Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 26 Paku Kertas


__ADS_3

Degarrr!


Suara petir yang menggelegar membuat Risma tersentak dalam tidurnya. Pikirannya kosong, tidak tau memikirkan siapa. Namun hatinya merasakan perasaan aneh.


Risma membuang semua rasa yang dia sendiri tidak tau itu apa, dan kembali memejamkan kedua matanya.


Di kamar Ishana.


Kekuatan gempa yang hanya berpusat pada tempat yang berukuran 180×200 cm itu terus begoncang hebat tanpa henti. Goncangan hebat itu bukan hanya menggetarkan bagian tubuh fisik dua insan yang berada di sana, namun mengoncangkan jiwa mereka.


Andai ini sebuah hotel, atau rumah di mana penghuninya hanya mereka berdua, suara itu pasti mereka lepas. Ishana terus menutup mulutnya, kala goncangan hebat itu terus menggoncangkan sekujur tubuhnya, dan menyebarkan bermacam rasa yang sulit untuk diungkapkan.


"Hmppp!"


Menahan rasa itu, menahan luapan bahagia, namun juga menahan rasa sakit. Bukan sakit pada pangkal pahanya, tapi sakit di hatinya, karena terlanjur mencintai laki-laki yang dicintai sahabatnya.


Kamu benar Na, saat aku melihat mas Ardhi melakukannya bersama Eva aku sakit!


Sakit Na!


"Aaa!" Rasanya Ishana ingin berteriak, pertempuran hatinya dan pertempuran naf-su-nya sama hebatnya.


Melihat Ishana seperti itu, Ardhi semakin bersemangat, Ardhi berusaha menahan era-ngan-nya. Kedua bibirnya terkatup begitu rapat, agar suaranya tidak terlepas.


Semakin lama berpacu, membuat Ishana semakin kehilangan kesadarannya. Ubun-ubunnya seakan berasap menahan semua ini.


Proses panjang Iseminasi alami langsung itu akhirnya selesai, ladang Ishana disiram oleh intisari yang terlepas dari tubuh Ardhi.


Wajah Ishana terlihat lemas, Ardhi langsung berbaring di samping Ishana, dan menarik perempuan itu kedalam pelukannya. Upacara barusan, serasa Ardhi mengambil semua tenaganya.


"Maafkan aku, karena aku juga mencintaimu." Terus menghujani wajah Ishana dengan kecu-pan lembutnya.


"Aku lebih bahagia andai kakak tidak mencintaiku, karena rasa cinta ini sudah seperti pengkhianatanku pada Risma." Suara Ishana terdengar begitu lemas.


"Itu tidak benar, Risma yang meminta ini." Ardhi mengusap lembut bagian rambut kepala Ishana.


"Aku putus asa dengan perasaanku padamu, aku mengajaknya pergi hanya berdua, karena aku tidak mau dia merasa sakit oleh rasa yang terbagi, namun dia tidak mau. Aku sudah bilang, ini perasaan bukan robot yang bisa ku atur. Tapi dia tetap menginginkan hubungan ini."


"Sama." Ishana membalas pelukan Ardhi. Menggesekkan wajahnya pada permukaan dada bidang itu.


"Aku sudah meminta izinnya untuk keluar dari hubungan ini, karena aku tidak mampu berhenti mencintai kakak."


Jantung Ardhi berpacu semakin cepat, pikirannya selama ini hanya dia yang mencintai Ishana.


"Aku ingin pergi membawa cintaku, tapi Risma melarangku."


"Risma yang menginginkan semua ini, maka kita jalani sama-sama."


"Untuk adil, akan sulit bagiku. Definisi adil saja aku tidak faham. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha adil untuk kalian bertiga."


"Bersikap biasa saja di depan semua orang, demi menjaga hati Risma, sedang kakak cobalah lebih keras dekati Risma. Kehadiran Eva diantara kita bertiga meruntuhkan bagunan yang ada dalam hati Risma.


"Aku selalu berusaha mendekatinya, tapi dia selalu menolak."


"Jangan berhenti, semua itu karena dia juga cinta kakak."

__ADS_1


"Iya, aku akan berusaha mendekatinya."


"Tetaplah di sampingnya walau kalian saling diam, karena kehadiran kakak di sampingnya seperti tetesan air yang terus mentes diatas batu, tidak membekas, namun karena sering ditetesi air batu itu perlahan akan berlubang, walau butuh waktu lama."


"Aku akan berusaha."


Ishana terlalu lemas, akhirnya kedua matanya terpejam rapat, dan mengantarkannya pada alam mimpi. Rasa senang dan bahagia menyelimuti hati Ardhi, sejak Eva hamil, dia tidak bisa melakukan ritual ini atas dasar cinta, Risma yang dia cinta selalu menolak dirinya, karena alasan tidak rela didatangi secara diam-diam.


Melakukannya dengan Eva, semata memenuhi permintaan Eva. Kali ini, akhirnya Ardhi merasakan rasa cintanya bersambut dalam kerjasama timnya bersama Ishana.


I love you, Na ....


Ardhi semakin mengencangkan pelukannya, tubuh mereka pun semakin rapat, perlahan Ardhi pun terlelap.


Rintik hujan di luar rumah mulai reda, namun hawa dingin yang tertinggal semakin memanjakan tubuh yang tertidur lelap berbalutkan selimut.


Jam menunjukkan 02:45, Ardhi terbangun dari tidurnya. Senyuman terukir di wajahnya. Akhirnya dia dan Ishana benar-benar menjadi suami istri.


