Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 9 Kemarahan Rita


__ADS_3

Ishana dan Risma terus berjalan menuju pojokan yang sepi. Dia tidak mau kalau Risma sampai tahu program Inseminasi yang pernah dia jalankan bersama Ardhi. Ishana Merasa tempat mereka aman, Ishana pun memulai ceritanya.


"Antara aku dan kak Ardhi, tidak pernah terjadi apapun. Maaf Ris, aku tidak sanggup." Kedua bola mata Ishana mulai berkaca-kaca.


Seketika hati Risma dipenuhi rasa kesal dan kecewa.


"Berulang kali kami ingin mencobanya, maaf--" Ishana tidak mampu meneruskan ucapannya, tangisnya tidak bisa ditahan lagi. "Kami tidak bisa ...."


Mendengar alasan Ishana, Risma langsung menarik sahabatnya agar masuk kedalam pelukannya. Ishana terdengar sedikit tenang, dia melepaskan pelukan Risma. Berulang kali Ishana mengatur napasnya agar bisa melanjutkan pengakuannya.


"Aku membayangkan posisiku di posisi kamu, aku membayangkan rasa sakit yang kamu rasa jika suamimu melakukan hal itu dengan wanita lain, dan sangat berat bagi aku Ris."


"Kenapa kamu berpikir sejauh itu? Aku benar-benar rela berbagi mas Ardhi dengan dirimu, sebaik apapun mas Ardhi padamu, aku yakin dia tetap ingat padaku."


"Kamu belum merasa Ris, kalau kamu merasa, aku ragu kamu masih berkata demikian."


"Setelah kamu tahu, suamimu menjalin kasih dengan madumu sepanjang malam, apakah kamu masih bisa berkata demikian?"


"Salah satu ketakutanku ini, aku takut kamu menganggap aku sainganmu, aku takut kehilangan ikatan persahabatan denganmu."


"Maafkan aku dan kak Ardhi Ris, cinta kami padamu sangat besar, sulit untuk kami merubah ikatan pertemanan kami, menjadi sebuah hubungan suami istri."


Sakit, sedih, kecewa, marah, rasa itu bercampur jadi satu dalam hati Risma. Sampai detik ini Ishana tidak hamil, karena Ardhi tidak pernah menyentuhnya, namun dia tidak bisa bohong, rasa bahagia juga seketika membuncah, menyadari sampai detik ini Ardhi masih sangat mencintainya, bahkan wanita sesempurna Ishana tidak mampu mengalihkan perhatian Ardhi.


Bagi Risma, Ishana adalah gadis yang sempurna, walau tidak secantik Eva. Kecantikan Ishana alami, sedang kecantikan Eva bertambah dengan riasan yang memoles wajah indahnya. Ishana memiliki garis wajah seperti bule, kulitnya yang putih, dan di karuniai bentuk tubuh yang nyaris sempurna, dadanya yang begitu memukau, lekuk tubuhnya seperti lekukan gitar spanyol, tidak juga berhasil meruntuhkan pertahanan Ardhi.


"Bulan madu waktu itu?" tanya Risma.


"Kami hanya mengobrol, tidak bisa melakukan apapun. Maaf."


"Aku yang harusnya minta maaf, karena rasa cinta mas Ardhi yang begitu besar untukku, dia tidak mampu melakukan hal itu dengan perempuan lain, selain diriku."


"Aku kecewa, harusnya kalian tetap melakukannya, andai kamu hamil, maka tidak akan ada Eva diantara kita, dan aku tidak akan merasakan rasa takut dan cemas, seperti yang kurasakan saat ini."


Dipersembunyiannya, Eva tersenyum mendengar pengakuan Risma. Satu hal yang membuat Eva bahagia, setidaknya dia tahu, Ishana tidak bisa hamil karena Ardhi yang tidak mau menyentuh wanita itu. Sebuah ide pun muncul di benak Eva.


"Lebih baik wanita lain yang hamil, setidaknya rasa sakitmu tidak berasal dariku," sela Ishana.


Salah Na! Kalau wanita lain hamil, aku yakin dia akan mengganggu mas Ardhi dengan alasan anak. Sedang kamu tidak, andai kamu tidak kuat bertahan, kamu tidak akan memanfaatkan anak yang ada pada kami.


"Wanita manapun yang hamil, rasanya sama saja sakitnya, hanya saja andai dirimu yang mungkin aku lebih bahagia," ucap Risma lemas.


"Maafkan aku, saat ini aku benar-benar tidak bisa."


Sebelum kedua wanita itu pergi, Eva pergi lebih dulu, dia ingin menyiapkan rencananya dan mempersiapkan rahimnya untuk dibuahi.

__ADS_1


Sepuluh hari berlalu begitu saja. Pernikahan itu pun tiba. Pesona Tubuh Eva memanjakan mata yang melihatnya, tubuh indah itu semakin mempesona dibalut kebaya modern yang begitu pas di tubuhnya, menampakkan lekukan-lekukan indah tubuhnya, dan menonjolkan pegunungan yang memang terbuka di area itu. Namun hal itu sama sekali tidak menarik bagi Ardhi.


Risma hanya menjerit dalam hati. Tubuh Eva, adalah bentuk tubuh impian setiap wanita. Dirinya pun sangat ingin memiliki keindahan seperti yang Eva miliki.


Ya Salam, aku saja sangat terpesona melihat ini semua, bagaimana mas Ardhi ....


