
Risma terlihat sibuk mengganti popok Adhifa, namun dia menjalaninya dengan perasaan bahagia. Hal yang tidak mampu dia wujudkan, diwujudkan oleh perempuan lain.
Tidur malamnya tidak lagi nyenyak sepanjang malam, karena tangisan Adhifa menjadi alarm bagi Risma untuk bayi kecil yang menjadi bagian dunianya saat ini. Tapi semua ini sangat indah baginya.
Senyuman menghiasi wajah cantik itu kala sepasang matanya terus memandangi wajah Adhifa yang begitu menggemaskan.
"Sayang, Adhifa sama mama saja, kamu sana temani Ardhi." Tiba-tiba Rita datang dan langsung mengambil tugas Risma.
"Tapi sebentar lagi selesai ma."
Nggak apa-apa, biar mama aja."
"Iya ma, kalau gitu aku mau periksa keadaan mas Ardhi dulu."
Belum sampai langkah kaki Risma ke pintu, Wisnu tiba-tiba muncul dari pintu itu.
"Pagi papa," sapa Risma.
"Pagi sayang," sahut Wisnu.
Risma permisi pada Wisnu, dia melanjutkan langkahnya untuk menemui Ardhi.
"Cucu opa sudah rapi belum?" tanya Wisnu.
"Sebentar lagi opa, ini omanya lagi selesaikan pasang popok baru," sahut Rita.
"Kalau selesai, opa mau gendong, tapi pakai gendongan ya, opa takut, tangan opa kram, nanti Adhifa jatuh."
"Kalau nggak kuat, mending lihat aja, taruh Adhifa dalam kereta bayi," protes Rita.
"Tapi papa pengen gendong."
Rita mengalah, setelah selesai dengan Adhifa, Rita segera mencari gendongan kain, lalu dia pasangkan pada Wisnu. Dengan sangat hati-hati, akhirnya bayi mungil itu berpindah pada gendongan Wisnu.
"Papa bawa kesamping rumah ya, menyambut hangatnya sang mentari."
"Bisa?" Rita memastikan.
"Bisa oma ...."
Rita membiarkan Wisnu membawa Adhifa menuju lantai bawah, dia mengekori langkah kaki Wisnu, sangat bahagia melihat Wisnu sebahagia ini. di luar kesadaranya, kedua sudut bibir Rita saling tarik menarik mengukir sebuah senyuman melihat kebahagiaan suaminya.
Rita mengumpulkan sisa kesadarannya. Dia melanjutkan langkah menuju meja makan, sedang Wisnu berjalan menuju kolam renang yang ada di samping rumah.
Adhifa, dunia setiap orang di rumah itu berpusat pada Adhifa. Andai seluruh harta pun diberikan pada Eva, masih tidak sesuai dengan kebahagiaan yang telah diwujudkan Eva.
Di meja makan, terlihat piring sudah ada yang kotor, Rita lagi-lagi tersenyum, Adhifa lebih ampuh dari dokter dan perawat manapun, Wisnu tanpa diminta, dia bisa makan sendiri dan minum obat sendiri.
"Tuan besar sudah makan duluan, Nyonya." ucap bi Atin.
"Baguslah bi, saya senang."
"Senang kenapa mah?"
Pertanyaan itu membuat Rita menoleh kearah tangga, karena dari sana suara itu berasal.
"Papamu, sekarang apa aja bisa sendiri dan gak nunggu mama lagi."
"Papanya mana mah?" tanya Risma.
"Itu di samping rumah, main sama Adhifa." Pandangan mata Rita tertuju pada Ardhi. "Keadaan kamu gimana nak?"
__ADS_1
"Aku lebih baik mah."
"Syukurlah, kalau begitu, ayok kita sarapan dulu, kalau papamu sudah sarapan duluan, karena nggak sabar mau gendong Adhifa."
Mencoba menjalani hari dengan lebih baik, itulah usaha setiap orang, apa yang ada di hati mereka, semua itu tersimpan dan terkubur di sana. Hidup berjalan kedepan, bukan mundur ke belakang.
