Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 70


__ADS_3

Derby baru keluar dari mobil, dia langsung diserang beberapa anak Panti Asuhan, ingin kembali masuk mobil terlambat, Derby pun menerima sentuhan lembut dari balok kayu yang dilayangkan beberapa anak.


“Anak-anak berhenti!”


Beruntung pemilik Panti Asuhan datang tepat waktu, Derby pun selamat. Sedang di sana, Ardhi bisa bernapas lega, karena Derby selamat. Walau meninggalkan beberapa stempel warna pada wajah Derby.


“Kalian semua bunda hukum!”


Anak-anak itu hanya diam.


“Nggak apa-apa bund, setidaknya kami bisa memberi pelajaran pada orang serakah kayak dia!”


“Ishana!” tegur bunda Aiswa.


“Niat kami ingin mematahkan tulang-tulang dia, seperti dia mematahkan tiang-tiang Panti ini.”


“Na, kamu fokus kejar cita-cita kamu, urusan Panti, biar jadi urusan bunda. Yang kalian serang bukan Ardhi Pramudya, dia Sekretaris Pribadinya.” Bunda Aiswa menoleh kearah lain. “Yang memegang balok kayu itu Ardhi.”


Sorot mata yang penuh kebencian dari mata Ishana tertuju pada Ardhi.


“Nak Derby, maafkan kelakuan anak-anak ibu,” sesal bunda Aiswa.


Derby hanya mengangguk, dia berusaha menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


“Tapi bunda, mereka membuat kita susah!” Ishana protes.


“Jika ada manusia yang menyakitimu, jangan balas menyakiti, biarkan Tuhan yang balas, balasan dari Tuhan lebih indah, jika kalian beruntung, kalian bisa melihat karma pada orang yang menyakiti kalian.”


Nyali Ardhi seketika menciut, niatnya ingin mengambil kembali lahan ini tidak mendapatkan dukungan siapapun, termasuk kedua orang tuanya.


“Kalian semua ikut bunda!”


Mau tidak mau, mereka semua mengikuti bunda Aiswa.


“Yang dibalik pohon juga ikut!” teriak bunda Aiswa.


Risma pun keluar dari persembunyianya.


Menit demi menit berlalu, beberapa anak Panti mulai berkemas, Ardhi merasa bersalah karena menciptakan masalah untuk anak-anak yang tidak bersalah padanya.


Buuggghh!


“Awwww!” Ardhi menjerit, samping kepalanya kena hantaman batu. Saat yang sama Risma berdiri mematung tidak jauh dari posisi Ardhi.


“Kalian benar-benar Anarkis, aku akan melaporkan kamu ke polisi.”


Keadaan yang tenang seketika heboh kembali, karena seorang Direktur utama Wardana Group terluka. Risma pun dimarahi oleh bunda Aiswa karena Tindakan anarkisnya.


Melihat bagaimana kepedulian Risma, tanggung jawabnya, dan semangatnya, sebuah pikiran terlintas di benak Adhi, dia meminta waktu untuk berbicara hanya berdua dengan Risma. Setelah lukanya di obati oleh pengurus Panti, Ardhi dan Risma berbicara empat mata.


“Aku akan laporkan kamu, dan akan aku pastikan, kamu menetap lama di hotel yang dikelilingi teralis besi itu.”


Risma menatap Ardhi dengan sorot mata yang tidak takut sama sekali. “Aku malah berterima kasih, karena kamu memberiku tempat tinggal baru dengan jaminan makan 3 kali sehari.”

__ADS_1


“Owh, semoga kamu bisa satu ruangan dengan 15 temanmu yang lain tadi.”


Seketika keberanian yang menyala dalam diri Risma padam. “Aku mohon, jangan seret adik-adikku ke penjara.”


“Atas dasar apa aku harus mengabulkan permohonanmu? Memang apa yang bisa kamu berikan padaku?”


Risma terdiam.


“Owh, apalagi yang mengenakan seragam perawat, dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia masih mahasiswi magang, hmmm aku pastikan dia di hukum berat, karena menyediakan senjata untuk penyerangan.”


“Aku akan melakukan apa saja, asal Anda lepaskan mereka semua.”


Ardhi tersenyum melihat seorang gadis yang penuh keberanian tadi memohon padanya


“Karena aku lagi baik, aku akan beri penawaran padamu. Kau menikah denganku, maka aku akan berikan Panti ini dan bebaskan semua adikmu, termasuk mahasiswi itu.”


Risma masih membisu, bagaimana dia bisa menikah dengan orang asing yang hampir merubuhkan tempat masa kecilnya, walau bangunan ini baru dibangun ulang, karena bangunan lama habis dilalap si jago merah.


“Tewaranku hanya berlaku 10 detik. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8—”


“Aku bersedia!”


Risma menikahi Ardhi demi keselamtan Panti Asuhan, juga masa depan adik-adiknya, sedang Ardhi menikahi Risma demi mimpi papanya. Pernikahan yang sama sekali bukan hal romantic jika diceritakan pada anak cucunya nanti.


Flash back off.


***


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Risma.


“Bohong!”


“Beneran tidak ada, aku hanya teringat awal-awal pertemuan kita, di mana kepalaku kamu cium dengan batu.”


