
Suara teriakkan alarm dari handphone, membuat mata yang terpejam rapat perlahan terbuka.
Kepala pusing, sekujur tubuhnya terasa remuk, namun Ishana tetap memaksa tubuhnya untuk bangun. Dengan sisa tenaga yang ada, Ishana berusaha menuju kamar mandi, walau rasa sakit itu sangat terasa.
Ishana sedih, namun juga bahagia.
Setelah melakukan hal ini bersama Ardhi, rasanya Ishana tidak punya keberanian menatap kedua mata Risma.
Rasa bahagia juga tak bisa dia tahan, dia sangat nyaman berada dalam dekapan Ardhi.
***
Tugas subuh semua orang selesai, bahkan mereka sudah mengenakan pakaian rapi. Ardhi dengan setelan kerjanya, Ishana dengan setelan rumahannya, Eva dengan baju mewahnya dengan merk ternama setiap waktu, sedang Risma dengan gaya sederhanya.
Semua sudah berkumpul di meja makan, untuk sarapan bersama.
Wajah Eva terlihat begitu bahagia, hingga Rita tersenyum melihatnya.
"Kamu bahagia sekali sayang," sapa Rita.
"Tentu dong mah, tadi malam Ardhi berjuang untuk kami," ucap Eva begitu bangga.
Kini sepasang mata Rita tertuju pada Ardhi, terlihat wajah putranya begitu bersinar dan bahagia.
"Sangat lama mama tidak melihat aura seperti ini di wajahmu," sela Rita.
Ardhi tertunduk malu, kebahagiaannya bisa ditangkap oleh mamanya.
Risma begitu percaya diri, dia merasa Ardhi seperti itu karena tidur di kamarnya tadi malam.
"Na, kamu sakit?" tanya Eva. Eva heran melihat wajah Ishana begitu lemas, belum lagi saat mereka keluar dari kamar saat bersamaan, langkah Ishana terlihat tertatih.
"Amm, tadi malam aku dinas sampai malam, makanya aku masih mengantuk, tapi nasehat seniorku, walau dinas malam, usahakan bangun pagi, salat subuh, sarapan, rehat sebentar baru tidur lagi."
Eva menaruh curiga, pikirannya Ishana dan Ardhi menghabiskan malam bersama, namun hal yang tadi pagi dia lihat melemahkan dugaannya. Ardhi keluar seorang diri dari kamar yang berada tepat disebelah kamarnya.
"Jam berapa tadi malam kamu pulang?" tanya Eva pada Ishana.
"Aku lupa lihat jam, yang pasti aku sampai rumah sebelum hujan," sahut Ishana.
Eva lega, karena saat Ardhi pergi tidak lama hujan.
"Kamu kerja pagi ini Na?" tanya Ardhi.
Hati Risma berdenyut, sejak kapan Ardhi mempedulikan Ishana. Namun dia tetap fokus pada makanannya. Walau otaknya terus bekerja dengan bermacam pertanyaan yang timbul.
"Aku shift malam ini kak, tapi nanti sore aku mau ketemuan sama Nara, boleh kak?" Ishana balik bertanya.
"Tentu boleh."
Melihat Ardhi tidak perlu dipaksa lagi untuk adil, Rita sangat lega, pikirannya saatnya jujur pada Risma, dan mengajak wanit itu hanya pergi berdua dengannya.
Sedang Ishana, setia menundukkan pandangan matanya, melihat sorot mata Risma, seakan terlontar kemarahan Risma.
Tega kamu Na!
Kamu tau kalau hal itu meyakitkan bagi aku, kamu malah melakukannya!
Khayalan Ishana tentang kemarahan Risma.
__ADS_1
"Mama mau pergi belanja bulanan setelah ini, ada yang mau ikut mama?" tawar Rita.
"Aku ikut ya ma, lama aku gak pergi bareng mama," sela Risma. Jantung Risma berdetak tidak menentu menunggu jawaban Rita, akhir-akhir ini dirinya selalu membuat Rita marah.
"Boleh banget sayang," jawab Rita, karena memang itu tujuan Rita, dia ingin berdua dengan Risma.
Sumpah demi apa? Mama kembali baik sama aku?
Risma sangat bahagia.
Sial, ni wanita mandul mulai pendekatan lagi ke mama Rita, bahaya!
Namun Eva tidak bisa apa-apa, dirinya ada pertemuan dengan klien bisnisnya, dan Rita tahu hal itu.
"Ishana mau ikut?" ajak Rita.
"Maaf bu, saya mau kerja malam ini, apa ibu keberatan kalau saya ingin istirahat?" Ishana sangat menyesali jawabannya, namun apa daya, tenaganya sangat lemas, pertarungan panjang dengan Ardhi tadi malam menguras segalanya.
Ardhi tersenyum mendengar jawaban Ishana, dia mengerti wanita itu lelah melayaninya. Kebahagiaan Ardhi kian meledak, melihat Rita kembali menyayangi istrinya yang lain.
"Tidak apa-apa, ya sudah, kita semua lanjut sarapan."
Selesai sarapan, Eva pergi dengan urusan bisnisnya, Ardhi ke kantor, dan Ishana mengisi kembali tenaganya yang terkuras tadi malam dengan beristirahat di kamarnya.
Rita masih sibuk di dapur berdiskusi dengan para pelayan, mengumpulkan list belanja yang habis. Sebenarnya ini bukan tugas Rita, namun niat Rita ingin berbelanja supaya bisa berbicara dari hati ke hati dengan menantunya. Rencana Rita lancar, karena Ishana menolak mengikuti dirinya dan Risma.
