
Jam menunjukkan jam 6 pagi, keluarga Jully sudah bersiap. Bahkan Jully terlihat tampan dengan setelan jas warna putih, untuk akad nikahnya dengan Ishana jam 9 nanti. Tias telihat sibuk merapikan dasi yang Jully kenakan.
“Bisa nggak Yas?” Jully ingin penampilan terbaiknya hari ini.
“Bisa kak.” Tias menepuk kedua pundak Jully, dia sangat puas dengan hasil kerjanya.
“Anak ibu makin tampan, bisa gak mau berhenti Ishana lihatnya,” puji Anya.
“Bapak mana bu? Kita berangkat sekarang saja,” usul Jully.
Pak Sakti datang dari arah luar dengan gurat wajah kesedihan. “Ternyata Pak Hendra selama ini di Rumah Sakit, tadi Bapak ketemu sama Asisten rumah tangga Pak Hendra, dia cerita, ternyata Dewi sakit.”
Seketika aura kesedihan hinggap di wajah mereka semua.
“Ini masih pagi, bagaimana kalau kita jenguk Dewi dulu? Lagian hotel tempat Jully nikah melewati Rumah Sakit.” usul Sakti.
Mereka semua segera berangkat menuju Rumah Sakit.
***
Sedang di Ballroom hotel tersebut perlahan mulai dipenuhi para tamu undangan. Ishana bersama ketiga anaknya, juga Shafina dan beberapa asistennya berada di ruangan khusus yang tidak jauh dari tempat akad. Senyuman Ishana mengambang, ketika dia melihat kakak angkatnya, Pajri datang bersama anak dan istrinya.
“Kamu cantik banget Na,” puji Pajri.
“Terima kasih kak.”
Pajri serta anak istrinya langsung dilayani oleh pelayan khusus dari Shafina.
“Bunda ….” Jeritan Dhifa seakan memenuhi ruangan, kala dia melihat Ardhi, Risma, dan Rita berjalan kearahnya.
Ibu dan anak itu berpelukan.
“Kami nggak terlambat kan Na?” tanya Risma.
“Acara masih lama, ayo istrirahat dulu, irit tenaga kita semua.”
“Kamu yang harus irit tenaga Ris.” Tiba-tiba Nara dan Indra juga ada di ruangan itu.
“Hmm yang habis upacara belah duren.” Risma meledek Nara. “Aku kira kamu bakal nggak bisa jalan Ra.”
“Asem!” Nara sangat kesal karena diledek Risma.
Mereka semua duduk sambil berbincang santai sembari mengisi waktu.
“Dhifa nyusahin kamu ya, Na?”
Ishana tersenyum. “Sama sekali tidak, Dhifa anak yang hebat Ris.”
Dari arah Ballroom mulai terdengar alunan musik pengisi acara akad nikah Ishana, untuk menghibur mereka yang sudah hadir. Entah berapa lagu sudah bermain, jam juga sudah menunjukkan jam 9, namun Jully belum juga datang.
__ADS_1
“Permisi Nyonya, mempelai laki-lakinya sudah siap?” tanya salah satu panitia.
“Mungkin sebentar lagi”, sahut Pajri.
Mereka semua mulai cemas. Ishana pun berulang kali menghubungi Jully, namun tidak tersambung. Rasanya oksigen di muka bumi ini seketika habis. Sesak sangat sulit untuk bernapas, menjelang menit akhir, Jully belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Gimana Na?” Risma cemas melihat Ishana yang mulai tak karuan rasa, terlihat dia berulang kali berusaha menghubungi Jully.
“Handphone Jully mati, Ris.”
Risma semakin panik, kepalanya mulai berdenyut, bernapas pun terasa sulit. “Mama, temani aku ke toilet, kalau tegang dan panik gini aku jadi kebelet mah,” kilah Risma.
Rita sangat mengerti kalau Risma mulai meraskan sakit kepala hebat, dia pun segera membawa Risma ketempat yang lain, agar yang lain tidak melihat bagaimana penderitaan Risma.
Ardhi mendekati Pajri. “Kamu cari Jully ke rumahanya, rumah ibunya, juga Rumah sakit. Aku akan mengurus urusan di tempat ini.” Ardhi memberikan kunci moblnya pada Pajri.
“Baik, nanti aku akan hubungi kalian jika menemukan Jully.” Pajri pun langsung melakukan tugasnya. Sedang Ardhi berbisik pada panitia, dia mengatur acara lain, agar para tamu dan petugas KUA tidak merasa bosan menunggu.
Dengan ide Ardhi mengadakan undian, seketika suara riuh teriakan dari ballroom terdengar, satu hal yang membuatnya lega, setidaknya perhatian para tamu teralihkan, selesai dengan rencana cadangannya, Adrhi langsung menyusul Risma dan Rita.
“Bagaimana ini mah? Apa kitab awa Risma ke Rumah Sakit saja?” Ardhi sangat tersiksa melihat Risma kesakitan.
“Jangan. Nanti juga akan baikan, aku sudah minum obat dari dokter.” Risma terus memegangi kepalanya.
“Kenapa tidak kau berikan padaku saja Tuhan.” Rita terus memeluk Risma.
