
Ishana masih berpikir, apakah dia harus cerita masalahnya atau tidak, dia cerita pun, Jully juga tidak bisa membantu, profesinya seorang dokter, dan dirinya seorang perawat. Walau dalam 7 tahun ini, Shafina mengajarinya mengelola bisnisnya.
Namun, mengingat dirinya akan membuka hubungan baru dengan Jully, Ishana berusaha terbuka pada Jully.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi malam mama berangkat ke luar negri bersama staf kepercayaannya, dan sekarang di perusahaan mama yang di sini, ada pekerjaan yang harus diselesaikan sekarang juga, dan aku tidak mengerti Jul."
Senyuman kemenangan menghiasi wajah Risma, otaknya seketika bekerja.
"Iya, aku faham. Kamu tetap fokus pekerjaan ya." Ishana menyudahi pembicaraannya dengan Jully.
Saat dia berbalik, dia sangat terkejut melihat Ardhi, Risma, dan seorang anak perempuan. "Kalian?"
"Pagi Na, kenalkan ini anak kita. Dhifa." Risma meminta Dhifa berjalan kedepan."
Ishana tersenyum melihat Dhifa, dia membungkukkan badanya agar sama posisinya denga Dhifa.
"Dhifa, Ardhi Eva, nama yang indah." Ishana mendaratkan ciumannya pada Dhifa.
"Dina, Ardhi Ishana?" sela Risma.
"Mama! Oma mana?" Teriakkan lantang itu membuat Ishana tidak sempat menjawab pertanyaan Risma.
"Hai teman." Dhifa melambaikan tangannya pada Dina.
"Hai Dhifa." Dina langsung mendekati Dhifa.
"Kalian sudah kenal?"
Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Ishana, Risma, dan Ardhi.
"Iya, dia teman main aku pas pertama kita sampai di sini bunda," ucap Dhifa.
"Owh, bagus kalau kalian saling kenal." Risma semakin merasa bahagia.
"Oh ya Na, tadi kami menguping pembicaraan kamu, ku dengar kamu kesulitan menangani urusan perusahaan?"
Ishana bingung harus menjawab apa.
"Untuk urusan perusahaan, asal kamu percaya, mas Ardhi bisa bantu kamu Na."
"Amm, aku nggak mungkin bawa anak-anak aku ke perusahaan mama, aku nggak pernah bawa mereka, sedang sekarang, pengasuh mereka libur, karena besok anak-anak akan mulai kegiatan berkemah. Kalau meninggalkan mereka sama yang lain, aku belum siap."
"Kan ada aku Na, palingan Dina sama Rian kuajak ke vila biar bisa main sama mama."
Ishana sangat bingung, Ardhi seorang pengusaha, memang pekerjaanya masalah perusahaan. Terlebih perusahaan mamanya dan Ardhi bergerak dalam bidang yang sama.
"Mas, bisa bantu Ishana ya ...." rengek Risma
"Makasih mas, tapi tidak perlu," sela Ishana.
__ADS_1
Ardhi memahami niat terselubung Risma, Risma pastinya ingin kesempatan ini membuatnya dekat dengan Ishana.
"Kamu jangan takutin anak kamu kubawa kabur Na, cari penyakit aku kalau culik anak kamu."
"Kalau kamu benar-benar darurat, asal kamu percaya, aku bisa bantu kamu untuk perusahaan mama kamu," ucap Ardhi.
Ishana menoleh kearah Dina. "Dina, kalau mama pergi kerja, Dina mau mama tinggal kamu sama--" Ishana bingung menyebut Risma apa.
"Bunda Risma," sela Risma cepat.
"Mau ya Dina, dia bunda aku," rayu Dhifa.
"Kalau aku sih oke mam," sahut Rian. Ternyata anak itu sudah ada di belakang Ishana. "Kapan lagi bisa main sama orang baru yang bunda percaya."
Melihat anak-anaknya setuju, tidak ada alasan untuknya menolak bantuan Risma.
"Tapi apa kak Ardhi tidak keberatan menunggu? Aku belum siap-siap," ucap Ishana.
"Kami juga belum sarapan ma," sela Dhifa.
"Maaf, Ayah Dhifa kangen makanan dari tangan mama Ishana," sela Risma.
Ishana segera mengajak tamunya sarapan bersama. Keadaan terasa canggung, rasanya sulit untuk seperti dulu, namun ketiga anak itu terlihat sangat akur, bahkan tawa ketiganya seakan memecah kesunyian yang terjalin.
Entah lapar atau enak, isi piring Ardhi sudah habis.
Ardhi bingung menjawab apa.
"Tambah aja Ris, pake ditanya segala," sela Ishana.