Ardhi melepaskan pelukannya, dan perlahan merebahkan Ishana pada bantal.


"Na ...." Ciuman lembut mendarat diantara kedua alis Ishana.


Sepasang mata milik Ishana mulai mengerjap. "Hmm ...." sahutnya.


Niat hati Ardhi membangunkan Ishana karena ingin pergi dari kamarnya, bukan hanya membangunkan Ishana dari tidurnya, malah membuat yang lain bangun kala manik matanya beradu tatap dengan manik mata milik Ishana.


Ardhi mengulangi lagi pergulatan yang sama persis seperti beberapa jam yang lalu. Namun kali ini dia mengajari Ishana jadi pemandunya.


Suasana begitu dingin, namun 2 insan di kamar itu bermandikan keringat. Saat hampir mencapai puncak jaya, Ardhi merubah posisi mereka, karena Ishana sudah tidak mampu bergerak.


Degupan iraman jantung yang cepat seakan saling bersahutan. Ardhi masih berusaha menetralkan dentuman detak jantungnya yang tidak beraturan.


10 menit berlalu, keduanya mulai tenang.


"Na, aku pamit ya ...."


Ishana menegakkan wajahnya, hingga matanya bisa memandang dengan jelas wajah tampan penghuni hatinya. Jemari lentik Ishana membelai wajah Ardhi.


"Kalau kamu ingin aku di sini, aku di sini," ucap Ardhi.


"Kakak ingin ke kamar yang lain silakan. Maafkan aku, karena aku terpesona dengan wajah kakak, aku lupa menjawab pertanyaan kakak."


"Love you Na."


Ishana hanya tersenyum, dia tidak punya kesempatan menjawab, karena mulut Ardhi membungkan mulutnya.


Ardhi menyudahi tautan mereka. "Aku pamit."


Ishana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedang Ardhi, langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar Ishana. Hanya beberapa menit, laki-laki itu keluar dengan handuk yang melingkar dipinggangnya, dia melangkah begitu saja menuju ruang ganti.


Ardhi mengenakan setelan santainya, sepasang matanya terus memandangi Ishana, sedang sebelah tangannya menggesekkan handuk pada rambut kepalanya, untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Butuh bantuan?" tanya Ishana.


"Tidak usah."

__ADS_1


Namun Ishana tetap bangkit walau sekujur tubuhnya tidak tertutup oleh sehelai benang pun.


Dia meraih hairdrayer miliknya dan membantu mengeringkan rambut Ardhi dengan benda yang mirip pistol itu.


Rambut Ardhi kering sempurna.


"Sudah kering, sana pergi."


"Makasih Na."


Ishana hanya tersenyum.


Setelah Ardhi menghilang dibalik pintu, Ishana mengunci pintu kamarnya.


Air mata seketika mengalir deras membentuk anak sungai di pipinya. "Maafkan aku Risma ...." Tubuh Ishana perlahan merosot ke lantai.


Benci dengan dirinya sendiri, kenapa dia menyerahkan dirinya.


Benci dengan dirinya sendiri, kenapa dia mencintai laki-laki yang sama dengan sahabatnya.


Ishana tidak mampu menggentikan tangisnya, perlahan dia menyeret kakinya menuju kamar mandi, dan kembali menumpahkan tangisnya di bawah guyuran shower.


Sedang Ardhi, melangkahkan kaki keluar kamar Ishana, dia menuju kamar Risma. Ardhi memberanikan diri memutar gagang pintu kamar Risma.


Terbuka ....


Ardhi bahagia, padahal biasanya Risma selalu mengunci rapat pintu kamarnya.


Ardhi pun langsung masuk ke kamar Risma, dan naik ketempat tidur itu, melingkarkan sebelah tangannya pada perut ramping Risma.


"Aku kangen kamu Ris." Kecupan lembut Ardhi mendarat di bagian kepala Risma.


"Jangan menyentuhku! Tidak sudi aku didatangi seperti selingkuhanmu!" Risma menepis tangan kokoh itu.


"Kehamilan Eva dan tanggung jawabku yang lain membuat aku harus seperti ini, tolong mengerti aku Risma."


Risma menjauhkan tubuhnya dari Ardhi, menaikkan selimut tebal sampai batas pundaknya.


"Iya, aku tau kamu pasti jijik padaku, karena paku yang selama ini hanya bertugas mencomblosmu malah mencoblos kertas yang lain, tapi izinkan aku di sisimu Ris, karena aku sangat rindu kamu."


Risma tidak menyahut, hatinya senang Ardhi selalu berusaha mendekatinya, namun egonya terlalu tinggi untuk menunjukkan kalau dirinya bahagia Ardhi memperjuangkan dirinya.


"Hubungan rumit ini kamu yang mau, aku sudah berusaha menyisakan hubungan ini hanya ada kau dan aku, tapi kamu menolak."


Risma terdiam, dia tidak mampu menjawab ucapan Ardhi. Saat Risma menghadapkan tubuhnya, laki-laki itu sudah memejamkan matanya begitu rapat.


***


Berbagi Cinta tak senikmat berbagi es cendol, jadi Ishana, Eva, maupun Risma, semuanya sakit.


Yang masih kuat baca, semoga karya ini menghibur kalian, aku yang nulis aja sering nangis, butuh waktu lama buat lanjut 🤣🤣🤣


Menempatkan diri pada posisi Ishana maupun Risma, sama-sama sakit. Menempatkan diri pada posisi Ardhi bikin kepala mumet,🤣🤣🤣


Terima kasih sobat halu ku 🤗

__ADS_1


__ADS_2