
Eva berusaha tersenyum, kala dia menyadari Ardhi berada di depan matanya.
"Terima kasih, mau memenuhi permintaanku."
Ardhi hanya tersenyum, dan menarik salah satu kursi yang ada di dekat Eva. "Katakan ada apa?" ucap Ardhi.
"Aku hanya ingin bertanya tentang hatimu."
Kedua alis Ardhi tertaut mendengar pertanyaan Eva. "Hati?"
"Aku tau, aku tidak punya tempat di sana, tapi andai aku ingin bertahan pada ikatan ini, bisakah kamu memberiku sedikit tempat di sana?"
"Aku seorang istri, dan aku sangat berharap mendapatkan cintamu walau sedikit."
"Mau jawaban jujur apa bohong?" tanya Ardhi.
"Jujur, walau sakit aku tidak masalah, aku siap."
"Maafkan aku, untuk saat ini aku belum bisa mencintai kamu, aku berusaha Va, tapi ini perasaan, apa yang tumbuh, aku tidak mampu mematikannya, apa yang tidak mau tumbuh, aku tidak kuasa memaksanya tumbuh."
Sakit, harapan Eva terlalu tinggi, kepercayaan dirinya terlewat batas. Wajah cantik dan body seksi yang dia miliki tidak membuat Ardhi bisa mencintai dirinya.
"Pernahkah kamu, melakukan sesuatu untukku demi aku, bukan demi anak kita?"
Ardhi menggelengkan kepalanya. "Maaf."
Hanya kata maaf yang mampu dia ucapkan, dirinya tidak mampu merayu wanita walau hanya dilisan saja.
"Hanya itu yang ingin aku tanyakan." Eva mencoba tersenyum, walau hatinya terasa sakit.
"Jangan khawatir tentang bayi ini, aku akan menjaganya hingga dia lahir nanti."
"Maafkan aku."
"Tidak perlu meminta maaf, yang salah juga bukan cuma kamu, tapi aku."
Merasa obrolan mereka selesai, Ardhi kembali ke kantornya.
Sedang Eva, hatinya tidak mampu lagi menolak Edwin, laki-laki itu selalu memberi perhatian padanya Eva lelah berjuang sendiri untuk meraih tempat pada hati Ardhi, jangankan berkuasa sepenuhnya, berada di sudutnya saja dia tidak diterima.
Eva putuskan, setelah melahirkan anak Ardhi, dia akan pergi dari ikatan poligami ini. Sakit bertahan dalam ikatan tanpa cinta.
Eva pulang ke rumah Ardhi dengan perasaan hampa. Di rumah itu hanya ada Ishana dan Risma, keduanya terlihat santai di ruang tamu rumah itu
"Eva sudah pulang?" Ishana berusaha menyambut Eva.
"Iya sudah, urusanku sudah selesai," sahut Eva.
Namun Risma tetap seperti dulu, Risma masih saja memperlihatkan penolakannya.
"Na, boleh minta tolong?" tanya Eva.
"Iya Va?"
"Boleh buatin aku susu kehamilan aku? Tapi, yang rasa coklat, pakai sedikit es ya, aku haus banget."
Ishana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu sekarang jadi pelayan dia Na?!" bentak Risma.
__ADS_1
"Bukan pelayan, aku hanya membantu, kalian berdua adalah hal berharga kak Ardhi, membantu kalian sama saja membantu kak Ardhi."
"Aku hanya bisa melakukan ini dalam ikatan ini, apalagi yang aku bisa?" tambah Ishana.
"Bisa nanti buat tambah anak," ledek Eva.
"Emm ...." Bibir Ishana mengerucut mendengar candaan Eva.
Eva tersenyum mendengar jawaban Ishana, dari awal wanita itu tidak pernah menganggap dirinya saingan dalam rumah tangga, bahkan sering mengajaknya bercanda.
"Terima kasih Na, selama ini kamu selalu menolongku," ucap Eva.
Ishana lagi-lagi hanya tersenyum, dia segera menuju dapur untuk membuatkan pesanan eva.
Di ruang tamu.
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini padaku Ris?" tanya Eva.
"Sampai kamu berhenti ingin menjadi penguasa dalam ikatan ini!"
"Dalam sebuah kapal hanya ada satu kapten! Biarkan Ardhi menjadi kapten, dan tempatkan dirimu sama sepertiku, kita sama-sama penumpang di kapal ini. Apapun yang berharga yang kamu miliki, status kita sama! Kapal akan hancur kalau kamu berambisi ingin jadi kapten!" ucap Risma.
"Jadi, kalau aku mundur kamu mau bersikap baik padaku?"
"Apa maksudnya?"
"Jika kamu bisa ku percaya menyayangi putriku, aku akan pergi dari ikatan ini," ucap Eva.
Risma tertegun mendengar perkataan Eva. "Aku tidak berharap kamu mundur. Tapi berhenti bersikap seolah kamu penguasa di sini."
"Segala cara sudah ku lakukan untuk bisa dekat dengan kak Ardhi, tapi tetap saja dia tidak bisa menerimaku di hatinya."
"Aku lelah memperjuangkan dia."
"Apa maksud kamu?" tanya Risma.
