Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 68


__ADS_3

Di hotel tempat Ishana dan Jully mengadakan Resepsi terlihat sangat ramai, demi mengecoh para pemburu berita, di hotel yang sama sehari sebelum resepsi Ishana dan jully akan diadakan akad nikah dan Resepsi Nara dan Indra terlebih dulu. Ishana dan Nara sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, tanpa mengetahui keadaan Risma saat ini.


Sedang di kediaman Jully, keadaan sangat satai. Jully dilarang kedua orang tuanya menemui Ishana sebelum akad, hingga rasa rindunya hanya bisa dia lepas dengan mendengar suara Ishana lewat sambungan telepon.


“Jangan terlalu Lelah,” tegur Jully.


“Iya, aku nggak Lelah kok.”


“Na, ketemuan yukk, aku kangen banget sama kamu,” rengek Jully.


“Aku sih nggak apa-apa, tapi kamu nanti kena amuk mama kamu, sabar sedikit lagi, setelah pernikahan kita, kamu bakal bosen sama aku, karena sebelum tidur dan bangun tidur akan selalu melihat wajahku.”


“Mana ada bosen, bahkan kalau bisa aku nggak tidur, agar bisa memandangi wajahmu sepanjang waktu.”


“Sampaikan maaf aku pada Nara, ya Na. Karena aku tidak bisa hadir, pastinya mama aku nggak kasih izin.”


“Iya, Nara faham kok, kamu tetap jaga Kesehatan ya, miss yu to much papa ….” Ishana tertawa sendiri memanggil jully dengan sebutan papa.


Jully juga tertawa. “Temui aku sore ini di Rumah Sakit ya, aku nggak kuat lagi nahan rindu sama kamu.”


“Iya, aku juga rindu sama kamu, sampai jumpa nanti sore, pas juga karena aku mau antar undangan ke sana.”


“Iya, undangan pernikahan tanpa nama mempelai pria,” keluh Jully.


“Ngeluh sama mama sana, ini kan rencana dia.”


“Iya, nggak apa-apa namaku nggak ada di kartu undangan yang penting aku duduk di meja akad bersamamu nanti.”


Mendengar samar suara ibunya dari luar, Jully menyudahi panggilan teleponnya, yang ada ibunya bisa marah mengetahui Jully tidak menahan rasa rindunya pada Ishana.


“Ada apa bu?” tanya Jully, dia heran melihat ibunya tampak cemas.


“Itu dari beberapa hari yang lalu, rumah Pak Hendra lampunya selalu menyala,” sahut Anya.


“Coba kamu telepon Pak Hendra Jul, kok Bapak merasakan firasat yang enggak enak. Tadi Tias sudah berusaha menelepon Dewi, katanya handphone Dewi nggak aktif.”


Jully segera melakukan permintaan Bapaknya, berulang kali Jully melakukan panggilan ke nomer Pak Hendra, akhirnya panggila Jully diangkat.

__ADS_1


“Kami lagi di luar kota nak, maafkan Bapak sama Dewi, sepertinya Bapak tidak bisa datang di resepsi pernikahan kamu nanti.”


“Iya Pak, nggak apa-apa, Bapak sama ibu di rumah khawatir sama Bapak.”


Jully menyudahi pembicaraannya dengan Hendra, dia mengatakan kalau Pak Hendra dan Dewi lagi keluar kota.


Rasanya waktu berjalan lebih lama, berulang kali Jully melirik jam dinding yang ada di ruang kerjanya, tapi waktunya bertemu Ishana masih lama. Akhirnya jam dinding menunjuk pada angka 3, Jully segera meminta perawatnya keluar, karena sebentar lagi Ishana datang.


“Kalau ada yang mau ketemu saya, tolong kamu telepon dulu ya,” pinta Jully pada perawatnya.


Selang beberapa menit, telepon Jully berbunyi, secepat kilat dia menyambar gagang telepon itu. “Iya.”


“Dok, ada Ishana ingin mengantarkan undangan, bagaimana dok? Titipkan atau persilakan dia masuk?”


“Suruh dia masuk saja,” sahut jully.”


Setelah telepon Jully tutup, pintu ruangannya juga terbuka memperlihatkan sosok Ishana. Dengan santai Ishana menutup pintu ruangan Jully kembali. “Dokterku mulai nakal!” ledeknya.


