Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 44 Memulai


__ADS_3

Setelah semuanya tenang, Ardhi memberikan apa yang dia janjikan pada Edwin dulu, bahkan dia memberikan lebih dari itu.


"Berbahagialah, dan jaga selalu cintamu," pesan Ardhi.


Berselang beberapa tahun kemudian, Eva dan Edwin akhirnya menikah, dan dikaruniai seorang bayi laki-laki di pernikahan mereka.


Eva meneruskan kembali usahanya, sedang Edwin memulai usaha yang baru. Kehidupan rumah tangga yang Eva impikan, dia dapatkan pada pernikahan keduanya.


****


Walau dalam ikatan ini hanya tertinggal dirinya dan Ardhi, Risma selalu menceritakan sosok Ishana dan Eva, pada Dhifa. Sehingga rasa cinta Dhifa tumbuh untuk dua orang yang disebut mamanya sebagai mama Dhifa yang lain.


"Dhifa anak yang istimewa, Dhifa punya banyak mama, ada bunda, ada mama Ishana, dan momy Eva."


Hal yang sering Risma ingatkan pada putrinya.


**


7 tahun kemudian ....


Happy birthday to you ... happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday ... Dhifa .....


Riuh suara tepuk tangan terdengar kala seorang gadis kecil mengenakan gaun Princess meniup lilin yang menancap pada kue ulang tahunnya.


"Yeay ..., selamat ulang tahun sayang." Ciuman dari Ayah Bundanya mendarat di pipi kanan dan kiri Adhifa.


"Selamat ulang tahun cucu oma yang paling cantik!" Rita juga tidak mau ketinggalan mencium cucu kesayangannya.


Dari kejauhan, seorang anak kecil berlari begitu semangat membawa kado kecil yang ada di tangannya.


"kakak Dhifa, maaf Davi tellambat." Pria kecil itu memberikan kado yang dia bawa pada Dhifa.


"Terima kasih Davi."


Davi adalah anak yang lahir dari pernikahan Eva dan Edwin, bocah laki-laki itu berumur 4 tahun.


Hubungan Eva dan keluarga Ardhi lumayan baik, walau keduanya telah menjalani rumah tangga masing-masing.


"Momy sama Daddy Davi mana?" Dhifa berharap mama keduanya juga hadir di acara ulang tahunnya.


"Maaf ya Dhifa, Momy Eva lagi bekerja, jadi yang datang cuma suster Amy sama dedek Davi," ucap wanita berseragam babysitter pada Dhifa.


Kecewa, tapi Dhifa tidak mau memperlihatkan kesedihannya. Ayah dan Bundanya sudah mengorbankan banyak hal untuk pesta ulang tahunnya hari ini.


Dhifa mencoba mengalihkan kesedihannya, dia bermain bersama teman-teman yang hadir di pesta ulang tahunnya.


Semua anak-anak sangat asyik bermain dengan rekan permainan mereka, sedang para orang tua melepas rindu pada kesempatan ini, pekerjaan dan kesibukan masing-masing membuat pertemuan ini seperti ajang reuni para orang tua.

__ADS_1


"Bunda, bukannya itu Syaila adiknya Nara?" Ardhi menunjuk kearah wanita yang tengah asyik menyuapi putrinya makan.


"Iya, anaknya Syaila bunda undang juga," sahut Risma.


"Ngomong-ngomong Nara di mana? Setelah berita viral 5 tahun yang lalu dia menampar putri tunggal CEO, dia tidak pernah lagi terdengar."


"Bunda juga sudah berusaha cari kabar dia, tapi Syaila juga tidak mau mengatakan di mana Nara."


"Kalau dia dalam masalah biar Ayah berusaha bantu dia."


"Kata Syaila, Nara baik-baik aja."


"Hmm, kata itu juga yang Ayah terima dari utusan Ayah, saat Ayah mengirim orang untuk membantu Nara."


"Tapi kejadian itu terasa sangat tertutup, bahkan sudah 5 tahun berlalu, tidak ada yang tau siapa putri CEO yang Nara tampar waktu itu, katanya mereka yang menangkap hal itu dengan rekaman kamera handphone mereka, diancam oleh pengusaha di sana." Ardhi berusaha mencari tahu, siapa yang Nara tampar, namun sampai saat ini dia tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya.


"Yang penting Nara tidak menjadi tawananan oleh mereka, mungkin saja wanita itu yang menyebabkan gagalnya pernikahan Nara, Ayah pasti masih ingat, pembatalan pernikahan Nara, tidak jauh dari kejadian itu."


