Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 40 Mungkin Ini Yang Terbaik


__ADS_3

Pajri membersihkah sisa sampah yang ada di teras rumahnya, kursi-kursi dan tenda-tenda sudah selesai diangkut oleh pemilik jasa yang mereka sewa, pengajian untuk Ishana sudah selesai. Di teras rumah itu, terlihat Purnama dengan raut kesedihan yang betah menghuni wajahnya.


Pajri melepaskan pekerjaannya, dia segera mendekati Purnama. "Ayah, setelah ini Ayah ikut aku saja ya, biar aku bisa bekerja dengan fokus kalau Ayah bersamaku, sudah terlalu besar pengorbanan Ayah untukku, maafkan aku, karena selama ini aku selalu membuat ayah kesulitan."


Pandangan mata Purnama sangat kosong, dia mendengar apa yang Pajri ucapkan, namun dia malas menanggapinya.


"Kalau Ayah tidak mau pergi dari sini, biar aku saja yang minta pindah tugas," ucap Pajri.


Namun Ayahnya masih bungkam. Pajri berusaha mengerti. Ishana, walau hanya anak angkat Ayahnya, tapi kedua orang tuanya sangat menyayangi Ishana, hal itu juga yang membuat Pajri iri dan berbuat anarkis untuk menyita perhatian kedua orang tuanya. Ternyata dia keliru, selama ini kedua orang tuanya tidak pernah membedakan antara dirinya dan Ishana, namun mereka menyampaikan dengan cara yang berbeda.


Kesadaran itu terlambat, kala ibunya sudah tiada, dan kala adiknya sudah menjadi istri kedua Ardhi, karena ingin menebus segala kekacauan yang dia ciptakan. Andai boleh berteriak, Pajri ingin berteriak sebisa yang dia bisa, menumpahkan segala kekecewaan dan penyesalan dalam hatinya.


Andai hutang itu tidak ada, Ishana juga punya alasan menghindari tawaran sahabatnya.


Pajri memandang sayu wajah Purnama. Rasanya membawa Ayahhya pergi dari sini malah meperburuk keadaan jiwanya, bila masih di sini, jika Ayahnya merindukan Ishana, Ayahnya mudah mendatangi pusara Ishana untuk melepas kerinduan, sedang kalau dia bawa pergi, maka Ayahnya mungkin tersiksa oleh rasa rindu. Pajri segera menelepon bosnya.


"Selamat malam Nyonya Shafina."


"Ada apa Pajri?"


"Nyonya, apakah saya boleh minta bantuan?"


"Katakan saja."


"Saya ingin pindah tugas ke wilayah Ayah saya Nyonya, semenjak kepergian adik saya, Ayah sangat tertekan, hanya saya keluarga yang tersisa."


"Baiklah, karena kebaikan Ayahmu, dan prestasi kamu selama ini, secepatnya kamu akan menjadi kepala cabang di kantor Shafiq group yang ada di kotamu."


"Terima kasih Nyonya."


*


Di rumah Nara.


Nara menerima lembaran kertas yang berisi laporan tentang jenadzah yang dinyatakan kalau itu Ishana.


"Kamu yakin dek, kalau tim forensik yang lain memeriksa yang kakak maksud?"


"Iya kak, demi kakak, aku rela cerewet sama mereka yang bertugas," oceh Syaila, adik Nara.


Nara membaca setiap detailnya, ingin marah, teriak, dan mengamuk membaca ini semua, namun bertindak anarkis tidak membuat keadaan lebih baik. Juga tidak membuat Ishana bisa berdiri lagi di depan matanya.

__ADS_1


Anara menyimpan kembali kertas laporan itu, dan kembali menumpahkan tangisnya di kamarnya.


***


Hari demi terus berlalu. Sudah 2 bulan Ardhi mengurung diri di kamarnya, hanya Rita yang mengurusnya, karena itu keinginan Ardhi.


Jasad Ardhi memang hidup, tapi sebagian jiwanya mati menyadari Ishana pergi begitu saja dari hidupnya.


"Yang pergi meninggalkan kita semua hanya Ishana, kenapa kamu bersikap seperti ini? Kalau kamu seperti ini, sama saja kamu membuat semua rasa yang tertinggal ikut mati."


"Dhi, terima ini semua. Mungkin ini cara terindah dari Tuhan, karena kalau Ishana masih di sini, mungkin kamu kehilangan kedua orang yang kamu cinta."


"Dhi, jaga dan pelihara cinta yang tersisa, jangan biarkan cinta itu ikut mati, karena ketiadaan Ishana."


"Ardhi, ingat sayang. Setiap cobaan yang Tuhan beri, di sana ada terselip hikmah."


