
Di depan kamar Risma.
Ardhi terus memohon agar Risma membukakan pintu kamar itu untuknya. “Sayang, kenapa kamu melakukan ini?” Ardhi sangat tersiksa dengan keinginan yang semakin lama semakin menguat.
“Aku hanya ingin kalian melakukan yang seharusnya.”
“Sayang, tolong aku.”
“Kamu salah meminta tolong padaku, datangi Ishana dan lakukan apa yang harus kalian lakukan. Jika mas semakin lama menahan, bukan hanya mas yang tersiksa, tapi juga Ishana.”
“Apa?” Ardhi sangat tidak menduga kalau Risma juga memberikan obat yang sama pada Ishana.
“Mas, jangan telalu lama menyiksa diri, lakukan mas. Saat ini aku yang menginginkan kalian benar-benar menjadi suami istri, aku takut saat aku tiada nanti kalian malah bercerai dengan alasan tidak saling cinta, atau kasihan pada Jully dan Ishana.”
Ardhi memahami ketakutan Risma, sampai detik ini dia dan Ishana tidak memiliki perasaan apa-apa. Ardhi. Wajar Risma takut jika suatu saat mereka berpisah karena tidak saling cinta, terlebih cinta Ishana sudah terlanjur untuk Jully. Jully menikahi istrinya karena balas budi dan iba, sedang Ishana kembali padanya karena terpojok oleh keadaan.
Ardhi memutar gagang pintu kamar Ishana, harapannya pintu itu terkunci, namun pintu itu malah terbuka, tidak terlihat sosok Ishana di sana, hanya terdengar bunyi gemericik air dari arah kamar mandi. Ardhi membuka pintu kamar mandi, terlihat Ishana meringkuk di bawah guyuran shower.
“Kak, tolong kakak pergi, jerit Ishana.”
“Kita harus melakukannya Na, agar kita tidak tersiksa lebih lama lagi.” Ardhi menceritakan kalau ini perbuatan Risma.
Keduanya menyerah, dan melepaskan semuanya bersama-sama.
***
Setelah mengingat apa yang terjadi tadi malam, keduanya semakin merasa canggung, setelah membersihkan diri dan melakukan tugas subuhnya, Ardhi menuju ruang kerjanya, melanjutkan tidurnya, kepalanya masih sangat berdenyut, hampir semalaman dia dan Ishana berpetualang bersama. Sedang Ishana masih berdiam diri di kamarnya, Ishana merindukan suasana rumah Ardhi, dia membuka pintu balkon kamarnya, dan menikmati sejuknya udara pagi. Melihat sosok Risma juga ada di ballon kamar sebelah, Ishana segera menuju kamar Risma. Beruntung pintu kamar itu tidak terkunci, Ishana langsung melangkah menuju balkon kamar Risma.
Risma masih memejamkan kedua matanya, dia sangat bahagia pagi ini.
“Kenapa kamu lakukan semua ini, Ris?”
Pertanyaan itu membuat renungan Risma terusik. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin kalian benar-benar menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya, bukan hanya pada catatan Negara.”
Ishana perlahan mendekati Risma dan berdiri di samping Risma.
“Ternyata, asal ada ikhlas, tidak ada rasa sakit Na. Aku malah bahagia mengetahui kamu dan mas Ardhi melakukannya.”
"Apa saja jika disertai ikhlas, sangat indah Na."
Ishana masih diam, hatinya bukan toples yang mudah di-isi atau dikosongkan, Jully masih bersemayam di sana, dia terlanjur mencintai Jully.
“Ingat tempat ini Na? Risma menoleh kearah Ishana. “Di sini, aku memohon padamu untuk masuk dalam rumah tangga kami.”
__ADS_1
“Dulu aku memohon padamu, karena aku tidak punya Rahim. Sekarang aku memohon padamu.” Risma menarik kedua tangan Ishana. “Walau aku masih ada di dunia ini, dan masih ada di depan matamu, aku mohon, tolong
berusahalah untuk cintai mas Ardhi lagi, karena aku tidak bisa mendampinginya lebih lama lagi.”
Ishana tidak mampu menjawab, dia hanya masuk kedalam pelukan Risma, dan menumpahkan semua tangisnya.
“Wanita di muka bumi ini banyak, tapi hanya kamu yang aku percaya Na. Jaga dan besarkan anak-anak kita.”
Waktu terus berjalan, setelah lama berpelukan di balkon kamar, Ishana dan Risma segera menuju meja makan, mereka berdua kompak menyiapkan sarapan bersama-sama. Melihat Nona kedua mereka kembali, para pelayan pun turut bahagia atas kembalinya Nona kedua mereka ke rumah Ardhi.
“Mas Ardhi masih di kamar kamu Na?”
“Pagi-pagi sekali dia sudah pergi Ris.”
