Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 65 Keluarga Jully


__ADS_3

Rumah sederhana yang terletak dipinggir kota menjadi tujuan Jully. Taksi yang dia tumpangi perlahan memasuki halaman luas rumah yang dikelilingi bermacam pohon.


Suasana rumah kedua orang tua Jully memang selalu sepi, sore begini biasanya kedua orang tuanya dan adiknya berkumpul di belakang rumah, duduk santai di kursi yang ada di bawah pohon rambutan.


Kedua orang tua Jully hanya bertani dan berkebun, bukan dari kalangan pengusaha kantoran.


"Kadang aku mikir Pak, dosa apa ya kita, punya anak kok nggak mikirin keinginan kedua orang tuanya, si Jully betah membujang, kini si Tias juga ikut-ikutan gak mau nikah!"


"Ha ha hahaaa!" Hendra tertawa cukup keras mendengar keluhan Anya. "Bukan cuma Tias, Dewi pun gak mau dijodohin atau dicarikan calon suami, dan memilih untuk sibuk bekerja."


Jully tersenyum mendengar keluhan ibunya, dan tanggapan Pak Hendra. Hendra adalah tetangga Jully, yang selalu membantu dirinya dan keluarganya. Jully memilih bersembunyi di samping pintu.


"Pernikahan itu bukan lomba bu, harus cepat-cepat sampai ketempat finish, tapi suatu proses, biarkan jodoh mereka datang disaat yang indah."


"Aku sayang Bapak." Tias merasa bahagia mendapat perlindungan dari Bapaknya.


"Iya, waktu yang indah, sampai kita menutup usia gitu?" keluh Anya.


"Sabar lah bu, mungkin Allah siapakan jodoh terbaik, dan menantu tahan mental buat anak-anak kita, lidah ibu itu loh kadang filternya rusak!"


"Aku setuju sama Bapak, jadi menantu bu Anya dan Pak Sakti harus bermental baja!" Jully keluar dari persembunyiannya.


"Jully ...." Kedua orang tua Jully berlari menyambut kedatangan putranya.


"Kenapa pulang nggak kasih kabar?" gerutu Anya.


"Iya, kalau kasih kabar kan kita bisa jemput," tambah Hendra.


"Sengaja biar jadi kejutan buat kalian semua," sahut Jully.


"Aww aku terkejut syekali ...." ledek Tias. "Eh abang pulang, ini mau lebaran ya?" gerutu Tias.


"Abang gak mau lebaran dek, kalau bisa kurusan dikit," ledek Jully.


"Idih, kan biasanya abang pulang menjelang lebaran aja!" gerutu Tias.


"Ada kejutan lain nggak bang?"


"Ada, salah satunya aku akan kembali dinas di Rumah Sakit Harapan Afiat, tidak merantau jauh-jauh lagi."


"Kejutannya kurang nampol!" ledek Tias.


"Kalau mau tampolan yang berasa, itu sendal jepit Bapak aku pakai tampol wajahmu!" ledek Jully.


"Tadinya aku berharap abang pulang karena bawain kakak ipar buat aku."


"Wah kalau kejutan itu Bapak juga pengen."


"Mohon do'a ya Pak, semoga proses Jully menuju jenjang halal KUA dilancarkan."


"Label KUA?" Tias berusaha memikirkan ucapan Jully.


"Kalau label halal MUI cukup makanan dan keperluan lain, kalau keperluan abang ya yang halal dari stempel KUA."


"Alhamdulillah, akhirnya ada hati yang tergerak menerima anakku," jerit Anya.


*****


3 bulan berlalu. Semua urusan Ishana dan Ardhi sudah selesai. Ishana dan Jully pun semakin mematangkan rencana mereka.


Suasana sore di rumah Jully terasa begitu hangat, 3 bulan ini Dewi sering mampir ke rumah Jully, walau sekedar mengobrol dengan Tias sahabatnya. Kedua orang tua Jully pun berada di ruang tamu, bersama Tias dan Dewi.


"Bu ...." Jully tiba-tiba datang dan langsung duduk bersimpuh di depan ibunya.


"Ada apa Jul?" Anya merasa aneh dengan reaksi putranya.

__ADS_1


Jully memperlihatkan cincin yang selama ini dia simpan. "Bapak, Ibu, bantu aku meminang pujaan hatiku ya."