Sedang Risma, dia berjalan-jalan seorang diri di pekarangan rumah, dia bosan menunggu Rita belum juga selesai. Sepasang mata Risma berbinar kala menyadari ada sosok yang bersantai di samping kolam renang. "Papa ...."
Risma segera berlari mendekati sosok itu. "Papa ...." sapa Risma.
Sontak laki-laki itu menoleh padanya. Terlihat senyuman itu tertuju untuk Risma.
"Papa sudah sehat?" Risma sangat bahagia.
"Maafin Risma, karena Risma membuat papa kecewa."
"Papa yang minta maaf, mimpi papa menghancurkan hati seorang istri," sesal Wisnu.
Risma semakin merasa kuat, dia merasa dukungan kedua orang tua Ardhi kini ada padanya.
"Tapi sekarang semuanya sudah terjadi, Eva dan Ishana sudah masuk dalam kolam rumah tangga kalian, papa hanya berharap, kalian semua tetap rukun, jangan memanfaatkan yang lain demi keuntungan diri sendiri, dan menyingkirkannya kala tidak memerlukan lagi."
Ishana berusaha tersenyum, walau perasaannya kalut.
Pandangan mata Wisnu lurus kedepan. "Eva, wanita itu penuh ambisi, jika Ardhi takluk padanya, maka dia menyingkirkan kalian berdua."
"Tapi, jika dia tidak mampu memiliki Ardhi, sangat mudah memintanya pergi dari hubungan ini. Karena setelah dia melihat di mana posisinya, wanita seperti Eva akan mengejar mimpi yang baru."
"Sedang Ishana, dia terlalu baik untuk kau seret dalam ikatan ini."
Risma hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Dicintai atau tidak dicintai Ardhi, dia akan berada dalam ikatan ini, wanita seperti Ishana, sangat menghormati suatu komitmen."
"Ishana tidak memiliki ambisi untuk menguasai, kamu beruntung punya madu seperti dia, karena bagaimanapun keadaan kamu, di manapun posisi kamu, Ishana selalu mengutamakan kamu."
"Papa sangat berharap, kalian semua akur, itu saja. Kenapa papa berbicara denganmu seperti ini? Karena kamu lah pemimpin dalam hubungan ini. Keputusan Ardhi karena dirimu, karena kamu sangat berharga bagi Ardhi."
Ucapan Wisnu barusan, menghapuskan segala rasa kecewa Risma sebelumnya.
__ADS_1
***
Di kamar Eva, wanita itu mematung memandangi 3 kartu kredit diatas meja riasnya.
Saat ini uang tidak menarik perhatiannya lagi, hatinya ingin Ardhi dan mendapat sedikit tempat di hati Ardhi.
Drrttt ....
Getaran handphone itu membuyarkan lamunan Eva.
Eva, sampai kapan pun aku tetap menunggu kamu, aku akan berhenti menunggu saat aku benar-benar yakin kamu bahagia dengan pernikahanmu.
Edwin. Laki-laki itu terus mengiriminya pesan. Eva membiarkan pesan itu tanpa membalasnya.
Rita sangat bahagia, akhirnya dia memiliki waktu untuk berduaan dengan Risma. Batinnya sangat tersiksa memendam semua ini seorang diri.
"Risma mana bi?" tanya Rita pada bi Atin.
"Sepertinya sama Tuan, mereka asyik mengobrol di samping rumah."
Rita segera menuju tepat yang bi Atin maksud, benar saja di sana ada Risma dan Wisnu. "Risma, ayok kita berangat sayang ...."
"Iya ma."
"Papa, mama izin pergi sama Risma, papa jaga kesehatan."
"Iya mama," sahut Wisnu.
Dua wanita itu pun pergi dengan 2 buah mobil. 1 mobil diisi oleh 2 pelayan, sedang Risma dan Rita, berangkat dengan mobil yang Risma kemudikan.
***
Bahagia.
Saat ini Risma sangat bahagia, dia selama ini merasa kehilangan kasih sayang Rita, kali ini dirinya mendapatkan itu kembali.
"Mama ini gimana mah?" Risma memberikan melon yang dia pilih.
Rita mengetuk perlahan buah itu, mendengar bunyi apa yang terhasilkan dari ketukkan itu. "Bagus sayang, masukan keranjang belanja, selesai belanja, kita jalan-jalan dulu, biar mereka pulang bawa belanjaan kita," ucap Rita.
"Baik mah." Risma tidak bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya lagi.
Keperluan yang mereka cari mulai memenuhi troli belanja mereka. Setelah semua mereka beli, Rita meminta Abim dan pelayan yang lain langsung pulang, sedang dirinya bersama Risma menuju tempat lain, menghabiskan waktu untuk bersama-sama.
Tujuan Rita dan Risma kali ini adalah sebuah mall, tempat perbelanjaan besar di kotanya.
Menantu dan mertua itu terlihat begitu akur, seakan tidak pernah terjadi gesekkan diantara keduanya.
Rita mulai berburu beberapa barang branded, melihat barang yang Rita pilih, Risma sudah bisa menebak itu untuk siapa.
Baru saja dia merasa terbang keatas awan, seketika dirinya kembali terhempas ke tanah lagi.
"Setelah belanja semua ini, mama ingin bicara sama kamu, banyak hal yang ingin mama bicarakan."
Hati Risma sudah terlanjur hancur lagi, namun dia berusaha bersikap biasa-biasa saja.
***
Maaf ya baru nongol, mood nulis aku seketika buyar, dah baca berulang kali kerangkaku, tetep aja kehilangan rasa aku.
__ADS_1
Mohon maaf kalau update terbaru terasa hambar.
Pada penasaran kenapa mama Rita jahat pada bab sebelumnya, insya allah, akan ada bab akan datang ceritanya 🙈🙈🙈