Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 59 Cari Tau


__ADS_3

Kebahagiaan yang sulit diungkapkan jika seseorang yang selalu hidup hati menghubungi. Seperti itulah yang Jully rasakan saat ini, senyumannya begitu lebar kala melihat nama Ishana tertera pada layar handphonenya.


"Halo Na?" Sulit sekali menahan luapan rasa bahagia itu.


"Jull, kamu bisa bantu aku?"


"Aku dinas pagi Na, sudah ada janji sama pasien." Kebahagiaan itu seketika hilang, karena dirinya tidak bisa membantu Ishana.


"Oh, kamu dinas ya."


"Iya, Na."


"Ada apa Na? Ada masalah?"


"Nggak apa-apa, aku cuma kangen kamu."


Jeddarrrr


Kebahagiaan lain kembali meledak.


"Aku juga kangen Na."


Hanya helaan napas Ishana yang terdengar, tapi itu lebih merdu dari apapun bagi Jully.


"Katakan ada apa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja tadi malam mama berangkat keluar negri bersama staf kepercayaannya, dan sekarang di perusahaan mama yang di sini, ada pekerjaan yang harus diselesaikan sekarang juga, dan aku tidak mengerti Jul."


"Urusan perusahaan aku tidak bisa bantu Na, aku nggak ngerti, Andai aku free, hadir di sana walau hanya berdiri melihatmu rapat saja, itu kebahagiaan buat aku. Tapi saat ini tugasku memanggilku Na."


"Iya, aku faham. Kamu tetap fokus pekerjaan ya."


"Iya, pasti."


Keduanya pun mengakhiri sambungan telepon mereka.


Sepanjang menjalankan tugasnya, Jully terus terbayang Ishana. Bagaimana wanita itu menjalankan tugasnya, bagaimana mentalnya, apakah dia nervous?


Jully mempercepat pekerjaannya, dia meminta rekannya untuk menggantikan tugasnya, setelah selesai dengan pasien yang sudah ada janji dengannya, Jully segera menuju kantor Shafiq group, berharap bisa berdiri di sana untuk menyemangati Ishana.


Membantu pekerjaan Ishana dia tidak mengerti, namun hadir untuk Ishana, dirinya berharap Ishana lebih bersemangat.


"Ta, rapat di ruangan mana?" Jully bertanya pada sekretaris Shafina yang selalu ada di kantor.


"Rapat sudah selesai, Nona muda dan rekannya sepertinya melanjutkan diskusi di ruang kerja Nyonya Shafina."


"Rekan kerja?"


"Iya, orang baru, tapi oke banget."


Jully lega, akhirnya ada yang membantu Ishana. "Aku ke sana ya Ta."


Jully lumayan dikenal oleh orang dekat Shafina, tidak ada batasan akses dari Shafina untuk Jully.

__ADS_1


Langkah kaki Jully begitu terburu-buru, hingga akhirnya dia sampai di depan pintu ruang kerja Shafina. Perlahan Jully membuka pintu ruangan itu.


Doar!!


Rasanya sebuah peluru seketika menembus jantungnya, saat sepasang matanya melihat Ishana dan seorang laki-laki saling bertukar saliva.


Lengan Ishana melingkar di leher laki-laki itu, sedang kedua tangan laki-laki itu entah kemana.


Sakit! Tidak ada peribaratan yang bisa menggambarkan rasa sakitnya.


Ishana tersenyum sambil memandangi laki-laki itu, saat mata Ishana tertuju kearahnya, seketika senyuman Ishana lenyap.


"Jully ...." ucap Ishana.


Hal itu membuat laki-laki yang memunggungi Jully menoleh kearahnya.


Jedder!


Rasa sakit itu sekali lagi menghantam jantung Jully, laki-laki itu adalah Ardhi. Bagaimana dia bisa marah? Ardhi memang suami Ishana.


Jully berusaha melemparkan senyumannya, walau hatinya saat ini terluka, tapi dirinya tidak kuat berada di sana terlalu lama, tanpa permisi, Jully pergi begitu saja.


"Jully, Tunggu!"


Jully terus melangkah, tidak memedulikan panggilan Ishana.


Ardhi adalah suaminya, kenapa sesakit ini Tuhan?


July masuk ke dalam lift, dia terlalu berharap pada Ishana, hingga rasa sakit barusan lebih besar dari rasa sakit saat ditolak Ishana.


Ishana masih berusaha mengejar Jully, namun langkahnya terhenti, suara notif khusus yang masuk, membuat Ishana harus memeriksa handphonenya. Itu pesan dari petugas keamanan yang mantau kedua anaknya.


...Tuan muda Rian mengamuk, dan melukai 2 anak laki-laki di pantai....


Masalah di depan matanya belum Ishana bereskan, sekarang malah putranya membuat masalah.