"Kamu serius ingin menikah?" Anya masih tidak percaya, selama ini Jully selalu mengindar jika membahas soal pernikahan.


"Iya bu, karena pujan hatiku sudah ada di sini, bantu aku melamarnya secara resmi," pinta Jully.


Dugggg!


Perasaan Dewi tidak menentu, dia menegakkan pandangannya menoleh kearah Jully. Wajah laki-laki itu bersemu merah menahan rasa malunya atas pengakuannya pada kedua orang tua.


Apakah perasaanku pada kak Jully selama ini bersambut?


Perasaan Dewi sungguh berbunga-bunga, dalam ruangan ini hanya dirinya yang orang lain.


"Di sini, maksudnya di rumah ini?" sela Tias.


"Bukan di rumah ini Tias, tapi wanita pujaan hati abang sudah ada di kota ini."


Prang!!


Seketika hati Dewi hancur berkeping-keping, laki-laki yang selama ini dia cintai dalam diam malah mencintai dan ingin menikahi wanita lain.


"Kapan kamu ingin menikahi wanita pujaan hqti kamu Jull?" tanya Sakti.


"Malam ini, Pak."


"Ya sudah, nanti kita siap-siap melamar wanita pilihan Jully," sela Anya.


"Kamu ikut yuk Dew," ajak Tias.


"Iya Dewi, kamu ikut juga, kamu itu seperti keluarga aku loh," Jully menambahi.


"Aku ada kerjaan kak, jadi maaf nggak bisa ikut." Dewi berusaha menyembunyikan kehancurannya. Sore itu Dewi pulang dengan segala kesedihan. Rasa cinta yang selama ini dia pendam tidak akan bersambut.


Malam harinya.


Sakti dan Anya terpaku mengagumi keindahan kediaman calon menantu mereka.


"Kamu masih pengen bikin Bapak sama ibumu jantungan Jull? Sampai sekarang kamu masih rahasia in wanita yang akan kamu nikahi!" protes Anya.


"Penasaran kalian semua akan terjawab beberapa menit lagi, yang sabar yang sabar," ledek Jully. Jully sengaja tidak mengatakan siapa calon istrinya, tentunya ibunya sudah tahu siapa Ishana, makanya dia ingin beri kejutan.


Mereka semua disambut Shafina dan tiga anak kecil yang berpenampilan sangat lucu, Dina dan Dhifa dengan gaun mereka, sedang Rian mengenakan jas.


"Selamat datang papa Jully," ucap tiga anak itu bersamaan.


Mereka langsung menyalami Jully dan keluarganya.


"Jully bukan hanya kasih ibu menantu, tapi Jully kasih ibu 3 cucu sekalian." Seringai kebanggaan memenuhi wajah Jully.


"Janda?" tanya Anya.


"Perawan atau Janda sama aja bu, sama-sama wanita," sela Sakti.


"Mau gimana lagi bu, 7 tahun ini Jully berjuang mendapatkan cintanya," ungkap Jully.


Anya sedih, anaknya yang tampan dan mempunyai karir yang bagus harus menikahi seorang janda. Walau janda kaya, Anya berharap Jully menikahi wanita yang belum punya anak.


"Selamat datang bu Anya," sambut Rita.


Anya tersadar dari lamunannya. "Bu Rita?" Anya sangat terkejut melihat keberadaan Rita sekeluarga di rumah calon besannya.


"Jangan-jangan ibu sudah tahu duluan nih siapa calon menantu saya?" sela Anya.


"Emm bingung saya mau jawab apa," sahut Rita.

__ADS_1


"Mama bukan hanya tahu, tante. Tapi, mama ikut menyaksikan bagaimana Jully memperjuangkan cintanya."


"Nak Risma," sapa Anya.


Risma hanya tersenyum, dan mengajak kedua orang tua Jully berkenalan dengan yang lainnya, seperti Shafina dan Pajri juga istrinya.


Acara sambutan dan perkenalan dengan keluarga Jully selesai, setelah melewati beberapa acara, akhirnya sampai di acara yang paling ditunggu, yaitu lamaran resmi Jully pada Ishana.


Semua sorot mata tertuju kearah tangga, di mana Ishana menuruni tangga bersama Nara.


