
Malam hari Risma terlihat sibuk, selain menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan Ardhi, dirinya juga harus menyiapkan perlengkapan liburan dirinya, Adhifa, karena mereka berdua dan Rita akan liburan. Walau masih seminggu lagi, Risma lebih suka mempersiapkan segalanya lebih awal.
Tiga koper sudah selesai Risma siapkan, dia mendekatkan koper Ardhi ke dekat pintu, agar pagi nanti, laki-laki itu tidak berteriak lagi mencari di mana kopernya.
"Ya salam, aku belum kasih tau mama rencana liburan dadakan ini." Risma menoleh kearah jam dinding, tidak terlalu malam, firasatnya Rita belum tidur.
Risma segera beranjak menuju kamar Rita
Tok! Tok! Tok!
"Mama ...." panggilnya.
Hanya berselang beberapa detik, pintu kamar Rita terbuka. "Ada apa Ris?"
"Mas Ardhi mempersiapkan liburan untuk kita." Senyuman sumringah menghiasi wajah Risma.
"Mama sudah tua, sangat malas melakukan perjalanan."
"Ini ke pulau Bunga loh mah, mamah tidak mau lihat bagaimana tempat perkemahan yang Dhifa inginkan sejak dia berumur 4 tahun?"
"Kesana?"
"Ardhi kasih izin?"
Risma tersenyum dan berulang kali menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, mama akan persiapkan semuanya."
"Tapi berangkatnya seminggu lagi mah."
"Pokoknya mama mau siap-siap."
Risma tersenyum melihat semangat yang menyala pada Rita, dia segera kembali ke kamarnya.
"Dari mana kamu?"
Risma baru membuka pintu kamarnya, kakinya belum melangkah masuk, pertanyaan itu sudah meluncur padanya.
Risma tersenyum, dan melangkahkan kaki memasuki kamarnya, jemarinya langsung mengunci pintu kamar mereka. "Dari kamar mama, kasih tau kalau kita liburan."
"Dhifa?"
Risma langsung mendekati Ardhi, dan melingkarkan lengannya di pundak Ardhi, laki-laki itu terlihat kesal karena kehilangan dirinya beberapa menit. "Anak itu sengaja nggak ku kasih tau dulu, biar dia nangis bombai dulu karena Ayahnya pergi keluar kota."
"Nakal!" Ardhi mencubit gemas hidung Risma.
"Selagi ada kesempatan, kan biasanya dia yang usilin kita, saatnya aku balas."
"Kegiatan kamu sudah selesai?"
"Sudah, tapi malam ini nggak bisa, maaf ya ...." sesal Risma.
"Idihhh, aku cuma mau tidur sambil peluk kamu, nggak nagih jatah!" Ardhi langsung menarik Risma ketempat tidur.
Malam terasa berlalu lebih cepat, mata masih menuntut ingin berpejam lebih lama, namun teriakkan alarm dan suara Adzan membuat mereka memaksa mata untuk terbuka.
Aktivitas pagi hari, hal yang menyibukkan bagi Risma, memang Dhifa sekarang bisa sendiri, hanya perlu diperhatikan oleh Salma, pelayan yang khusus menjaga Dhifa.
__ADS_1
Tetapi sumber saham Dhifa berasal, kalah mandiri oleh putri kecilnya, dari hal kecil sampai hal yang besar pun, tetap 'Bunda ....'
Nama itu terus terucap, jika mencari sesuatu yang tidak dia dapat, lebih tepatnya mencari sesuatu yang tidak dia cari.
Bunda ... di mana dasiku yang senanda dengan jas ku warna ini, warna itu.
Bunda ... ada melihat berkasku, Bunda ... Bunda dan Bunda.
Padahal semua keperluannya sudah Risma sediakan di tempatnya. Namun tanpa menggercoki tugas Istri, rasanya paginya kurang lengkap bagi Ardhi.
Dhifa melambatkan langkah kakinya, ketika melihat Bi Atin menarik koper keluar dari kamar Ayah dan Bundanya.
Wajahnya yang tadinya ceria, seketika masam. Dengan emosi yang menyala, dia masuk ke kamar Ardhi dan Risma.
"Ayah!" teriaknya.
"Dhifa ...." Risma mempercepat pekerjaannya memasangkan dasi pada Ardhi.
"Ayah bohong sama aku! Ayah bilang Ayah nggak akan dinas ke luar kota! Kan Ayah janji kalau ada tugas ke luar kota semua itu akan di ganti om Derby!"
"Emmm!" Ardhi mengkode sesuatu pada Risma. "Puas ...." Ardhi berusaja menahan suaranya, agar tidak terdengar Dhifa.
"Jangan rayu bunda! Aku marah sama Ayah!"
Anak itu langsung keluar dari kamar Ardhi.
Debrakkk!
