Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 66 Rahasia


__ADS_3

Kedatangan Ishana di rumah keluarga Jully disambut hangat oleh kedua orang tua Jully. Tawa mereka pun terdengar kala melihat kelakuan Dina dan Rian.


"Permisi ...."


Candaan mereka seketika terhenti karena ada suara dari luar.


"Itu sepertinya Pak Hendra ya pak?" Anya merasa tidak asing dengan suara itu.


"Ya sudah, aku buka pintu," tanggap Tias. Gadis itu segera membukakan pintu rumahnya. Benar saja itu adalah Pak Hendra tetangga mereka.


"Paman, masuk paman." ajak Tias.


Hendra tersenyum dan segera melangkah memasuki rumah kedua orang tua Jully. "Katanya Jully bawa calon istrinya?"


"Iya Pak, ini calon mantu kami, namanya Ishana, dan itu calon anak sambung Jully." Anya menunjuk kearah Rian dan Dina.


Ishana pun langsung memperkenalkan dirinya pada Pak Hendra.


"Kalau dunia punya banyak pahlawan super, maka aku juga punya, Pak Hendra ini, pahlawan bagi keluarga aku," ucap Jully.


"Jangan dipercaya nak Ishana, nak Jully selalu berlebihan," balas Pak Hendra.


"Dewi mana Pak?" tanya Tias. Tias merasa heran, karena Dewi akhir-akhir ini tidaknpernah lagi datang.


"Dewi sakit, makanya cuma Bapak yang bisa kemari," sahut Pak Hendra.


"Sakit apa Pak?" Anya cemas mendengar Dewi sakit.


"Mungkin kelelahan saja," sahut Hendra.


"Lebih baik kakak periksa anaknya Pak Hendra," usul Ishana.


Semuanya pun setuju, agar Jully memeriksa keadaan Dewi, putri Pak Hendra. Jully dan Pak Hendra pun pamit, karena harus memeriksa Dewi.


Hapir 40 menit berlalu, Jully kembali ke rumahnya seorang diri.


"Dewi sakit apa?" Tias mencegat Jully dengan pertanyaanya.


"Abang tidak menemukan keanehan apa-apa, mungkin Pak Hendra benar Dewi kecapek-an, tadi abang minta supaya Dewi dibawa ke Rumah Sakit untuk periksa."


Perbincangan Ishana dan keluarga Jully pun berlanjut, hingga tak terasa matahari semakin condong kearah barat.


"Aku antar Ishana pulang dulu ya Pak, bu." pamit Jully.


"Iya, anter sampai rumah dengan selamat."


Di teras rumah Jully, Ishana dan kedua anaknya berpamitan pada keluarga Jully, hal itu dilihat oleh Dewi dari kaca jendela kamarnya. Hatinya sangat sakit melihat kemesraan Jully dan calon istrinya. Dewi tidak berpikir jernih lagi, melihat obat semprot nyamuk yang ada di kamarnya, Dewi mengambil cairan itu, dia menuliskan surat yang berisi perminta maafan pada Ayahnya, juga pengakuan cintanya pada Jully. Dewi sebisanya menelan cairan racun itu, hingga seketika dia terkapar di lantai kamarnya.


Di rumah keluarga Ardhi.


Tangan sebelah kiri Rita memegangi handphone, sedang tangan sebelah kanannya masih mencari-cari map yang Ardhi maksud.


"Di mana Dhi? Ini mama sudah ubek-ubek isi lemari kamu, tapi map coklat yang kamu minta nggak ada."


"Mama buka lemari yang mana?"


"Ini lemari dekat dengan meja rias."


"Mama, bukan lemari itu, tapi yang satunya, yang mama buka itu lemari Risma."


"Ya salam, mama malah ubek-ubek lemari Risma ya?" Rita segera menutup lemari yang sedari tadi dia geledah.


Plak!


Sebuah map berlogo sebuah Rumah Sakit jatuh ke lantai.


Rita memungut map yang jatuh dan segera menyimpannya, dia segera membuka lemari yang satunya, hingga menemukan map yang Ardhi maksud.


"Ini sudah ketemu, berkasnya mama kasih sama Pak Abim ya."


"Iya ma, maaf ngerepotin mama."


"Mama yang minta maaf, karena geledah isi lemari yang ada di kamar kalian."


Setelah menyudahi panggilan teleponnya, Rita membawa map yang menurutnya aneh, dan menyimpannya, sedang dia segera menemui Abim untuk meneruskan tugasnya.


"Setelah menjemput Dhifa, antar berkas ini ke kantor Ardhi ya, Pak."


"Baik Nyonya."


