Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 42 Memberikan, Bukan Menjual


__ADS_3

Di ruangan lain yang ada di Rumah Sakit Harapan Afiat.


Wisnu tidak sabar lagi ingin menggendong cucunya, impian yang selama 6 tahun ini dia nantikan. Air mata kebahagiaan seketika mengalir di pipi keriput laki-laki itu. Perlahan bayi mungil itu berpindah dari gendongan Rita ke gendongan Wisnu.


"Terima kasih Ya Allah, engkau memberiku waktu hingga detik ini." Perlahan Wisnu mencium cucunya. Membuat bayi mungil itu menggeliat.


"Lucu sekali." Banyak ungkapan yang ingin Wisnu utarakan, tapi dia bingung memulai dari mana.


Tangannya tidak sekokoh yang dulu lagi, berat bayi Eva hanya 3kg, tapi Wisnu memilih meletakkan bayi itu ketempat tidurnya.


"Papa kenapa di taruh? Mama masih pengen gendong," rengek Rita.


Wisnu menahan pergerakkan tangan Rita yang ingin mengambil bayi manis itu dari ranjangnya.


"Terima kasih banyak mama. Mama istri luar biasa, melakukan apa saja demi impian papa." Wisnu langsung menarik Rita kedalam pelukannya. "Terima kasih atas segalanya. Papa tidak berharap apa-apa lagi untuk papa sendiri, untuk mama, mama tetap sehat dan tetap semangat jalani hari mama walau tanpa papa nantinya."


Paru-paru Rita seakan diikat begitu kuat oleh tali tambang mendengar penuturan Wisnu.


"Semoga Ardhi dan Risma bisa berbahagia selalu."


"Andai papa nanti bertemu Ishana, ada yang ingin mama sampaikan?"


"Papa ...., papa jangan bilang begitu! Papa pasti sehat, panjang umur, dan bisa bermain dengan cucu tunggal kesayangan kita."


"Bagi papa memeluknya sudah cukup."


Rita tidak sanggup mengatakan sepatah kata pun lagi, terlalu sakit jika Wisnu mulai berbicara tentang kematian.


"Mama selalu berusaha hidup untuk papa, maafkan papa, yang lupa berusaha bertahan hidup demi mama."


"Itu tidak benar. Papa selalu ada buat mama."


Ceklak!


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Rita dan Wisnu menyudahi pelukan mereka.


"Ya ampun opa sama oma manis banget," ucap Risma.


"Papa sangat bahagia, Ris. Akhirnya perjuangan kita semua sampai pada puncaknya."


"Alhamdulillah, pah."


"Terima kasih banyak Ris, semua ini juga berkat pengorbanan kamu."


"Tidak benar pah, tapi pengorbanan kita semua," balas Risma.


"Oh iya, kalian sudah punya nama buat malaikat kecil kita ini?" tanya Rita.


"Adhifa, Ardhi dan Eva," sela Ardhi.

__ADS_1


"Adhifa Pramudya, nama yang indah," gumam Risma.


"Kamu tidak masalah?" Ardhi memastikan.


"Mematri nama Eva pada nama putrinya, apa aku harus marah dan cemburu?"


"Enggak mas, itu sangat tepat."


"Kemarahan dan kecemburuan terlalu menyiksaku, aku tidak mau lagi kehilangan hal berharga karena dua hal yang tidak bisa ku tekan."


"Bagi mama sih masih kurang menyentuh hati mama namanya, tapi apalah arti sebuah nama, yang penting orangnya. Semoga dia besar nanti menjadi anak yang sholehah, berbakti pada Ayah Bundanya, dan menjadi kebanggaan keluarga," ungkap Rita.


"Aamiin ...." sahut Ardhi, Wisnu, dan Risma bersamaan.


Hari itu berlalu dengan rasa haru dan bahagia. Mimpi Wisnu tercapai, harapan Ardhi yang dulu terkabul, harapannya hanya ada dia dan Risma dalam rumah tangganya. Kini saatnya menata kembali langkah baru untuk memulai kehidupan baru.


Kesehatan Ardhi belum sepenuhnya sehat, hingga dirinya harus terbaring lagi di kamar Rumah Sakit.


Hari itu berlalu begitu saja, kini berganti lagi dengan hari yang baru.


Melihat Ardhi yang masih memejamkan kedua matanya, Risma memutuskan untuk menjenguk keadaan kamar Adhifa, yang tidak jauh dari kamar Ardhi.


"Pagi sayang." Rita tersenyum melihat kedatangan Risma ke kamar cucunya.


"Bagaimana perkembangan Adhifa mah?"


Terlihat dokter Sonia memastikan kesehatan bayi mungil itu.


"Kesehatannya bagus, kemaren sudah pup dan pipisnya juga normal, tubuhnya juga menerima baik susu formula yang masuk, jadi hari ini dia bisa dibawa pulang."


