
Risma bersandar di pundak Ardhi begitu nyaman. Ardhi mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Risma.
...Kutuliskan kenangan tentang...
...Caraku menemukan dirimu...
Sambil bernyanyi, Ardhi terbayang pertemuannya dengan Risma saat pertama kali.
...Tentang apa yang membuatku mudah...
...Berikan hatiku padamu...
Keceriaan Risma, keberanian, dan kasih sayangnya, membuat Ardhi tidak berpikir lebih jauh lagi mengajak Risma masuk pada hubungan pernikahan. Ardhi meneruskan nyanyiannya.
...Takkan habis sejuta lagu...
...Untuk menceritakan cantikmu...
...'Kan teramat panjang puisi...
...'Tuk menyuratkan cinta ini...
...Telah habis sudah cinta ini...
...Tak lagi tersisa untuk dunia...
...Karena telah kuhabiskan...
...Sisa cintaku hanya untukmu...
...Aku pernah berfikir tentang...
...Hidupku tanpa ada dirimu...
...Dapatkah lebih indah dari...
...Yang kujalani sampai kini?...
Risma tersenyum mendengar nyanyian Ardhi. "Walau aku mati, tapi aku masih hidup di hati mas, dan dalam dunia mas ada Ishana, wanita yang persis sepertiku, tapi dia versi sempurnanya."
Ardhi melingkarkan tangannya di pundak Risma. "Andai ada keajaiban, aku ingin kamu sehat dan berumur panjang, hingga kita bisa membesarkan Dhifa, dan menua bersama."
"Saat aku tak lagi di sisimu, ku tunggu kau di keabadian."
"BCL" ledek Ardhi.
"Terima kasih atas semua yang mas beri padaku, dan selama bersamamu aku bahagia."
"Maafkan aku, mas. Keridhaan kamu adalah kunci surgaku. Do'a kan aku ya mas, semoga aku bisa masuk surga, maafkan segala kesalahanku, dan semoga kita semua, juga anak-anak kita, bisa berkumpul di sana."
"Aamiin." Ardhi tidak mampu menahan tangisannya. Dia menarik Risma kedalam pelukannya.
__ADS_1
Ishana dan tiga anaknya baru memasuki ruangan itu, melihat Ardhi dan Risma berpelukan, Ishana menahan langkah kaki Dhifa.
"Kita lihat dari sini dulu, kasih Ayah sama Bunda kesempatan untuk berduaan."
Dhifa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ishana mengajak ketiga anaknya duduk leseh di lantai, menyaksikan romantisnya Ardhi dan Risma.
"Mas, kamu masih ingat apa yang kamu lapazkan menjelang malam pertama kita."
"Hmmm." Ardhi tersenyum.
"Ucapkan mas, dan jangan lupa lapazkan do',a itu ketika mas menjelang ehem sama Ishana ya."
Rabbana hablana, min Azwazina, Wa Dzurrriyatina, Qurrata A'yun, Waj'Alna Lilmuttaqina Imamaa.
Risma tersenyum dan semakin dalam bersandar pada dada bidang Ardhi.
10 menit berlalu, Risma masih diam.
"Sayang …." Ardhi mengguncang perlahan tubuh Risma, namun si pemilik tubuh tidak juga bergerak.
"Sayang …, kamu baik-ba--" Ardhi tidak mampu meneruskan kata-katanya, Risma tidak bereaksi apapun. Ardhi mulai cemas, dia memeriksa denyut nadi Risma, namun tidak merasakan apapun di sana.
"Sayang …." Ardhi semakin panik.
Melihat keadaan itu, Ishana pun ikut panik.
"Risma kenapa mas?"
Pertanyaan Dhifa dan Ishana terlontar bersamaan.
Ardhi tidak sanggup menjawab, dia memeluk erat tubuh Risma yang sudah tidak bernyawa, tangisannya pun menggema di ruangan itu.
"Bundaa …." Dhifa pun menjerit, menyadari kalau ibunya benar-benar pergi.
Ishana berusaha menenangkan Dhifa dan memeluknya, walau tetesan air matanya juga tidak mampu dia tahan.
"Bunda …." Jerit Dhifa berulang.
"Ikhlasin bunda ya sayang." Ishana berusaha menenangkan Dhifa.
Suasana Panti yang tadi ceria, seketika diselimuti duka, putri terbaik Panti ini pergi untuk selamanya.
Jenazah Risma pun di bawa ke kediaman Ardhi. Berita duka yang menyelimuti keluarga Pramudya begitu cepat menyebar, hingga kediaman Ardhi pun dipenuhi oleh para pelayat.
Dhifa tidak berhenti menangisi kepergian sang bunda, Dina dan Rian terus berusaha menguatkan saudara mereka.
"Dhifa jangan sedih, nanti bunda Risma juga sedih kalau lihat Dhifa sedih, bukankah kata Dhifa, bunda akan ke surga?" ucap Dina.