Sedang Rita kembali kedalam rumah, kepo dengan isi map dari Rumah Sakit lain.


Kedua bola mata Rita membulat sempurna kala membaca isi kertas yang dia keluarkan dari map.


"Risma ...." Bibir Rita bergetar, air mata pun mulai membasahi pipinya.


Selama ini Risma hanya terlihat pucat dan semakin kurus, ternyata wanita itu menyimpan rahasia sebesar ini dari mereka semua.


"Selamat siang mama."

__ADS_1


Perhatian Rita yang tertuju pada kertas teralihkan pada suara yang menyapanya.


Rita segera meletakkan beberapa majalah untuk menutupi map yang dia ambil dari kamar Risma.


"Risma--"


Rita tidak bisa meneruskan ucapannya, Risma berjalan cepat menuju kamarnya.


Melihat Risma seperti itu, Rita langsung mengejarnya, namun saat sampai di depan kamar Risma, pintu kamar dikunci dari dalam.


"Risma!" Rita terus menggedor pintu kamar Risma, namun pintu tidak kunjung terbuka.


"Risma kamu kenapa sayang?"


"Aku tidak apa-apa mah, aku kebelet doang."


Brukkk!


Telinga Rita sangat jelas mendengar sesuatu yang jatuh.


Mengingat apa yang dia ketahui barusan, Rita tidak tenang, dia memanggil pelayan untuk membuka pintu kamar Risma dengan kunci cadangan.


Saat pintu terbuka, Risma terkapar dilantai kamarnya.


"Cepat panggil yang lain, bantu aku angkat dia ke mobil!" titah Rita pada pelayannya.


Setelah perjuangan extra, akhirnya mereka berhasil membawa Risma kedalam mobil, Rita mengambil tasnya dan membawa map yang dia temukan sebelumnya.


Hampir 5 tahun, Rita tidak pernah menyetir sendiri, demi menantu yang berjasa besar untuk keluarga, Rita memberanikan diri menyetir sendiri.


Perjuangan Rita akhirnya selesai, kala mobil yang dia kemudikan parkir sempurna di depan Rumah Sakit yang sering Risma datangi.


Risma ditangani tim medis, Rita hanya bisa menunggu kabar dari dokter yang menangani Risma.


Melihat dokter keluar dari ruang penanganan Risma, bagai air yang menghilangkan dahaga Rita. Rita langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan menantu saya dok?"


"Ibu sudah tau apa yang di derita pasien?"


Rita menganggukkan kepalanya lemah.


"Umur memang rahasia Tuhan, tapi dari ilmu medis--" Dokter menggelengkan kepalanya.


"Bisa jelaskan sama saya isi dari ini?" Rita memberikan map yang dia temukan di kamar Risma.


"Mari ikut saya bu."


Saat yang sama, Dhifa melihat omanya, dia sangat bahagia.


"Itu oma Pak, Pak Abim tunggu di sini aja." Dhifa menunjuk kursi yang berjejer.


"Baik Non."


Dhifa segera berlari menuju ruangan di mana sang nenek dan seorang laki-laki berjas putih masuk.


"Kanker yang diderita bu Risma sudah menggerogoti sampai otak, pengobatan yang dia jalani selama 5 bulan ini tidak bisa mencegah pertumbuhan penyakin mematikan ini."


Langkah kaki Dhifa terhenti saat mendengar kata-kata dokter yang tengah berbicara dengan omanya.


"Apa tidak ada cara lain dok untuk selamatkan menantu saya?"


Dokter menggelengkan kepalanya. "Sudah terlalu parah bu."


Dokter menerangkan keadaan sel kanker yang sudah sampai pada bagian otak Risma.


"Bu Risma sudah tahu, kalau waktunya tidak lama lagi. Saya lega, bu Risma akhirnya berani mengatakan keadaannya pada keluarga, saat-saat terakhir ini, waktu dan dukungan dari keluarga sangat penting."


"Bunda nggak boleh mati ...."


Jeritan Dhifa membuat Rita menoleh kearah belakangnya.


"Dhifa sayang? Kamu kenapa ada di sini?"


"Bunda nggak boleh mati ...." Dhifa hanya menangis, dia tidak menjawab pertanyaan omanya.


"Bunda akan sehat kok sayang, Dhifa nggak boleh ngomong gini." Rita langsung memeluk cucunya.


"Permisi dokter, pasien atas nama bu Risma Eriska sudah sadar."


Kedatangan seorang perawat mengatakan keadaan Risma, membuat Rita langsung mengusap air matanya. Sedang Dhifa terus saja menangis.


Saat menuju ruangan Risma, Rita melihat Abim duduk sendirian.


