
langit kini gelap, Ishana berusaha menahan air mata yang ingin tumpah sedari tadi. Sorot mata Risma yang dia lihat tadi siang, sorot mata yang memancarkan rasa sakit yang tiada tara dari dalam dirinya, seakan melesatkan jutaan anak panah dan menghunjam tepat di jantungnya.
"Ra ...." panggil Ishana.
Perlahan pintu rumah itu terbuka, terlihat Nara begitu semangat menyambutnya.
"Na, aku senang kamu datang." Nara langsung memeluk Ishana.
"Tapi aku mendatangimu hanya dengan deraian air mata." Benar saja pipi Ishana sudah basah karena air matanya sendiri.
Nara melepaskan pelukan mereka. "Risma?"
Ishana perlahan menganggukkan kepalanya. "Dia mengusulkan aku untuk pergi, karena mimpi papa Ardhi sudah terwujud walau tanpa aku."
"Dia benar Ra, karena aku bisa mengukir mimpiku yang baru, walau keluar dari ikatan ini sedang dirinya?"
"Rasa cintaku membuat otakku beku Ra, rasa cintaku membuatku menjadi bodoh! Rasa cintaku yang membuatku jadi seorang pe-cun-dang! Hanya ada cinta, cinta dan cinta. Rasa peduliku pada Risma tertutup oleh rasa cintaku yang tumbuh untuk Ardhi. Aku membangun kebahagiaan diatas penderitaan dia Ra."
"Dulu hatiku hanya Risma, Risma, dan Risma, kala aku mulai gila, setiap detak jantungku hanya Ardhi, Ardhi, dan Ardhi."
Nara mengusap air mata Ishana, namun air mata itu terlalu deras, tak bisa di hapus oleh jemarinya.
Apa yang Ishana mampu, hanya menumpahkan air matanya. Menyesal sekuat apapun tidak akan bisa mengobati rasa sakit yang tergores pada hati Risma.
"Aku mengenal Risma dengan baik, kepekaan aku sirna kala aku terlalu bahagia saat cintaku bersambut."
Nara bingung harus memberi motivasi apa. Dirinya salah, Ishana salah, Risma pun salah.
"Ya sudah, pergi saja Na. Kamu tidak pantas bertahan dalam ikatan ini. Pernah Ardhi memperlakukanmu seperti istri? Saat dia belum mencintaimu, dia begitu nyaman bermesraan di depan kamu, tapi, setelah dia menerima kamu, selama ini kamu malah seperti simpanan dia, pelarian dia kala dia stres menghadapi Risma."
"Tapi--"
"Bakti pada suami?" potong Nara.
"Otakku baru bekerja Na, aku selalu menyalahkan Risma karena tertekannya Ardhi oleh perbuatan dia dari ceritamu. Tapi dari sisi Risma, otakku kembali berpikir. Di luar bahasan dosa karena menolak keinginan suami, tindakkan penolakkan Risma tujuannya mendidik Ardhi, memecut kinerja otak Ardhi, agar mengambil suatu tidakkan tanpa paksaan, memutuskan sesuatu secara bebas, bukan dibawah tekanan."
"Risma menjauhi Ardhi dengan alasan jijik, dia ingin Ardhi memikirkan setiap tindakkan yang telah dia ambil, maupun akan dia ambil, agar otak Ardhi bekerja memikirkan kenapa Risma berubah, kenapa keadaan seperti ini?"
"Orang yang terjepit diantara dua paha perempuan, maka orang itu susah ingin mencapai kebahagiaan sesungguhnya, karena otaknya hanya memikirkan bagaimana bisa mencapai celah diantara dua paha itu."
"Maaf, itu kata Risma, bukan kataku."
"Tapi nyatanya apa? Kita semua hanya bisa menyalahkan Risma, dan menghakiminya."
__ADS_1
"Aku gak nyalahin kamu Na, karena kamu menutupi kehampaan ruang hati Ardhi, karena pikiran kamu, kamu ingin Ardhi bahagia. Tapi tujuan Risma, dia ingin Ardhi bijaksana."
Tubuh Ishana semakin tidak berdaya memikirkan kesalahannya sendiri. Seketika tubuh kecil itu terkulai ke tanah, namun dengan sigap Nara menahannya.
"Aaaakkk ...." Tangis pilu itu tidak mampu ia bendung.
"Kesalahanku begitu fatal Ra, aku menyakiti sahabatku Ra."
Nara juga tidak mampu membendung lagi air matanya, dia tidak mampu menyalahkan siapapun, dan membela siapapun lagi. Hanya menjadi pendengar yang baik untuk Ishana maupun Risma.
