
Sejak kejadian itu, Ishana bagai candu bagi Ardhi, sulit baginya untuk berhenti melepaskan tubuh indah itu. Bahkan setiap paginya Ardhi dan Ishana berangkat bekerja bersama-sama.
Rasa cinta yang terlanjur tumbuh, membuat Ishana tidak mampu menolak Ardhi. Pasrah dengan keadaan yang akan terjadi di depan. Jika Risma memintanya pergi, Ishana akan pergi.
Selain perubahan Risma, Eva juga terus menjajah mentalnya dengan rengekan-rengekannya. Sedang Risma, selalu menghindarinya. Penolakan Risma membuat Ardhi melepaskan segalanya pada Ishana.
Bukan hanya cerita, tapi segalanya.
Rasa stres yang Ardhi rasa seakan berkurang karena pengertian Ishana, wanita itu tidak pernah marah atau komplain didatangi diam-diam.
Sudut rumah yang sepi, dapur yang gelap, mobil, kantor Ardhi, semua itu menjadi saksi bisu percintaan Ardhi dan Ishana. Bahkan ruangan khusus yang ada di Rumah Sakit, menjadi tempat keduanya bertemu jika Ishana dalam tugas.
Keadaan rumah terasa sepi setelah Rita dan Wisnu pergi, Ardhi tetap berusaha kuat untuk mendekati Risma. Dia ingin menjadi bahu tempat Risma bersandar. Tetap saja, pintu kamar itu terkunci jika malam.
Ardhi pun menuju kamar Ishana.
"Kak Ardhi?"
Bukan hal baru Ardhi tiba-tiba mendatanginya. Namun melihat wajah Ardhi begitu kusut, Ishana prihatin.
"Ada apa kak?"
"Aku tidak tau lagi, tidak ada mama dan papa di rumah Ini, Risma malah semakin menjauhiku."
"Aku akan bicara padanya kak, kakak jangan menyerah."
Impian Ishana, dia ingin rumah tangga Ardhi dan Risma baik-baik saja, ada dirinya atau tidak ada dirinya. Jangankan rahimnya, nyawanya pun akan dia serahkan pada Risma.
Ardhi sudah ke kantor, Eva juga sudah pergi, hanya tertinggal Ishana dan Risma di rumah itu.
Walau Rita tidak ada di rumah besar, Risma tetap merawat tanaman hias kesayangan mertuanya.
Hanya ada Risma di sana, waktu yang tepat bagi Ishana mendekati Risma.
"Pagi Risma."
"Pagi Na." Risma tetap sibuk dengan memerhatikan tanaman kesayangan Rita. "Libur?" tanya Risma.
Ishana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Risma, kamu tahu sendiri, kalau aku dan kak Ardhi, sering pergi bekerja bersama."
"Iya, aku lihat."
"Sepanjang perjalanan, kak Ardhi sering cerita tentang kamu Ris."
Risma hanya fokus dengan tanaman yang dia urus.
"Risma, beri sedikit kak Ardhi kesempatan untuk membuktikan kalau kamu itu sangat penting bagi dia. Kasian dia Ris ...."
__ADS_1
"Kehadiran aku dan Eva sama sekali tidak menggeser tempatmu di hati kak Ardhi."
"Risma ... kak Ardhi ingin sama kamu, rindu kamu, apa kamu tidak merasakan perasaan yang sama seperti dia?"
"Sulit, kehadiran Eva membuat pertahananku hancur, dan setiap aku berusaha membuka diri untuk mas Ardhi, bayangan Eva selalu meyertainya."
"Fahami juga Eva, kak Ardhi selalu berusaha agar bisa bersamamu jika ada kesempatan," bujuk Ishana.
"Mau bersamaku, ya datangi aku terang-terangan."
"Masalahnya Eva, Ris."
"Berarti mas Ardhi takut sama Eva, ya sudah tidak perlu mendekatiku, kalau nyalinya tertinggal di celah kedua paha Eva."
"Aku merasa tidak punya harga diri jika didatangi kucing-kucingan seperti itu!"
Jlebbb!
Jantung Ishana tercubit, sedang dirinya selama ini menjadi teman Ardhi dalam gelap.
Aku tidak tau Ris, apakah diriku berharga. Menjadi istri kedua Ardhi, harga diriku sudah hancur, teman-temanku memandang rendah diriku. Kini kamu katakan, mau menerima Ardhi kucing-kucingan seakan tidak punya harga diri.
Cinta ini merenggut segalanya, dan aku tidak peduli dengan harga diriku, bagiku bisa membahagiakan kak Ardhi, itu melebihi apapun.
"Aku bukan membela Eva, maupun membela kak Ardhi, aku hanya ingin melihat kak Ardhi bahagia seperti dulu, aku sedih Ris melihat dia hancur dan merasa kehilangan kamu."
"Aku yang kehilangan dia!"
Risma menatap sinis pada Ishana.
"Tentang Eva, coba fahami keadaannya, kamu pernah hamil, dan kamu tau rasanya itu, biar saja Eva melakukan yang dia mau, tapi hal itu jangan merubah rasa sayangmu pada kak Ardhi," ucap Ishana.