“Owh, mungkin di ruang kerjanya, aku ke sana dulu ya.”
Ishana menanggapi ucapan Risma dengan anggukkan kepalanya. Sedang Risma langsung menuju ruang kerja Ardhi. Sesampai di sana, terlihat Ardhi masih tertidur diatas sofa panjang, Risma mendekati suaminya dan mendaratkan ciumannya pada pipi Ardhi.
“Mas, bangun. Hari ini kan mas tetap kerja.”
Perlahan Ardhi mengerjapkan matanya. “Sejak kemaren kamu selalu bersamaku, kapan kamu dapat obat terlarang itu?”
Risma tertawa mendengar pertanyaan Ardhi. “Nara, aku minta tolong pada Nara, aku jelaskan apa alasanku, dan dia setuju membantuku, aku sudah memegang obat itu saat kita masih berada di hotel.”
"Itu ide yang bagus," Risma semakin masuk kedalam pelulan Ardhi.
Keduanya terdiam menikmati kebersamaan ini.
“Eh, kita sarapan dulu mas, kasian Ishana kelaparan nunggu kita.”
***
1 bulan berlalu, Risma selalu berusaha terlihat tegar, dia dan Ishana setiap hari mengantar-jemput anak-anak mereka ke Sekolah, walau hanya duduk di kursi depan di samping Ishana, tapi Risma tidak mau melewatkan sedetik pun kebersamaan mereka. Untuk Ishana dan Ardhi, keduanya masih berusaha menyesuaikan diri mereka dengan ikatan baru ini.
Hari ini Risma ingin mengadakan syukuran di Panti Asuhan, atas kembalinya Ishana ke kehidupannya dan Ardhi, juga syukuran karena keinginan terakhirnya terkabul. Keadaan Panti sangat ramai, ada tenda-tenda yang berdiri di halaman Panti. Di sana terlihat anak-anak menikmati makanan yang disediakan. Ishana terlihat sibuk membungkus minuman dengan plastik.
“Na, selesai?” Risma memastikan.
“Sebentar lagi.” Risma masih sibuk mengikat plastic yang berisi sirup merah.
“Ya sudah, aku duluan ke sana ya.”
“Iya Ris.”
__ADS_1
Risma menuju tempat sejarahnya dengan Ardhi yang ada di Panti itu, di sana terlihat Ardhi berdiri seorang diri.
“Mas masih ingat tempat ini?”
Ardhi berbalik kearah Risma dan tersenyum. “Sangat!”
“Di tempat ini aku mengancammu, dan akhirnya lahirlah kesepakatan kita.”
“Aku ingin mengakui sesuatu,” ucap Risma.
“Apa itu?”
“Mas berbalik lagi.”
Ardhi pun menuruti permintaan Risma.
Pakkk!
Seketika kepala Ardhi basah dan menetes ke baju yang dia kenakan, karena sesuatu yang menimpuknya. Ardhi tersenyum tanpa merubah posisinya. “Kamu ingin mengulangi kejadian itu?”
“Bukan mengulangi saja, tapi mengakui. Yang melempar mas dengan batu waktu itu bukan aku. Tapi—” Risma menggantung ucapannya.
“Tapi apa?” Ardhi berbalik kearah Risma, di samping Risma terlihat Ishana dengan tawa jahatnya, sambil memegang plastik dengan warna cairan yang sama yang telah mengotori bajunya sebelumnya, dan Ishana kembali
melempar plastik yang berisi minuman kepada Ardhi, sedang Ardhi pasrah menerimanya.
“Yang melempar batu pada mas dulu Ishana, bukan aku. Tapi saat itu Ishana kuliah, aku takut dia tidak bisa meraih mimpinya. Jadi aku memintanya sembunyi, dan membiarkan mas mengira aku yang melakukannya, aku pun meng-iyakannya.”
“Bagaimana, apa rasanya sama?” goda Ishana.
“Permisi kakak, tempat yang kak Risma pinta sudah siap, kapan kalian mau ke sana?” tanya seorang anak Panti.
“Tempat apalagi?” keluh Ardhi.
“Ada aja!” Risma menariknya hingga mereka sampai di sebuah tempat yang sangat bersejarah.
Sedang Ishana melambaikan tangannya melihat Ardhi dan Ishana berjalan menuju tempat lain.
Ardhi terpukau dengan ruangan yang mereka masuki, ruangan di mana dia meng-ikrarkan akad nikah menikahi Risma. Di tengah ruangan ada meja kecil, persis seperti dulu dia menikah dengan Risma dulu.
“Masih ingat ini tempat apa?” Risma berjalan lebih dulu dan duduk di meja kecil itu.
“Sangat ingat!” Ardhi pun duduk du samping Risma.
__ADS_1
Keduanya seakan menyelami kembali masa-masa indah mereka.