"Ibunya bagaimana dok?" tanya Risma.


"Ibunya juga sehat, jadi kalian semua boleh pulang."


Kesehatan Eva dan bayinya tidak masalah, tinggal menunggu kabar dokter yang memeriksa Ardhi nanti siang. Merasa tidak ada masalah dengan Eva maupun Adhifa, Risma kembali ke kamar Ardhi.


Detik demi detik berlalu, akhirnya dokter yang bertugas memeriksa Ardhi datang juga ke ruangan itu dan melakukan tugasnya.


"Bagaimana dok, keadaan suami saya?" Risma tidak sabaran lagi.


"Keadaan Tuan Ardhi lebih baik, kemaren dia hanya kelelahan saja. Kalau Tuan Ardhi merasa nyaman, beliau juga boleh pulang, siapa tahu suasana rumah membantu proses penyembuhannya lebih cepat.


Tidak buang waktu lagi, mereka bersiap memboyong angota keluarga baru mereka pulang ke rumah.


Adhifa berada dalam gendongan Rita, sedang Ardhi terduduk lemas di kursi Roda yang di dorong Risma. Mereka masih berdiam diri di depan ruanga Eva, wanita itu kekeh ingin pulang bersama keluarganya saja.


15 menit berlalu, akhirnya kedua orang tua Eva datang ke Rumah Sakit itu.


"Maafkan kami terlambat," sesal mama Eva.

__ADS_1


"Tidak apa-apa jeng, Eva nggak mau pulang sama kami, katanya mau sama kalian aja," terang Rita.


"Ya sudah, kalian duluan, nanti kami menyusul," sela papa Eva.


Mereka semua pun menuruti usul papanya Eva.


Ardhi satu mobil bersama Risma, dan Risma yang mengemudikan mobil itu, sedang Wisnu dan Rita menaiki mobil yang dikemudikan oleh Abim, supir pribadi Rita.


Kehadiran bayi mungil di rumah Ardhi, seakan memberi ruh baru dalam rumah besar itu, suara tangisnya menjadi irama nan indah memcecah kesunyian rumah itu, dan kehidupan pun kembali terasa berwarna.


Malam menyapa, Eva tidak juga kembali ke rumah Ardhi, membuat Rita khawatir memikirkan Eva yang belum juga kembali.


"Ris, kamu kasih susu sama Dhifa ya, mama mau telepon Eva dulu."


"Iya mah." Risma segera mengambil botol susu yang ada di tangan Rita.


Dengan jemari yang gemetaran Rita mencari kontak telepon menantunya dan langsung melakukan panggilan pada nomor Eva. Hanya sebentar akhirnya panggilannya terhubung dan diangkat oleh Eva.


"Eva sayang, kenapa kamu belum sampai ke rumah?" Rita langsung melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu jiwanya.


"Aku nggak akan pulang lagi ke sana mah."


"Kenapa secepat ini?"


"Lebih cepat lebih baik mah."


"Kamu belum membawa hak kamu Va."


"Aku tidak mau menerimanya ma, aku memberikan anakku buat kalian, bukan menjualnya. Jaga dia ya ma."


"Eva ...."


"Aku ingin memulai hidupku yang baru ma, aku ingin membangun sendiri istanaku diatas rasa cinta, bukan diatas luka orang lain, kehidupan satu tahun ini mengajariku banyak hal, terima kasih banyak mah, atas segalanya."


Eva memutuskan panggilan telepon mereka secara sepihak.


Wajah cantik, tubuh indahnya dan perhatian yang dia tujukan pada Ardhi, tidak berhasil mendapatkan sedikitpun tempat di hati Ardhi. Membuat Eva sadar dan membuka matanya.


Cinta dan kenyamanan hati, sesuatu yang tidak bisa dipaksa arahnya, namun juga tidak bisa dicegah pertumbuhannya.


"Bagaimana Va?" Pertanyaan mamanya membuyarkan lamunan Eva.


"Aku akan melanjutkan hidupku, aku ingin menjadi perempuan yang bermartabat mah, setinggi apapun jabatanku, semua itu tidak ada nilainya, jika ambisiku merebut sesuatu yang bukan untukku, atau merebut sesuatu yang sudah dimiliki orang lain."


"Dulu aku berpikir, suatu prestasi bisa memiliki seseorang yang berhasil ku rebut dari pemiliknya, apalagi jika berhasil menyingkirkan pemiliknya yang semula, setelah menjalani ikatan ini, aku kapok mah.


"Kekayaan yang Ardhi beri, tidak sebanding dengan perhatian dan rasa cinta Edwin beri untukku."


"Kehidupan kamu, kamu yang jalani, mama hanya mendukung apapun yang kamu ambil."

__ADS_1


__ADS_2