"Iya Dhifa, di sini ada kami dan mama Ishana menemani kamu." Rian juga selalu berada di samping Dhifa.
Suasana pemakaman Risma.
__ADS_1
Semua orang yang mengenal Risma turut mengantar Risma ke peristirahatan terakhirnya. Nara dan suami, semua pengurus Panti, keluarga Ishana, dan banyak lagi.
Sedang di dekat pusara Risma, Ardhi berdiri di samping Ishana dan ketiga anak mereka. Ardhi menatap sayu pada nisan yang bertuliskan nama Risma Eriska, dan di samping nisan itu, ada foto Risma yang menyunggingkan senyuman yang begitu manis.
Wanita ini. Ardhi melingkarkan pergelangan tangannya dipunggung Ishana, menggandeng wanita itu. "Dia adalah wanita yang kau pilih untuk menjadi istriku. Aku akan bersaha mencintai dia Ris."
Kehidupan kita tidak mudah, kita terombang-ambing oleh badai kehidupan, terima kasih, karena kamu setia sampai akhir hayatmu.
Ishana menoleh kearah Ardhi, dia bisa merasakan bagaimana kesedihan laki-laki itu.
Kamu yang tenang di sana Ris, aku akan menjaga laki-laki yang sangat kamu cinta.
Aku memahami dilema kamu Ris, kamu hanya ingin suamimu baik-baik saja, walau kamu sudah berbeda alam dengannya.
****
Satu bulan berlalu.
Kehidupan mulai berjalan baik-baik saja, walau Risma telah tiada, tapi dia tetap hidup di hati orang-orang yang mengenalnya.
Walau telah menikah 3 bulan yang lalu, Jully masih memilih menetap di rumah kedua orang tuanya, dia tidak ingin Dewi merasa kesepian jika tinggal di rumahnya. Jika tinggal di rumah kedua orang tua Jully, Dewi sangat mudah menengok Ayahnya, karena rumah mereka bersebelahan.
Jully bersiap menuju Rumah Sakit baru tempatnya bekerja, setelah meninggalkan Ishana, dia tidak punya wajah jika masih bekerja di Rumah Sakit milik Ardhi, walau pun Ardhi tidak mempermasalahkannya, hanya saja Jully tidak punya nyali jika suatu saat bertemu dengan Ishana. Apalagi sekarang Ishana istri Ardhi. Jully beruntung karena segala urusan kepindahannya berjalan lancar.
"Bang Jully, kak Dewi mana?" tanya Tias.
"Tadi pagi dia izin menengok Bapaknya."
"Abang beneran bisa mencintai Dewi? Padahal lebih dari 7 tahun abang berjuang mendapatkan cinta abang." Tias merasa prihatin dengan kakaknya, dia bisa merasakan kalau kakaknya tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Hak seorang istri pada suaminya tidak hanya nafkah lahir, tapi juga nafkah batin. Yang berstatus Istri berhak mendapatkan rasa cinta, kasih sayang, juga penghormatan dari suaminya. Dewi istri abang, sebisanya abang menjaga perasaannya dan mencurahi dia dengan kasih sayang. Abang tidak wajib memberinya nafkah lahir saja, tapi juga nafkah batin, hanya saja abang harus berproses sedikit demi sedikit."
Dewi tersenyum mendengar semua kata-kata Jully, dia mengira Jully baik padanya hanya karena pelarian belaka. Sampai detik ini, Jully belum menyentuh dirinya, alasan Jully dirinya masih lemah, dan harus lebih sehat lagi baru Jully akan menunaikan kewajibannya.
"Tapi bagaimana--"
"Masa lalu, biar berlalu Tias. Saat ini Dewi masa depan abang."
Tias terdiam mendapatkan jawaban Jully, padahal dirinya hanya ingin membantu perasaan abangnya.
"Abang pergi dulu, kalau ada Dewi nanti katakan kalau abang sudah pergi."
Tias hanya menganggukan kepalanya merespon kata-kata Jully.
Sesampai di Rumah Sakit baru, Jully segera melakukan semua tugasnya. Semua pekerjaan selesai, Jully istirahat sebentar di ruangannya sebelum melanjutkan pekerjaan yang akan menyambutnya lagi.
Melihat koran yang diatas mejanya, koran itu memuat wajah Ardhi dengan full halaman, Jully tertarik membaca berita itu.
Wardana Group dan Shafiq Group bersatu. Ardhi Pramudya, resmi menjadi penerus Shafiq Group dan Nyonya Shafina Azzalea Shafiq mengundurkan diri.
"Ternyata aku bukan jodohmu Na, andai aku suami kamu, siapa yang melanjutkan perjuangan mama kamu? Ardhi orang yang tepat, dan dia pantas bersanding denganmu Na. Dia bisa meneruskan usaha yang mama kamu bangun selama ini. Bahagia selalu Ishana."
__ADS_1