Kini jarum jam sudah menunjukkan jam 11 siang, artinya sudah 2 jam acara mereka tertunda. Di ruangan lain, Risma tersiksa dengan rasa sakitnya, sedang di ruangan Ishana, dia tersiksa dengan penantiannya. Di ruangan lain, Risma merasa baikan, dia dan Rita kembali berkumpul dengan keluarga Ishana, sedang Ardhi kembali mengurus undian dadakan yang dia adakan demi pengalihan perhatian.
Handphone Shafina mendapat panggilan masuk, dia langsung mengangkat panggilan itu. Setela menutup panggilannya, Shafina jatuh dan tak sadarkan diri, ketegangan semakin meningkat karena Shafina pingsan. Beberapa pelayan Shafina langsung mengangkat majikan mereka keatas sofa Panjang.
Ishana semakin tidak karuan rasa, Jully tidak datang, dan sekarang ibunya pingsan.
“Mama kamu kenapa Na?” Risma terkejut melihat Shafina terkulai tak sadarkan diri diatas sofa.
“Aku nggak tahu Ris.” Rasanya Ishana ingin sekali menangis.
Shafina tersadar dari pingsannya, dia menjerit histeris, tidak terima dengan kabar yang dia terima barusan. “Akkkkkk!”
“Kenapa kamu sejahat ini padaku!”
“Apa salahku dan apa salah putriku padamu!” Shafina terus menumpahkan tangisnya.
“Mama kenapa ma?” tanya Ishana, dia bingung dengan kehancuran ibunya.
Shafina tidak bisa menjawab, rasa malu yang dia dapat nanti tidak akan dia lupakan. Hatinya semakin hancur, melihat Ishana mengenakan kebaya pengantin tanpa mempelai laki-laki. Shafina hanya menangis dan menangis.
“Oma jangan nangis, aku janji aku sama abang nggak nakal,” rengek Dina.
“Mama, katakana ada apa?”
__ADS_1
Namun Shafina tidak bisa juga membuka suaranya.
“Jully tidak akan datang, Na.”
Seketika semua pandangan tertuju kearah pintu, Terlihat Ardhi dengan gurat kesedihan memenuhi wajahnya.
“Nggak mungkin! Ini adalah hari yang paling dia tunggu!”
Sakit, hancur, kecewa, Ishana tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini, hatinya telah dia beri untuk Jully, namun laki-laki itu dikatakan tidak akan datang.
“Perjuangan Jully sangat besar, mana mungkin dia tidak datang.” Suara Ishana seakan tertelan oleh tangisannya.
“Pajri sudah bertemu Jully, Na. Jully sudah menikah dengan orang lain, dan dia tidak akan datang.”
Bukan hancur lagi, tapi sangat hancur. Apalagi melihat ibunya sesakit itu, Ishana bisa merasakan bagaimana perasaan ibunya.
“Aaaaa! Apa salah anakku? Apa salahku? Kenapa kamu tega memberi kami aib sebesar ini. Aaaaa!” Shafina terus menangis.
“Bagaimana aku menyembunyikan wajahku? Bagaimana aku menyelamatkan harga diriku dan putriku. Hikssss!”
Rita tidak tahan melihat tangisan Shafina, dia memeluk Wanita itu. “Kita akan cari jalan keluar sama-sama,” bujuk Rita.
Ishana sakit, rasa sakitnya semakin besar melihat ibunya sangat terpukul, malu, dan hancur seperti ini. Ishana berusaha menahan isak tangisnya. Rasanya ingin sekali mengkahiri hidupnya karena keadaan ini.
Risma memandangi wajah setiap orang. Yang ada wajah-wajah itu basah karena air mata. Pandangan Risma tertuju tajam pada Ishana yang mengenakan kebaya sama dengannya, jas jully juga sama dengan Ardhi.
Ya Tuhan, apakah dengan jalan ini ENGKAU mengabulkan segala do’aku?
“Para tamu undangan belum tahu bukan, siapa mempelai laki-lakinya?”
Ucapan Risma menyita perhatian semua orang.
“Na, ini tergantung keputusan kamu, apakah kamu ingin menyelamatkan nama ibumu dan namamu, jika kamu ingin menyelamatkan nama mamamu, izinkan mas Ardhi menempati posisi Jully.
“Percaya padaku Na, aku ikhlas berbagi cinta mas Ardhi denganmu.”
Ishana hanya mematung.
“Mas, demi nama baik kita semua, mas tolong nikahi Ishana lagi.” Risma mendekati Ardhi dan memeluknya erat. “Aku mohon mas, ini permintaan terakhirku padamu,” bisiknya.
Ardhi melepaskan pelukan mereka. “Mas bersedia, jika Ishana bersedia,” ucap Ardhi.
Risma menoleh kearah Ishana. “Kamu bagaimana, Na?”
Shafina merasa ada tenaga untuk bangkit dari keterpurukannya. “Demi nama baik kamu dan mama, Na. Terima pernikahan ini.”
Ishana terbayang perjuangannya 7 tahun ini. Mamanya banyak melakukan bermacam hal untuknya, dan dirinya tidak akan bisa membalas dan tidak akan punya cara untuk membalas. Rasanya semua perjuangan besar ibunya tidak pantas jika dia bayar dengan rasa malu.
Ishana mengusap air matanya. “Kenapa harus kak Ardhi?”
__ADS_1