
Revisi besar-besaran aku mulai pada bab 67, pada bab lain hanya ada sedikit penambahan.
****
Jully hanya bisa menyaksikan kemeriahan Resepsi Nara dan Indra lewat layar handphonenya. Nara berbaik hati merekam keadaan Resepsinya dan dia kirim pada Jully, namun dia sambil mengerjai Jully, sengaja menghindari Ishana, jika mata kameranya hampir menangkap Ishana, Nara mengalihkan pada sudut lain. Nara tahu kalau Jully sangat penasaran dengan penampilan Ishana hari ini.
Namun rasa penasaran Jully tentang penampilan Ishana hari ini terjawab, kala dia melihat siaran berita online dengan tajuk Ishana kembali? Berita itu memuat foto Ishana, Risma, dan Ardhi. Wajah mereka bertiga
menghiasi beranda handphonenya. Tidak hanya itu, portal berita lain memasang wajah Dhifa, Dina, dan Rian.
Jully tersenyum membaca bermacam judul berita dari bermacam media online di handphonenya.
“Mereka sesuka hati membikin tajuk berita.” Sesaat Jully berpikir, bukan salah pembuat berita jika mereka memuat berita Ardhi dan Ishana rujuk, tapi salah mereka juga, karena sampai detik ini mereka masih merahasiakan siapa mempelai laki-laki untuk Ishana.
“Kamu nakal Jul?”
Teriakan ibunya membuat Jully segera menyimpan handphonenya.
Sedang di Resepsi pernikahan, selain Dhifa, Dina, dan Rian yang menjadi sorotan mata kamera, Ishana, Risma, dan Ardhi juga menjadi sorotan karena mereka duduk di kursi yang berdekatan. Ishana duduk di sebelah kanan Risma, sedang Ardhi sebelah kiri Risma.
Risma memberi kode pada Ardhi, kalau dirinya tidak kuat lagi. Ardhi memahami isyarat Risma. “Na, aku ada pertemuan yang belum selesai, dan aku harus membawa Risma bersamaku, maafkan aku. Karena urusanku, aku harus membawa Risma pergi, padahal pesta Nara belum selesai.”
“Tidak apa-apa kak, kalian pergi saja, urusan perusahaan menyangkut kepentingan banyak orang.”
“Titip Dhifa ya, Na.” ucap Risma.
“Mama ikut kalian ya, mama sekalian lepas rindu sama keluarga rekan bisnis kamu yang lain.” Rita menambahi.
Akhirnya Risma, Rita, dan Ardhi meninggalkan Resepsi Nara lebih dulu.
Setelah berhasil mencapai mobil mereka, Risma tidak kuat lagi berpura-pura kuat. Akhirnya dia terkulai lemas di pelukan Rita. Ardhi berusaha untuk tenang, walau jiwanya gelisah melihat keadaan Risma yang semakin melemah. Sesampai di rumah, Ardhi langsung menggendong Risma menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah. Setelah melepas gaun yang Risma kenakan, Ardhi memakaikan baju rumahan pada Risma.
Sakit, sedih, bermacam rasa berkecamuk melihat keadaan Risma saat ini. Ardhi sekuatnya menahan air matanya agar tidak terlepas, dia tidak ingin Risma melihatnya menangis, walau dia sangat terpukul melihat keadaan Risma saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu itu menjadi alasan Ardhi untuk merubah arah pandangannya, ketika dia berjalan kearah pintu, dia sambil mengusap air mata yang terlanjur menetes.
“Dhi, sudah selesai?” Terlihat Rita juga sudah melepas gaun pestanya,dia hanya mengenakan setelan santai.
__ADS_1
“Ganti baju sudah ma, tapi menghapus make-up Risma aku nggak ngerti.”
“Itu biar mama saja.”
Ardhi duduk di sisi tempat tidur yang lain sambil memandangi wajah Risma, sedang Rita menghapus make-up yang menempel pada wajah Risma.
“Mas, jangan menatapku seperti ini, aku sedih,” rengek Risma.
“Untuk resepsi Ishana dan Jully, sebaiknya kita tidak usah hadir, aku akan memakai alasan rapat untuk menghindari acara itu.” Ardhi tidak kuat jika harus melihat Risma pura-pura kuat lagi demi menutupi keadaannya.
“Ardhi benar Ris, nanti cukup mama sama Dhifa saja yang menghadiri pernikahan Ishana dan Jully, itu cukup. Kamu rehat saja ya.”
“Untuk Resepsi dan akad nikah Ishana, aku ingin hadir, mungkin saja ini Resepsi terakhir yang aku hadiri.” Risma tersenyum lemah.
