
Masalah yang timbul tadi siang hanya sebentar saja reda, mereka semua sudah mendapat jawaban atas segala rasa penasaran mereka. Perlahan kabar itu pun menguap dengan sendirinya.
Ardhi tidak ingin membuang kesempatan ini, dia menggunakan waktunya untuk bermain bersama tiga anaknya.
Sedang Risma menyusul Ishana ke kamar milik Ishana.
"Mama kamu belum kembali Na?" tanya Risma.
"Belum Ris, minimal 3 hari beliau pergi."
"Kami boleh menginap Na?" tanya Risma.
Bagaimana menolak sahabat yang ingin menginap di rumahnya, Ishana hanya diam.
"Kalau kamu keberatan kami menginap, kamu saja menginap di vila kami," tawar Risma.
"Ris, cukup Ris. Aku tidak akan kembali pada kak Ardhi, antara aku dan dia tidak ada perasaan apa-apa lagi."
"Kamu bisa membuka mata kamu lebih lebar? Kebahagiaan kak Ardhi itu kamu, cukup kamu, tolong fahami itu."
"Dulu pun begitu, rasa cinta itu muncul karena ada kekosongan diantara kami, hingga kami saling melengkapi."
"Sekarang, tolong jangan kamu aduk-aduk lagi."
"Aku sangat berharap, kita bisa bersama-sama Na."
"Kita tidak seistimewa itu Ris, sekarang Tuhan sudah berikan kebahagiaan untuk kita semua, raih itu semua."
Risma menatap sayu pada Ishana. "Jully?"
"Kenapa kalau kebahagiaan aku Jully?" Ishana balik bertanya.
"Mama ...."
Pembicaraan dua sahabat itu seketika terhenti, karena panggilan dari suara yang sangat manja.
"Mama, kenapa om Jully tidak datang?"
Ishana berusaha tersenyum pada Dina. "Om Jully sibuk, kalau om nggak sibuk, pasti dia datang."
"Mama."
"Iya sayang?"
"Ayah Ardhi memang Ayahku dan Rian, tapi kalau boleh meminta, aku juga mau om Jully menjadi Ayah kami, dia sangat sayang pada kami, dan kami sayang padanya."
Ishana tersenyum dan mengusap rambut putrinya. "Dina dan bang Rian mau om Jully jadi papa kalian?"
Dina menganggukkan kepalanya.
"Mama akan pertimbangkan. Jadi Dina siap punya 3 mama dan 3 papa?"
"Tiga?" Anak kecil itu mencoba mengingat.
"Amm, ada 1 lagi mama yang belum ketemu sama Dina," terang Ishana.
"Owh ...."
"Siap?" Ishana memastikan.
"Sangat siap ma."
"Ya sudah, main dulu sana sama Ayah Ardhi."
Dina segera bermain kembali bersama Ardhi dan dua saudaranya yang lain.
__ADS_1
"Kenapa harus Jully Na?" Risma melanjutkan pertanyaanya.
"Mencari pasangan untukku saat ini, bukan hanya yang membuatku nyaman, tapi juga memberi rasa nyaman pada anak-anakku."
"Jully sudah membuktikan dirinya Ris, saatnya aku memberinya kesempatan."
"Ardhi juga akan membuktikan dirinya, kalau ada kesempatan."
"Ris, cukup."
"Kenapa aku sulit bahagia saat membawamu dulu, karena dulu aku nggak ikhlas Na, niatku salah. Kali ini aku benar-benar berharap kamu menjadi istri mas Ardhi, bukan untuk melahirkan anaknya saja, tapi untuk hidup bersama, selamanya."
"Maaf Ris, untuk saat ini, keputusanku sudah bulat untuk menerima Jully."
Handphone Ishana berdering, secepat kilat dia menyambar benda yang terus berkedip itu.
Dokter Jully ada di cafe tepi pantai, di sana malam ini ada acara kembang api.
Isi pesan yang dikirimkan oleh anak buah Shafina yang masuk ke handphone Ishana.
Ishana menoleh pada Risma. "Ris, kalian keberatan jika menjaga kedua anakku? Aku ingin menemui Jully."
"Apa benar tidak ada kesempatan sedikitpun untuk Ardhi Na?"
Ishana menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku mengalah, aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi. Walau keinginan terbesarku, kita hidup bersama berbagi cinta mas Ardhi."
"Bagiku, kamu adalah perempuan terbaik yang aku pilih menjadi istri untuk Ardhi. Yang memahami mas Ardhi, dan memberi kenyamanan baginya." Risma membuang kasar napasnya. Jika dia diposisi Ishana, pastinya dia juga akan memilih laki-laki yang masih sendiri, daripada masuk kembali dalam ikatan poligami.
"Maafkan keegoisanku, Na."
"Maafkan aku juga, karena tidak berani menampakkan rasa cintaku dulu." Sampai saat ini Ishana masih tidak berani menatap mata Risma dengan jarak dekat, rasanya dia masih melihat rasa sakit itu.
Risma membuang kasar napasnya. "Saat aku mengajakmu masuk kedalam ikatan ini, saat itu aku down. Bagaimana mimpi papa, bagaimana mas Ardhi jika aku mati, bagaimana dan bagaimana. Itu terus berputar di kepalaku."