"Kamu ngomong mudah Na! Kamu nggak cinta dia, sama siapapun Ardhi, kamu nggak akan terluka. Coba kamu seperti aku, aku mencintai Ardhi, sakit rasanya melihat dia bercinta dengan wanita lain!"
Salah Ris, aku juga mencintai kak Ardhi, tapi aku bahagia melihat dia bersamamu, atau pun bersama Eva
Ishana tidak seberani itu mengatakan kata hatinya. "Sebab itu juga dulu aku menahan tugasku, aku tau ini." Kedua bola mata Ishana berkaca-kaca. Dulu dia menahan, tapi beberapa bulan lalu, dia melakukannya.
Bagaimana perasaan kamu Ris, jika kamu juga tau kalau aku dan kak Ardhi sudah memulai nya?
Rasa sakit, kecewa, dan penyesalan itu kembali memenuhi hati Ishana.
"Bukan begitu Na, kalau kalian aku yang menginginkan." Risma salah tingkah melihat kehancuran Ishana.
"Saat rumah tangga ini hanya ada aku, Ardhi, dan kamu, aku merasa aman, Na. Tapi saat Eva hadir, aku merasa terancam."
"Apa bedanya, aku dan Eva sama-sama orang lain."
"Coba kamu fahami posisi aku Na, aku sangat mencintai suamiku, bagaimana aku bisa tenang dan bahagia melihat dia bersama wanita yang mengharapkannya."
__ADS_1
Aku juga mencintai kak Ardhi, aku malah berharap dia bahagia dan lepas dari tekanan, walau jika menginginkan itu aku harus membayar mahal semuanya.
"Na, ikatan sekarang tentang kita semua. Aku bukan tidak mau memahami kamu, tapi wanita yang berbagi suami, jika kita menuntut kak Ardhi mengutamakan kita, itu beban buat dia."
"Kamu kira kak Ardhi bahagia melakukan tugasnya pada Eva, enggak Ris, dia sakit! Apalagi terbayang kemarahan dan rasa sakitmu, sepanjang jalan dia menangis!"
"Di mana Risma ku yang selalu membantu setiap orang? Di mana Risma ku yang selalu meringankan beban suaminya?"
"Kehadiranku dan kehadiran Eva suatu beban dalam hati kak Ardhi, jangan kau tambah dengan menjauhi dan menolaknya."
"Kamu tau? Kak Ardhi pernah sakit, dia tidak kuat dengan keadaan ini, tapi aku dilarang Derby memberitahu ke rumah, dia tidak mau membuat kekhawatiran baru di rumah ini."
"Kau sahabatku, apa pesuruh mas Ardhi?"
"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya ingin hubungan kalian seperti dulu," sahut Ishana.
"Kalau kamu mau jadi pelampiasan nafsu Ardhi, kamu saja sana! Aku gak mau!"
Ishana tidak menyerah begitu saja, dia terus berusaha membuat Risma mengerti keadaan Ardhi. Berharap hubungan ini bisa lebih baik. Tapi, yang dia alami sama seperti Ardhi, penolakan Risma.
***
Di sebuah cafe ....
Eva meminta Ardhi menemuinya di sebuah cafe, dia masih menunggu kedatangan Ardhi
Eva melamun memikirkan keadaannya. Kandungannya kini memasuki bulan ketujuh. Ardhi memang memperhatikannya. Tapi Eva sadar, semua itu demi anak yang dia kandung.
Kamu itu berharga Va, kamu bisa mendapatkan cinta yang tulus tanpa harus berbagi, kenapa kamu mempertahankan ikatan rumit ini?
kamu tidak terlihat di mata suamimu. Sampai kapanpun laki-laki itu hanya mencintai istri pertamanya.
Ardhi Pramudya. Aku tau dia, di matanya aku hanya melihat sosok wanita yang bernama Risma Eriska, hembusan napasnya hanya wanita itu.
Wanita sebaik Ishana saja tidak mampu menggeser posisi Risma, apalagi kamu.
Maaf bukan mengatai kamu tidak baik, namun dalam rumah tangga ini, kamu yang paling lemah.
Jangan sia-sia kan hidup kamu Va, lahirkan anak itu, berikan pada mereka, dan kamu pergi bersamaku.
Kita ciptakan dunia kita tanpa harus ada yang berbagi, dunia cinta yang hanya ada aku dan kamu.
Jangan takut Eva, mereka akan memahamimu dan memaafkan kamu, karena anak yang kamu berikan pada mereka menghapus segala kekecewaan mereka.
Bahkan aku berpikir, mereka hanya ingin anak, bukan dirimu.
Eva menautkan jari jemarinya. Terbayang semua kata-kata Edwin.
Segala perkataan Edwin benar adanya, dirinya masuk pada hubungan ini karena perjanjian dengan Rita. Namun setelah semua ini berjalan, dia tidak berambisi untuk harta Ardhi. Keinginan alami wanitanya, dia menginginkan cinta dan sedikit tempat di hati Ardhi.
__ADS_1
"Eva, ada apa kau memintaku menemuimu? Apa tidak bisa kita bicarakan di rumah?
Lamunan Eva seketika buyar mendengar suara yang begitu khas di telinganya.