Pintu kamar tertutup begitu keras.
"Kan--"
Brakkk!
Pintu terbuka lagi.
"Bunda nggak boleh antar Ayah ke Bandara, kalau bunda antar Ayah ke Bandara, aku juga marah sama Bunda!" Tatapan penuh kemarahan itu tetap tertuju pada Ardhi.
"Iya, bunda cuma antar Dhifa, bunda nggak anter Ayah kok."
"Aku tunggu di bawah, kita sarapan di luar, aku nggak mau sarapan lihat Ayah!"
Kali ini pintu tertutup perlahan, buka dengan bantingan lagi.
"Huh ...." Risma membuang kasar napasnya.
"Coba kalau Dhifa tau kalau keinginan dia Ayahnya kabulin, dia nggak akan semarah ini."
"Maaf mas, biar kejutannya lebih nampol, tapi maaf ya, aku jadi nggak bisa anter kamu ke bandara."
"Iya nggak apa-apa, sana hibur putri kita."
"Iya mas."
"Sampai jumpa seminggu lagi, mas pastinya kangen banget sama kamu." Satu ciuman lembut namun dalam mendarat di antara kedua alis Risma.
"Kenapa selama ini perginya?"
__ADS_1
"Ada proyek yang memang harus aku yang mengawasi, dan tidak bisa aku wakilin sama siapapun, termasuk Derby."
"Ya sudah, hati-hati, jaga kesehatan, dan jangan lupa kasih kabar terus ya."
"Itu pasti sayang."
Pagi itu Ardhi berangkat ke Bandara hanya diantar oleh Pak Abim, sedang Risma berusaha menghibur putrinya yang marah pada Ardhi.
Adhifa paling tidak suka kalau Ardhi bekerja ke luar kota tanpa dirinya dan Risma, anak itu terbiasa sebelum tidur di peluk sang Ayah.
"Dhifa mau sarapan di mana sayang?" Risma berusaha menghibur putrinya.
"Tempat biasa aja bunda."
"Ayah juga kepaksa pergi, karena pekerjaan itu nggak bisa Ayah wakilin sama siapapun, fahami tugas ya sayang ...."
"Ayah pergi berapa lama?"
"Yang pasti, kita akan ketemu Ayah u atau 9 hari lagi."
"Lama banget ...."
"Kalau Dhifa besar, dan sudah bekerja, Dhifa akan mengerti. Jangan marah, kasian Ayah, Ayah kerja buat kita, buat masa kita semua, buat sekolah Dhifa dan impian Dhifa."
"Ayah kan selalu lakukan apa yang Dhifa mau, ayah juga sudah lama nggak keluar kota lagi, tapi untuk urusan ini, Ayah nggak bisa nggak pergi."
"Tapi kan Ayah bos-nya, harusnya bisa dong!"
"Tanggung jawab sayang, bos tidak hanya memerintah, tapi juga punya tanggung jawab besar."
Anak itu tetap kesal karena kepergian sang Ayah, namun melampiaskan kemarahan dan kekesalan pada Bundanya, dia juga tidak sekejam itu.
Dhifa berusaha membangun kembali mood-nya yang mendadak buruk karena melihat kepergian sang Ayah.
Ibu dan anak itu sarapan di salah satu Restoran Rita yang telah menjadi milik Risma.
Sedang Ardhi, dia menarik kopernya. Sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas.
Brukkk!
Entah darimana arahnya, tiba-tiba seorang anak kecil menabrak koper yang Ardhi tarik, bukan hanya koper itu yang jatuh, anak kecil itu juga jatuh.
Ardhi langsung membantu anak kecil itu bangkit.
"Maaf om. Saya tidak sengaja."
Ardhi kagum, jatuh anak kecil ini lumayan keras, dia tidak menangis malah meminta maaf karena menjatuhkan koper yang Ardhi tarik.
"Ini om kopernya, ada yang rusak? Kalau ada yang rusak, kasih tau saya. Nanti saya minta oma atau mama buat ganti."
Perkataan anak kecil barusan mengejutkan kekaguman Ardhi, ternyata anak kecil itu sudah mengambilkan kopernya.
"Dina, kamu larinya kenceng banget, mama takut kehilangan kamu di sini, yang ada mama bisa di gantung oma kamu kalau kamu hilang di kota ini!"
Anak kecil itu malah tertawa mendengar keluhan wanita yang baru berhasil menyusulnya.
Ardhi menoleh kearah suara itu berasal, terlihat seorang wanita memegangi kedua sisi perutnya, dia nampak kelelahan dan masih berusaha mengatur napasnya.
__ADS_1
Ardhi merasa mengenali wanita itu. "Nara?"
Wanita itu menegakkan pandangannya, kedua bola matanya seakan melompat kala menyadari sosok yang tengah berjongkok di depannya.