"Walau rasa takutku bermula saat ada Eva diantara kita."
Ishana terkejut mendengar pengakuan Risma. "Sekarang bagaimana? Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
"Sekarang aku baik, aku tidak cerita, karena aku tidak mau mendapat belas kasihan siapa pun, termasuk mas Ardhi."
"Aku tersiksa lihat kak Ardhi terpuruk Ris, walau saat itu ada aku dan Eva, tapi dia hanya menginginkan kamu, kami sering bertukar cerita, hingga kami saling merasa nyaman, dan rasa itu muncul di luar kendali kami."
"Maafkan aku, andai waktu bisa kuputar pada titik itu, aku ingin menurunkan sedikit egoku," sesal Risma.
"Semua sudah berlalu, bisakah kita membuka lembaran baru sebagai sahabat? Kita bersahabat, dan kedua suami kita bersahabat."
"Seserius itu kamu ingin bersama Jully?"
Ishana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Setelah menemui Jully, jangan lupa bukakan aku pintu, aku akan menginap di vila kalian."
Pupus sudah harapan Risma, padahal dia sangat berharap Ishana meneruskan perjuangannya untuk mencintai Ardhi, setelah dia tiada nanti.
*
Malam itu, Dina dan Rian dibawa oleh Risma ke vila mereka, walau begitu, beberapa petugas keamanan Shafina tetap mengikuti mereka, dan menjaga sekitar vila yang Risma tempati. Sedang Ishana bersiap menemui Jully di salah satu sudut pantai di pulau itu.
Acara belum dimulai, keadaan masih sangat sepi. Di sebuah meja yang menghadap ke pantai, seorang laki-laki duduk termenung di sana. Di sampingnya terlihat 2 orang yang memainkan alat musik, dan satu orang penyanyi Wanita. Terdengar alunan lagu menepi, menemani laki-laki yang terlihat sedih di sana.
...Mencintai dalam sepi...
...Dan Rasa sabar mana lagi...
...Yang harus kupendam dalam...
__ADS_1
...Mengagumi dirimu...
Jully sangat mendalami lagu yang dia request, senyuman Ishana sesaat setelah pangutannya dengan Ardhi kembali terbayang. Rasanya lagu ini sangat tepat menggambarkan perasaanya saat ini.
...Melihatmu genggam tangannya...
...Nyaman di dalam pelukannya...
...Yang mampu membuatku...
...Tersadar dan sedikit menepi...
*Jika kebahagiaan kamu adalah Ardhi, aku akan mengubur dalam semua perasaan ini, mencoba ikut bahagia melihatmu bahagia.
Untuk apa aku memaksakan cintaku, jika kamu tidak bahagia bersamaku Na*.
Jully hanya bisa menjerit dalam hati, walau dia sangat ingin berteriak melepaskan rasa yang mengganjal di dalam dadanya.
...Tak ada waktu kembali...
...Untuk mengulang lagi...
...Mengenang dirimu diawal dulu...
...Ku tahu dirimu dulu...
...Hanya meluangkan waktu...
...Sekedar melepas kisah sedihmu...
Lagu menepi itu terus bermain, dan Jully sama sekali tidak memerhatikan keadaan sekitarnya. Dia terus larut dengan lamunan yang semakin dalam karena lagu yang menemaninya sangat pas dengan suasana hatinya.
Ishana menghela napasnya melihat keadaan Jully yang sama sekali tidak menyadari atau memang tidak peduli dengan keberadaanya. Ishana mendekati 3 orang yang menghibur Jully dan berbisik pada salah satunya.
Satu lagu 'Menepi' baru saja selesai dimainkan.
"Next lagu berikutnya," ucap Jully. Tapi pandangan matanya hanya tertuju kearah pantai.
Jreng ....
Petikan suara gitar untuk memulai lagu berikutnya.
...Jujur saja ku tak mampu...
...Hilangkan wajahmu di hatiku...
Jully melempar sembarangan kentang goreng yang tadinya hampir masuk kedalam mulutnya, dia sangat kesal, karena lagu yang dimainkan bukan lagu yang dia request selanjutnya.
"Mas! Bukanya tad--" Jully tidak bisa melanjutkan makiannya, yang bernyanyi bersama para pemain musik itu bukan vokalis sebelumnya, tapi Ishana.
...Meski malam mengganggu...
...Hilangkan senyummu di mataku...
...Kusadari ... aku cinta padamu...
Mulut Jully terbuka, rasanya dirinya terhipnotis oleh tatap mata, senyuman, dan suara Ishana.
...Meski kau bukan yang pertama di hatik**u...
...Tapi cintamu terbaik untukku...
...Meski kau bukan bintang di langit...
...Tapi cintamu yang terbaik...
__ADS_1
Ishana sengaja mengubah lirik lagu aslinya, karena lirik yang dia nyanyikan saat ini yang menggambarkan perasaanya.
Ishana hanya mampu bernyanyi sedikit, itu pun lututnya terasa gemetaran. Dia menambah tip pada para penyanyi yang menghibur Jully, dan meminta mereka untuk pergi. Kini hanya ada Ishana dan Jully.