
Walau lisannya selalu berkata rela berbagi, namun batinnya sangat bertolak belakang, Risma tidak bisa menyingkirkan egonya, dia hanya ingin dirinya yang menjadi Ratu dalam hati Ardhi, hanya ingin dirinya menjadi prioritas Ardhi.
Menjadi ratu dalam hidup Ardhi sudah dia capai, namun menjadi sosok tersayang bagi Rita, sulit. Sebelum mimpi Wisnu terkabul.
Salahkah jika seorang wanita ingin mendapat semua cinta suaminya, dan mendapat cinta dari kedua orang tua suaminya?
Walau Ardhi telah membagi waktunya bersama Eva, namun Risma bisa merasakan, Ardhi tetap mengutamakan dirinya diatas segalanya.
Ardhi menepati janjinya, 2 malam bermalam di kamar Eva, 4 malam di kamar Risma, dan sisa 1 malamnya dia menempati kamar tamu seorang diri. Saat ini Risma perlahan bisa menerima dirinya. Tidak mudah meyakinkan Risma, rasa trauma melihat petualangan Ardhi dan Eva, selalu menghantui hatinya.
Risma berusahan memahami, Ardhi bersama Eva bukan karena terpesona dengan kemolekan tubuh Eva, atau rasa cinta, semua itu di luar kesadarannya.
Sedang Ishana, dia terus berusaha menjaga jarak dengan Ardhi, hingga hal itu bisa ditangkap oleh kedua mata Rita. Marah, kecewa, sebal, namun tidak tepat meluapkan segala kekesalannya saat ini.
Keinginnan Rita, Ardhi adil dengan ketiga istrinya. Rita sangat kecewa melihat Ardhi hanya mengutamakan Risma.
Mencintai Ardhi sakit, namun menjauhinya juga sakit. Membiarkan cintanya bersemi hanya membangun sebuah bangunan diatas luka Risma, Ishana tidak mau hal itu terjadi. Ishana sangat mengerti Risma. Tangisan Risma kala itu, seakan peringatan bagi Ishana, kalau dia mencintai Ardhi, maka seperti itulah rasa sakit Risma yang didapat karena perbuatannya.
Ishana berusaha tegar melewati harinya, walau batinnya menjerit, dia ingin berbicara dengan Ardhi, ingin bercanda seperti dulu, sebelum rasa ini muncul. Dirinya ingin dekat seperti dulu. Namun melakukan semua yang diinginkan hatinya, hanya membuat dirinya tersiksa oleh rasa cinta yang tidak mampu dia tahan pertumbuhannya.
Cukup melihat senyuman Ardhi, cukup melihat kemesraan Ardhi dan Risma. Itu cukup, dia berusaha bahagia, dengan semua yang dia lihat.
Eva, wanita itu susah ditebak, Ardhi juga cenderung memberi kebebasan pada Eva, Ardhi berharap Eva bosan dengan hubungan ini, dan pergi meninggalkan hubungan ini.
Memberi kebebasan pada Eva bukan tanpa alasan. Ada Ernest yang selalu memantau kemana wanita itu, sedang apa dan bersama siapa. Yang Ardhi pastikan, andai wanita itu suatu saat hamil, maka benar-benar hamil anaknya.
Di sela waktu senggangnya, Ardhi selalu menyimak laporan tentang Eva. Sejauh ini, wanita itu benar-benar setia dengan pernikahan mereka, walau Ardhi tidak pernah memberi nafkah batin lagi.
Pagi berjalan seperti biasa. Risma melepas keberangkatan Ardhi sampai teras rumah mereka. Sedang Ishana kembali pada kegiatan awalnya, menunggu ojek online menjemputnya. Kejadian waktu itu, membuat Ishana jera dekat dengan Ardhi. Dekat hanya beberapa menit, namun setelah itu dia tersiksa. Bahkan hingga saat ini dia terus tersiksa oleh perasaannya sendiri.