Melihat keadaan Risma yang sangat memprihatinkan saat ini, Rita tidak kuat berlama-lama berdiam di kamar yang Risma tempati.
Ardhi berbaring di samping Risma dan memeluknya erat. Bidadari tak bersayap, yang memberinya banyak warna kehidupan.
Ardhi mencium pucuk kepala Risma begitu dalam, sambil membayangkan awal pertemuannya dengan Risma dulu.
*
*
Dalam sejarah hidupnya, hari ini seperti hari sialnya, mobil yang Ardhi kemudikan mogok, Ardhi melepas jasnya, karena dia harus berjalan kaki menuju Panti Asuhan yang akan dia hancurkan, karena dia memenangkan sengketa tanah Panti tersebut.
Brussss!
Genangan air yang ada di jalanan terciprat padanya, membasahi wajahnya dan mengotori kemeja yang dia pakai. Ardhi hanya menghela napasnya, kesal dengan kesialannya hari ini. Hingga dia sampai ditujuannya. Sebuah bangunan Panti Asuhan sederhana, namun berada diatas tanah yang bernilan fantastis. Ardhi terus memandangi bangunan yang berdiri di depan matanya.
“Panti Asuhan ini, sebentar lagi akan rata dengan tanah.” Sorang gadis berdiri di samping Ardhi dan memandangi bangunan yang sama.
“Kenapa mereka yang punya segala hal bisa merenggut apa saja dari orang kecil seperti kami?”
“Dalam bangunan itu, mereka yang tidak punya apa-apa, bahkan orang tua pun tidak punya, hanya bangunan ini saja harta mereka, yang melindungi mereka dari teriknya matahari dah tetesan air hujan.”
Ardhi menoleh kearah gadis itu, terlihat wajahnya berurai air mata, di tangan gadis itu ada sebuah batu seukuran kepalan tangan.
“Apa sih yang dicari pengusaha ini di sini? Apa otaknya hilang? Dengan dia mengikhlaskan tanah di sini, tidak akan membuat dia miskin bukan?”
__ADS_1
“Jika dia nekat menggusur Panti ini, dia melukai banyak perasaan. Uang bisa di acari lewat jalur manapun, tapi keridhaan manusia?”
“Terlebih, tanah ini sudah diwakafkan oleh almarhum kakeknya, kata bunda Aiswa. Sekarang cucunya menggugat, aduh … aku tak habis pikir, sepertinya kemiskinan keluarga Pramudya akan dimulai dari dia.”
Ardhi hanya diam menatap gadis yang sangat banyak bicara itu.
“Risma!”
Suara teriakkan lain menggema, membuat dua orang itu menoleh bersamaan.
“Ris, sudah datang Ardhi Pamudya itu?” tanyanya. Terlihat gadis yang satunya membawa beberapa balok kayu.
Ardhi hanya bisa menelan salivanya, karena dua gadis itu mentarget dirinya.
Ya Tuhan tolong aku, mobilku mogok pula, bagaimana aku kabur dari sini.
“Kamu banyak banget bawa balok Na.”
“Buat mukulin itu Ardhi, enak aja main gusur! Tuhan pun nggak akan nolong manusia dzalim kayak dia!”
Ardhi semakin keringat dingin, saat melihat beberapa anak lain mendekati 2 wanita tersebut.
“Kak, kalau Ardhi mati, gimana kak?” tanya anak yang lain.
“Biar aku tanggung jawab, demi Panti ini, aku rela melakukan apa saja.”
Bukannya takut, Ardhi malah terpukau dengan ucapan gadis itu.
Apa dia orang yang tepat untuk kujadikan partner mewujudkan mimpi papa?”
Sebuah mobil mewah memasuki wilayah Panti, seketika anak-anak yang berkumpul tadi mulai memasang ancang-ancang.
“Ini buat kamu.” Risma memberikan balok kayu pada Ardhi.
Ardhi terkejut, kala ditangannya ada sebuah balok kayu. Ardhi menoleh kedepan, terlihat mobil Derby mulai memasuki wilayah Panti.
“Ya ampun, kamu bakal mati Der ….” Keluh Ardhi.
Ardhi menghitung ada 15 remaja dengan senjata balok kayu di tangan mereka, sedang Wanita yang memegang batu, Wanita yang pertama kali dia lihat malah bersembunyi di balik pohon, di tangannya dia masih menimang batu yang siap dilancarkan untuk laki-laki yang akan keluar dari mobil.
__ADS_1
“Derby, kalau kamu manti, jangan menuntut balas padaku."