"Pak Abim, kenapa kalian bisa sampai sini?" tanya Rita.


"Saat kami sampai rumah, kami melihat Nyonya pergi, dan Non Dhifa meminta saya mengikuti Nyonya."


"Ya sudah, kamu cari tempat untuk istirahat."

__ADS_1


***


Risma terkejut melihat kedatangan Rita dan Dhifa.


"Mama?"


Rita berusaha tetap santai.


"Kenapa kamu menutupi rahasia sebesar ini dari kami?"


Risma hanya menelan salivanya, dia tidak sanggup mengatakan apapun.


"Dalam pernikahan, suami istri itu berbagi apa saja Ris, mau suka juga duka, kamu membagi kebahagiaanmu untuk Ardhi, kenapa kamu menyimpan semua dukamu sendiri?"


"Aku tidak ingin membuat cemas siapapun ma."


"Disisa waktuku yang sedikit, aku ingin memberi kebahagiaan pada semua orang."


"Mama kecewa Ris, kalau mama tidak menemukan laporan medis kamu, mungkin saat ini kamu masih terkapar dikamarmu seorang diri, tanpa siapapun yang tahu akan keadaanmu."


"Maafin Risma mah."


Rita melakukan panggilan telepon ke nomer Ardhi.


"Iya ma."


Rita mulai menjelaskan keadaan Risma dan mengatakan di mana dirinya berada.


***


Flash back


Risma memandangi fotonya bersama Ishana dan Ardhi.


"Apakah permintaan terakhirku ingin Ishana menjadi istri Ardhi terlalu berlebihan, Tuhan?"


"Apa Ishana terlalu baik, hingga dia ENGKAU pasangkan dengan dokter Jully?"


"Aku hanya ingin Ishana menempati tempatku setelah aku tiada nanti." Risma larut dalam tangisannya.


Maaf Nona Risma, dengan sangat berat hati, saya harus mengatakan semuanya, sel kanker yang menggerogoti tubuh Anda, pertumbuhannya sangat ganas, dan sekarang sampai pada jaringan otak Anda.


Apa sebab ini dok sakit kepala hebat yang sering saya alami.


Dokter menganggukkan kepalanya.


Berapa lama waktu saya dok?


Dalam ilmu medis, 3 bulan, kuasa TUHAN siapa yang tahu.


Risma menelungkupkan wajahnya pada setiran mobilnya, terbayang pembicaraannya dengan dokternya beberapa waktu lalu. Waktunya kini semakin sedikit, sedang dirinya belum menemukan wanita yang tepat menjadi ibu sambung Dhifa, juga istri untuk Ardhi.


"Ishana memang tidak bisa jadi penggantiku, apakah tidak ada fotocoppy-an Ishana, Tuhan?"


"Aku sangat mencintai suamiku, sebelum aku pergi, aku hanya ingin dia bahagia dengan penggantiku."


Lelah menumpahkan tangisnya, Risma segera melajukan mobilnya meninggalkan butik.


Nyuttt!


Rasa sakit yang begitu menusuk membuat Risma harus menepikan mobilnya.


"Ya Tuhan, ku mohon jangan sekarang," jeritnya.


Rasa sakit itu perlahan berkurang, Risma pun kembali meneruskan perjalanannya.


Hanya beberapa kilometer, rasa sakit itu kembali menderanya, membuat Risma harus berhenti lagi. Entah berapa kali dia menepikan mobilnya. Rasa sakit yang berpusat di kepalanya sering membuat Risma hilang kesadaran.


"Ku mohon, jangan pingsan di luar, beri aku kekuatan sampai rumah."


Perjuangan Risma menahan rasa sakit di kepalanya sambil menyetir akhirnya berakhir. Risma keluar dari mobil dan berlari kedalam rumah. Saat sampai di ruang tamu, Rita terlihat begitu fokus membaca selembar kertas yang ada di tangannya.


"Selamat siang mama."


"Risma--"


Rasa sakit yang semakin menguat, membuat Risma tidak mampu menanggapi panggilan Rita. Dia berjalan cepat menuju kamarnya dan langsung mengunci kamarnya.


Argggg!


Risma memegangi kepalanya, rasa sakit yang menderanya begitu dahsyat.


"Risma!" Rita terus nenggedor pintu kamar Risma.


"Risma kamu kenapa sayang?"


Keadaan kamar terasa berputar. "Aku tidak apa-apa mah, aku kebelet doang."


Brukkk!

__ADS_1


Risma jatuh dan kehilangan kesadarannya.


Saat dia membuka mata, dirinya sudah berada di sebuah kamar Rumah Sakit.


__ADS_2