"Itu bu calon istriku yang selama ini aku perjuangakan." Jully mengisyarat pada Ishana.


Seketika Anya langsung berdiri saat menyadari siapa calon menantunya. "Itu kan, istri kedua Ardhi?"


"Mereka sudah resmi bercerai bu Anya," sela Rita.


Anya menoleh pada Jully. "Oke, perawan atau janda sama saja, karena benar mereka sama-sama wanita. Tapi kenapa harus mantan istri Ardhi?"


Seketika keadaan menegang karena ucapan Anya barusan.


"Karena aku mencintai dia bu," sahut Jully.


"Ibu kecewa Jull! Wanita di bumi ini banyak, tapi kenapa kamu selalu menyukai bekas Ardhi? Dan sekarang kamu malah ingin menikahi jandanya!" Anya langsung pergi dari rumah Shafina.


Ishana mematung, kekecewaan ibu Jully karena pilihan Jully, hal itu seketika meruntuhkan kebahagiaan yang dia angankan sebelumnya. Ishana menepis tangan Nara yang masih memegangi lengannya.


"Tias, cepat kamu susul ibumu," pinta Sakti.


"Aku bantu kamu Ti," sela Risma.


"Nggak usah di susul, ibu cuma balas kalian semua, Jully kelewatan, keluarga dan teman yang lain tahu siapa calon istrinya, lah kedua orang tuanya baru tau, kan aku kesel, lah aku balas!" Tiba-tiba Anya muncul kembali.


"Astaghfirullah ibu ... hampir aja perbuatan ibu barusan membuatku ingin jadi bujangan selamanya!" gerutu Jully.


"Lah kenapa kamu mau membujang selamanya?" tanya Anya.


"Kalau aku tak direstui sama Ishana, ya sudah aku gak akan menikah selamanya, karena cintaku hanya dia." Ujung telunjuk jari tangan Jully mengarah pada Ishana.


Seketika wajah yang tadi suram seketika ceria kembali. Acara lamaran Jully dan Ishana pun berlanjut.


Selama 3 bulan ini, publik dibuat penasaran dengan berita pernikahan putri tunggal Shafina Azzalea Shafiq, pasalnya yang melakukan fitting baju pengantin bukan hanya Ishana. Tapi juga Risma dan Nara. Tidak ada klarifikasi siapa calon menantu Shafina Azzalea Shafiq.


Jully memasuki butik dari pintu yang lain. "Bagaimana? Sudah ada yang mencuri hatimu?" tanya Jully pada Ishana.


"Mana ada, kan hatiku ada padamu," sahut Ishana.


"Uhuk! Air! Air!" ledek Nara.


"Mana air? Cepat berikan pada calon istriku, aku gak siap jadi duda sebelum menikah!" protes Indra, calon suami Nara.


"Ya ampun Indra, itu Nara lagi kode minta kamu rayu, bukan minta air beneran!" ledek Risma.


"Mending kamu minta aku lomba lari maraton yank, daripada diminta gombal, aku nggak bisa."


"Ya udah, kalau gitu lari marathon dari Bandara sampai hotel Paradise ya," pinta Nara.


"Siap, tapi aku naik motor ya, bukan lari-lari."


Semua tertawa mendengar jawaban Indra, calon suami Nara.


"Ris, hari ini Dhifa ada acara?" tanya Ishana.


"Dhifa ada les kayaknya, kenapa Na?"


"Aku tadinya cuma ngajak dia ke rumah orang tua Jully, aku belum pernah berkunjung ke sana."

__ADS_1


"Ciyeee yang mau silaturrahmi sama calon mama mertua," ledek Nara.


Selesai melakukan fitting baju pengantin, Ishana dan Jully mengajak si kembar mengunjungi kediaman dokter Jully. Jully, terlahir dari keluarga yang sederhana, namun Jully sosok yang gigih dan pekerja keras, berkat kerja keras dan kesabarannya dia bisa meraih cita-citanya, kerja kerasnya dulu sukses mengantarnya meraih gelar dokter, kerja kerasnya 7 tahun lalu sukses memperjuangkan cinta Ishana. Tinggal menunggu hari, Ishana menjadi pasangan halalnya.


__ADS_2