ucap Rita.
Purnama hanya menganggukkan kepalanya, setelah Rita dan Wisnu pulang, Purnama dan Pajri pun pergi dari sana.
Seminggu berlalu, sejak itu pula Rita kembali ke Rumah besarnya untuk menemani Eva, karena Risma menemani Ardhi di Rumah Sakit. Selain menjaga Eva, Rita juga sekaligus mempersiapkan segala berkas untuk Eva.
Di Rumah Sakit, keadaan Ardhi perlahan membaik, dia pun diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah.
Melihat kehancuran di wajah Ardhi, Risma bisa melihat bagaimana rasa cinta suaminya yang tertuju untuk madunya. Sakit, namun apa dia juga harus pergi?
Risma sadar, Ishana juga bagian dalam hidup Ardhi. Walau wanita itu telah pergi, namun sebagian hati Ardhi tetap ada namanya.
Nak Risma, Bapak harap, kamu bersedia mewujudkan keinginan Ishana, dia ingin kamu dan Ardhi tetap bersama.
Teringat ucapan Purnama, Risma berusaha menerima takdirnya, melanjutkan hidup dengan laki-laki yang cintanya tidak sepenuhnya untuk dirinya.
Sepanjang perjalanan keduanya membisu, tidak tahu harus memulai dari mana. Bahkan sampai di kediaman Ardhi, Risma maupun Ardhi tetap sama-sama bungkam.
"Akhirnya kalian pulang," sambut Rita.
"Bagaimana keadaan kamu Dhi?" tanya Rita.
Ardhi menarik kedua ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. "Aku baik ma, tapi aku permisi, aku mau istirahat lagi."
Rita dan Risma hanya memandangi punggung Ardhi yang semakin jauh dari pandangan mata mereka.
"Ishana pergi dengan membawa sebagian hatinya mah," gumam Risma.
"Apa kamu akan menambah luka Ardhi?" tanya Rita.
Risma langsung menoleh pada Rita "Maksud mama?"
"Mama tau, kalau kamu berniat pergi meninggalkan Ardhi, Ardhi sudah cerita semuanya, Ardhi bilang, kalau kedua istrinya ingin pergi darinya, ternyata yang satunya bukan hanya pergi dari sisinya, tapi pergi meninggalkan dunia ini." Rita mengusap cristal bening yang terlanjur lepas dari pelupuk matanya.
"Apa kamu juga akan menambah luka anakku?"
Risma menggelengkan kepalanya. "Aku akan bertahan mah, selain aku tidak bisa berhenti mencintai mas Ardhi, ini juga keinginan terakhir Ishana, dia ingin aku tetap di samping mas Ardhi."
Rita langsung menarik Risma kedalam pelukannya. "Terima kasih."
__ADS_1
"Mama tidak tau bagaimana hidup Ardhi jika kamu juga meninggalkan dia."