Merasa lebih baik, Nara mengajak Ishana masuk ke rumahnya. Dia mengirim pesan pada Risma, kalau Ishana menginap di rumahnya malam ini.
"Ra, mau menolongku lagi?" tanya Ishana.
"Selama aku bisa, aku akan nolong kamu Na."
"Pertama, rahasiakan hal ini, sampai rahasia itu tidak bisa menjadi rahasia lagi."
Ishana memberikan foto USG miliknya pada Nara.
"Aku hamil 3 bulan Ra, saat aku melahirkan nanti, aku akan mengantar bayi ini padamu. Aku minta kamu berikan bayi ini pada Risma."
"Kamu pikir Risma penitipan anak? Atau Panti Asuhan?"
"Bukan begitu Ra, bagiku anak ini sangat berharga, aku ingin memberikannya pada Risma, itu pun jika dia mau menerimanya."
"Kenapa malah kamu berikan pada mereka?"
"Salah satu keinginan papa Ardhi, kata beliau, beliau sangat bahagia jika bisa melihat anak Ardhi lahir dariku."
"Dengan memberikan anakku, ku harap aku bisa melupakan kak Ardhi, dan aku akan membagun hidup baruku tanpa mereka."
"Sebenarnya aku nggak setuju, tapi suatu perbuatan hasilnya tergantung niat bukan? Mungkin Risma memilihmu karena ingin anak, maka dia mendapat anak, tapi kehilangan saudara."
"Aku tetap saudaranya Ra, suadara terburuk! Saudara yang telah mencuri sedikit tempat di hati suaminya."
****
Matahari pagi kembali bersinar. Sebagian penduduk bumi belum siap mengakhiri cerita pada hari sebelumnya, namun juga tidak punya kekuatan untuk membangun cerita baru.
"Ra, terima kasih atas segalanya, aku ingin menemui Ayah, aku harus meminta bantuan dia untuk rencana lanjutanku."
"Iya hati-hati Na."
__ADS_1
Tujuan Ishana adalah rumahnya. Ingin melepas rindu pada Ayahnya. Sepanjang perjalanan Ishana terus memikirkan Risma, memikirkan bagaimana memberi sedikit kebahagiaan untuk sahabatnya tersebut.
Ya Tuhan, jika keajaiban itu ada, aku mohon, berikan kebahagiaan untuk Risma dan Ardhi. Mereka adalah orang yang sangat aku cinta.
Lamunannya seketika terhenti, kala mobil taksi yang dia tumpangi sudah berhenti.
Ishana menarik dalam napasnya, mempersiapkan mental untuk bertemu papanya. Dengan semangat dia terus memasuki rumahnya.
"A--yah." Ishana tidak meneruskan sapaannya, kala melihat seorang wanita cantik seumuran Rita ada di ruang tamu rumahnya. Di sana terlihat beberapa orang laki-laki berbadan tegap. Membuat nyali Ishana menciut, otaknya pun berpikiran yang bukan-bukan.
Kejadian masa lalu saat hidupnya dikejar-kejar anak buah rentenir kembali berputar di kepalanya.
"Kak Pajri bikin gara-gara lagi?" tebak Ishana.
Wajah Purnama dan wajah wanita asing itu terlihat tegang karena kehadiran Ishana.
"Am ...." Wanita cantik itu berusaha memulai pembicaraan. "Pajri tidak bikin masalah, dia malah mengukir prestasi, aku datang mengundang secara hormat orang tua Pajri."
Ishana seketika merasa lega, dia takut Pajri berulah lagi.
"Kamu siapa Pajri?" tanya wanita itu.
"Saya adiknya, anak kedua Bapak Purnama."
"Saya Shafina Azzalea Syafiq, Owner The Shafiq Group."
Ishana dan Shafina saling berjabat tangan.
"Oh ya Pak Purnama, jangan lupa datang ya, ini prestasi Pajri sangat luar biasa," puji Shafina.
"I-i-iya bu, saya usahakan agar datang." Wajah Purnama terlihat begitu pucat.
Wanita itu hanya melempar senyuman kepada Ishana, dia pun pamit pergi dari rumah Purnama.
Setelah kepergian wanita itu, Ishana langsung mendekati Ayahnya. "Aku tadi gemeteran Yah."
"Sama, Ayah juga, mimpi apa didatangi owner tempat kakakmu bekerja," ucap Purnama.
"Akhirnya, kak Pajri berubah yah, tadinya aku mikir dia gak bisa berubah."
"Eh, tumben kamu sepagi ini datang, ada apa?"
Ishana seketika bungkam, dia tidak tau ingin memulai cerita darimana.
__ADS_1
****
Tak Kasih bonus, aku suka kehebohan di kolom komentar 🙈🙈🙈🙈