Risma tersenyum kembali teringat kejadian itu, dia pun membalas pelukan Ardhi. “Jika kita ada waktu, kita nostalgia ke sana, kita ajak juga dokter Jully, biar dia tahu kalau Ishana yang manis itu tak semanis yang dia lihat.”


“Usul yang sangat bagus, nanti kita ke Panti sama-sama.”


Sedang di hotel tempat Resepsi Nara, acara sudah selesai, Nara dan suami sudah mengurung diri di kamar, hanya ada para pelayan yang kerja keras membersihkan ruangan, karena besok hari ruangan terpakai lagi.


Ishana mengawasi ketiga putrinya yang bermain di area kolam renang anak, kedatangan salah satu anak buah Shafina, membuat perhatian Ishana terbagi.


“Ada apa?”


“Nona, ini ada paket buat Nyonya Shafina.”


“Iya, saya akan kasih mama.”


Setelah menerima paket, Ishana mengajak ketiga anaknya untuk kembali ke kamar mereka, Dhifa, Dina, dan Rian masuk ke kamar Ishana, sedang Ishana menuju kamar yang Shafina tempati. Pintu kamar itu sedikit terbuka, membuat Ishana tersenyum, namun langkahnya terhenti ketika mendengar obrolan ibunya.


“Harusnya Nyonya itu istirahat, ingat kan kata dokter kemaren. Usia seperti Nyonya harusnya banyak bermain dengan cucu di rumah, bukan mengurus bisnis.”


“Aku juga mau istirahat Bil, tapi mau bagaimana? Andai menantuku Ardhi, dengan senang hati aku melepas semua bisnisku untuk dia Kelola, tapi orang-orang di sekitarku yang memahami bisnis orang lain, Ardhi saat ini orang lain, Pajri juga orang lain. Bagaimana aku yakin melepas sahamku triliunan itu pada orang lain?”

__ADS_1


“Terlebih saat ini menantuku Jully, dia dokter, bukan pengusaha.”


Ishana sedih mendengar ucapan ibunya, calon suaminya ternyata hanya membahagiakan dirinya, tidak dengan ibunya.


“Tapi demi kebahagian putri tuggalku, aku akan melakukan apa saja. Aku sudah melepaskan bagian-bagian kecil pada satu orang, agar aku tidak lelah, putriku juga bahagia.”


Seketika kesedihan Ishana lenyap, dia hanya takut laki-laki pilihannya tidak membuat ibunya bahagia, baginya pernikahan bukan hanya nyaman, tapi menyatukan. Ishana menarik napasnya begitu dalam. Dia mundur beberapa langkah, dan maju lagi sambil bersenandung.


“Halo mama.” Ishana membuka pintu kamar ibunya sambil tersenyum.


“Ada apa Na?”


“Owh, ini Cuma ada paket buat mama.” Ishana memberikan paket untuk ibunya pada Nabila Asisten Pribadi ibunya.


Ishana masih berdiri dekat ibunya. “Mama, aku boleh tanya satu hal?”


“Silakan sayang.”


“Mama keberatan aku menikah dengan Jully?”


“Mama akan mendukungmu, dan mama mendukung semua keputusan dan pilihan kamu, karena kebahagiaan mama itu, ya kebahagiaan kamu dan kedua anakmu.”


Ishana naik keatas tempat tidur dan memeluk mamanya. “Aku kembali ke kamar dulu mah, takut anak-anak cari aku.”


“Na, jangan pernah memikirkan apapun, pikirkan kebahagiaan kamu, karena kamu bahagia mama juga bahagia.”


“Iya mama.”


Ishana segera kembali ke kamarnya, saat melewati satu pintu yang disiapkan untuk Jully, namun kamar itu kosong, karena Jully tidak diizinkan oleh mamanya bertemu dengan Ishana sebelum akad nikah, namun tiba-tiba ada sepasang lengan kokoh yang menarik Ishana kedalam kamar itu dan menutup mulut Ishana dengan telapak tangannya.


“Hmmmpp!”


“Ini aku Na.” Perlahan laki-laki itu melepaskan tangannya dari mulut Ishana.


“Jully?”


“Aku kangen banget sama kamu Na, aku nggak bisa nahan rindu lagi.”


Ishana dan Jully berpelukan saling melepas rindu.


“Kenapa kamu nakal banget? Aku juga kangen, tapi aku tahan.”


"Kenapa harus ditahan?"


"Aku menunggu kamu memberi kabar padaku."


“Walau tanganku gatal ingin chat kamu, tapi semua itu semampuku, aku tahan, kamu pikir aku tidak rindu apa? Pulang sana, jangan nakal lagi, lebih sabar lagi, Cuma tinggal besok kok.”


Rasanya Jully tidak ingin melepaskan pelukannya. “Aku nggak tau kenapa Na. hatiku mengatakan ini adalah pelukan terakhir yang bisa aku berikan."


“Iya, ini adalah pelukan terakhir yang melanggar hukum, karena mulai besok, apa saja yang kamu lakukan padaku suatu ibadah, bukan suatu dosa seperti ini.”


Jully melepaskan pelukannya. “Kenapa yang dosa bikin nagih Na?”

__ADS_1


“Idih, yang halal juga bikin nagih, berkah malah.”


“Ya udah, aku pergi dulu.” Jully menempelkan bibir mereka lama dan dalam, merasa tidak sanggup lagi, dia segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2