Jika hidup hanya terpaku dengan rasa sakit masa lalu, dan tidak berusaha untuk bangkit dan memaafkan, bagaimana proses pendewasaan akan berjalan?
Semakin bertambah angka usia seseorang, tidak menjamin kedewasaan orang itu, namun kedewasaan bisa dilihat bagaimana dia memaafkan, merelakan, dan menyikapi suatu masalah.
Belajar pada pengalaman yang lalu, berharap agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi di masa depan.
Akhirnya tiga orang itu selesai menikmati sarapan pagi mereka.
"Mas." Risma memberikan beberapa butir obat yang biasa Ardhi kunsumsi selama dua bulan ini.
Melihat keterpurukan Ardhi, rasanya dirinya tidak bisa memaafkan diri sendiri. Secercah harapan yang Risma terima waktu itu, seketika membuat ambisinya memiliki Ardhi seutuhnya menyala-nyala. Menyesal, rasa ini memenuhi batin Risma, tapi kini sudah terlambat menyadari kalau Ishana juga bagian hidup Ardhi.
Tapi Ardhi selalu menasehatinya, agar berusaha melupakan semua itu, dan meniti bersama untuk hidup yang baru.
"Makasih Bunda." Senyuman yang terukir di wajah Ardhi semakin menambah ketampanan laki-laki itu.
Bunda? Apa aku pantas mendapat panggilan itu?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, ingat janjimu pada Eva, kalau kita akan menyayangi dan menjaga Adhifa."
"Maaf mas, sampai saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku karena kehilangan Ishana dengan cara tragis. Apalagi malam itu aku sempat ber--"
"Sudah." Ardhi tidak ingin mengingat kenangan itu. "Semua ini takdir kita. Dengan kamu bisa menerima aku dengan segala kekuranganku, itu cukup."
"Jangan buka luka itu lagi, semoga luka itu bisa sembuh dengan berjalannya waktu," pinta Ardhi.
Ardhi segera menelan beberapa butir obat yang dia pegang. "Aku mau menemani papa," pamit Ardhi.
Ardhi melangkah begitu santai menuju samping rumah mereka, saat sampai di sana, terlihat Wisnu duduk bersandar pada sofa tunggal yang ada di teras itu.
Ardhi langsung mendekati papanya. "Pah, gak pegel gendong Adhifa selama ini? Sini Ardhi gantiin pah."
Wisnu tidak bergerak sedikitpun, menyahut pun tidak.
"Papa." Ardhi segera melanglah kedepan Wisnu.
Terlihat Adhifa juga tertidur dalam gedongan kain yang melingkar di pundak Wisnu. Bagian kepala Adhifa ditahan Wisnu dengan bantal kecil yang ada di sana.
"Papa, bangun pah, nanti gak nyadar duluan Adhifa bangunnya." Ardhi menepuk lembut bahu Wisnu.
Tiba-tiba kepala Wisnu tertunduk.
"Pap--" Walau panik melihat keadaan Wisnu, Ardhi berusaha menahan teriakkannya, demi bayi yang ada dalam gendongan Wisnu.
Ardi berlari kearah pintu. "Mamaaa ...." jeritnya.
Merasa dirinya terpanggil Rita segera menghampiri Ardhi. "Ada apa Dhi."
"Papa."
"Adhifa jatuh?"
Ardhi tidak sanggup mengatakan apapun, seketika tangisnya lepas begitu saja. Melihat Ardhi seperti itu, Rita segera berlari menghampiri Wisnu.
Jantung Rita seakan berhenti berdetak, melihat kepala Wisnu tertunduk seperti itu. "Papa ...." Rita menyentuh bagian Nadi Wisnu. Tidak denyutan lagi di sana.
__ADS_1
"Papaaa." Rita berusaha menahan suaranya, namun tubuhnya seketika terkulai lemas di lantai sedang wajahnya bertumpu di pangkuan Wisnu.