"Na, kita harus kembali, Rian--"


"Aku tau." Ishana sangat hancur saat ini, tapi keadaan apapun, anaknya yang utama daripada hatinya sendiri.


Ardhi dan Ishana meninggalkan kantor bersama-sama, hal itu menyita perhatian para karyawan yang melihatnya.


***


Perjalanan yang mendebarkan akhirnya berakhir, kala Ishana dan Ardhi sampai di tempat yang mereka tuju, terlihat tempat itu begitu ramai.


Risma langsung berlari menghampiri Ishana. "Naa, maafin aku, aku lalai, tadi mereka bertiga bermain bersama. Rian hanya sekejap saja membuat wajah temannya lebam."


Ishana hanya menepuk lembut bahu Risma, dia melanjutkan langkahnya menghampiri Rian dan Dina yang masih menangis. Tidak jauh dari mereka ada dua orang anak yang babak belur dalam pelukan pengasuh mereka. Sedang ishana hanya fokus pada anaknya.


"Kenapa kalian tidak membubarkan mereka?" tanya Ishana pada petugas keamanannya.


"Mereka menolak Nona, kami hanya mengikuti protokol yang Nyonya Shafina beri, tidak boleh menggunakan kekerasan."

__ADS_1


"Kedua orang tua anak-anak itu juga tidak mau kami ajak ketempat lain."


Ishana mulai mengerti, dua orang tua yang anaknya dipukuli Rian, pastinya ingin memanfaatkan hal ini. Tapi Ishana lebih fokus dengan anaknya dulu.


Ishana mengusap wajah kedua anaknya bergantian."


"Ada apa sayang?"


"Abang nggak salah ma," rengek Dina.


"Iya sayang, mama percaya pada kalian berdua."


"Katakan ada apa? Rian anak baik, Rian tidak pernah menyalah gunakan ilmu bela diri yang Rian miliki untuk melukai teman, kenapa ini terjadi sayang?"


"Mereka bilang aku anak haram, anak yang nggak punya Ayah." Air mata mengalir begitu deras dari pipi Rian.


Ucapan temannya memang benar, selama 7 tahun dia tidak melihat sosok Ayah di rumah mereka. Dokter Jully hanya sahabat mamanya, selebihnya hanya pelayan, petugas keamanan dan orang-orang kepercayaan omanya.


"Aku dihina tidak punya Ayah, aku tidak marah. Tapi dia mengatakan mama wanita nggak bener, aku nggak terima!" Teriakkan Rian seketika memecah kesunyian. Sorotan matanya penuh kemarahan tertuju pada dua anak yang dia pukuli sebelumnya.


Ardhi terpukau melihat jiwa heroik dalam diri putranya, dirinya tidak seberani anak itu membela harga diri orang yang tercinta.


Risma menoleh kearah dua anak yang kena amukan Rian. "Bisa hubungi orang tua mereka?" tanya Ishana pada pengasuh mereka.


"Kenapa bu? Anda mau menyogok?" Seorang perempuan tiba-tiba keluar dari keramaian.


"Lebih baik kita selesaikan ditempat lain, tidak baik hal ini jadi tontonan."


"Lebih baik kita selesaikan di sini, biar semua orang tahu siapa Ayah sikembar," tantang wanita itu.


"Ini tidak baik jika dibahas di depan anak-anak, bu." ucap Risma sopan.


"Kenapa? Takut kalau anaknya tau kalau mereka hasil ibunya jual diri?"


Plakkkk!


Risma tidak tahan dengan ucapan wanita itu, hingga dia melayangkan cap 5 jari di pipi perempuan itu.


Perempuan itu memegangi pipinya bekas cap jari Risma, kedua bola matanya seakan melompat menahan kemarahan pada sosok yang berani menamparnya.


"Dina dan Rian bukan anak haram! Dia lahir dalam pernikahan!" bentak Risma.


"Jangan sok tau kamu!" wanita asing itu balas membentak.


"Mama pulang!" Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari kerumunan dan berusaha menarik perempuan itu pergi.


"Nggak pah, sedikit lagi kita semua tau siapa pemilik bibit kembar itu!"


"Papa nggak nyangka sama ambisi mama, demi capaian pekerjaan mama, mama mengajari anak kita yang nggak benar, dan lihat hasilnya anak kita terluka!"


Risma mulai mengerti apa tujuan wanita itu, membuat kekacauan ini lewat Rian. Risma mendekati sepasang suami istri itu. "Ingin tahu siapa pemilik bibit sikembar, silakan gali informasi kehidupan seorang Ardhi Pramudya 9 tahun yang lalu!"


"Owh kalau menemui pertanyaan tentang info selanjutnya, cari tahu dengan benar! Bukan mengeksploitasi anak!"

__ADS_1


__ADS_2