Ishana memahami kegelisahan Risma, dia selalu berada di samping sahabatnya itu. Dia tidak terluka, karena Ardhi hanya temannya, berbeda dengan Risma, Ishana bisa membayangkan bagaimana rasa sakit Risma.


Acara terus berlanjut, Pernikahan ketiga itu pun berjalan lancar, Eva pun resmi menjadi istri ketiga Ardhi.


Waktu terus berputar, tamu undangan dari kalangan keluarga Eva pun membubarkan diri, keluarga Ardhi pun meninggalkan tempat acara tersebut, mereka segera pulang ke kediaman mereka, termasuk pengantin baru.


Rita begitu bahagia, dia mengantarkan menantu pihannya menuju kamar yang akan Eva tempati. Kamar yang sudah di rias Rita sedemikian rupa.


"Ya ampun tante, kenapa tante serepot ini?"


"Tante? Mama dong sayang, kan kamu sudah menjadi menantuku."


"Iya mah, maaf."


"Ingat, semakin cepat, hadiahnya semakin aduhai, kalau lama, maaf hadiahnya juga akan berkurang."


"Sip mah, mama santai saja, aku jamin paling lama 2 bulan, aku akan hamil anak Ardhi." Eva sangat percaya diri.


Mata Eva tertuju pada dua buah kamar yang ada di depan kamarnya. "Kamar siapa itu mah?"


"Yang itu kamar Risma dan itu kamar Ishana," terang Rita.


"Wow, dekat sekali, aku takut bikin mereka menangis mah."


"Kalau kamu keberatan di sini, biar mama sediakan kamar lain," ucap Rita.


"Owh, tidak perlu mah, biar aku mudah mencari Ardhi, kalau saat itu dia sedang bermalam di kamar yang lain."


"Ya sudah, mama cari Ardhi dulu."


Setelah Rita pergi, Eva memikirkan bagaimana melanjutkan rencananya. Kala kedua bola matanya melihat teko air putih, Eva pun segera meneteskan obat cair dalam teko air putih itu.


Selesai, Eva segera membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian santainya, sambil menunggu waktu.


Rita berjalan kesana-kemari mencari Ardhi, namun dirinya tidak menemukan Ardhi dan dua istrinya yang lain.


Sedang di bagian samping rumah.


Sambil memandangi indahnya rembulan yang menyinari gelapnya langit malam, Ardhi masih betah melingkarkan tangannya di perut Risma. Menumpukan dagunya di pundak Risma. Sedang Ishana hanya duduk melihat kemesraan sahabatnya dan Ardhi.

__ADS_1


"Aku bingung dengan takdirku. Aku memiliki 2 istri saja, aku tidak bisa adil, sekarang aku malah memiliki 3 istri," keluh Ardhi.


"Aku tidak tahu, entah kenapa kamu selalu ada dalam setiap detak jantungku." Ciuman lembut dari Ardhi mendarat di pipi Risma.


"Kalau dengan Eva, aku tidak tahu harus mengatakan apa, kalau Ishana, dia sangat mengerti aku, dan sangat mendukung aku, bersamanya aku tidak stres, bahkan aku punya teman untuk berbagi segala beban yang berada di pundakku."


"Ishana adalah rasa nyamanku, dan kamu adalah cintaku." Ardhi mencium sisi telinga Risma.


"Bahkan sampai saat ini, aku tidak mampu menyentuh Ishana, dia tidak marah dan malah mendukungku, bukan menghakimi ku."


"Aku tau," sela Risma.


"Aku benar-benar tidak tahu harus apa sekarang." Ardhi kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Risma.


Saat yang sama, Rita sampai di sana. Seketika kemarahannya meledak, kala melihat Ardhi begitu mesra dengan Risma.


"Mama lelah mencarimu ke sana-kemari, di telepon tidak menjawab, ternyata kamu sibuk dengan istrimu yang madul ini!" Rita tidak mampu lagi menahan kemarahannya.


Mendengar kemarahan Rita, Risma langsung melepaskan diri dari pelukan Ardhi. Ishana pun bangkit dari posisi duduknya.


"Kamu juga! Tidak ada kerjaan malah menonton kemesraan mereka!" Makian Rita tertuju pada Ishana. "Kamu istri Ardhi apa pembantu Risma?!"


Ishana hanya diam dan menundukkan wajahnya.


"Ma, bukankah mama berjanji tidak memanggil Risma dengan kata itu lagi?" sela Ardhi.


"Jika kalian membuat mama marah, maka kata-kata itu pantas mama lontarkan pada kedua istrimu ini!"


"Mama mau apa mencariku? Ardhi berusaha merubah pembicaraan mereka.


"Susul Eva di kamarnya sekarang!" titah Rita.


"Mah, aku belum mengenal Eva, aku butuh waktu mah." Ardhi berharap mamanya memahami posisinya.


"Owh, ternyata dua wanita mandul ini berhasil merayumu rupanya." Kemarahan Rita semakin menyala.


"Kalian sengaja merayu Ardhi agar tidak mendatangi Eva bukan?"


"Dasar licik, kalian takut kalau Eva berhasil, ish ... ish ... ish ...."


"Mama, aku akan ke kamar Eva sekarang, tapi tolong jangan marahi kedua istriku."


Ardhi langsung pergi dari sana, daripada kemarahan mamanya semakin besar.


Bukan takut pada Rita, Ardhi tidak rela hati Risma terluka oleh mulut pedas mamanya.

__ADS_1


__ADS_2