"Na, aku sudah bicara sama ibu, karena di rumah ada Eva dan Risma, maka Pak Abim ku tugaskan untuk mengantar jemputmu bekerja," ucap Ardhi.
"Terima kasih kak, tapi maaf, aku lebih nyaman seperti ini."
"Na, kamu itu salah satu istriku, Risma bisa menyetir dan punya mobil sendiri, Eva juga, hanya kamu yang selalu menolak jika aku beri fasilitas yang sama." Ardhi bingung, bagaimana memberi keadilan materi pada Ishana. Wanita terus menolaknya.
"Iya Na, biar Pak Abim antar jemput kamu, biar mobil mama ada pemanasannya," sela Risma.
"Kalau kamu tidak mau diantar Pak Abim, bareng aku aja," tawar Ardhi.
Ishana langsung menolak tawaran kedua Ardhi. "Tidak perlu kak, lebih baik saya diantar jemput Pak Abim saja."
"Nah begitu dong Na, kasian mas Ardhi, dia berusaha perhatiin kamu juga, tapi selalu kamu tolak."
"Oke, mulai besok ya, soalnya sekarang ojek aku sebentar lagi datang.
Perasaan sayang Ardhi makin besar, Risma wanita berjiwa besar. Ardhi mendaratkan ciumannya di alis Risma. "Kamu benar-benar wanita luar biasa."
__ADS_1
2 bulan berlalu.
Kontrak kerjasama Eva sudah habis, wanita itu sangat sering menghabiskan waktu di rumah, untuk butik, Eva mempercayakan pada Asistennya, dia hanya menemani Rita dan sesekali menghadiri Arisan, dan tidak lupa berusaha menjatuhkan mental Risma. Menyingkirkan Risma dari hati Ardhi itu susah, Eva lebih memilih jalan halus, membuat Risma menyerah dengan hubungan ini dan pergi.
Jika Risma pergi, maka Ishana juga, karena dua orang itu bagai 1 kesatuan, singkirkan yang lain, maka semua hilang. Andai itu berhasil, maka dirinya lah yang menjadi menantu satu-satunya keluarga Pramudya.
Tadi malam, Ardhi bermalam di kamar Eva. Ardhi melakukan itu, semata ingin ketenangan buat semua penghuni rumah ini. Namun keduanya asyik dengan urusan pribadi masing-masing.
Eva pasrah seperti ini, dia masih menunggu saat yang tepat untuk menjalankan rencananya.
Malam berlalu begitu saja. Pagi pun datang lagi. Ardhi sudah rapi dengan setelan kerjanya, namun Eva masih saja berbalutkan selimut di tempat tidurnya. Ardhi ingin masa bodoh, namun kalau dirinya keluar kamar seorang diri, yang ada hal itu malah memancing kemarahan Rita.
"Va, sudah pagi. Ayok bangun kita sarapan bersama di bawah," ucap Ardhi.
"Kamu aja, aku gak bisa ..., kepala aku pusing ...." rengek Eva.
Ardhi pun mendekati Eva, benar saja wajah wanita itu terlihat begitu pucat. "Aku panggil dokter Jully sekarang." Ardhi langsung mengambil handphone-nya dan segera menghubungi sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter, meminta Jully datang ke rumahnya.
Sedang di ruang bawah, keadaan begitu tenang, Risma dan Ishana membantu para pelayan menyajikan sarapan pagi untuk mereka semua, sedang Wisnu tampak santai dengan lembaran koran pagi di tangannya. Rita masih sibuk mempersiapkan obat untuk diminum suaminya setelah sarapan nanti.
Berulang kali Risma menatap kearah tangga, namun sosok Ardhi belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ardhi masih sibuk dengan Eva, harap maklum kenapa? Mereka masih pengantin baru!" sindir Rita. Dia bisa menangkap kecemasan pada wajah Risma.