Jully langsung mendekati Isahan dan memeluknya erat. Dia menyeret Ishana menuju ranjang pasien. Keduanya terus menumpahkan rasa rindu yang tidak bisa mereka tahan lagi.


“Cuma 2 hari lagi Na, nyicil dikit boleh dong.”


“Nyicil diluar oke, kalau sampai ‘Assalamu’alaikum sampai dalam. Nggak!” tegas Ishana.


Jully tersenyum, dan berusahan menahan dirinya, mencoba merasa cukup walau hanya sekedar memeluknya. Tidak terasa kegiatan mereka sudah berlalu 10 menit. Ishana harus menyudahinya, dan segera pergi dari ruangan Jully.


2 hari berlalu.


Di Rumah Sakit, bi Atin dan Pak Abim tampak sibuk mengemas barang-barang majikan mereka, setelah semuanya selesai, mereka segera pulang ke rumah Ardhi. Dalam perjalanan Dhifa terlihat begitu santai.


“Dhifa sayang, ingat ya. Nanti kalau ada yang tanya kita kemana, Dhifa jawabnya apa?” Risma memastikan.


“Menemani Ayah rapat di luar.”


Risma tersenyum, dia takut Ishana mengetahui penyakitnya sebelum dia siap sepenuhnya. Sesampai di rumah, mereka sudah ditunggu 2 orang petugas salon. Risma dan Rita tengah di rias oleh pegawai salon langganan Risma.


“Sayang, kamu yakin bisa?” Ardhi sangat khawatir dengan keadaan Risma.

__ADS_1


“Jangan dipaksa bu, sahabat Anda pasti faham kalau Anda tidak bisa hadir.” Pegawai salon yang merias Risma sangat cemas melihat wajah Risma yang begitu pucat.


“Aku bisa, aku nggak mau melewatkan momen berharga sahabatku, walau nggak bisa lama, setidaknya aku ada di sana walau sebentar.”


Ardhi pasrah, dia khawatir, tapi dia tidak ingin menghalangi kebahagiaan Risma. Setelah dari Rumah Sakit, mereka langsung menuju hotel tempat Nara melakukan resepsi pernikahan.


Sesampai di hotel, Risma dan keluarga disambut oleh Ishana. Di samping Ishana, Dina sangat cantik dengan gaun yang sama seperti Dhifa, sedang Rian sangat tampan dengan setelan jas yang senada dengan Ardhi.


“Kamu kemana aja Ris? 2 hari ini aku berusaha hubungin kamu,aku juga cari ke rumah, kata bi Atin, kalian ada pertemuan keluarga antar pengusaha.” Ishana memeluk erat Risma. 2 hari tidak bertemu rasanya sangat bahagia bisa bertemu lagi.


“Iya, maafin kami ya, karena tidak membantu persiapan kalian semua.”


“Tidak masalah, yukk kedalam, sebentar lagi akad di mulai.”


“Jully mana Na?” tanya Ardhi.


“Oh, biasa … ibu Jully tidak mengizinkan calon pengantin bertemu, lah apalah itu aku tidak mengerti,” jellas Ishana.


“Baguslah kalau tidak bertemu, bahaya kalau bertemu ntar bablas,” ledek Rita.


Ishana hanya tersenyum, dia terbayang kejadian 2 hari lalu, di mana dia Jully hampir kelepasan.


“Malah ketawa, jangan bilang Jully sudah nyicil duluan,” ledek Risma.


“Idih asem!”


Mereka tertawa bersama.


“Tunggu, kan calon suami Ishana masih misteri, bagaiman kalau orang mengira aku dan Ishana balikan? Lihat penampilan kita?” sela Ardhi.


Risma tersenyum melhat penampilan mereka semua.


Walau Ishana tidak kembali pada pelukan mas Ardhi, terima kasih Tuhan, atas momen hari ini.


Risma meminta Rita memfoto mereka berenam. Risma, Ishana, Ardhi, Dhifa, Dina, dan Rian. Sepanjang akad nikah berlangsung, Risma hanya fokus pada layar handphonenya. Baginya ini foto terbaik mereka.


Setelah akad nikah Nara dan Indra berlangsung, keduanya segera mengganti pakaian mereka, dan langsung mengenakan gaun resepsi. Ballroom hotel dipadati tamu undangan, terlihat keluarga Nara dan keluarga Indra berdiri di pelaminan menyalami para tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


__ADS_2