Ucapan Rita barusan berhasil menarik perhatian Ardhi.


"Kepergian Ishana, mungkin ini bagai angin yang penuh berkah, di mana setelah angin itu bertiup, akan membuat hal-hal yang sebelumnya berantakkan menjadi lebih baik."


"Rumah tanggamu."


"Sekarang Tuhan kabulkan keinginan kamu yang itu, tolong jaga mutiara yang tersisa."


Dorrr! Dor! Dor!


Gedoran pintu itu membuat tubuh Rita dan Ardhi terperanjat.


"Nyonya, Nona Eva sakit perut!"


Rita langsung berlari kearah pintu, tanpa pamit pada siapapun, dia langsung membawa Eva menuju Rumah Sakit.


Ardhi bukan tidak peka dengan perjuangan Eva saat ini, dukanya kehilangan Ishana masih membelenggu dirinya.


Di Rumah Sakit hanya ada Rita, dia melupakan semua kejadian di rumah, fokusnya saat ini hanya Eva.


Sedang keadaan di rumah, Wisnu di urus oleh perawat yang memang khusus menjaganya jika Rita sedang tidak di rumah, dan Ardhi saat ini di jaga Risma.


Langit sudah gelap lagi, hari itu berlalu begitu saja, waktu terbuang begitu saja, seakan tidak ada bekas yang dilalui sang waktu. Tapi bagi Eva, waktu seakan berjalan begitu lambat, kontraksi yang menderanya, seakan tidak ada pikiran lain, rasanya ingin sekali mengeluarkan bayi itu sekarang juga, agar rasa sakit ini segera berakhir, namun semua belum waktunya.


Di sana, Eva terus berjuang, sedang di rumah Ardhi hanya ada kebisuan.

__ADS_1


"Mas, makan dulu ya."


Risma mendekatkan sendok yang berisi makanan ke depan bibir Ardhi. Tapi laki-laki itu diam, tidak merespon keberadaan Risma.


"Mama sedang nemenin Eva di Rumah Sakit, jadi mas sama aku dulu." Risma masih berusaha membujuk Ardhi untuk makan.


Mendengar nama Eva, Ardhi teringat akan perjuangan Eva saat ini. "Mimpi papa sebentar lagi terwujud," gumam Ardhi.


"Iya, semoga Eva dan bayinya selamat mas."


"Mimpi papa." Pandangan mata Ardhi lurus kedepan, namun kosong.


"Mimpi yang menciptakan jurang diantara kita."


"Mas ...." Risma mulai bisa menebak kemana arah bicara Ardhi.


"Semakin dalam hatimu tergores, semakin jauh pula jurang yang memisahkan kita."


"Sampai aku sendiri tidak tau, setelah mimpi itu terwujud, apakah antara aku dan kamu bisa baik-baik saja seperti dulu?"


Risma menaruh sendok yang dia pegang ke piring makanan. "Seperti kata mas, walau Eva pergi, ada Ishana atau tidak, rasanya tetap tidak seperti dulu." Risma mengusap air mata yang terlepas begitu saja.


"Ada penyesalan dalam hatiku, kenapa begini, mengapa begitu. Ishana memang pergi, tapi rasanya dia masih tinggal dengan kita. Dia memang telah tiada, tapi dia hidup dalam hati dan memori kita."


"Apakah kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan laki-laki bodoh seperti diriku?" Pandangan mata Ardhi yang begitu teduh tertuju pada Risma.


Risma balas menatap kedua mata Ardhi. "Andai aku bisa hidup tanpa kamu, mungkin aku memilih pergi mas daripada bertahan."


Ardhi mengambil piring yang ada di tanga Risma dan meletakkannya di meja di dekatnya.


"Kita bangun kembali sisa runtuhan bangunan yang ada, ku rasa, ini adalah mimpi Ishana. Dia memang pergi dari kita, tapi mewujudkan mimpinya aku merasa dia hidup untuk kita."


"Maafkan aku--"


Ardhi menaruh telunjuk tangannya di depan bibir Risma. "Kita mulai semuanya, sudah cukup yang lalu itu, aku tidak akan mampu berdiri diatas kakiku sendiri jika terbayang rasa sakitmu."


"Dengan kamu mau menerima aku lagi, itu sudah cukup buat kita untuk memulai segalanya."


Risma tidak mampu lagi menahan air mata yang ingin tumpah, dia langsung memeluk Ardhi dan menumpahkan semua rasa yang menyesakkan batinnya.


Aku setia di samping mas Ardhi, ku harap kamu bahagia melihat ini Na. Maafkan keegoisanku yang telah menutup mata hati dan kedua mata lahirku. Maafkan aku Ishana.

__ADS_1


__ADS_2