Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 14 Suami Kamu Juga


__ADS_3

Perasaan cinta, hanya itu yang Ishana takutkan. Namun kasih sayangnya pada Risma membuat Ishana menepiskan rasa takutnya.


Setelah obrolan penting mereka selesai, ketiganya menuju Panti Asuhan Bunda Aiswa, untuk mengenang indahnya masa kecil mereka, sekaligus membantu aktivitas Panti hari itu.


Ishana, Nara, dan Risma. Senyuman terus menghiasi wajah ketiganya. Melihat keceriaan Risma dan Ishana, orang tidak akan menyangka, kalau dua wanita itu adalah madu.


Selesai pekerjaannya, Ardhi menyusul Risma ke Panti Asuhan. Saat mobilnya memasuki halaman Panti, matanya di sambut pemandangan yang begitu indah. Tawa lepas Ishana dan Risma. Wanita yang sama-sama menghuni hatinya.


Seketika Ishana merasakan perasaan yang aneh, seakan angin sejuk terus bertiup kearahnya. Ishana mengedarkan pandangannya, mencari tahu sebab apa perasaannya mendadak berubah seperti ini.


Kala matanya memandang kearah halaman Panti Asuhan, dia melihat jelas mobil Ardhi terparkir di sana. Terlihat Ardhi keluar dari mobilnya, dua pasang manik mata itupun beradu tatap.


Bagaimana aku menjalani hariku setelah ini? Melihatnya saja jiwaku menggemuruh.


Ishana segera membuang pandangannya ke arah lain. "Ris, suami kamu datang." Namun pandangan mata Ishana tertuju ke arah langit.


Risma mengikuti kemana Ishana memandang. "Mas Ardhi terbang?" ucap Risma, namun dia tidak melihat sosok Ardhi diatas langit


"Di parkiran, cantikkk ...." ledek Ishana.


Risma pun menoleh ke halaman Panti, benar saja, terlihat Ardhi semakin mendekat, senyuman pun terus menghiasi wajahnya.


"Kamu ini Na, Ardhi itu suami kamu juga!" tegur bunda Aiswa.


"Dia suka lupa bu, kalau sudah menikah, untung anak ibu yang satu ini selalu ingat sama saya," sela Ardhi. Ardhi langsung memeluk Risma dan mendaratkan ciuman lembut di pipi kanan Risma.


"Yang satunya tidak Dhi?" sela bunda Aiswa.


"Inilah keadilan bu, ada yang kaya ada yang miskin, ada yang siap selalu, dan ada yang malu-malu." Dengan nyamannya Ishana langsung memeluk pemilik Panti Asuhan yang mereka panggil bunda Aiswa.


Perlakuan Ishana seperti itu membuat Ardhi sulit berhenti mengagumi istri keduanya.


"Kalau kamu mah sering malu-malu-in Na!" sela Nara.


Sesekali Nara memperhatikan kemana Ardhi memandang. Nara tersenyum, dia yakin Ardhi juga merasakan perasaan yang sama terhadap Ishana, seperti perasaan Ishana yang mulai bertumbuh untuk Ardhi. Namun keduanya terlihat masih berusaha mengingkari perasaan yang muncul.


Sore yang indah, Ardhi bisa melihat keceriaan 2 wanita yang sama-sama berharga bagi hatinya.

__ADS_1


Saat sinar sang Surya semakin meredup, mereka pun segera pamit pulang. Ardhi pulang sendiri, sedang Risma, Ishana dan Nara, pulang menaiki mobil yang Risma kemudikan. Setelah mengantar Nara, Risma dan Ishana kembali ke kediaman Ardhi.


Waktu terus berlalu begitu cepat, suasana yang begitu sibuk berpusat di dapur dan meja makan. Setelah semua makanan tersaji, akhirnya tugas para pelayan itu untuk saat ini selesai.


Tidak berselang lama, majikan mereka juga sudah menempati tempat mereka masing-masing.


Malam ini semua anggota keluarga lengkap, termasuk Eva. Wanita itu selalu terlihat cantik dan seksi, membuat hati Risma selalu menciut jika ada Eva di dekatnya. Berbeda jauh dengan Ishana, dia terlihat sangat santai.


"Ardhi, kapan kamu akan menghabiskan malam di kamarku lagi?"


Beruntung makan malam belum di mulai, Rita hanya bisa menahan napasnya mendengar pertanyaan Eva yang terlalu gamblang.


"Maaf, Eva. Kita makan malam dulu," sahut Ardhi.


"Aku ini istri kamu juga, masa kamu hanya menghabiskan waktu sama Risma? Aku bukan Ishana yang pasrah tidak kamu perhatikan, dan masa bodoh kamu mau di mana aja!" protes Eva.