"Ishana, kamu tidak masuk kerja?" tanya Rita.
"Hari ini libur bu, karena tadi malam saya jadwal malam hari," jawab Ishana.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya, di ruang tamu ada dokter Jully, katanya Tuan Ardhi yang memanggilnya."
Kedatangan bi Atin bagai penyelamat Ishana. Dia tidak perlu berbohong pada Rita.
"Mas Ardhi sakit?" Risma langsung melepas pekerjaannya.
"Saya kurang tau Nona," jawab bi Atin.
"Cepat bawa dokter Jully ke kamar Eva," titah Rita.
Risma dan bi Atin langsung meninggalkan meja makan dan menghampiri dokter Jully. Mereka bertiga segera menuju kamar Eva.
Ishana masih membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga, membuat Rita tidak bisa lagi menahan lidahnya. "Kamu itu, istri Ardhi apa pelayan di rumah ini?" tegur Rita.
Ishana bingung, dia tidak tau harus apa.
"Bengong lagi! Cepat susul Ardhi ke kamar Eva, periksa keadaannya. Ada 2 istri yang lain, bukan berarti menggugurkan tugas kamu sebagai istri!"
"Iya bu, saya pamit." Ishana langsung meninggalkan pekerjaan yang dia lakukan, dan segera menuju kamar Eva.
__ADS_1
"Mama, kenapa sih mama seperti ini pada istri-istri Ardhi," ucap Wisnu.
"Mama hanya ingin mereka menjalani kewajiban mereka semua," jawab Rita.
"Bagaimana Ardhi bisa adil, kalau istri yang lain menutup diri, kadang mama sengaja menyakiti mereka, Agar Ardhi prihatin pada yang lain, bukan hanya pada Risma."
****
Risma sangat cemas, dia melangkah begitu cepat menuju kamar Ardhi.
Tok! Tok! Tok!
"Eva ...." panggilnya. Risma sangat tidak sabar, dia terus mengetuk pintu kamar Eva.
"Masuk saja tidak di kunci!"
Mendengar suara itu, Risma segera membuka pintu kamar Eva, pemandangan yang menyayat hati menyambut mata Risma, di tempat tidur itu, terlihat Ardhi memijat pundak Eva.
"Sayang?" Ardhi langsung menghentikan kegiatannya.
"Siapa yang sakit Dhi?"
Pertanyaan dokter Jully memecah kecanggungan yang tercipta.
"Eva, katanya kepalanya sangat pusing, wajahnya juga begitu pucat." Ardhi mempersilakan dokter Jully memeriksa Eva.
Ardhi berdiri di samping Risma, memperhatikan dokter Jully memeriksa Eva.
"Aku panik, aku kira kamu yang sakit," ucap Risma.
Ardhi tersenyum dan mengusap bagian rambut kepala Risma. "Aku baik-baik aja."
Karena kepanikan melihat Eva sakit, Ardhi melupakan membereskan sofa tempat dia tidur tadi malam.
"Mas, kenapa ada bantal dan selimut di sana?" Risma meng-isyarat kearah sofa.
"Am ...." Ardhi bingung menjawab pertanyaan Risma. "Aku mau beresin itu, nanti kalau mama masuk, yang ada pisau dari lidah mama terbang lagi."
Risma tersenyum, ternyata Ardhi benar-benar belum bisa menerima wanita manapun selain dirinya.
"Siapa yang sakit?"
Tiba-tiba ada sosok Ishana diantara pintu kamar Eva.
"Eva," jawab Risma.
"Lah, kenapa Ishana ada di sini, sepagi ini?" tanya dokter Jully.
__ADS_1
"Dia istri kedua Ardhi, dan Eva istri ketiga Ardhi," jawab Risma.
Dokter Jully membisu mengetahui kalau Ishana, wanita yang selama ini mencuri hatinya telah menjadi istri sahabatnya sendiri. Sorot matanya hanya tertuju kearah Ishana.