"Kamu lebih dekat Na, tolong ya ...."
Ishana memahami gelagat Risma. Tapi saat ini ada anak-anak, dia tidak mau anak-anaknya menangkap kesan aneh, Ishana pun mengisi piring Ardhi kembali.
Selesai sarapan, Ishana segera bersiap. Semua keperluan rapat sudah dia siapkan, tiba-tiba matanya tertuju pada map yang dia tandatangani tadi malam. Tangannya pun menyambar map itu. Pikiranya mengatakan, ini adalah saat yang tepat untuk membicarakannya berdua.
Dina, Rian, dan Dhifa, tinggal di rumah bersama Risma, sedang Ardhi dan Ishana berangkat bersama menuju perusahaan Shafiq Group yang ada di pulau itu.
Memberikan tanggung jawab pada ahlinya memang mudah, semua orang puas dengan ide-ide yang Ardhi kemukakan, bahkan rapat berjalan sangat lancar. Semua orang mengagumi pengganti sementara Shafiq Group.
Rapat pun selesai. Ishana mengajak Ardhi menuju ruangan mamanya.
"Kakak luar biasa, padahal kakak mempelajari semuanya saat dalam perjalanan, tapi kakak bisa menyampaikannya sangat mudah," puji Ishana.
"Untuk urusan perusahaan, aku bisa cepat belajar, tapi untuk urusan hati, wah aku sangat sulit mengerti itu."
Keceriaan Ishana karena rapat yang sukses seketika buyar. Ishana mengingat sesuatu, dia segera mengambil map itu dan memberikannya pada Ardhi. "Aku tidak meminta kakak menandatanganinya, tapi jika berpikir memutuskan hubungan kita suatu hal yang tepat, tandatangani saja. Maaf aku sudah lebih dulu tandatangan di sana."
Ardhi membuka map yang Ishana berikan, dugaannya benar. Ini surat gugatan cerai.
__ADS_1
"Boleh aku simpan dulu?"
"Tentu kak."
Ishana sedikit kecewa, dia pikir Ardhi akan mudah menandatanganinya jika Risma tidak bersama mereka.
Ardhi menaruh map itu diatas meja, sedang dirinya langsung berdiri dan mendekati Ishana, membuat wanita itu terperanjat, karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Nah, bolehkah aku memastikan sesuatu?"
"Me-mastikan apa?" Ishana berusaha menjauh dari Ardhi, namun laki-laki itu malah semakin mendekatinya.
"Memastikan hati kita, memastikan perasaan kita."
Duggg!
Bukan jantung Ishana saja yang seakan terhenti, namun langkah mundur kakinya juga terhenti, karena terhalang sesuatu.
Ishana tidak bisa menghindar lagi, langkah kakinya tertahan sisi meja kerja ibunya.
"Na, mari kita pastikan semuanya, agar hati kita tenang."
"Ca-caranya?"
Ardhi seketika menyatukan bibir mereka.
Hanya saling menyentuhkan permukaan bibir mereka. Dulu, hal ini lebih manis dari apapun, hingga selalu menuntut lebih dalam lagi.
Namun kali ini keduanya tidak merasakan apapun.
Ardhi mendalami ciuman mereka, berharap semakin panas ciuman mereka, rasa itu akhirnya keluar.
Tetap sama saja. Tidak ada rasa apapun.
Ardhi mengangkat tubuh Ishana, dan mendudukkan wanita itu di sisi meja kerja ibunya, agar tautan lidah mereka lebih dalam dan lebih dalam lagi. Ishana pun merespon segala kegiatan Ardhi.
Tangan Ardhi mulai bergerilya kemana-mana, sedang Ishana mengalungkan kedua tangannya di pundak Ardhi.
Napas mereka seakan habis, tapi rasa yang dulu sangat indah jika bisa merasakan ini, rasa yang menyihir dunia ini seakan milik mereka berdua masih tidak ada.
Sedalam apapun tautan mereka, Ardhi dan Ishana tidak menemukan rasa yang mereka cari, hingga keduanya menyudahi tautan lidah mereka, dua pasang mata itu saling tatap begitu dalam.
"Ada?" tanya Ardhi.
Ishana tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia masih mengatur napasnya, Ishana menjawab peetanyaan Ardhi dengan menggelengkan kepalanya.
"Sama!"
Merasa tidak ada rasa cinta yang tertinggal, membuat keduanya tersenyum bahagia. Tiba-tiba senyuman yang menghiasi wajah Ishana lenyap, kala matanya menangkap sosok Jully berdiri di tengah pintu dengan raut wajah penuh kehancuran.
__ADS_1