Ishana hanya diam namanya disebut-sebut Eva.


"Eva, sebagai istri muda, kamu harus menghormati madu kamu," tegur Rita.


Ardhi tersenyum, akhirnya mamanya bertindak bijak.


Seketika senyuman di wajah Ardhi lenyap. "Baiklah, aku akan berada setiap 2 malam di kamar kalian bergantian," ucap Ardhi.


"Kenapa kita semua harus satu atap? Apa kamu tidak ada inisiatif memberikan kami rumah masing-masing?" Sela Eva.


Ardhi tersenyum, rasanya tebakkannya pada wanita ini tidak salah lagi. "Aku ingin menghabiskan waktuku bersama kedua orang tuaku, sebab itu aku tidak bisa menempatkan kalian di rumah yang berbeda, kalau kamu mau, boleh. Tapi aku tidak janji untuk datang padamu."


"Kata dokter, waktuku tidak lama lagi, tapi entah, sejak vonis itu, aku masih bisa hidup sampai detik ini," sela Wisnu.


Eva terdiam. Dia berusaha merubah kecanggungan yang dia ciptakan. "Seminggu ada 7 hari, terus 1 harinya kamu di mana?" Eva berusaha membahas topik sebelumnya


"Aku butuh waktu untuk sendiri, 1 malam itu mungkin aku habiskan di ruang kerjaku."


Kepercayaan diri Risma meningkat, karena Rita tidak berpihak pada siapapun.


"Tadi malam aku tidur di kamar Risma, jadi besok malam baru aku bermalam di kamar Ishana selama 2 malam."

__ADS_1


Ishana masih setia menunduk memandangi piring. Entah kenapa dirinya tidak bisa lagi menerima Ardhi tidur sekasur bersamanya, karena rasa itu telah berbeda.


Eva tidak berani cari gara-gara, mertuanya saat ini tidak berpihak pada sisinya. Makan malam pun mereka mulai.


Wisnu tersenyum melihat keadaan rumah tangga anaknya, aneh dan unik, tapi dia bangga, demi dirinya Ardhi rela menikahi 3 wanita demi mewujudkan mimpinya.


Selesai makan malam, semua orang kembali ke habitat mereka masing-masing. Eva lebih memilih menghabiskan waktu menonton drama korea kesukaannya di kamar, sedang Ishana masih mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Demi ketenanganku, aku harus menemui kak Ardhi dan Risma sekarang!"


Ishana pun memantapkan niatnya dia segera menuju kamar Risma yang berada tepat di samping kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


Ishana mengetukkan punggung telapak tangannya. Hanya beberapa saat jantung Ishana seakan melompat melihat Ardhi yang membuka pintu untuknya.


"I-Sha-na." Ardhi terbata melihat sosok yang berada tepat di depan matanya.


"Aku boleh masuk? Ada hal yang ingin aku bicarakan," ucap Ishana.


"Kamu mau kita tidur bertiga Na?" sela Risma.


"Ngaco!" sahut Ishana.


"Silakan masuk." Ardhi segera menepi, mempersilakan Ishana masuk ke kamar mereka.


"Aku langsung saja ya, tentang giliran di mana kak Ardhi menghabiskan malam, usulku, jadwal kak Ardhi bermalam di kamarku, lebih baik kak Ardhi bersama kamu saja Risma, kamu tahu sendiri, antara aku dan kak Ardhi tidak ada apapun."


Kamu memang paling memahami aku Na, kamu sadar, kalau aku tidak mampu berbagi mas Ardhi dengan siapapun.


Risma berusaha menyembunyikan mimik bahagianya.


Ada rasa kecewa dalam hati Ardhi, mulanya dia berpikir, ini adalah awal baru untuk dirinya lebih dekat dengan Ishana. Ternyata perempuan itu masih sama. Dia masih sangat menyayangi sahabatnya. Ardhi berusaha menekan perasaan yang mulai bertumbuh untuk Ishana.


"Aku mah setuju saja, mas Ardhi bagaimana?" tanya Risma.


"Atur kalian saja." jawab Ardhi.

__ADS_1


"Cuma itu sih, jadi malam-malam selanjutnya, kak Ardhi fokus sama Risma ya." Senyuman indah menghiasi wajah Ishana.


Selesai dengan maksudnya, Ishana pun segera pergi dari kamar Risma. Tekadnya, dia akan berusaha sekuatnya membuang perasaannya untuk Ardhi, andai dirinya tidak mampu, dirinya lebih memilih memendam seorang diri. Cukup dia mencintai Ardhi dalam diam, dan simpan rapat-rapat cinta itu dalam hatinya.


__ADS_2