Di dalam rumah, Risma segera menyusul Rita, dia terkejut melihat Ardhi duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di pintu samping rumah mereka, hal yang membuat Risma semakin khawatir, laki-laki itu terus menangis.
"Mas, kenapa mas?"
"Panggil Amran, pinta dia periksa papa," titah Ardhi.
Harapannya apa yang dia pikirkan saat ini keliru.
Risma segera berlari menuju kamar Amran, perawat laki-laki yang selama ini menjaga Wisnu.
Hanya selang beberapa menit, Amran dan Risma kembali menemui Ardhi.
"Periksa papa," titah Ardhi.
Amran pun segera melakukan tugasnya. Dia memeriksa denyut nadi Wisnu dan tekanan darahnya, selesai dengan tugasnya, Amran juga tidak mampu berkata, dia hanya menggelengkan kepalanya, meng-isyaratkan kalau majikannya itu telah tiada.
Menangis, ingin sekali menumpahkan semua air mata, namun bayi mungil itu masih berada dalam pelukan Wisnu.
"Demi keamanan Adhifa, saran saya, gunting saja bagian sini." Amran menunjuk bagian kain yang ada di bagian pundak Wisnu, untuk memudahkan mengambil bayi mungil itu.
Setelah berhasil melepaskan Adhifa dari pelukan Wisnu, jenadzah Wisnu pun mereka angkat ke dalam rumah.
Suasana rumah Ardhi masih sepi, beberapa pelayan bekerja keras mempersiapkan tempat untuk pelayat yang akan datang.
Ardhi duduk menghadapi jenadzah papanya yang terbaring di depan matanya.
"Adhifa sama siapa?"
Pertanyaan Rita menyita perhatian Ardhi, laki-laki itu menoleh kesampingnya, ternyata mamanya bertanya pada Risma.
"Adhifa sama bi Atin mah." Risma duduk di samping Ardhi, berusaha menguatkan suaminya.
Ardhi menatap sayu wajah wanita yang ada di sampingnya, yang terus menggenggam erat telapak tangannya.
Kematian itu pasti datang, hanya saja kamu ingin melihat papa pergi dengan cara apa? Bahagia karena keinginannya terkabul, atau--
Ucapan Risma 2 tahun yang lalu terngiang kembali, membuat batin Ardhi menjerit teringat kenangan itu.
"Mas ...." Risma merasakan bagaimana kehancuran Ardhi.
Tapi laki-laki itu hanya menangis dan tiba-tiba menariknya kedalam pelukannya.
"Terima kasih sayang, karena segala perjuanganmu, akhirnya papa bisa pergi dengan bahagia."
"Walau perjuangan kita tidak mulus, hati kita tergores, dan kita juga menggores luka pada hati yang lain." Ardhi tidak bisa meneruskan kata-katanya, semua tertahan karena tangis pilu yang tidak bisa dia tahan.
Risma juga hanya bisa menangis, dia teringat kilas balik, saat dia meminta Ardhi untuk menikahi Ishana.
"Ki-ni papa pergi dengan perasaan bahagia, sayang. Karena mimpinya terwujud."
"Terima kasih sayang, walau luka yang ku gores begitu dalam, kamu masih mau berada di sini bersamaku."
Melihat dan mendengar hal itu, Rita berusaha menahan tangisnya, tapi tidak bisa, dia pun menumpahkan air matanya.
"Semua luka itu tidak terlalu dalam, jika mama bisa menjaga lisan mama."
Ardhi melepaskan sebelah tangannya yang memeluk Risma, dia juga menarik mamanya kedalam pelukannya.
Isak tangis tiga orang itu, membuat mata para pelayan yang menyaksikan hal itu ikut bocor.
__ADS_1
***
Untuk Season 1 Karya ini, berakhir di sini, tapi akan ada Season 2. Masih pada novel ini, gak aku pisah kok. Jadi bab selanjutnya adalah Season 2 dari karya ini.