"Sudah lah Ris, jangan munafik kamu, aku tau kamu mengerti kalau aku menyerah," ucap Eva.
"Aku ingin meninggalkan semua ini setelah anakku lahir, aku memang ibu yang buruk, anakku belum lahir saja, aku sudah berencana meninggalkan dia, tapi aku masih takut, kamu tidak menyayangi anakku, jadi sebelum aku pergi, aku ingin memastikan aku meninggalkan anakku pada orang yang tepat, aku percaya pada Ishana, tapi posisi dia lemah, tidak menutup kemungkinan dia juga kamu depak dari sisi Ardhi, padahal dia orang yang aku percaya yang sungguh-sungguh menyayangi anaku, jadi selain mama Rita, apakah anakku mendapat kasih sayang dari ibunya yang lain?"
Risma belum sempat membuka mulutnya, Ishana sudah datang membawa 3 gelas minuman dengan 2 jenis yang berbeda. 1 gelas dengan minuman yang berwarna coklat, dan 2 gelas dengan minuman dingin berwarna orange.
"Ayo kita minum sama-sama, kebahagiaan itu kita yang ciptain." Ishana memberikan 2 minuman lain pada Risma dan Eva.
"Kadang aku berpikir, kenapa Tuhan begitu tidak adil, mempersatukan kita yang sangat berbeda dengan ikatan ini, satu hal, mungkin Tuhan ingin kita bertiga menjadi saudara," ucap Ishana.
Tidak ada yang menanggapi ucapannya, Ishana merasa bersalah. "Aku salah ucap?" tanya-nya.
"Tidak, aku hanya haus, kamu malah ceramah," ledek Eva.
Ketiga wanita itu segera menikmati minuman dingin mereka.
***
Semenjak pertemuannya dengan Ardhi kala itu, perlahan Eva benar-benar berubah. Dia tidak lagi menuntut Ardhi agar selalu bersamanya. Hal itu Ardhi gunakan untuk membangun kembali ikatannya dengan Risma.
Tidak mudah, wanita itu tetap menjaga jarak dengannya.
"Risma, kamu ingat hadist yang mengingatkan kaum perempuan, yang menolak keinginan suaminya?" ucap Ardhi.
__ADS_1
Namun Risma tetap diam. Dia masih memikirkan ucapan Eva tempo hari.
"Risma, 7 bulan mas tidak pernah mendapatkan perhatian kamu, mas kangen pengen disayang kamu," rengek Ardhi.
"Aku perlu waktu," sahut Risma.
Ardhi bingung, rasanya segala cara dia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Risma, namun tetap saja tidak ada perkembangan.
***
Hari ini jadwal Eva memeriksakan kandungannya pada dokter Sonia. Seperti pada bulan-bulan yang lalu, Rita selalu setia menemani menantunya mendatangi ruang kerja dokter Sonia.
Rumah yang sangat dia rindukan, namun dia tinggalkan sementara, supaya ketiga menantunya bisa memahami posisi mereka masing-masing dan menghormati status yang lain.
"Mama ...." Risma sangat bahagia melihat Rita ada di rumah mereka.
"Hai Risma sayang." Rita membuka kedua tangannya menyambut Risma.
Tentu saja Risma langsung berlari dan masuk ke dalam pelukan Rita.
"Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Eva, kamu ikut juga yuk ...." ajak Rita.
"Nggak apa-apa ma?"
"Ya Enggak apa-apa, aku senang jika kamu mau ikut, biar kamu melihat perkembangan anak kita."
Pandangan mata Risma dan Rita tertuju kearah tangga, terlihat Eva tetap cantik walau dengan perut besarnya.
"Mendingan kamu bersiap sana, ikut sama kami," usul Rita.
Risma pun setuju, dia segera menuju kamarnya untuk bersiap.
Rita berjalan mendekati Eva, membantu wanita itu berjalan menuju sofa terdekat.
"Mama senang, akhirnya Risma berbaikan juga dengan kamu."
"Iya mah, selama ini dia hanya takut," ucap Eva.
"Iya, mama juga mengerti keadaan dia, wanita mana yang tidak tertekan jika berada di possisi dia."
"Mama sama papa kapan kembali ke sini? Rumah ini sangat sepi tanpa kalian," rengek Eva.
"Melihat kalian semua bisa akur tanpa mama, secepatnya, biar kamu ada yang jaga juga." Rita membelai lembut perut Eva.
"Secepatnya ya mah, aku kangen pengen buat mama repot," rengek Eva.
"Jadi, selama mama tidak di sini, siapa yang kamu bikin repot?" Rita mencubit gemas hidung Eva.
"Paling dou pelayanku, dan sesekali Ishana, tapi tidak seru, tidak ada nasehat dari mereka, karena mereka terlalu patuh padaku."
"Dasar!"
Tawa renyah keduanya seakan memenuhi ruang tamu itu.
****
Mohon maaf banget ya, ceritaku jadi kacau, aku down banget kemaren. 😂😂😂
Yang berkenan memberi penerangan untuk miss yang masih tersesat dalam kegelapan, monggo ... dengan senang hati aku terima.
__ADS_1
Aku kembali pada alur awalku.
Tokoh utama dalam novelku 3 orang. Ardhi, Ishana, dan Risma.