Ardhi berusaha mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Bunda benar, tidak lama setelah itu, pernikahan Nara dibatalkan."


"Bunda undang istri dan anak Pajri?"


"Bunda tidak undang, keluarga Ishana seolah tidak mau mengenal keluarga kita, bunda berusaha menerima itu, karena rasa sakit yang bunda beri terlalu dalam."


"Ayah ... Bunda ...."


"Iya sayang ...." sahut Risma.


"Kado dari teman-teman dan dari oma, sudah aku dapat, aku belum dapat kado dari kalian," teriak Dhifa begitu semangat.


"Dhifa sayang mau kado apa?" sahut Ardhi.


"Emm Dhifa mau minta seorang adik, kata Davi, dia akan punya adik, nah Dhifa juga mau punya adik kayak Davi."


"Bunuh saja aku Ris!" Gerutu Ardhi.


Anak, karena tujuan itu semua luka itu tercipta. Rasanya Ardhi tidak kuat lagi jika harus menghadapi hal serupa karena permintaan Dhifa.


"Jangan begitu, kita akan kasih pengertian pada Dhifa, nanti aku akan sering-sering bawa dia ke Panti, biar dia merasa punya banyak saudara." Risma berusaha menenangkan Ardhi. Laki-laki itu seketika stres karena permintaan Dhifa.


"Hidup kita 7 tahun ini sudah sangat indah sayang, aku tidak ingin ada perubahan lagi."


Risma mengalungkan kedua lengannya pada pundak Ardhi. "Terima kasih atas 7 tahun yang indah ini."


"Ayah ... Bunda ...." teriakkan itu seketika membuyarkan keromantisan yang barusan tercipta.


"Iya sayang, secepatnya kamu akan dapat adik dan kakak," sahut Risma.

__ADS_1


Dhifa sangat bahagia mendapat jawaban dari bundanya. Gadis kecil itu melompat-lompat kegirangan.


Pesta ulang tahun itu pun usai.


Risma berharap Dhifa lupa akan keinginannya. Hari demi hari berlalu begitu saja, Risma lupa, memori anak kecil begitu kuat, mereka dengan jelas mengingat janji yang diberikan pada mereka.


Dhifa memandangi setiap jalan yang dilaluinya, setiap hari Risma mengantar dan menjemput putri kecilnya sekolah.


"Bunda, kapan bunda kasih Dhifa adik?"


"Sekarang juga boleh," sahut Risma.


"Kata Davi, lama adik itu baru lahir dari perut momy Eva."


"Adik itu, tidak harus lahir dari perut yang sama, selama Dhifa dan adik Dhifa bisa saling menyayangi dan menjaga, maka itu adik Dhifa, dan kalian bersaudara."


Risma melajukan mobilnya menuju panti Asuhan Bunda Aiswa. Sesampainya di sana, Dhifa terus memandangi keadaan sekitar.


"Kenapa kita ketempat Oma Aiswa?"


"Katanya mau adik?" Risma memberikan tangannya untuk Dhifa.


Dhifa segera meraih tangan bundanya, dan turun dari mobil. Matanya memandang kearah anak-anak seumurannya yang tengah bermain.


"Di sini, banyak saudara Dhifa loh, tapi mereka semua tidak punya Ayah dan bunda."


"Dhifa tau, bunda dan Almarhumah mama Ishana besar bersama di panti Asuhan ini."


"Kami tidak punya Ayah dan Bunda, tapi kami besar sebagai saudara."


"Sekarang Bunda punya keluarga, punya anak yang hebat dan cantik seperti Dhifa, coba lihat mereka semua nak."


Dhifa mengamati setiap anak panti yang masih asyik bermain.


"Bunda kasian mereka, Bunda menganggap mereka adalah anak-anak Bunda, nah jadi ...." Risma berusaha membuat Dhifa mengerti.


"Iya Dhifa faham, jadi mereka adalah saudari Dhifa."


"Anak pintar, bunda bangga sama kamu. Emm besok kamu cari baju-baju kamu yang tidak mau kamu pakai atau mainan kamu, nanti kita ke sini lagi, kita kasih buat mereka."


"Iya bunda."


Risma dan Dhifa menghabiskan waktu mereka bermain di panti Asuhan, terlihat Dhifa lebih sering menghabiskan waktu di kamar yang dihuni oleh beberapa bayi, mereka penghuni baru Panti Asuhan ini.


***


Selamat main tebak-tebakkan, kira-kira siapa yang Nara tampar 5 tahun yang lalu?

__ADS_1


__ADS_2